KEKASIH

KEKASIH
Surat perpisahan


__ADS_3

Perasaan Abizar mulai tidak enak di saat ia mulai menginjakkan kaki di bandara udara Sultan Hasanuddin makassar.


la mulai Mengayunkan langkah kaki dengan jantung yang berdegup kencang Entah karena apa, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depannya, ia pun segera membuka pintu mobil yang memang ia suruh untuk menjemput kedatangannya itu.


"Kak Abi boleh aku ikut…? karena sopir ku sedang sakit Kak" cicit dokter Anha.


"Ya sudah cepat!" ucap Abizar saat dokter Anha berlari-lari kecil mendekatinya.


"Kau kenapa sejak tadi aku perhatikan Sepertinya kau sedang ada masalah apakah kau sedang sakit?" tanya dokter Anha saat melihat Abizar yang tidak seperti biasanya itu bahkan semenjak tadi pagi Abizar hanya sibuk melihat gawainya Entah apa yang dia lakukan.


"Aku hanya capek saja." Jawab nya tanpa banyak bicara. dokter Anha pun juga ikut terdiam ia tidak ingin mengulik terlalu dalam apa yang tengah dipikirkan oleh Abidzar.


"Kak aku sudah sampai apa Kakak tak ingin singgah?" tanya dokter Anha menawarkan pada Abizar.


"Tidak… terima kasih aku buru-buru ingin istirahat karena aku sangat capek dan kepalaku agak sedikit pusing." Terang Abizar."Baiklah kalau begitu terima kasih Kak… Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam…"


"Hati-hati Kak…" ucap dokter Anha kembali yang disambuta dengan senyum dan anggukan sekilas dari dokter Abidzar, 15 menit kemudian dokter Abidzar pun sudah tiba di halaman rumahnya ia membuka pintu mobil dan menurunkan barang-barang miliknya, lalu segera mendorong barang bawaannya masuk ke dalam rumah.


"Kenapa semuanya terlihat gelap?" pikir Abizar melangkah meraih handle pintu utama yang menghubungkan dengan ruang tamu dan ruang keluarga, Abizar berjalan pelan. Dia pun memasukkan barang-barang ke dalam kamarnya dan bergegas untuk membersihkan tubuh sebelum ia mengecek keadaan istrinya yang sudah dua minggu ini ia tinggalkan, bahkan wanita itu sama sekali tidak bisa dihubungi itu membuatnya bertanya-tanya Apa yang terjadi.?


Setelah semua dirasa beres Abizar pun melangkah keluar untuk menuju kamar sang istri dengan perasaan campur aduk dan berdebar entah karena apa apakah karena ia merindukan? ya selama dua Minggu menjauh dari Alyssa Abizar merasakan sesuatu yang aneh di dalam hatinya, la begitu merindukannya, saat ia memeluk sang istri untuk pertama kalinya dan perasaannya itu seolah semakin menyiksanya di saat ia mencoba untuk menghubungi Alyssa namun Alyssa tak bisa dihubungi sama sekali.


"Sebenarnya dokter Abidzar akan berangkat besok pagi. Namun karena Ia berpikir malam ini adalah ulang tahun sang istri Ia pun mempercepat jadwal kepulangannya meski itu di malam hari, Ia hanya ingin memberikan satu kejutan ulang tahun untuk Alyssa meski hanya dengan sebuah ucapan selamat ulang tahun, karena dia belum sempat untuk merangkai hadiah, sebab Abizar tidak tahu menahu, Apa yang disuka dan tidak disukai oleh gadis tersebut.


"Kenapa sih dia selalu seperti ini? tidur tidak pernah mengunci kamar!" Gumamnya sedikit menggerutu, karena Biar bagaimanapun Abizar akan sangat khawatir jika terjadi sesuatu kepada Alyssa Ia pun mencari saklar lampu di kamar tersebut.


"Lyssa selamat ulang tah__" ucapannya terjeda saat melihat ranjang yang biasa ditempati Alyssa ternyata kosong tak ada siapapun di atasnya, hanya sebuah bantal guling dan sebuah bantal yang biasa Alyssa pakai yang ia temukan di atas tempat tidur tersebut. Sejenak Abizar memilih duduk di tepi tempat tidur dan berfikir.


"Alyssa ke mana? apa jangan-jangan ia merayakan ulang tahunnya di luar? atau rumahnya" tanya Abizar namun dalam hati. Abizar lalu merogoh saku celananya lalu meraih gawai yang ada di dalam, kemudian mencoba kembali untuk kembali menghubungi nomor Alyssa namun tetap saja nihil nomor Alyssa selalu berada di luar jangkauan dan tidak bisa dihubungi Alyassa.

__ADS_1


"Kau ke mana sebenarnya? Kenapa kau begitu sangat membuatku khawatir seperti ini?" Gumamnya Ia pun memutuskan untuk bangkit, namun karena buru-buru dan tidak hati-hati tiba-tiba saja


"Auwhk…" pekik Abizar di saat kakinya tersandung oleh sebuah nakas yang berada tepat dekat ranjang tidur Alyssa.


Abizar pun menunduk mengusap kakinya yang sakit dan tiba-tiba saja matanya menatap sebuah amplop berwarna putih di atas nakas tersebut, karena penasaran Abizar pun meraih amplop itu lalu membukanya.


"Apa ini?" gumamnya dalam hati dan di situ tertulis surat pengadilan agama.


"Apa ini?" tanyanya kembali pada diri sendiri dengan binggung, Abizar yang penasaran pun membaca dari atas hingga ke bawah dan sebuah tanda tangan yang bermaterai dibubuhi di atasnya dan di bawahnya bertuliskan nama Alyssa begitu selesai membaca surat tersebut tangan Abizar Bergetar, sedang keringat dingin keluar dari tubuhnya.


"Tidak ini tidak mungkin kan? kau tidak akan mungkin melakukan ini padaku Alyssa kau tidak bisa melakukan ini, aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk menceraikanku ataupun bercerai dariku, dan sampai mati pun aku tidak akan mengijinkan mu Alyssa. Aku tidak akan pernah menceraikanmu tidak akan geram Abizar sambil meremas kertas yang ada di genggamannya lalu tanpa sadar Ia pun meninju Nakas yang terbuat dari kaca tersebut, kini Darah segar mulai mengalir di jari jemari tangannya yang terluka namun ia tidak memperdulikan hal itu, yang ia pedulikan saat ini adalah Alyssa, wanita yang selalu mempedulikannya namun ia acuhkan, wanita yang selalu banyak bertanya padanya namun ia jarang untuk menjawabnya, wanita yang selalu ceria di depannya padahal sebenarnya ia selalu menangis jika sedang sendiri di belakang, kini wanita itu entah di mana Abizar kembali terduduk dalam kediamannya, ia tergugu dalam kesedihannya apalagi di saat memori ingatannya memutar kembali Setiap kejadian yang ia lalui bersama alis selama beberapa bulan ini dan itu membuatnya semakin Terpuruk di dalam penyesalannya Yang Terdalam, sungguh ia tidak pernah menyangka jika Alyssa yang sangat mencintainya bisa memutuskan hal seperti ini, menceraikannya secara sepihak nama ia terdiam hingga ia memilih untuk bangkit berdiri kembali namun namun lagi-lagi sebuah kertas yang terselip di sebuah buku catatan membuat Abizar berhenti lalu meraihnya, ya benar saja di situ terlihat tulisan tangan dari Alyssa.


..."Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,… untukmu yang pernah menjadi Imamku, Maafkan Aku jika selama hidup bersamamu tak pernah ada bahagia yang hinggap di hatimu, aku pikir aku terlalu yakin dan percaya diri akan bisa membuatmu melupakan masa lalu dan menerima diri ini. Tapi aku salah, aku salah menempatkan rasaku padamu, Dan aku sadar rasaku padamu bukanlah sebuah ketulusan tapi sebuah keegoisan yang membelenggu kebebasanmu untuk menatap ke depan dan meraih kebahagiaanmu sendiri, Maafkan Aku jika aku terlambat menyadarinya Dan aku harap ini adalah kado terindah dariku untukmu yaitu dengan memberikan surat gugatan cerai ini, aku sudah menandatanganinya, dan kini tinggal kau saja yang harus menandatanganinya dan setelah itu kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, terima kasih telah membuatku menjadi istrimu meski hanya sebuah status, Aku akan pergi dan tidak akan pernah kembali lagi di sisimu untuk selamanya aku akan pergi dari duniamu untuk selamanya, selamat tinggal orang yang pernah sangat aku cintai semoga kau bisa menemukan bahagiamu tanpa hadirnya diriku di dalam kehidupanmu lagi."...


Alyssa.…

__ADS_1


__ADS_2