
Tepat saat suara Azan berkumandang Yumna menggeliat kan tubuhnya agar otot-otot nya yang kaku saat tidur ia kembali lentur.
"Kemana Mas Vano, Apakah dia tidak tidur di kamar?"
Yumna pun bergegas menyibak selimut yang menutup tubuhnya lalu segera masuk kedalam Bhatroom untuk segera membersihkan tubuhnya karena ia akan segera melaksanakan sholat subuh.
"Mas Vano, kamu dari mana?" tanya Yumna sambil melipat mukenah yang baru saja di pakainya shalat subuh, ia heran begitu melihat Vano yang datang lengkap dengan baju kokonya.
"Aku dari masjid salat subuh berjamaah," Ucap Vano hampir tak terdengar.
"Ya Allah Mas…lain kali kalau Mas mau pergi Bangunkan aku biar aku bisa membantumu menyiapkan semuanya."
"Sudahlah tidak apa-apa sebaiknya sekarang kau siapkan sarapan untukku, karena hari ini aku akan membawamu keluar, kita akan jalan-jalan"
"Benarkah Mas…?" tanya Yumna bersemangat.
"Tentu saja benar, apa tampangku ini ada tampang pembohongnya?" ucap Vano lagi merasa tersindir.
"Maafkan aku Mas, aku hanya merasa senang saja." Ucap Yumna jujur.
"Apa kau merasa sesenang ini aku kan hanya membawamj keluar?" Yumna mengangguk cepat sambil tersenyum.
"Baiklah sekarang lebih baik kita sarapan dulu"
Yumna pun segera mendorong kursi roda milik suaminya tersebut membawanya ke ke meja makan.
"Mas tunggu aku dulu di sini ya,! Aku akan membuatkan sesuatu untukmu." Vano pun hanya menurut saja dengan apa yang dikatakan istrinya itu.
Sedangkan Yumna dengan cekatan mengolah bahan-bahan yang ada di dapur Menjadi santapan lezat.
"Akhirnya selesai juga, maaf karena kamu harus menunggu lama Mas…Ayo Mas di makan" Yumna pun segera menyendokkan makanan, Untuk pertama kalinya.
Yumna benar-benar merasa bahagia. Bagaimana tidak untuk pertama kali ini Vano memintanya secara langsung untuk membuatkannya sarapan, lelaki yang terkesan dingin dan datar itu untuk pertama kalinya juga berbicara banyak padanya.
__ADS_1
Baik Vano dan juga Yumna begitu serius menikmati makanannya.
Tak ada yang berbicara semuanya terdiam menyantap sarapan paginya.
"Apa Mas Mau tambah lagi nasi sama lauknya Mas?"
"Boleh" ucapanya, karena tidak dipungkiri ternyata Vano yang pertama kali memakan masakan istrinya tak ingin berhenti mengunyah. Di dalam hati dia begitu menyanjung masakan istrinya itu begitu nikmat dan lezat, padahal dulu waktu di kampung ia sempat mencela dan tak ingin memakannya, dan benar saja kalau ia sampai nambah hingga masakan Yumna tandas tak bersisa.
"Mas Apa tidak sebaiknya kita menjenguk keadaan tante Cici?" Tanya Yumna saat tengah memper siapkan segala barang-barang yang akan di bawa Vano untuk Jalan-jalan.
"Aku ingin mengajakmu jalan berdua bukan mau mengajakmu ke rumah sakit,"
"Tapi Mas..."
"Mama akan kesana apa kau mau Tante Cici berbicara pada Mama Kalau kau adalah menantu idamannya? atau kau benaran ingin bertemu Dion?"
"Mas…Kok malah merembetnya kesana sih, Aku kan kasian saja dengan tante Cici, tidak ada maksud apapun lagi pula Dion itu sahabatmu Mas."
"Dan dia menyukaimu itu yang tidak aku suka!"
"Ap-apa? mam-maksud Mas,? Mas cemburu?"
"Cemburu? ses-siapa cemburu aku hanya bilang tidak suka saja. Dan itu bukan berarti aku cemburu, karena kau itu__Aaah…sudah lah sebaiknya kita berangkat sekarang dan Aku tidak mau terlambat karena membicarakan hal yang tidak penting ini."
Yumna terpaksa mengalah daripada harus berdebat hanya karena dirinya menginginkan pengakuan cinta dari Vano, pengakuan yang sangat ia harap kan agar ia tau status pernikahannya seperti apa, apakah akan bertahan atau akan bubar. Tapi sayang apa yang di harap kan belum sepenuhnya ia bisa ia dapatkan, munkin butuh waktu untuk Vano bertani untuk mengakui rasa cintanya itu, dan Yumna akan menanti hari itu tiba.
"Ayo cepat! kenapa kau masih bengong di situ, apa kau tidak mau pergi denganku karena sekarang kau sudah berubah fikiran?"
"A-yo Mas..." Yumna pun bergegas mendorong kurri roda milik sang suami, meninggalkan kediamannya.
"Sebenarnya kita mau kemana Mas?"
"Aku akan membawamu ke suatu tempat yang bisa membuatmu merasa Happy"
__ADS_1
Yumna hanya mengangguk kecil meng iyakan apa yang di katakan Vano, tanpa ingin bertanya lebih jauh lagi.
Dua jam perjalanan yang di temouh mereka pun kini tiba di sebuah Villa yang semua konsep pemandangan nya menghadap kelautan lepas tak berbeda jauh seperti di Maladewa.
"Subhanallah Mas ini indah sekali," cicit Yumna karena begitu tiba ia di suguhkan oleh pemandangan yang sangat eksotis luar biasa.
"Apa kau menyukai tempat ini,?" tanya Vano meluruskan pandangannya kelautan luas terbentang namun nampak sedikit tenang karena ombaknya memang tak begitu kencang bahkan saking indahnya pemandangan di tempat tersebut membuat Yumna ingin segera terjun untuk mandi karena airnya yang begitu jernih.
"Sebaiknya kita masuk dulu kedalam" ajak Vano karena ia merasa capek ingin merebahkan diri sesaat.
"Mas ingin Aku buatkan sesuatu?" tawar Yumna.
"Tidak usah Aku hanya ingin berbaring sebentar," Timpal Vano.
"Baiklah, tapi Mas boleh Yumna keluar sebentar saja Mas untuk berkeliling di sekitar pantai?"bucap Yumna karena memang ia sangat menyukai suasana pantai, meski ia sebenarnya takut dengan air laut, karena waktu kecil ia pernah terseret air laut.
"Terserah kamu saja yang penting jangan pergi jauh-jauh deri tempat ini"
"lya Mas Aku tidak akan jauh-jauh kok pergi nya." Dengan langkah kecilnya Yumna terus saja menyusuri tepian pantai yang begitu tenang sedangkan matahari sebentar lagi akan turun ke peraduan malam, nampak suasana di tempat itu begitu indah dan nyaman karena tak ada suara hiruk pikuk kendaraan yang mem bisingkan telinga. Yang ada hanya suara orang-orang yang bercengkrama dan anak-anak kecil berlarian, yang lumayan jauh dari tempatnya, dan tanpa Yumna sadari ia sudah begitu jauh melangkah meninggalkan tempat tinggalnya.
Sedangkan Vano yang ingin beristirahat malah merasa gelisah karena fikirannya terus saja memikirkan Yumna membuatnya memilih untuk keluar dari peraduannya.
'Kemana perginya anak itu jangan bilang jika dia turun dan mandi-mandi.' fikirnya.
"Ada apa ini?" tanya Vano pada seseorang yang berlari-lari di depannya.
"ltu ada wanita tenggelam dan pingsan" jawab orang tersebut.
"Wanita pingsan? Yumna!" lirihnya panik, Dengan kaki yang mulai bergetar dan keringat dingin, Vano mencoba dengan sekuat tenaganya untuk bangkit dari kursi rodanya. Namun sayangnya ia terjatuh menyium pasir.
"Bismillahirrahmanirrahim…Yumna…" Dengan penuh semangat kini ia kembali berusaha untuk bangkit.
"Ya Allah bantu Aku untuk kesana, Yumna…!" kembali ia berteriak mencari Yumna, hingga satu keajaiban pun terjadi Vano bangkit dan berdiri bahkan kini ia sudah bisa berjalan meski dengan sedikit tertatih.
__ADS_1