
“Oh jadi dari cerita manager elu yang sok ngatur itu.. kirain elu emang deket sama si Sabrina gara-gara terbawa adegan romantis saat shooting.” Goda Juna membuat Gara mendelik tajam.
"Wah parah elu Ga... ternyata di belakang Brinia diam-diam elu deket juga sama Sabrina." Sambung Denim yang semakin memanas-manasi Brinia sebelum Gara buka suara.
Juna dan Denim emang sahabat gak ada akhlaq... Dan mereka melakukan itu bukan tanpa alasan, mereka hanya ingin memastikan hubungan Brinia dan Gara baik-baik saja setelah sejak pagi dua sahabat minim akhlak itu disuguhi adegan saling menghindari dari keduanya.
"Gue bukan elu ya! Punya Brinia saja sudah cukup.” Tegas Gara yang tidak ingin Brinia salah paham.
“Gue berani taruhan Ga, kalau Sabrina itu udah gak bersegel.” Kata Juna dengan yakin.
“Gue juga mau ikutan, mobil sport terbaru gue deh jadi milik elu Ga kalau si Sabrina masih bersegel.” Tantang Denim.
“Ogah taruhan begituan! Gue gak mau terlibat dalam urusan kalian bersama para wanita. Punya Brinia udah cukup.” Tolak Gara.
"Sabrina seksii loh Ga.." Kata Juna pada Gara namun menatap Brinia yang sudah merah madam karena emosi.
“Kalian ada pembahasan lainnya gak sih? Hargai Brinia disini.” Ucap Yurdha dengan tenang karena Yurdha yakin Brinia cemburu pada Sabrina meskipun Brinia tidak pernah mengatakannya.
“Santai aja!” Jawab Brinia singkat.
“Jun, kalau elu mau mainin cewek.. ya mainin sana aja. Tapi jangan Sabrina, apalagi elu minta gue yang kenalin. Ogah!”
“Elu cemburu Ga?” Ceplos Denim membuat Brinia langsung menghentikan gerakan tangannya yang hendak memasukan sendok ke dalam mulutnya.
“Jangan ngelantur kalau ngomong Den.. gue bogem tau rasa elu! Gue bilang begitu karena gue gak mau disalahkan jika nantinya Sabrina elu sakitin sebab gue yang memperkenalkan kalian. Gue gak mau ikut campur urusan orang.” Jelas Gara.
“Yakin cuma itu? Apa takut kalau si Sabrina gue sakitin karena katanya dia gadis baik-baik?” Juna sengaja membangunkan singa yang sedang tertidur.
Brinia langsung meletakkan sendoknya di atas piring dengan sedikit kasar. Perasaan canggungnya pada Gara benar-benar sudah hilang begitu saja. Bahkan kejadian tadi pagi yang terus berputar di otak Brinia tiba-tiba terhenti seketika diganti dengan bayang-bayang cuplikan adegan romantis antara Gara dan Sabrina. Brinia benar-benar termakan omongan para sahabatnya yang sengaja menggoda Gara dan dirinya.
“Cih, sok cuek tapi peduli juga sama lawan mainnya.” Sindir Brinia lirih yang sudah tidak bisa menahan panas telinganya mendengar nama Sabrina disebut-sebut. Bahkan selera makan Brinia langsung hilang seketika.
“Brinia..”
“Gue udah selesai.. izin mau istirahat di kamar dulu, capek dan gerah!” Ucap Brinia yang baru berdiri dari duduknya.
"Bee, kamu salah paham.. aku bisa jelasin sayang..." Gara hendak meraih pergelangan tangan Brinia tiba-tiba suara Brinia memekik.
“Arghhh..” Pekik Brinia yang menghentikan langkahnya karena merasakan perih luar biasa di perut bagian kirinya.
__ADS_1
“Bee..” Gara yang berada di samping Brinia pun langsung dengan cepat meraih pundak Brinia dan membantu Brinia menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terjatuh.
“Kamu kenapa Brinia?” Tanya Gara.
Brinia tidak menjawab, gadis cantik itu hanya mampu meringis sambil menekan perutnya agar tidak sakit.
“Perut elu sakit Brin?” Tanya Nesya yang ikutan panik seperti yang lainnya. Brinia menganguk lemah.
“Sepertinya maagh elu kambuh karena tadi pagi gak sarapan apa-apa kan?” Tanya Nesya yang ingat bahwa tadi saat di pesawat, Brinia berkata lapar karena belum sempat sarapan dan Brinia enggan memesan makanan di dalam pesawat maupun makan roti milik Nesya.
“Astaga…” Gara baru teringat tentang sarapan. Gara memang sangat jarang sarapan, berbeda dengan Brinia yang tidak bisa melewatkan sarapan karena penyakit maagh.
Gara benar-benar merutuki kebodohannya yang melupakan hal penting Brinia karena melihat dan merasakan sedikit gunung indah pagi tadi.
“Sayang kamu bawa obat maagh gak?” Brinia menggeleng untuk menjawab pertanyaan Gara.
“Ga, antar Brinia ke kamar deh biar dia bisa rebahan.. gue akan cari obat maagh buat Brinia di sekitar sini, siapa tahu ada apotek terdekat.” Kata Yurdha yang langsung hendak melenggang pergi. Yurdha dan teman-temannya menyewa sebuah mobil untuk di gunakan selama di kota istimewa ini.
“Yurdha.. biasanya Brinia minum obat….”
“Gue udah tau obat Brinia!” Yurdha memotong ucapan Gara kemudian mengajak Denim untuk menemaninya.
...**...
Gara tidak bisa menyembunyikan kepanikannya melihat Brinia yang terus merintih merasakan sakit di bagian perutnya yang kata iklan di televisi itu cekit cekit cekit cekit kayak di tusuk-tusuk jarum.
Ingatan Gara kembali saat-saat masa terburuk dalam hidup Brinia. Saat itu Brinia duduk di bangku kelas 1 SMA dan dimana Henry, Ayah Brinia sibuk dengan selingkuhannya dan anak hasil perselingkuhannya.
Sedangkan Sekar, bunda Brinia sibuk menyalahkan dirinya atas kematian Brian, kakak Brinia. Belum lagi sakit hatinya Sekar akan perselingkuhan suaminya. Kedua orang tua itu melupakan keberadaan Brinia.
Brinia larut dalam kesedihannya karena kehilangan kakak kesayangannya juga keluarganya yang berantakan. Saat itu pula, Gara juga sudah mulai sibuk casting sehingga perhatian Gara pada Brinia berkurang.
Dalam kondisi seperti baru itu, membuat pola makannya berantakan. Dan alhasil dua tahu kemudian, Brinia menderita Maagh kronis dan dulu sempat keluar masuk rumah sakit. Bahkan Brinia juga hampir kehilangan nyawanya karena Maagh tersebut.
Rasa bersalah Henry dan Sekar pada Brinia tidak dapat terbendung lagi. Demi menebus kesalahannya pada Brinia, Sekar mau memaafkan Henry setelah Henry berjanji menceraikan istri sirinya itu karena sejatinya Henry masih sangat mencintai Sekar dan Henry menyesal telah mengkhianati Sekar. Tapi Henry tidak bisa lepas tanggungjawab dari anak hasil perselingkuhannya tersebut. Sekar hanya bisa belajar menerima semuanya demi memberikan keluarga utuh untuk Brinia.
Kejadian itu pula membuat Gara merasa bersalah pada Brinia. Kesibukannya casting dan mulai shooting-shooting sebagai pemeran sampingan saat masih duduk di bangku SMA membuatnya jarang menemui Brinia. Oleh sebab itu, Gara berjanji akan menjaga Brinia dengan baik agar Brinia tidak sakit lagi.
“Rileks sayang… Kakinya di lurusin, biar perutnya gak tegang.” Perintah Gara.
__ADS_1
Brinia hanya mengangguk dan menuruti perintah Gara. Gara pun tidak segan mengusap keringat dingin pada wajah cantik Brinia.
Dalam hatinya, Brinia tersenyum. Gara selalu se-perhatian ini ketika dirinya sakit.
“Jun, tolong carikan minyak kayu putih di kotak obat. Sepertinya aku tadi lihat kotak obat di lemari dekat televisi.” Juna pun mengangguk dan menjalankan perintah Gara.
“Nes, minta tolong buatin Brinia minuman hangat ya.” Tanpa membantah, Nesya pun langsung membuatkan minuman untuk sahabat perempuan satu-satunya itu.
“Masih sakit?” Tanya Gara yang sangat merasa bersalah.
“Banget!” jawab Brinia lirih sambil meringis.
“Maaf ya… Aku….” Gara yang mengusap lembut rambut Brinia.
"Brinia... aku...." Gara menghentikan ucapannya karena melihat Juna sudah kembali ke kamar dengan membawa minyak kayu putih.
Gara yang hendak menuang minyak kayu putih ke telapak tangannya yang kemudian akan diusapkan ke perut Brinia, langsung di tahan oleh Brinia.
“Aku bisa sendiri Ga..” Ucap Brinia menolak bantuan dari Gara. Mendengar penolakan Brinia, Juna pun tersenyum.
“Belum SAH Ga, gak boleh menyentuh yang belum menjadi hak elu.” Sindir Juna dengan kalimat yang sering Gara ucapkan.
Brinia pun mengusap perutnya dengan minyak putih di balik baju yang masih melekat sempurna di gadis cantik itu.
Brinia merasa sedikit rileks mencium aroma minyak kayu putih.
“Nih Brin, minum dulu biar perut elu enakan.” Kata Nesya yang baru saja memasuki kamar.
Dengan di bantu Gara, Brinia pun duduk di ranjang dan meminum teh hangat buatan Nesya.
“Makasih Nes.” Ungkap Brinia lirih setelah kembali berbaring kembali sambil meringis merasakan perih di perutnya. Brinia rasanya ingin menangis, dibuat gerak saja perutnya terasa sangat sakit.
“Udah sekarang elu istirahat aja. Biar cepat enakan dan nanti sore kita bisa langsung main ke Pantai.” Kata Nesya yang tidak ingin rencana liburannya tidak berjalan sesuai rencana.
“Maaf sudah merepotkan kalian semua.”
“Nggak ada yang merasa di repotkan Brinia!” Ucap Gara.
“Iya Brin, sebagai sahabat udah tugas kita saling membantu dan menjaga. Elu istirahat dulu aja sambil menunggu Yurdha dan Denim datang bawain obat buat elu, jangan banyak gerak.” Sambung Juna. Brinia mengangguk.
__ADS_1
Se-laknat laknatnya Juna dan Denim, mereka tidak akan diam saja melihat salah satu dari sahabatnya kesakitan. Dan mereka juga tidak akan diam saja melihat sahabatnya di ledek orang lain, cukup mereka yang boleh meledek sahabatnya.
to be continued...