
Siang ini, Brinia dan Gara sudah membuat janji untuk datang ke toko perhiasan ternama. Calon pengantin itu pun sepakat untuk bertemu di toko perhiasan yang berada di tengah-tengah mall besar Ibukota.
Brinia berangkat dari kampus setelah mengurus beberapa berkas untuk melengkapi pendaftaran wisudanya. Sedangkan Gara berangkat dari lokasi shooting.
Selain karena kesibukan masing-masing, Brinia dan Gara memilih berangkat terpisah adalah demi menjaga kerahasiaan hubungan mereka agar tidak terendus oleh media. Karena, Brinia selalu saja merasa takut jika ada gosip-gosip tentang hubungan mereka yang membuat karier Gara terganggu.
Padahal aslinya Gara cukup santai menghadapi semuanya selama Brinia ada disampingnya. Karena bagi Gara, Brinia lebih berharga ketimbang kariernya di dunia hiburan.
Namun yang namanya jodoh, meskipun berangkat dari tempat berbeda, nyatanya mereka sampai di mall besar itu hanya selisih beberapa detik saja. Gara yang baru memasuki parkiran mall itu pun tersenyum melihat Brinia baru saja keluar dari mobilnya dan tidak menyadari kehadirannya.
Gara tidak berniat sedikitpun memanggil b
Brinia, sang kekasihnya. Artis tampan itu pun segera memakai masker dan topinya sebelum keluar dari mobil, kemudian berjalan mengikuti sang kekasih dari belakang.
Senyum Gara tidak pudar sedikitpun dari balik maskernya hanya karena melihat Brinia berjalan dari belakang.
Brinia memang selalu bisa membuat Gara jatuh cinta setiap hari dan setiap waktunya. Entah mantra apa yang Brinia pakai sehingga membuat Gara benar-benar tergila-gila.
Setelah menaiki eskalator dua kali, Brinia pun sampai di depan toko perhiasan yang cukup besar. Dari tampilan luarnya saja sudah bisa dilihat bahwa harga perhiasan disini pasti sangat mahal.
Dan perempuan yang sebagian karyawan toko langsung membukakan pintu untuk menyambut kehadiran Brinia dan laki-laki yang berdiri di belakang Brinia saat ini. Laki-laki yang kehadirannya belum Brinia sadari. Sebab Brinia yakin bahwa Gara pasti akan telat.
"Selamat siang nona, selamat datang di Star Jewelry." Sapa karyawan itu tanpa menyapa Gara karena Gara memberikan kode pada sang karyawan agar pura-pura tidak melihat kehadirannya.
"Selamat siang mba.. saya udah ada janji dengan ibu Dian." Jawab Brinia dengan sopan.
"Ini dengan nona Brinia?" Brinia pun mengangguk.
"Silahkan masuk nona Brinia, Nyonya Dian sudah menunggu anda di ruangan beliau. Mari saya antar." Ucap pegawai itu dengan ramah dan sopan.
"Makasih ya mba."
Baru saja beberapa langkah memasuki toko perhiasan tersebut, seseorang dari arah belakang tiba-tiba berbisik di telinga Brinia membuat tubuh Brinia meremang.
"Selamat siang calon istri.." Bisik orang itu yang tidak lain adalah Gara.
"Astaga Segara!" Pekik Brinia yang langsung mengusap dadanya karena kaget.
"Kamu ih ngagetin aja!" Brinia yang kesal itu pun memukul lengan sang kekasih membuat kekasih tampannya itu langsung tertawa dan merangkul pundak Brinia.
"Aku kangen sama kamu tau gak sih sayang.. kemarin kita gak ketemu loh." Ujar Gara dengan cara berbisik pada Brinia agar tidak terdengar orang lain.
"Salah siapa kamu sibuk terus."
"Aku tuh sibuk karena...."
"Udah udah.. nanti aja ceritanya. Kita temuin Tante Dian dulu, beliau udah nunggu kita Ga." Potong Brinia.
__ADS_1
"Yaudah hayuk."
Gara dan Brinia pun berjalan bergandengan menuju ruangan pemilik toko perhiasan mewah ini. Toko ini tidak ramai karena hanya orang-orang tertentu yang berani masuk. Namun omset penjualan toko ini, sebulannya bisa mencapai puluhan milyar.
"Silahkan masuk nona Brinia, tuan Segara." Ucap Karyawan itu dengan ramah sembari membuka ruangan kerja sang pemilik toko.
Setelah mengucapkan terimakasih, Gara dan Brinia pun segera masuk dan disambut oleh wanita paruh baya dengan gaya elegan dan anggunnya itu.
Brinia dan Gara pun saling bengong melihat siapa wanita yang dihadapan mereka saat ini. Wanita yang sudah mereka kenal meskipun tidak pernah akrab.
"Selamat datang di toko Tante Gara, Brinia...." Sapa wanita itu dengan ramah.
"Tan.. Tante Dian? Tante Dian itu teman baik Mama Amelia?" Tanya Brinia pelan dengan nada tidak percaya.
"Iya Brinia, kamu apa kabar?" Tanya wanita bernama Dian itu yang tidak lain adalah ibu tiri Yurdha. Ibu tiri yang sangat Yurdha benci.
Brinia dan Gara benar-benar tidak percaya bahwa Mama Amelia ternyata berteman baik dengan ibu tiri Yurdha yang terkenal toxic itu.
"Baa.. baik Tante." Brinia dan Dian pun cipika cipiki dengan tanda tanya besar di benak Brinia.
"Gara.. kok diem aja, ayo sini duduk." Ucap Dian dengan ramah.
Padahal saat para sahabat Yurdha itu datang ke rumahnya, mereka tidak pernah menganggap Dian itu ada sesuai dengan permintaan Yurdha dan syarat dari Yurdha kalau mereka mau bermain kesana.
"I.. iya Tante..." Gara menjawab dengan penuh rasa sungkan. Wanita yang dulu bersitegang dengan Yurdha di depan matanya bahkan pernah menampar Yurdha di depan sahabat-sahabatnya kini nampak anggun. Berbeda banget saat berhadapan dengan Yurdha.
"I.. iya Tante..." Gara dan Brinia pun mencoba bersikap biasa saja meskipun dalam hati mereka sungkan.
Selama Dian tidak membahas urusan diluar perhiasan yang akan digunakan untuk mengikat Brinia dan seserahan, maka Gara pun tidak berniat menyinggung tentang anak tiri wanita dihadapannya itu.
"Gara.. Brinia, kenapa kalian dari tadi ekspresi mukanya seperti itu sih? Santai aja dong, anggap saja kalian belum kenal Tante sebelumnya karena disini tugas Tante adalah melayani pelanggan Tante dengan baik. Berbeda dengan tugas Tante saat di rumah, oke?" Brinia dan Gara pun mengangguk meski di hati mereka ada tanda tanya besar tentang hubungan Yurdha dan ibu tirinya yang sebenarnya.
"Udah, enjoy aja... Tante pastikan kalian tidak akan kecewa dengan perhiasan dari toko Tante."
Hampir satu jam Brinia dan Gara memilih cincin untuk pernikahan mereka. Sebuah cincin sederhana namun elegan menjadi pilihan keduanya karena selera keduanya selalu saja hampir sama. Cincin pesanan mereka yang akan di ukir nama calon pengantin itu pun bisa diambil dua Minggu lagi.
Setelah melakukan pembayaran sesuai pesanan, Gara dan Brinia pun berpamitan pada Tante Dian.
"Ga, aku tuh tadi kek merasa bukan seperti Tante Dian ibu tirinya Yurdha deh." Ucap Brinia saat sudah sampai di dekat mobil mereka.
"Iya Bee, rasanya sulit di percaya... Tante Dian yang tadi itu lembut banget dan asik banget orangnya, tali kenapa kalau di rumah bisa perang dunia terus sama Yurdha ya?"
"Nah itu, kalau Tante Dian jahat, gak mungkin kan mama Amel berteman baik sama dia?" Ucap Brinia penasaran.
"Iya juga sih, mama aku kan paling selektif milih circle pertemanan."
"Hidup Yurdha itu emang penuh misteri dah!" Celetuk Brinia membuat Gara tertawa dan Gara pun membenarkan ucapan kekasihnya. Memang sahabatnya satu itu paling susah di tebak dan paling bisa diam.
__ADS_1
"Sayang, kamu habis ini mau langsung pulang?" Tanya Gara.
"Iya.. capek banget aku." Jawab Brinia.
"kamu hati-hati ya nyetirnya, jangan ngebut... nanti sampai rumah langsung istirahat." Perintah Gara.
"Kalau kamu habis ini mau langsung ke lokasi shooting lagi?" Tanya Brinia.
"Iya, tapi aku mau mampir dulu ke apartemen Yurdha. Mau ambil Hoodie milik Axel yang ketinggalan disana. Kemarin soalnya aku pinjem hoodie-nya Axel karena jaket aku kotor habis jatuh." Jelas Gara.
Axel adalah salah satu artis yang menjadi teman baik Gara di lokasi shooting. Brinia juga ingat kemarin Gara menggunakan Hoodie yang tidak Brinia kenal.
"Kamu hati-hati ya..."
"Siap!"
...**...
Apartemen Yurdha dan Mall yang tadi Gara kunjungi tidak begitu jauh. Terlebih sebelum kembali ke lokasi shooting, Gara memang melewati apartemen milik sahabatnya itu yang digunakan sebagai basecamp. Jadi sekalian saja Gara mengambil Hoodie milik Axel kemudian memasukkannya ke laundry sehingga bisa segera dikembalikan.
Perkumpulan sahabat minim akhlak yang tidak memberikan nama pada genk-nya itu pun semuanya tahu password apartemen yang dibelikan ayah Yurdha sewaktu Yurdha masih SMA. Jadi semuanya bisa keluar masuk dengan bebas di apartemen tersebut.
Gara tidak perlu bertanya apakah pemilik apartemen itu sedang ada ditempat atau tidak. Semuanya diberikan akses dengan bebas disana.
Ceklek.
Gara pun membuka pintu apartemen Yurdha setelah berhasil memasukkan password. Langkah Gara terhenti melihat tiga pasang sepatu lelaki berada di rak sepatu dengan tidak rapi.
"Mereka pada disini?" Gumam Gara. Dalam hatinya, Gara bertanya, kenapa dirinya tidak diinfokan jika sedang berkumpul. Biasanya mereka heboh di group.
Kebetulan antara pintu apartemen dengan living room terdapat sekat berupa interior berwarna gold. Sehingga para penghuni di dalam sana tidak menyadari kehadiran Gara karena asik mengobrol.
Gara pun berniat untuk mengagetkan para sahabatnya yang kedengarannya sedang serius berbicara.
Namun belum juga mengagetkan para sahabatnya, langkah Gara langsung berhenti seketika mendengar nama dirinya dan Brinia disebut.
"Gara dan Brinia sebentar lagi menikah Yur, jadi gue harap elu segera lupakan Brinia. Elu gak ada gunanya juga siang-siang mabuk begini, alkohol gak bisa buat elu berubah jadi cinta sama Nesya." Suara Juna.
"Gue setuju sama Juna, gue tahu cinta elu begitu besar buat Brinia dan sangat tulus. Tapi elu harus bisa melupakan Brinia demi persahabatan kita Yur." Kini giliran suara Denim terdengar ditelinga Gara.
"Melupakan cinta pertama tidak mudah. Gue sangat mencintai Brinia. Kalian bisa berkata seperti itu karena kalian tidak pernah mencintai wanita, sebab kalian hanya menggunakan wanita sebagai pelepasan nafsuu saja!" Suara berat Yurdha membuat detak jantung Gara berdegup sangat kencang.
to be continued..
Weekend selow update ya ...
Makasih dukungannya...
__ADS_1
tapi btw, kira-kira apa yang akan dilakukan Gara setelah ini? hayo tebak!