
Dengan tatapan yang saling mendamba dan penuh cinta, Gara pun memasangkan cincin berlian dengan model sederhana namun terlihat elegan pada jari manis Brinia membuat mata Brinia berkaca-kaca karena bahagia. Cincin yang Gara pilih sungguh begitu indah di mata Brinia karena sesuai dengan karakter Brinia yang simpel dan anti ribet.
“Makasih Segara-ku..” Ucap Brinia pelan. Gara pun mengangguk kemudian mengecup kening Brinia selama beberapa detik sembari mendalami perasaan masing-masing. Brinia benar-benar bahagia hari ini, begitu juga dengan Gara.
“Masak cium kening doang? Cium bibir dong Ga!” Teriak Juna dari tempatnya berdiri yang tidak jauh dari Brinia dan Gara.
“Ah gak asik. Udah berani melamar tapi belum berani cium bibir?” Sambung Denim berusaha menjadi kompor.
“Ciuman! Ciuman.. ciuman…” Teriak sahabat Gara dan Brinia dengan kompak membuat dua sejoli itu langsung sama-sama merona karena malu.
“Ayolah Ga, buruan cium Brinia!” Desak Denim yang memang memiliki otak mesum.
“Apa perlu gue ajarin tutorial ciuman?” Ucap Juna yang tidak sabar melihat sahabatnya merasakan yang namanya ciuman.
Bagi Juna dan Denim, usia 22 tahun tapi masih perjaka ting ting adalah hal yang sangat memalukan. Apalagi Gara merupakan artis yang sedang naik daun dan digandrungi banyak wanita.
“Sialan!” Umpat Gara dalam hati karena sebagai lelaki normal, Gara juga ingin merasakan bagaimana rasanya ciuman, apalagi berciuman dengan Brinia, satu-satunya gadis yang Gara inginkan dan sangat Gara cintai.
Namun Gara mencoba untuk tetap bisa mengendalikan dirinya agar tidak kebablasan demi menghargai kekasih hatinya itu. Karena kata Mama Amelia, yang namanya lelaki adalah yang bisa menjaga kehormatan seorang wanita.
Cup!
Sebuah kecupan mendarat sempurna di pipi kanan Brinia membuat Juna, Denim dan Nesya semakin heboh karena Gara benar-benar tidak berani mencium bibir Brinia.
Gara tidak peduli dengan mulut sampah sahabat-sahabatnya. Bagi Gara, jika memang dia mencium bibir Brinia, tentu Gara tidak akan melakukannya di depan para sahabatnya. Gara ingin melakukannya dengan sangat spesial karena itu akan menjadi pengalaman pertama untuk dirinya dan Brinia.
“Aku malu Ga.” Lirih Brinia yang kembali memeluk tubuh kekar kekasihnya karena mulut Denim dan Juna sudah tidak terkendali lagi dengan kalimat kalimat frontal yang keluar dari mulut mereka.
Eh. Sejak kapan Brinia menjadi pemalu?
“Jangan dengarkan mereka Bee. Semakin kita terlihat salah tingkah, dua manusia itu justru akan semakin seenak jidatnya sendiri meledek kita. Sudah, anggap saja saat ini kita hanya sedang berdua.” Bisik Gara di telinga Brinia dengan lirih.
Gara yang tadi melihat wajah cantik Brinia sudah seperti kepiting rebus rasanya sungguh tidak tega.
“Memang harus banget ya sepasang kekasih itu ciuman bibir?” Tanya Brinia dengan polos.
Sungguh, Gara ingin sekali menjawab IYA, namun Gara takut jika sekalinya dia mencoba, maka dia tidak akan dapat mengendalikan dirinya.
“Rileks dan tenang.. kalau perlu omelin mereka agar mereka diam, kan mereka sangat takut kalau kamu udah mengeluarkan taring.” Bisik Gara lagi. Nafas Gara langsung mengenai kulit Brinia membuat Brinia meremang dan memejamkan matanya kemudian mengangguk.
Brinia berusaha mengontrol dirinya agar tidak kelihatan salah tingkah meskipun sebenarnya Brinia ingin protes karena Gara secara tidak langsung menganggap dirinya hewan buas yang dapat mengeluarkan taring saat marah.
__ADS_1
“Inhaler… exhaler… rileks sayang.. aku mencintai kamu dan aku bahagia karena kamu mau menerima niatan aku untuk serius dalam hubungan ini.” Kata Gara mencoba fokus pada tujuannya lagi, bukan pada perihal ciuman.
“Makasih Segara-ku sayang, aku gak punya alasan untuk tidak menerima kamu karena aku sangat mencintai kamu.. aku bahagia malam ini. Cincinnya sangat pas dan cocok di jari aku.” Jawab Brinia dengan senyum menawan setelah pelukan mereka terlepas.
“Ciee ciee…”
“Percuma so sweet tapi gak berani ciuman.”
Tuh kan.. lagi kan? ciuman lagi kan yang dibahas?
“Ayolah Ga, Cium Brinia.. kalau elu gak berani cium bibir Brinia, nanti gue pakein rok mini-nya Nesya loh!” Ucap Denim yang langsung disambut tawa oleh para sahabatnya. Emang dua manusia itu selalu menjadi biang rusuh.
“Berisik kalian!” Ucap Brinia yang langsung melotot menghadap Juna dan Denim yang terus-terusan heboh sendiri.
"Emang kalian pikir gue cewek apaan yang mau ciuman di depan umum? jangan samakan gue sama wanita-wanita kalian ya!" Sentak Brinia.
“Mampus kalian!” Kata Yurdha dengan senyum tipis sambil melirik Juna dan Denim yang ada di sebelahnya.
Sedari tadi hanya Yurdha lah yang paling anteng dan tidak meledek dua sejoli yang selalu di mabuk cinta itu.
“Singa betina udah melotot gitu kok serem ya.” Cicit Denim.
“Sudah-sudah… Brinia dan Gara, silahkan makan malam berdua di meja yang sudah di siapkan Yurdha di belakang noh. Nanti makanannya keburu dingin.” Kata Nesya yang tidak ingin melihat perdebatan panjang di hari bahagia sahabatnya.
“Nah, ayo makan sayang!” Ajak Gara sambil mengulurkan tangannya pada Brinia. Gara juga enggan membahas perihal ciuman ciuman dan ciuman lagi.. bisa-bisa benteng pertahanannya malam ini runtuh seketika.
“Yaudah, ayo makan malam bareng-bareng.”Jawab Brinia yang menerima uluran tangan kekasihnya.
“Kita makan berdua sayang. Mereka akan makan sendiri di meja makan.” Ucap Gara membuat Brinia mengernyit.
"Kenapa?"
“Aku ingin kita membahas masa depan berdua. Lagian Yurdha sudah menyiapkan makan malam romantis untuk kita.” Kata Gara membuat Brinia tersenyum.
“Terima kasih Segara-ku…”
“Selamat bersenang-senang kalian!” Kata Nesya setelah Brinia dan Gara mulai keluar dari Villa menuju taman belakang Villa yang langsung menghadap ke arah pantai lepas.
Sementara Nesya, Juna, Denim dan Yurdha menikmati makan malam berempat di meja ruang makan yang ada di dalam Villa Ocean View.
...*...
__ADS_1
Brinia tertegun, taman dibelakang Villa ternyata sudah disulap dengan begitu indahnya oleh Gara dan para sahabatnya dengan lampu yang memberikan nuansa romantis. Kain kain putih yang menjadi dekorasi saung sementara di atas pasir putih itu berterbangan kesana kemari karena tiupan angina laut yang cukup kencang berhembus malam ini.
Mereka tidak memakai lilin sebagai pelengkap dekorasi karena akan percuma, lilin itu akan mati tertiup hembusan angin.
“Bagaimana? Kamu suka?” Tanya Gara menuntun Brinia menuju saung.
“Sangat suka, aku gak menyangka kalau kamu bisa memikirkan hal seperti ini dan mempersiapkan semua ini. Padahal akhir-akhir ini kamu sangat sibuk.” Ujar Brinia yang memang tahu jadwal kekasihnya yang sedang banyak job berdatangan.
“Sesibuk sibuknya aku, kamu dan keluarga aku adalah prioritas utama aku sayang.” Jawab Gara dengan senyuman yang semakin membuatnya terlihat tampan.
Bagaimana Brinia tidak meleleh jika Gara selalu memperlakukannya dengan sangat manis seperti ini. Apalagi yang Gara katakan itu bukan hanya bualan semata, namun memang benar-benar Gara buktikan.
Dan satu nilai plus dari Brinia untuk Gara adalah Gara yang sangat menyayangi sang Mama. Bukankah lelaki yang menyayangi ibunya, nantinya juga akan sangat menyayangi istrinya?
“Kata-kata kamu selalu manis.” Ucap Brinia.
Gara hanya tersenyum kemudian mempersilahkan Brinia untuk duduk lebih dulu.
“Seafood?”
“Hmm.. semua adalah makanan kesukaan kamu sayang.” Kata Gara yang menatap wajah cantik Brinia dengan penuh kekaguman.
“Tapi bukankah kamu gak suka Seafood dan sejenis ikan lainnya? Kenapa kamu tidak menyiapkan steak atau sejenisnya saja? Aku bisa makan semuanya.” Ucap Brinia yang menatap Gara dengan sendu mengingat kekasihnya itu tidak suka makanan yang sedikit saja bau amis dan berbagai jenis seafood. Gara lebih suka makanan yang dari daging-dagingan.
“Demi kamu aku akan makan semuanya ini.. nanti ada saatnya kamu harus menemani aku makan makanan yang aku sukai.” Ujar Gara.
“Aku siap kapan pun itu!” Jawab Brinia dengan penuh semangat.
“Kamu semakin cantik jika tersenyum begitu Brinia.”
Eh.
Wajah Brinia langsung kembali merona.
“ Aku merasa beruntung sekali karena kamu membalas cinta aku dan kamu selalu support aku.” Ucap Gara yang menggenggam tangan Brinia.
“Aku yang beruntung karena kamu adalah satu-satunya orang yang selalu ada saat-saat terburuk dalam hidup aku. Terlebih kamu mau mengungkapkan perasaan kamu lebih dulu Ga, sehingga aku tidak terus-terusan tersiksa dengan perasaan cinta aku sama kamu yang kian hari kian besar. Makasih untuk semuanya ya… aku seneng punya calon suami yang ganteng dan di kagumi banyak gadis.”
“Yakin kamu seneng? Nggak cemburu?” Goda Gara.
to be Continued
__ADS_1