
Joging pagi di taman agar mendapatkan keringat dan membuat pikiran lebih fresh nyatanya hanya angan semata untuk Brinia.
Pasalnya, kehadiran Melly secara tiba-tiba benar-benar membuat mood Brinia pagi ini semakin buruk. Apalagi ditambah pengakuan Yurdha yang mengada-ada dan di depan umum.
Setelah Yurdha menjelaskan alasannya berkata seperti itu di depan Melly, Oke... Brinia paham.. maksud Yurdha itu baik. Tapi tetap saja, semua ini sungguh diluar prediksi Brinia apalagi membayangkan tanggapan Gara setelah ini. Brinia tidak mau ada salah paham hingga membuat persahabatan mereka retak.
Helaan nafas Brinia membuat Kiki yang melangkah hendak menyapu teras belakang berhenti. Kemudian Kiki menghampiri anak dari majikannya itu yang sedang termenung di kursi santai teras belakang.
"Non... kenapa pagi-pagi mukanya kusut banget sih non.. kek lagi nanggung utang negara aja."
"Aku lagi badmood mba." Jawab Brinia.
"Kenapa? karena mas Gara ya mba? mas Gara yang selalu diserbu fans abal-abalnya itu ya mba?" Tebak Kiki.
Brinia pun menyuruh Kiki untuk duduk disampingnya guna menemani dirinya yang sedang memikirkan banyak hal. Kiki pun menuruti permintaan Brinia.
"Apa yang sedang non Brinia pikirkan? bolehkan Kiki tau? Kiki akan menjadi pendengar yang baik untuk non Brinia." Ucap Kiki yang memang dari kemarin sudah diwanti-wanti oleh Gara agar mendekati Brinia supaya Brinia mau membagi keluh kesahnya. Gara benar-benar tidak ingin Brinia merasa insecure atas pemberitaan saat ini.
"Sabrina yang jadi lawan main Gara itu emang cantik banget ya mba... bentuk tubuhnya dan gaya berpakaiannya juga sangat menarik, cocok buat Gara." Kata Brinia sambil tersenyum tipis. Senyum yang penuh sesak dalam dadanya.
Entahlah, setelah mendengar ucapan Melly tadi, Brinia terus saja kepikiran dan membandingkan dirinya sendiri dengan Sabrina yang sangat modis. Berbeda dengan dirinya yang suka berpakaian simpel meskipun Brinia masuk ke dalam golongan keluarga berada.
"Non Brinia ini bicara apa sih? mas Gara itu cocoknya sama non Brinia. titik! gak cocok sama yang lain."
"Tapi Sabrina lebih cantik mba."
"Non, dia itu artis. Perawatannya maksimal. Kita gak tahu loh non, hidung mancungnya.. dagu lancipnya itu asli apa operasi. Kulit putihnya itu pun yakin kulit asli, bukan suntik-suntik? Sekarang banyak banget artis yang oplas loh non." Tanya Kiki.
"Non Brinia itu lebih cantik dan manis dari pada artis itu loh.." Lanjut Kiki.
"Kamu bicara seperti itu karena aku anak majikan kamu kan mba?" Tanya Brinia.
"No! No! No! No!" Kiki menggeleng-gelengkan kepalanya tidak setuju.
"Non Brinia itu cantik, dan cantiknya alami pula. Manis, dilihat gak ngebosenin makanya mas Gara cinta banget sama non Brinia. Ditambah lagi, non Brinia itu baik banget. Bukan cuma fisik aja yang cantik, tapi kepribadian dan hati non Brinia juga cantik." Puji Kiki dengan penuh ketulusan.
"Mba Kiki mah sok tau tentang isi hati aku." Ujar Brinia.
__ADS_1
"Bukan sok tau, tapi memang tau karena aku kan kerja disini udah lama, udah kenal banget sama non Brinia. Dan asal non Brinia tau ya, mas Gara itu bukan tipe lelaki yang hanya memandang fisik seorang wanita. Buktinya, yang naksir mas Gara dari dulu itu cantik-cantik, seksi-seksi, terus ada yang anaknya pejabat juga. Tapi apa pernah mas Gara menanggapi mereka non? Nggak pernah. Karena mas Gara cintanya cuma buat non Brinia." Jelas Kiki yang berusaha membuat Brinia menjadi lebih percaya diri.
"Tetap saja mba, aku takut Gara akan berpaling." Batin Brinia.
"Mba Kiki benar Bee... aku itu cintanya sama kamu! bukan yang lain. Aku itu cocoknya juga sama kamu, bukan yang lain!" Tegas Gara yang tiba-tiba muncul di dekat Brinia.
"Aduh mas Gara ngagetin aja sih!" Kata Kiki sambil mengelus dadanya.
"Nggak Managernya, gak artisnya... sukanya datang tiba-tiba." Gerutu Brinia.
...***...
Sesaat sebelumnya,
Gara tengah asik merajut mimpi diatas kasur empuk dan mewahnya. Lelaki 22 tahun itu tidur hanya dengan menggunakan boxer saja sambil tengkurap setelah begadang semalaman demi shooting sinetron kejar tayang.
Tubuh yang benar-benar lelah dan mata yang benar-benar ngantuk membuat Gara dengan mudahnya tidur nyenyak tanpa menyadari bahwa matahari sudah cukup tinggi.
Belum genap 4 jam mata Gara terpejam, tiba-tiba sebuah pukulan mendarat sempurna di lengan Gara. Pukulan yang cukup keras.
"Arghh..." Umpat Gara merasakan sakit di lengan bagian atasnya.
"Bangun cepetan!" Kata orang yang memukul Gara dengan tegas sebab mata Gara masih saja setiap terpejam.
"Bangun Kambing!" Kata orang itu lagi.
"Apaan sih? ganggu orang tidur aja!" Kata Gara. Meksipun mata Gara tertutup dan kesadaran Gara belum sepenuhnya berkumpul, namun Gara sangat tahu suara siapa yang sedang membangunkan dirinya.
"Elu bangun, apa gue tonjok muka elu biar babak belur dan jadi jelek sehingga elu gak laku lagi jadi artis!" Ancam orang itu dengan penuh penekanan.
"Kamvret elu Yur! gue lagi tidur monyet!" Umpat Gara berusaha keras untuk membuka matanya.
BUGH!
"Bangun Kambing!" Perintah Yurdha, lelaki yang membangunkan Gara dengan cara memukul.
"Apaan sih monyet!" Gara pun dengan sangat terpaksa membuka matanya setelah usaha yang begitu keras mengumpulkan nyawanya.
__ADS_1
"Gue mau bicara sama elu!" Kata Yurdha dengan serius membuat Gara mengernyit. Oke, Yurdha memang orangnya kaku dan tidak suka bercanda. Tapi ada apakah gerangan yang membuat Yurdha datang ke kamarnya sampai repot-repot membangunkan dia sepagi ini?
"Elu kurang kerjaan apa gimana sih sampai pagi-pagi kesini ganggu tidur gue!" Kata Gara sambil mengucek matanya.
"Gue mau ngomong serius sama elu Ga!"
"Iya. Ngomong aja. Apaan?" Gara pun duduk bersandar pada headboard bed.
"Gue tadi gak sengaja ketemu Brinia di taman. Kita ngobrol berdua. Dan elu tahu siapa yang datang menghampiri kita?"
"Siapa?" Tanya Gara dengan wajah yang biasa saja. Karena Gara tidak cemburu sama sekali melihat kedekatan Brinia dengan para sahabat-sahabatnya.
"Melly."
"Melly manager gue?" Tanya Gara dengan mata yang melebar setelah mendapat jawaban dari Yurdha berupa anggukkan.
Yurdha pun menceritakan semua yang terjadi di taman tanpa di kurang dan lebihkan sama sekali. Termasuk pengakuan Yurdha yang mengatakan pada Melly bahwa Brinia adalah kekasihnya. Yurdha tidak ingin terjadi kesalahpahaman antara dirinya dan Gara, maupun antara Brinia dan Gara.
"Maksud elu apaan monyet!" Kata Gara emosi mendengar cerita Yurdha.
Rasa kantuk Gara hilang seketika mendengar kekasihnya diakui oleh lelaki lain sebagai kekasih.
"Jawab! maksud elu apaan ngaku-ngaku Brinia pacar elu?" Tanya Gara yang langsung menarik kerah baju Yurdha dengan kasar.
"Terus maksud elu apa tidak mengakui Brinia sebagai kekasih elu? ha? elu justru mengakui Brinia sebagai sepupu elu? Maksud elu apa? Brinia itu sahabat gue juga! Dia cinta sama elu, elu gak mikir perasaan dia gimana! egois elu Ga!" Jawab Yurdha dengan menampilkan wajah dingin.
"Gue berkata seperti itu juga atas persetujuan Brinia monyet!"
"Dan elu tetap lakukan meskipun Brinia setuju? Pikirkan perasaan dia! udah gak elu akui, elu juga diam aja saat fans fans gila elu menghujat bahkan melakukan body shaming pada Brinia dengan membandingkan Brinia sama Sabrina!"
"Elu itu terlalu egois Ga! Otak elu dimana? Ha? bukannya berusaha melindungi Brinia, elu justru sibuk shooting sama Sabrina!" Ungkap Yurdha dengan sedikit emosi yang tertahan sejak tadi bertemu Melly.
Tadi, setelah Melly pergi.. Yurdha berbicara sebentar dengan Brinia kemudian Brinia memilih pamit pulang. Dan duduk di taman sendirian, Yurdha membuka sosial medianya kemudian membaca komentar-komentar negatif tentang Brinia. Emosi Yurdha memuncak begitu saja sehingga Yurdha memilih untuk melampiaskannya pada orang yang tepat, yaitu Gara.
to be Continued
Yuk like dan komentar.. makasih ❤️
__ADS_1