
"Saa... sakit gaaa...." rengek Brinia dengan mata terpejam menahan perih pada inti tubuhnya saat Gara berusaha membobol benteng kokoh milik Brinia.
"Sabar dulu sayang... susah ini..."
Gara masih terus berusaha meskipun usahanya selalu gagal karena kelewat dari tempatnya terus. Lelaki yang sama sekali belum berpengalaman dalam sekss itu pun benar-benar merasa kesusahan untuk menjadi yang pertama bagi istrinya.
"Sayang.. sabar dulu ya.. bentar.." Ujar Gara sambil mengecup kening Brinia lembut. Sungguh rasanya Gara juga frustasi sendiri. Kenapa bisa sesusah ini sih?
Gara mengentikan sejenak usaha penyatuannya kemudian mengusap air mata Brinia yang membasahi pipi.
"Sakit banget ya?" Brinia pun mengangguk. Padahal baru ujungnya doang yang tadi hampir masuk loh...
"Kalau emang sakit banget, kita istirahat dulu ya... nanti malam kita coba lagi." Kata Gara dengan sangat lembut menyingkirkan anak rambut yang ada di wajah Brinia.
Gara tidak ingin memaksakan kehendak begitu saja, dia tidak ingin egois karena dia sangat mencintai Brinia. Buat apa dia merasa puas jika disisi lain Brinia kesakitan dan tidak menikmati penyatuan mereka. Gara ingin keduanya bisa saling menikmati dan melayani toh masih banyak waktu.
"Jangan Ga... lakukan sekarang aja, aku akan coba tahan, aku siap." Brinia menahan lengan Gara saat Gara hendak beranjak dari tubuh Brinia. Saat ini keduanya sudah sama-sama polos di siang yang terik.
Gara menatap sorot mata Brinia dengan dalam, ada ketakutan disana dan mungkin itu disebabkan karena rasa sakit yang mungkin luar biasa.
"Nanti malam lagi ya... kita istirahat dulu... anggap aja ini pemanasan." Gara tersenyum kemudian meraih selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya.
Gara membawa Brinia dalam pelukannya dengan rudal yang masih tegak sempurna.
"Bee.." Panggil Gara.
"Hmm.." Jawab Brinia yang menyembunyikan wajahnya di dada bidang Segara.
"Aku bahagia banget, akhirnya kita menikah. Aku mau apapun yang terjadi nanti di depan, kamu selalu ada buat aku dan aku akan selalu ada buat kamu ya." Gara mengusap lembut rambut Brinia. Deru nafas Brinia yang menerpa dada Gara tanpa penghalang itu pun justru semakin membangkitkan gairah Gara. Tapi Gara mencoba menahan dirinya sebentar saja.
"Hmm.. aku juga bahagia banget Ga... aku seneng banget, akhirnya kamu jadi pelabuhan terakhir aku, aku ingin ada kamu selalu di samping aku." Brinia semakin mengeratkan pelukannya.
Gara memberikan ciuman bertubi-tubi pada wajah cantik Brinia. Tubuh yang saling menempel dalam keadaan sama-sama polos itu memberikan sensasi berbeda untuk keduanya.
"Aku gak nyangka, kamu begitu sekssi dan cantik saat polos seperti ini Be.." Bisik Gara. Dan...
blush...
Wajah Brinia langsung merona mendengar pujian dari sang suami.
"Aku nyesel kenapa gak dari dulu nikahin aku ya, biar kita bisa begini tanpa takut dosa ataupun di grebek.." ucap Gara lagi.
"Jadi kamu nikahin aku karena nafsuu?"
"Salah satunya.." Jawab Gara realistis.
"Dasar lelaki!" Decak Brinia.
"Kita bobok dulu ya,, nanti saat bangun kita lanjutin kegiatan tadi." Brinia pun mengangguk dan tidak lama gadis itu tertidur.
Gara meminta Brinia istirahat karena Gara melihat dengan jelas wajah cantik Brinia yang sangat ngantuk. Mungkin semalam istrinya itu tidak tidur. Tapi nanti malam, Gara tidak akan membiarkan istrinya itu tidur sedetikpun. Itulah yang ada di pikiran Gara saat ini.
Setelah Brinia terlelap, Segara pun segera ke kamar mandi untuk menuntaskan apa yang perlu di tuntaskan.
...**...
"Loh Ga, kok udah turun saja?" Tanya Mama Amelia yang tengah duduk di sofa bersama papa Andra melihat hasil foto-foto akad nikah anaknya pagi tadi.
"Haus ma.. aku butuh air dingin." Jawab Gara. Papa Andra tersenyum tipis melihat rambut Segara yang masih basah.
"Ngapain cari air dingin? gagal ya?" Ledek Mama Amelia.
"Ha?" Gara seperti orang bingung.
"Maksud mama?"
"Gagal ya siang pertamanya? susah ya? sama kayak papa kamu dulu, papa kamu dulu sampai tiga malam loh mencobanya baru berhasil." Cerita Mama Amelia.
__ADS_1
"Ma... jangan menceritakan hal yang menjadi privasi kita." Papa Andra mengingatkan.
"Cerita juga sama anak sendiri Pa, dan memang udah waktunya Gara tahu akan hal hal seperti itu."
"Terserah mama." Papa Andra pasrah jika berbicara dengan istrinya.
"Semangat Gara, tunjukkan rudal kamu tidak letoy, nanti malam harus sukses." Mama Amelia menggebu-gebu layaknya suporter bola yang mendukung tim kebanggaannya.
"Rudal aku gak pernah letoy ya ma.. hanya saja aku gak tega lihat Brinia kesakitan." Jawab Gara jujur.
"Kamu foreplay-nya kurang lama Ga..." Sahut Papa Andra.
"Ha?"
"Sini papa bisikin." Papa Andra meminta Segara untuk mendekat.
...***...
Malam ini terasa berbeda,
Brinia makan malam di keluarga Byantara berstatus sebagai menantu tertua di keluarga tersebut.
Perhatian Mama Amelia padanya, sama seperti perhatian mama Amelia pada Selena dan Selia. Wanita paruh baya itu tidak membeda-bedakan sedikit pun antara anak atau menantu.
Suasana hangat dalam meja makan itu membuat hati Brinia bahagia. Padahal Papa Andra termasuk orang yang sangat dingin dan bicara seperlunya tapi entah mengapa keluarga ini sangat harmonis. Berbeda dengan ayah dan bundanya.
Meskipun duduk di meja makan yang sama, ada obrolan-obrolan ringan antara ayah, bunda dan dirinya.. Brinia tetap saja merasa berbeda dan lain. Seperti ada yang mengganjal di hatinya. Entah apa itu.
Usai makan malam, Gara pun mengajak Brinia untuk langsung ke kamar. Hal itu tentu mendapatkan ledekan dari Selena dan Selia. Beruntung Papa Andra memperingati kedua putrinya untuk diam karena wajah Brinia sudah seperti udang rebus.
Ceklek
Ceklek
Gara mengunci pintu kamarnya.
"Mereka akan mengerti Be.."
"Kamu malu-maluin ih!" Kesal Brinia yang melangkahkan kakinya memasuki kamar Gara.
"Aku udah gak sabar buat melanjutkan yang tadi siang sayang..." Bisik Gara tepat di telinga Brinia setelah Gara berhasil memeluk sang istri dari belakang.
Tubuh Brinia langsung meremang menerima perilaku Gara yang tiba-tiba, namun bibir Brinia tersenyum cerah, suaminya itu sangat menginginkan dirinya.
"Aku juga sangat menginginkan kamu Ga, aku gak sabar menjadi milik kamu seutuhnya.." Jawab Brinia.
Gara pun langsung membalikkan tubuh Brinia kemudian tanpa basa basi langsung melumaaat bibir tipis Brinia dengan penuh gelora.
Dengan senang hati, Brinia membalas setiap perlakuan Gara dengan lebih. Jika Gara menciumnya, maka dia akan segera meluumat. Brinia bahkan tidak segan untuk menyentuh tubuh Gara hingga membuat sang suami semakin terbakar gairah.
"Aku suka kamu yang juga aktif.." Ucap Gara.
"Kan kita harus saling melayani, aku gak mau ya jadi pihak yang pasif." Jawab Brinia.
Tidak ada kecanggungan antara keduanya, Gara mencoba menurunkan drees yang Brinia pakai, dan Brinia mencoba menarik kaos Gara ke atas.
"Kamu bukan hanya cantik Be.. tapi sangat sekksii... ini milikku dan hanya aku yang boleh melihat dan menikmatinya." Gara sangat mengagumi tubuh istrinya yang hanya berbalut bra dan cela na da lam.
"Ya.. semua yang ada di diriku adalah milik kamu, dan hanya milik kamu Ga..."
"Dan semua yang ada di diriku hanya milik kamu Brinia..." Gara langsung mengangkat tubuh istrinya dan membawanya di atas ranjang ukuran king size yang sangat empuk.
Keduanya jatuh bersamaan hingga menciptakan tawa pada kedua pengantin baru yang tengah berbahagia itu.
"Aku benar-benar tergila-gila sama kamu Be.." tidak ada bosannya Gara memuji Brinia.
"Suatu kebahagiaan dan kebanggan, seorang artis tampan dengan banyak fansnya tergila-gila pada gadis biasa bernama Brinia.."
__ADS_1
"Kamu bukan biasa Be.. kamu istimewa." ujar Gara langsung menyatukan bibir mereka.
Gara melakukan dengan lembut, tanpa terburu-buru sedikitpun. Gara mengingat pesan Papa Andra untuk tenang dan jangan grasa grusu.
Menikmati setiap detik menuju proses penyatuan keduanya tanpa berpikir lagi, setelah ini harus ngapain dan mau ngapain. Gara menuruti perintah papa Andra, menggunakan insting seorang lelaki.
Tangan Gara mengusap lembut perut rata Brinia dan beralih ke punggung Brinia untuk membuka kaitan bra milik sang istri. Ah sudah tidak sesusah tadi saat membuka kaitan bra tersebut. Mungkin sudah ada pengalaman sebelumnya~
"Menggemaskan!" Ucap Gara yang langsung melahap salah satu puncak milik Brinia membuat sang empu mendesaaah tidak tertahan.
Brinia tidak lagi memikirkan suaranya akan di dengar orang, karena kamar Gara sudah dilengkapi dengan peredam suara. Jadi misal dia mau menjerit pun akan aman.
"Arghhhhhmmmpt...." ******* tertahan saat Gara semakin brutal melancarkan aksinya. Tangan kiri Gara memainkan puncak yang satu, sedangkan tangan kanannya menuju pusat tubuh Brinia.
"Segaraaaa... arghhh...." Desah Brinia merasakan jari Gara bermain disana.
Masuk
Keluar
Masuk
Keluar
Begitu nikmat meskipun tanpa ada irama yang mengiringi.
"Ga... a.. aku mau pipisss..." Ucap Brinia yang merasakan ada sesuatu yang hendak meledak.
"Keluarkan sayang... jangan malu." Ucap Gara tersenyum puas. Inilah yang dikatakan Papa Andra, biarkan wanitanya mencapai puncak lebih dulu agar nanti tidak terlalu tegang saat penyatuan sesungguhnya.
Setelah mengeluarkan sebuah cairan, nafas Brinia terengah-engah, wajahnya memerah karena malu ditatap Gara dengan sebegitu intensnya.
"Bagaimana rasanya? enak?" Tanya Gara menggoda.
Plak!
Gara tertawa setelah mendapatkan pukulan di lengannya oleh Brinia.
"Ini baru pemanasan sayang... ayo kita mulai permainan intinya, kamu siap?" Tanya Gara menatap Brinia penuh damba. Brinia mengangguk meskipun tubuhnya terasa sangat lemas.
"Kamu boleh melakukan apapun untuk meluapkan sakitnya. Kata Mama, sakitnya hanya sebentar kok, habis itu enak." Ucap Gara mulai melebarkan kaki istrinya.
"Kata Mama? Kamu tanya sama Mama." Brinia mengernyit.
"Nggak! Mama yang cerita sendiri."
"Ga.. kamu malu mal....empplt..." Gara langsung menyerang bibir Brinia kembali sebelum Brinia menyelesaikan kalimatnya.
Saat Brinia sudah mulai terbuai kembali dengan permainan bibirnya, Gara mulai mengarahkan rudalnya menuju lembah yang sangat ia idam-idamkan sejak dulu.
Susah?
Iya masih susah, terpaksa Gara melepaskan tautan bibirnya dan terfokus pada rudal miliknya yang ingin segera masuk.
"Tahan sebentar sayang... ya please."
Brinia mengangguk sambil meringis. Bantal yang ada di kanan dan kirinya menjadi pelampiasan Brinia untuk menyalurkan rasa sakit pada pusat tubuhnya.
"Sebentar lagi sayang..." Ucap Gara masih berusaha penuh.
Sebisa mungkin Brinia tidak merintih seperti siang tadi agar Gara tidak merasa 'tidak tega' pada dirinya. Namun air mata Brinia yang menetes tidak bisa dicegah.
jleb
"Arrghhh ... sa... kittt gaaa..." rintih Brinia pada akhirnya saat rudal Gara berhasil masuk dengan sempurna.
"Makasih sayang..." Ucap Gara mengecup bibir Brinia saat merasakan rudalnya terasa terjepit tapi nikmat.
__ADS_1
to be continued