
Maaf yaa belum bisa crazy up lagi karena author dari kemarin lagi ga enak badan juga kerjaan di dunia nyata cukup menumpuk... Alhamdulillah ini udah enakan semoga besok bisa mulai update doubel lagi... makasih yang masih setia menunggu novel ini...
HAPPY READING 🥰
Hari sudah berlalu,
Namun rasa bersalah Gara pada Brinia tak kunjung berlalu tentang kejadian di pesta kemarin malam itu. Memang saat ini Brinia tidak mengetahui semuanya, namun Gara merasa tidak nyaman karena tidak jujur dan terbuka dengan Brinia. Gara merasa sedang mencurangi wanita yang teramat ia cintai itu.
Semalam, Gara saja tidak bisa tidur dengan tenang. Lelaki 22 tahun itu menimang nimang, apakah dia harus memberitahu Brinia tentang semua itu atau menutup rapat semuanya. Toh tidak ada bukti otentik mengenai kejadian itu kan, sebab seluruh video dan CCTV sudah diamankan Yurdha.
Dan Gara memutuskan untuk berkata jujur pada Brinia. Karena sungguh tidak nyaman sekali terus dalam perasaan bersalah. Apalagi pesan Mama Amelia, sebuah hubungan harus dilandasi kepercayaan dan kejujuran. Gara ingin Brinia selalu terbuka dan jujur padanya mengingat Brinia adalah orang yang cukup tertutup mengenai perasaannya. Jadi Gara harus melakukan hal itu lebih dulu sebelum mengharapkan Brinia bisa berbuka padanya....
Namun Gara masih bingung, dia memberitahu Brinia tentang kejadian itu sekarang atau nanti setelah mereka sah menjadi suami istri mengingat hari pernikahan mereka sudah semakin dekat saja. Intinya, mau diberitahu sekarang atau nanti... Brinia tetap akan kecewa.
Jika diberitahukan sekarang, bagaimana dengan respon Brinia? Bagaimana jika Brinia justru ragu dengan Gara setelah mendengar semua kejujurannya dan Brinia mempertimbangkan lagi pernikahan mereka?
Ah otak Gara rasanya benar-benar kalut.
"Sayang, kamu lagi ngelamunin apa sih?" Suara Brinia benar-benar mengejutkan Gara.
"Astaga! Kamu ngagetin aku Bee." Ucap Gara sambil menghela nafasnya.
"Kamu lagi mikirin apa sih? kamu ada masalah?" Tanya Brinia menatap Gara dengan lekat. Brinia kemudian membuka teh kemasan dalam botol dan menyodorkannya pada Gara.
"Ngga be... aku gak mikirin apa-apa." Gara menerima minuman itu sambil berucap terima kasih pada kekasihnya. Minuman dingin barangkali bisa mendinginkan otaknya yang terasa ingin meledak.
"Kalau enggak, lalu apa yang kamu pikirkan sih? sampai-sampai aku masuk mobil kamu gak denger." Tanya Brinia yang memang baru saja membeli minuman dan cemilan di minimarket sedangkan Gara memilih menunggu Brinia di dalam mobil.
"Masalah kerjaan, gak begitu penting juga kok." Elak Gara yang belum siap cerita semua pada Brinia saat ini.
Gara pun mulai menjalankan mobilnya kembali menuju rumah mereka setelah tadi dia menjemput Brinia untuk mengurus ijazahnya di Kantor Dekan Fakultas Kedokteran.
"Kalau gak begitu penting, gak mungkin muka kamu seserius itu Segara..."
"Kasih aku waktu bee... aku pasti akan cerita sama kamu, aku janji. Apapun itu aku akan cerita sama kamu. Aku hanya butuh waktu sejenak. Oke." Kata Gara dengan lembut berharap Brinia tidak mendesaknya lebih dulu.
"Okey.. aku menunggu semua cerita kamu." jawab Brinia sambil mengusap lengan Gara dengan lembut.
"Apapun yang kamu hadapi saat ini di pekerjaan kamu, aku hanya bisa doakan semoga segalanya dimudahkan oleh Tuhan... tapi kalau kamu diminta adegan mesra sama Sabrina aku gak terima ya... gak ada cium-cium kening ataupun cium pipi. Cuma boleh peluk sewajarnya aja. Meskipun Sabrina menjalin hubungan sama Denim, tetap saja aku cemburu!" Jujur Brinia membuat hati Gara terasa getir.
Sekarang Brinia sudah mulai belajar mengungkapkan apa yang ia rasakan berkat dorongan dari Mama Amelia.
"Maafkan aku Bee.. aku bukan hanya cium pipi atau kening Sabrina, kemarin aku justru beneran ciuman sama Sabrina dan aku sempat.....
Argh!! sialan! kenapa aku harus mengingat itu lagi... untung kemarin semua jejak sudah dihapus Brinia." Batin Gara.
"Sayang.. kamu dengerin aku kan?"
__ADS_1
"I.. iya, aku dengerin kamu kok.. aku gak akan beradegan mesra sama Sabrina ataupun wanita lain." Jawab Gara.
"Maksudnya?"
"Nanti kamu juga akan tau." Jawab Gara sambil tersenyum pada Brinia kemudian tangan kiri Gara meraih tangan Brinia dan menggenggamnya.
Sebenarnya, tanpa Brinia tahu.. pagi tadi Gara sudah mengirimkan pesan pada Melly untuk mundur dari JH entertainment setelah tahu kelakuan Johan dan siap membayar pinalti.
Gara dan Yudha akan menyelidiki sendiri apa motif Johan tanpa melibatkan siapapun termasuk Papa Andra. Karena Gara takut papa Andra akan murka. Murka yang gak apa-apa sih, Gara siap menerima konsekuensinya, tapi setelah dia menikahi Brinia aja.
Rencananya, setelah Gara memutuskan kontrak dengan JH entertainment.. Gara hanya akan menerima tawaran iklan tanpa adegan mesra dengan lawan jenis. Gara akan mulai belajar mempelajari perusahaan keluarganya saja agar kehidupan rumah tangganya nanti bisa lebih tenang. Jadi menjadi publik figur ia jadikan sebagai hobi saja.
Toh setelah konsultasi dengan pengacara keluarga, Gara bisa mengajukan banding jika JH entertainment menuntut Gara yang tidak membayar pinalti sebanyak 18M karena itu sama sekali tidak masuk akal. Kenapa juga Gara baru kepikiran konsultasi sama pengacara kemarin malam yak~ kenapa gak dari kemarin-kemarin~
Tidak berselang lama, ponsel Gara berdering. Nama Melly muncul di layar ponsel Gara.
"Kenapa gak diangkat?" Tanya Brinia melirik layar ponsel Gara sedangkan Gara tidak berniat mengangkatnya.
"Biarkan saja." Jawab Gara.
Tidak mungkin Gara mengangkat telfon Melly sekarang karena Gara yakin Melly akan membahas keputusannya pagi tadi yang hanya lewat pesan singkat.
"Apa Melly buat ulah lagi sehingga kamu dua hari ini gak berangkat shooting?" Tebak Brinia.
"Entahlah." Jawab Gara malas.
Dan tepat saat lampu merah, pesan dari Melly pun muncul. Gara langsung meraih ponselnya dan membuka pesannya. Gara penasaran tentang apa yang akan Melly katakan.
Pesan dari Melly berhasil membuat rahang Gara mengeras. Untung Brinia sedang sibuk mengirim pesan dengan Mikha sehingga tidak memperhatikan ekspresi Gara.
"Bee.. aku antar kamu sampai depan rumah doang gak apa-apa kan?" Tanya Gara pada Brinia.
"Nggak apa-apa sih.. emang kamu mau kemana? jadi kamu gak jadi ngerjain tugas?" Tanya Brinia. Rencananya Gara akan mengerjakan tugas kuliahnya di rumah Brinia dengan dibantu Brinia.
"Nanti malam aku akan mengerjakan sendiri. Kalau aku kesulitan, aku akan mendatangi kamu. Ada yang harus aku urus sebelum dia banyak berulah."
"Melly?" Tebak Brinia dan dijawab anggukan oleh Gara.
"Dasar anak anjing!" Umpat Brinia kesal. Meksipun Brinia penasaran tentang apa yang Melly lakukan kali ini, tapi Brinia mencoba menahan dirinya untuk tidak kepo sekarang juga. Sebab Gara tadi sudah bilang untuk memintanya waktu sebelum cerita.
...*...
Setelah memberikan kecupan singkat di bibir Gara, Brinia turun dari mobil sang kekasih dengan beberapa kantong plastik berisi cemilan.
Ya, hanya kecupan singkat.. karena setelah ciuman panas kemarin di gazebo, keduanya hampir lepas kendali. Jadi mereka tidak berani ciuman panas lagi sebelum SAH.
Brinia menatap mobil Gara yang langsung melesat sambil tersenyum dan hati berdoa, semoga apapun urusan Gara dilancarkan oleh Tuhan dan semoga si Melly segera kena azab.
__ADS_1
"Non Brinia baru pulang?" Tanya satpam yang sedang membukakan pintu gerbang untuk Brinia.
"Iya pak... " Jawab Brinia sambil tersenyum.
"Oh ya pak.. ini buat bapak." Brinia memberikan kripik singkong ukuran jumbo, biskuit coklat dan keripik pisang pada satpam rumahnya.
"Lah kok dikasihkan ke saya banyak banget non?" Tanya satpam itu.
"Buat teman ngopi bapak biar semangat kerja. Aku masuk dulu ya pak."
"Iya non, makasih."
Brinia pun melangkahkan kakinya lagi untuk memasuki rumah mewah bergaya Eropa dengan halaman cukup lapang itu dan nuansa putih.
"Pokoknya, setelah Brinia dan Gara menikah, aku mau kita pisah Mas! Aku mau kita berpisah!" Teriak Bunda Sekar dari dalam rumah menghentikan langkah kaki Brinia. Tangis Sekar terdengar begitu pilu.
"Jangan mengambil keputusan saat emosi Sekar! Kita cari solusi masalah ini bareng-bareng, jangan dengan berpisah. Aku gak mau membuat almarhum Brian dan Brinia sedih. Aku cinta sama kamu Sekar."
"Nggak mas! udah cukup aku bersabar dari puluhan tahun lalu saat kamu mengkhianati aku... Biarkan aku mengambil keputusan. Dan keputusan aku udah bulat, aku mau kita bercerai setelah Brinia dan Gara menikah, setelah Brinia bahagia dengan lelaki yang ia cintai. Dan kamu bisa kembali pada wanita itu!" Suara bunda Sekar nampak bergetar membuat air mata Brinia yang mendengarnya juga ikut menetes.
"Please Sekar, jangan dengarkan ucapan Nita kemarin, Ancaman Nita kemarin hanya gertakan saja. Aku akan lakukan apa saja agar Nita tidak berani macam-macam. Kamu tahu sendiri kan Sekar, sejak aku menceraikan Nita, aku sudah tidak pernah berhubungan lagi dengan Nita. Aku selalu terbuka sama kamu termasuk soal Mikha." Jelas Henry dengan tatapan penuh permohonan pada sang istri.
Sekar tahu, suaminya sudah berusaha untuk tidak mengulangi kesalahannya di masa lalu meskipun Nita sangat sering datang menggoda suaminya itu hingga beberapa kali menimbulkan kesalahpahaman dan pertengkaran.
"Nggak mas, Nita mau kamu.. dia mau anaknya itu mendapatkan status yang jelas sebagai anak kamu.. aku rela mas.. aku rela kita bercerai." Ucap bunda Sekar lirih.
"Aku gak akan pernah sudi kembali pada Nita, meskipun kamu memaksa aku untuk kita bercerai!" Tegas Ayah Henry dengan wajah yang sangat kacau.
"Aku mohon mas, turuti saja mau Nita mas.. kita gak punya pilihan lain... aku gak mau Nita sampai mewujudkan ancamannya itu, aku gak mau Brinia sampai tahu semua ini..." Ujar Sekar yang nampak frustasi.
"Tahu soal apa Bun? Ayah? Kenapa kalian seperti ini?" Tanya Brinia tiba-tiba dengan wajah sedih mendengar rencana perceraian kedua orang tuanya.
to be continued
heii heii heii...
maaf ya agak oleng authornya..
author mau umumkan pemenang pulsa 100k periode Minggu kemarin..
pemenangnya adalah... jeng jeng jeng...
Akun atas nama Meme, dengan total pemberian hadiah untuk novel ini, 2300an hadiah...
mohon segera kirim nomor kakak ya via chat di aplikasi ini.. biar hadiahnya bisa segera dikirim. Makasih kakak...
__ADS_1
buat para readers yang belum beruntung, tenang.. InshaAllah akan ada lagi.. doain rejekinya author lancar yak.. tanpa dukungan kalian, author hanya butiran debu...
makasih 🥰