Kekasih Rahasia Aktor Tampan

Kekasih Rahasia Aktor Tampan
Semoga saja


__ADS_3

Brinia sangat kesal karena Gara memotong kalimatnya begitu saja tanpa mendengar lebih dulu apa yang ingin dia katakan. Setidaknya dengar dulu kek, mau setuju atau tidak ya tidak masalah kan?


Dari pada menggerutu dan berujung perdebatan dengan Gara, Brinia lebih memilih untuk diam. Ini masih terlalu pagi untuk larut dalam emosi. Lagi pula kecanggungan atas apa yang terjadi di kamar tadi masih sangat melekat pada hati dan otak Brinia. Brinia juga sibuk berpikir bagaimana harus bersikap dengan kekasihnya itu jika nanti tiba-tiba Gara membahas hal memalukan itu.


Sedangkan Gara belum siap mendengar Brinia membahas kejadian yang mampu membuat otak dan akal sehatnya lumpuh seketika. Gara merasa salah tingkah sendiri. Sehingga Gara memilih memotong kalimat Brinia sebelum gadis yang ia cintai itu berbicara panjang lebar tanpa jeda.


Gara juga sibuk mengusir pikiran kotornya sendiri sambil fokus menyetir karena tank top hitam nan ketat yang Brinia pakai nyatanya mampu membuat Gara mengingat gunung indah pagi tadi yang terpampang sangat nyata.


Gara terus merutuki pikiran kotornya, karena sebelumnya Gara tidak pernah membayangkan aneh-aneh dengan Brinia meskipun tidak Gara pungkiri bahwa jika saat dia mimpi basah itu dengan Brinia dan hanya Brinia.


Alhasil, sepanjang berjalanan menuju rumah Yurdha, baik Gara maupun Brinia... keduanya sama-sama membisu dan tidak ada yang mau mengalah untuk membuka suara lebih dulu.


Beruntung, rumah Yurdha tidak begitu jauh dari rumah sepasang kekasih itu. Keduanya pun langsung turun dari mobil setelah Gara memarkirkan mobilnya dengan sempurna di samping mobil para sahabatnya yang sudah lebih dulu terparkir.


Dan kecanggungan sepasang kekasih itu masih terlihat jelas saat keduanya sudah turun dari mobil.


“Gila, nunggu kalian kayak nunggu siput jalan dari Bogor sampai Monas!” Ucap Nesya yang sudah berdiri di samping mobil alphard Yurdha yang akan digunakan untuk mengantar mereka ke bandara.


“Maaf, gue semalam begadang buat ngerjain skripsi.. jadi gue bangun kesiangan.. untung tadi Gara bangunin gue.” Jawab Brinia dengan wajah sendunya biar para sahabatnya tidak marah.


"Astaga, gue jadi tambah inget lagi kan.." Batin Gara mendengar Brinia berkata 'bangunin'.


Bangunin Brinia sama dengan membangunkan sesuatu dalam dirinya juga. Untung Gara bisa menguasai dirinya dengan baik.


“Kirain kalian telat karena pacaran dulu di pagi yang indah ini..” Sahut Denim, salah satu sahabat mereka.


“Nggaklah!” jawab Gara singkat sambil mengeluarkan barang-barang miliknya dan Brinia kemudian ditata di dalam mobil yang akan mengantarkan mereka ke Bandara.


Bagian bagasi tidak cukup menampung barang-barang mereka, jadi sebagian barang mereka ada yang di taruh di sela-sela jok belakang.

__ADS_1


“Iya juga gak apa-apa sih Ga, toh kalian kan sudah direstui oleh keluarga kalian.. DP DP dikit di pagi hari boleh lah… masak pacaran sudah bertahun-tahun, ciuman aja belum pernah! Kalian normal kagak sih?” Sambung lelaki berambut coklat bernama Juna.


Brinia melotot mendengar ucapan Juna, namun berbeda dengan Gara yang dalam hatinya mengatakan bahwa tadi pagi sudah mendapatkan DP istimewa secara tidak sengaja dari Brinia yang mampu membuat logikanya runtuh.


Juna, Denim dan Nesya memang selalu meledek Gara dan Brinia yang berpacaran seperti anak SD disaat status mereka yang sudah mahasiswa. Katanya sih, pacaran sehat jadi cukup sampai pelukan dan cium pipi atau kening saja, tidak lebih.


Orang lain menganggap Gara dan Brinia justru lebih seperti bersahabat tapi sahabat yang mesra. Bukan sepasang kekasih layaknya anak ibu kota.


“Masalah DP pacaran, nanti aja langsung di gasskeun saat kita sampai di jogja karena Villa yang akan kita tempati, kata Yurdha cukup jauh dari Villa lainnya dan private jadi kita bisa bebas berpesta sepuasnya!” Sambung Nesya sambil tersenyum melihat Gara dan Brinia salah tingkah sendiri dengan wajah yang sama-sama memerah.


“Ya sudah, ayo kita segera naik ke dalam mobil.. takutnya jalanan menuju bandara penuh dan kita bisa ketinggalan pesawat.” Ucap Yurdha datar. Lelaki itu benar-benar minim bicara dan ekspresi.


Yurdha duduk di samping supir yang mengantarkan mereka, di kursi belakang supir ada Brinia dan Nesya. Sedangkan di bangku paling belakang dan berdesakan ada Juna, Denim dan Gara.


Awalnya Nesya, Brinia dan Gara diminta duduk di paling belakang mengingat postur tubuh dua cewek itu lebih kecil ketimbang Juna dan Denim. Namun Gara dan Brinia menolak secara bersamaan karena keduanya sama-sama masih merasa canggung.


Hal itu tentu membuat yang lainnya menatap curiga akan hubungan keduanya yang tidak seperti biasa, namun sahabat-sahabat Gara dan Brinia itu enggan langsung bertanya tentang apa yang terjadi antara dua sejoli itu.


Gara sudah bisa bersikap biasa saja saat mobil menuju Bandara. Gara bercanda dengan para sahabatnya tanpa beban, sedangkan Brinia lebih banyak diam.


Gadis 22 tahun itu masih teramat malu sekaligus kesal dengan sang kekasih. Brinia bahkan berusaha menghindari Gara selama perjalanan meskipun Gara dengan sigap membawa seluruh barang bawaan Brinia.


Brinia lebih memilih selalu duduk di samping Nesya dan mengobrol dengan Nesya.


"elu berantem sama Gara, Brin?" Tanya Nesya dengan berbisik.


"Nggak."


"Kok dari tadi kalian kek diem-dieman saling menghindar begitu?" Jiwa kepo Nesya mulai meronta-ronta.

__ADS_1


"Gue kesel aja sama dia, gue tadi mau bilang mampir ke mekdi bentar buat take away, gue belum sarapan. Eh gue belum kelar ngomong dia udah potong ucapan gue dan berkata kalian udah pada nunggu di rumah Yurdha." Jawab Brinia jujur meskipun tidak sepenuhnya alasan itu dia ceritakan.


"Astaga... elu itu punya maagh Brin, jangan teledor dengan gak sarapan deh! gue gak mau ya elu nanti tiba-tiba sakit terus gak bisa menikmati liburan." Omel Nesya.


"Udahlah, gak usah cemas Nes, perut gue belum lapar kok. Lagian bukan gue yang teledor. Emang dasarnya Gara aja ngeselin."


"Makan roti gue nih, gue tadi beli roti sobek di indomei dulu sebelum ke rumah Yurdha." Nesya hendak membuka tas ranselnya untuk mengambil roti.


"Nggak usah. Gue lagi gak nafsu makan apa-apa Nes."


"Tapi Brin..."


"Percaya sama gue..." Nesya pun akhirnya mengangguk.


"Oh ya, elu lihat postingan Sabrina gak yang kemarin makan berdua sama Gara di restoran cempaka?" Tanya Nesya tiba-tiba karena baru teringat postingan Sabrina dengan Gara semalam.


"Mereka gak berdua, rame-rame. Gara bilang sama gue bahkan kirimin video sama suasana disana." Jawab Brinia.


"Serius? gila tuh si Sabrina.. makan rame-rame tapi caption-nya cuma berdua hingga menggiring opini publik karena kedekatan mereka terjalin sampai dunia nyata." Bukan Brinia, Nesya justru terlihat sangat berapi-api.


"Sudahlah, biarkan saja. Memang itu yang dia inginkan. Asalkan Gara tidak berpaling, bagi gue udah cukup. Resiko punya kekasih tampan dan dikagumi banyak wanita." Jawab Brinia dengan malas.


"Pokoknya elu harus jaga Gara bener-bener Brin, gue gak rela jika hubungan kalian kenapa-kenapa. Gue pengen lihat kalian sampai di pelaminan."


"Semoga saja." Jawab Brinia.


"Ya, dan gue sama anak-anak akan berusaha menjadikan kenyataan apa yang elu semogakan Brinia." Batin Nesya.


To be Continued

__ADS_1


kakak kakak yuk tinggalkan jejak kalian 😍


__ADS_2