
Saat jam menunjukkan pukul 6 pagi, Brinia memilih untuk langsung kembali ke rumah kedua orang tuanya setelah Brinia menolak ajakan Mama Amelia untuk sarapan bersama. Brinia pulang pun tanpa mencuci muka lebih dulu, gadis itu terlihat bodoh amat dengan penampilannya saat ini yang cukup berantakan.
Entahlah, perasaan Brinia saat ini sungguh tidak jelas setelah semalaman otaknya terus berpikir tentang segala yang terjadi dan mencoba menghubungkan satu cerita dengan cerita yang lain sehingga Brinia tidak memperhatikan penampilannya lagi.
Terlalu banyak drama kehidupan yang harus Brinia hadapi hingga terkadang membuat dirinya sangat muak.
"Brinia.. darimana saja kamu? Semalam kamu tidur dimana?" Suara Ayah Henry terdengar begitu tegas membuat langkah Brinia yang hendak menaiki anak tangga menuju lantai dua pun terhenti.
"Semalam aku tidur sama Mama Amelia. Aku mau istirahat yah." Jawab Brinia dengan sopan meskipun kemarin sempat bersitegang dan kecewa dengan lelaki paruh baya itu, namun Brinia berusaha tetap tenang.
"Brinia, ayah sama bunda khawatir sama kamu. Bunda nungguin kamu di luar karena ponsel kamu dan Gara gak aktif.. hingga akhirnya saat tengah malam, Gara memberikan kabar kalau kamu butuh waktu sendiri." Ujar Henry.
Brinia tersenyum tipis, berbeda kan? sikap ayahnya yang kemarin benar-benar berbeda kan? Bahkan kata maaf tidak terucap dari mulut sang ayah. Sungguh menggelikan.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya." Ucap Brinia yang kemudian kembali melanjutkan langkahnya untuk menaiki satu persatu anak tangga.
"Maafkan ayah Brinia..." Gumam Henry yang sangat lirih dan tentunya tidak terdengar di telinga Brinia.
Sementara di dalam kamar, Brinia langsung merebahkan tubuhnya dan kembali berpikir bagaimana caranya untuk mengurai benang kusut di dalam keluarganya itu.
Hingga sebuah ide untuk menemui Tante Nita terbesit agar mendapatkan kejelasan dari semua itu.
...**...
Pagi ini, di meja makan keluarga Byantara hanya nampak tiga orang sedang menikmati sarapan mereka. Nasi uduk dengan ayam goreng dan beberapa lauk pendukung lainnya menjadi menu pagi ini yang tentunya penuh dengan karbo.
"Pa, jangan banyak-banyak makan nasi uduknya... inget papa sudah tua, resiko kena penyakit sudah tinggi." Celetuk Gara mengomentari sang Papa yang sangat suka nasi uduk.
"Enak aja meledek papa udah tua, buatin adik lagi buat kamu juga papa masih bisa!" Jawab Papa Andra dengan santai.
"Udah gak saatnya papa buatin aku adik, udah ada Selena dan Selin... ini itu saatnya aku buatkan Papa dan Mama cucu."
"Belum Sah Ga! jangan mikir aneh-aneh." Sambung Mama Amelia sambil geleng-geleng kepala.
"Oh ya ma... Selena dan Selin ini lagi apa? Kapan mereka akan pulang?" Tanya Gara mengingat kedua adik perempuannya yang tengah menginap di rumah sang nenek karena ini sudah memasuki liburan semester.
"Nanti sore mereka akan pulang diantar supir. Kalau jam segini biasanya mereka ikut nenek kamu jalan-jalan ke kebun teh." Jawab Mama Amelia sambil menyendok nasi uduk kemudian memasukkannya ke dalam mulut.
__ADS_1
"Suruh supir hati-hati saat nanti menyetir ma.. apalagi ini Musim hujan." Ucap Papa Andra dan diangguki oleh Mama Amelia.
"Ga... Sepertinya Psikosomatis yang di derita Brinia kambuh." Ucap Mama Amelia dengan hati-hati.
Mendengar kata Psikosomatis, Gara langsung meletakkan sendok dan garpu nya dengan pelan kemudian menatap sang mama dengan penuh tanya.
"Apa maksud mama?"
"Mama gak tahu pastinya Ga, tapi semalam tubuh Brinia bergetar hebat dan dia menggigil ditambah kayaknya Brinia agak susah nafas semalam. Padahal suhu kamar juga ngga dingin... normal-normal aja." Cerita mama Amelia.
"Kenapa mama gak panggil aku?" Tanya Gara dengan raut wajah khawatir. Semalam Brinia dan Mama Amelia tidur di kamar Gara, sementara Gara tidur di kamar tamu.
"Brinia melarang Ga..." Ucap Mama Amelia dengan lirih. Gara nampak diam dan berpikir.
"Segara...." Panggil Mama Amelia.
"Iya ma?"
"Sepertinya diam-diam Brinia mulai berpikir tentang semua ini. Apalagi setelah pertengkaran kedua orang tuanya dan menyebut-nyebutkan sebuah rahasia yang nggak boleh dia tahu. Semalam dia ingin mendengar lagi dari Mama tentang masa kecilnya juga tentang masa-masa kehamilan Sekar." Mama Amelia menghela nafasnya dengan berat sedangkan Papa Andra hanya menyimak sambil menikmati sarapannya.
"Lalu ma?"
"Bagaimana tanggapan Brinia ma?" Tanya Papa Andra mulai penasaran.
"Dia diam saja dan mengiyakan pa.. tapi mama yakin kalau dia semalaman mikirin hal itu hingga membuat dia menggigil pa. Papa masih ingat kan kata dokter Brinia dulu tentang Psikosomatis yang bisa kambuh kapan aja jika penderitanya tertekan atau perasaan cemas berlebih." Adu mama Amelia dengan raut wajah bersalah.
"Iya ma. papa ingat... dan tanda itu muncul lagi adalah diawali dengan sesak nafas juga suhu tubuh berubah drastis."
"Mama merasa bersalah sama Brinia pa..." Ujar Mam Amelia dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Mama jangan merasa bersalah. Mungkin ini sudah waktunya Brinia mengetahui siapa dirinya sebenarnya ma. gak mungkin kita menyembunyikan semua ini selamanya, yang ada nanti dia akan semakin terluka." Papa Andra mengusap pundak istrinya dengan lembut.
"Aku setuju sama Papa, kita gak mungkin menyembunyikan ini terus menerus karena Tante Nita sudah memberikan ancaman juga Melly sialan itu." Sambung Gara.
"Apa rencana kamu Ga? apa kamu akan memberitahu Brinia?" Tanya Papa Andra yang melihat sorot mata Gara dengan selidik karena Papa Andra merasa Gara sudah menemukan sebuah solusi.
"Iya pa, aku akan memberi tahu Brinia dua atau tiga hari lagi. Lebih baik dia tahu dari kita daripada dari mulut orang lain..."
__ADS_1
"Tapi apa tidak terlalu cepat Ga? pernikahan kamu masih Minggu depan." Ujar Mama Amelia yang takut jika Brinia insecure dan lainnya hingga berubah pikiran.
"Aku mau menikahi Brinia besok Pa.. Ma... aku mau mempercepat pernikahan ini. Biar aku bisa melindungi Brinia dengan sepenuhnya." Kata Gara dengan tegas.
"Kamu yakin?" Tanya Papa Andra.
"Sangat yakin pa... kebahagiaan Brinia adalah prioritas aku saat ini, mendengar apa yang mama ceritakan tadi, aku yakin semua ini akan segera terbongkar. Dan setidaknya Brinia punya aku ketika nanti dia merasa kecewa pada kedua orang tuanya."
"Papa setuju sama ide kamu Ga!" Sahut Papa Andra dengan senyum bahagia.
"Mama juga setuju, lebih cepat lebih baik. Karena ini kalau dibiarkan lama-lama akan seperti bola salju yang akan semakin besar."
"Pa.. aku minta tolong papa bicarakan ini dengan om Henry dan Tante Sekar ya.. aku nanti yang akan bicara sama Brinia." Pinta Gara.
"Serahkan semua itu sama mama dan papa ya."
'Baik Pa.. terima kasih..."
"Ga, berkas-berkas untuk pernikahan kalian sudah beres?" Tanya Mama Amelia.
"Belum sih ma.. masih ada beberapa yang harus aku lengkapi sama Brinia." Jawab Gara.
"Lah terus?"
"Besok aku sama Brinia menikah secara agama dulu gak apa-apa kan? setelah sah, aku akan segera mengurus semuanya.. aku yakin 2 atau 3 hari sudah jadi kok."
"Yang penting kamu gerak cepat Ga! yakinkan Brinia untuk pernikahan kalian yang dimajukan itu. Papa Bangga sama kamu Ga!" Kata Papa Andra tersenyum pada Gara.
"Thanks Pa." Jawab Gara.
"Pa... kalau boleh tahu... hubungan papa sama Johan itu sebenarnya bagaimana?" Tanya Gara mencoba untuk memberanikan diri bercerita dengan sang Papa setelah keputusannya mengajukan tanggal pernikahan disetujui orang tuanya.
"Johan?" Mama Amelia mengernyit membuat wajah Papa Andra nampak tegang.
to be continued
udah...
__ADS_1
Gara sama Brinia besok nikah....
siapkan hadiah kopi apa bunga gitu...