Kekasih Rahasia Aktor Tampan

Kekasih Rahasia Aktor Tampan
Pikiran Kemana-mana


__ADS_3

Gara dan Brinia mendesaah kesal setelah mereka sadar bahwa saat ini mereka sedang dikerjai oleh para sahabatnya yang laknat itu dengan di kunci di salah satu kamar yang berada di Villa.


Bukan hanya dikunci saja, tapi baju mereka juga basah kuyup seperti habis tercebur di Empang.


Gara sudah menggedor-gedor pintu yang terbuat dari kayu jati dengan cukup tebal itu beberapa kali. Namun tidak sedikitpun membuat para sahabat laknatnya itu mau membuka kan pintu kamar untuk mereka berdua.


"Selamat malam dan selamat bersenang-senang Gara.. Brinia..."Justru kalimat itulah yang Gara dan Brinia dengar dari luar.


Siapa lagi yang berkata seperti itu jika bukan Juna dan Denim.


Gara melirik sekilas tubuh Brinia yang basah kuyup, Gara tidak ingin Brinia kedinginan atau sampai masuk angin karena semua baju-baju Brinia ada di kamar yang Brinia tempati dengan Nesya. Bukan di kamar yang saat ini dia berada. Gara bahkan tidak mempedulikan dirinya sendiri yang juga basah kuyup.


Melihat Gara yang menggedor-gedor pintu sambil berteriak, Brinia merasa bersalah karena dirinyalah yang memaksa Gara untuk ikut permainan para sahabatnya yang dengan dalih memberikan hadiah kejutan.


"Maafkan aku Ga..." cicit Brinia.


Seandainya gadis yang dihadapannya itu bukan Brinia, sudah pasti Gara mengumpat dan akan menyalahkan gadis tersebut.


Namun berhubung itu adalah Brinia, gadis yang teramat Gara cintai, Gara tidak akan tega memarahi Brinia.


Dan lihatlah, Brinia yang memperlihatkan wajah bersalahnya justru terlihat menggemaskan di mata Gara hingga mampu membuat Gara tersenyum tipis. Toh tidak masalah juga terkunci di dalam kamar karena itu dengan Brinia. Lagian udah sering mereka berada di kamar berdua kan?


"Ga.. maaf.. gara-gara aku, kita terjebak disini." cicit Brinia lagi karena tidak mendapatkan respon dari Gara.


"Nggak apa-apa sayang. aku hanya takut kamu kedinginan dan masuk angin. Mereka benar-benar keterlaluan sampai harus menyiram kita dengan air segala. Dan air satu ember itu mereka bilang kejutan? benar-benar keterlaluan!" Kata Gara sambil menghela nafasnya agar emosinya pada Juna, Denim dan Nesya mereda.


"Iya dingin... baju aku basah sampai dalem dalem... kapan mereka akan buka pintu ini?" Tanya Brinia.


"Sabar bentar ya, aku ambilkan baju aku dulu ya Bee... kamu pakai baju aku dulu gak apa-apa kan?" Tanya Gara dan dijawab anggukan oleh Brinia.


Kamar yang saat ini digunakan untuk mengunci Gara dan Brinia adalah kamar yang ditempati Gara bersama Yurdha.


"Sialan!" Umpat Gara setelah membuka pintu almari.


"Kenapa Ga?"

__ADS_1


"Lemarinya kosong. Sepertinya para cecunguk itu sengaja merencanakan semua ini dengan memindahkan seluruh barang-barang aku dan Yurdha. Mereka mau buat kita mati kedinginan." Kata Gara pelan.


"Terus gimana dong? masak kita basah kuyup sampai nunggu pintu kamar dibukain? yang ada nanti kita berdua masuk angin." Kata Brinia.


Memang begitulah wanita, panik dulu dan protes dulu tanpa memberikan solusi. Padahal awal mula dialah yang mengikuti ucapan Juna dan Denim juga Nesya.


Gara terdiam sembari berpikir apa motif para sahabat laknatnya itu. Tidak mungkin kan sahabatnya itu ingin membuat dirinya dan Brinia sakit?


Astaga! gak mungkin juga kan sahabatnya ingin membuat dirinya dan Brinia buka bukaan baju karena basah? Tapi mengingat otak Juna dan Denim, mungkin saja sih. Mereka kan ingin buat Gara tidak perjaka lagi.


Pikir Gara semakin kacau. Apalagi menatap Brinia yang saat ini pakai kaos putih yang basah sehingga bra yang Brinia kenakan tercetak sempurna.


"Sayang, kamu bawa ponsel nggak?" Tanya Gara karena Brinia biasanya menaruh ponselnya di saku celana.


Dengan sangat pelan, Brinia menggeleng karena ponselnya masih berada di dalam tas dan tertinggal di ruang tengah saat Brinia terkejut karena tiba-tiba dilamar oleh Gara.


Sedangkan Gara lupa ponselnya ada dimana karena dia cukup sibuk untuk menyiapkan lamaran untuk Brinia.


Gara mencoba tenang dan menggunakan otak cerdasnya. Ingin keluar lewat jendela, tapi sayang... jendela kamar itu di lapisi oleh teralis besi yang cukup tebal. Jadi tidak mungkin mereka bisa keluar lewat jendela.


"Bee..." Panggil Gara dari dalam kamar mandi yang ada di pojok kamar karena setiap kamar di Villa Ocean View memiliki kamar mandi pribadi.


"Iya." Brinia pun berjalan menuju kamar mandi.


"Ada apa?"


"Ini ada bathrobes, kamu lepas semua baju kamu dan pakai ini. Aku gak mau kamu masuk angin." Mendengar ucapan Gara, Brinia nampak ragu.


"Aku janji gak akan macem-macem sama kamu Be..." Gara paham akan kekhawatiran kekasihnya.


"Terus kamu..?"


"Aku gampang nanti. Kamu ganti dulu disini ya." Gara pun keluar dari kamar mandi lalu menutup pintunya agar Brinia bisa berganti dengan bathrobes.


Brinia pun menurut tanpa protes. Sebab Brinia sudah merasa kedinginan karena angin pantai masuk dari lubang lubang kecil yang ada diatas jendela kamar.

__ADS_1


Selang beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka.


"Sayang aku udah selesai. Di dalam masih ada handuk. Mending kamu pakai handuk aja deh. Aku juga gak mau kamu kedinginan dan nanti masuk angin."


"Nggak usah Bee.. aku begini juga gak apa-apa." Ucap Gara sambil tersenyum. Gara tidak ingin lepas kontrol karena sejak tadi pikiran Gara sudah melayang-layang entah kemana.


"Udah buruan copot bajunya Segara! Kamu kan gampang masuk angin terus disini gak ada Tante Amelia yang bisa kerokin punggung kamu saat masuk angin." Omel Brinia yang memang sangat khawatir dengan kekasihnya. Gara pun mengangguk dan menuruti perintah sang kekasih.


Saat berada di kamar mandi, Gara segera melepas seluruh pakaian basah yang melekat pada tubuhnya dan melilitkan handuk di pinggang kokohnya.


Melihat pakaian basah Brinia yang berada di pojok kamar mandi, Gara pun berniat menjadikan satu baju basah milik Brinia itu dengan miliknya yang sudah ada di dalam ember berukuran kecil.


"Astaga.. kaca mata Kramat."


Gara tidak sengaja melihat benda privasi milik Brinia yang berbentuk seperti kaca mata dan berwarna merah itu. Sebagai lelaki normal, pikiran Gara semakin berkelana membayangkan betapa seksiinya Brinia memakai benda itu di kulit putih bersih Brinia.


Tiba-tiba, Gara juga teringat dengan ekspresi Brinia yang baru keluar dari kamar mandi tadi. Tangan Brinia mendekap seolah sedang kedinginan. Sekarang Gara paham jika Brinia tadi sedang menutupi bagian dadanya yang Gara yakini berukuran istimewa karena kemarin pagi sudah bisa merasakannya saat berpelukan dimana Brinia tidak menggunakan Bra~


Astaga.. pikiran Gara semakin kotor. Gara buru-buru mengusir pikiran kotor tersebut dan segera keluar dari kamar mandi dari pada ada di dalam kamar mandi dia terus berimajinasi. Kan kamar mandi tempatnya jin berkumpul.


Ceklek.


Gara langsung disuguhi oleh pemandangan indah dimana Brinia duduk termenung di sisi ranjang menghadap ke jendela dengan hanya menggunakan bathrobes tanpa benda berbentuk segitiga dan kaca mata di dalamnya.


"Sayang.." Panggil Gara.


"Eh.. iya..." Brinia sepertinya sedang melamun sehingga suara Gara yang lembut saja mampu mengangetkan dirinya. Brinia spontan langsung menaruh tangannya di bagian dada untuk menutupi puncak aset berharga miliknya itu.


"Ke.. kenapa Ga?" Brinia yang menengok ke arah Gara langsung dibuat gugup gara-gara penampilan seorang Segara yang hanya menggunakan handuk.


Perut Gara yang terbentuk karena rajin olahraga itu bukan kali pertama Brinia lihat. Karena Brinia sering menemani Gara ke Gym. Tapi entah mengapa Gara terlihat berbeda dan seksii di mata Brinia. Ternyata bukan hanya Gara, pikiran Brinia juga sudah melayang kemana-mana.


"Astaga.. memikirkan apa aku ini." Batin Brinia sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Kira kira apa yang akan terjadi selanjutnya?

__ADS_1


To be Continued..


__ADS_2