
Perut Gara yang terbentuk karena rajin olahraga itu bukan kali pertama Brinia lihat. Karena Brinia sering menemani Gara ke Gym. Tapi entah mengapa Gara terlihat berbeda dan seksii di mata Brinia. Ternyata bukan hanya Gara, pikiran Brinia juga sudah melayang kemana-mana.
"Astaga.. memikirkan apa aku ini." Batin Brinia sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu kenapa geleng-geleng Bee?" Tanya Gara yang duduk di samping Brinia.
Astaga kenapa Gara tidak paham jika saat ini Brinia sedang gugup. Gara justru duduk di samping dengan jarak yang sangat dekat.
"Ng.. nggak... nggak kok. Siapa yang geleng-geleng?" Tanya Brinia dengan pipi yang mendadak merona.
Gara menatap Brinia sambil mengernyit, selang beberapa detik kemudian, Gara sadar akan arti dari raut wajah yang Brinia tunjukkan saat ini.
Ya, Brinia nampak gugup. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di benak Gara. Sepertinya menggoda Brinia agar wajah gadis itu semakin merona adalah sesuatu yang menarik.
"Brinia... kenapa kamu terlihat gugup banget sih sayang? wajah kamu itu seperti pengantin baru yang akan menjalankan ritual malam pertama tau gak?" Batin Gara.
"Eh bukankah ini situasi dan kondisinya seperti hendak malam pertama? Ah tapi sayang... belum halal." Batin Gara lagi.
"A.. aku biasa aja." Jawab Brinia membuang wajahnya ke arah lain agar agar Gara tidak melihat kegugupannya.
"Kamu gugup be.."
"Nggak! aku cuma capek dan pengen rebahan. Tapi kondisinya tidak memungkinkan." Jawab Brinia tidak berbohong karena Brinia merasa tubuhnya teramat lelah setelah seharian muterin kota Jogja sambil berbelanja.
"Iya, Brinia kelihatan banget kecapean.. harusnya aku gak ada niat buat menggoda dia. Astaga Gara." Batin Gara yang mendadak tidak tega dengan sang Kekasih.
"Seharian ini perut kamu masih terasa sakit gak?"
"Nggak kok, aman aja seharian ini. Menurutku asal makan gak telat aja ya gak kambuh lagi."
__ADS_1
"Syukurlah... Sekarang kalau gitu, kamu tidur aja dulu dan pakai selimutnya ya." Perintah Gara yang memang tidak ingin mencuri kesempatan pada Brinia.
"Aku belum ngantuk Ga, aku cuma capek dan pengen rebahan. Seharian kan gak ketemu kasur." Gara mengangguk dan tersenyum.
"Ya udah kamu rebahan aja. Kamu pakai selimutnya biar gak dingin." Perintah Gara yang tidak tega dengan Brinia yang terus menggunakan tangannya untuk menutupi bagian dada.
Pasti tangan Brinia capek kan kalau lama-lama terus bersedekap seperti itu.
"Lalu kamu?"
"Aku gampang." Jawab Gara sembari tersenyum.
"Gampang gampang gimana? kamu justru yang gak pake baju Segara sayang... angin lautnya berasa banget disni... kamu pasti kedinginan kan. Selimutnya pakai kamu saja. Aku gak mau kamu sakit karena kedinginan!" Ucap Brinia tegas. Brinia selalu ingat kalau Gara gampang sekali masuk angin.
"Aku juga gak mau kamu sakit Brinia sayang. Lagian aku sudah makan, perutku udah kenyang, jadi aku gak akan masuk angin. Kamu gak usah khawatirkan aku ya. Aku ini laki, gak perlu terlalu khawatir lah sama laki." Kata Gara mengusap lembut pipi Brinia.
"Aku udah gak kedinginan Ga... kan udah pakai bathrobes. Kamu aja yang pake selimutnya."
"Tapi kamu gak nyaman kan... udah pakai aja." Gara mengarah pandangannya ke bagian dada Brinia membuat wajah Brinia bersemu merah karena Gara paham akan maksud tangannya bersedekap disana dan hal itu membuat Brinia tidak nyaman.
Sejak Brinia nampak berpikir, meskipun ragu... tapi hati kecil Brinia tidak tega membiarkan Gara bertelanjang dada semalaman. Sedangkan dirinya sendiri saja yang sudah pakai bathrobes masih kedinginan.
"Kita pakai berdua aja yuk disini!" Ajak Brinia menepuk ranjang berukuran 120cm itu.
"Kasurnya terlalu kecil sayang.. gak usah aku duduk disini aja." Kata Gara yang berusaha mengumpulkan seluruh kewarasannya.
Sungguh, dengan kondisi seperti ini. Adalah tanda bahaya untuk Gara. Apalagi cuaca dingin yang sangat mendukung untuk mencari kehangatan. Gara lebih memilih duduk di atas ranjang sambil membelakangi Brinia demi menjaga kewarasannya.
"Kalau kamu gak mau, yaudah aku gak mau pakai ini selimut, biar adil. Biar aja kita begini sampai pintu sialan itu dibuka sama mereka." Ucap Brinia yang memang memiliki sifat cukup keras kepala.
__ADS_1
Brinia gak akan mau enak sendiri sedangkan Gara menderita. Begitu pula sebaliknya.
"Bee... udah kamu istirahat, rebahan dan pakai selimutnya. Jangan keras kepala, aku gak apa-apa."
"Pakai selimut sama kamu atau tidak sama sekali! Selimut ini tebal banget dan gede Ga, bahkan lebih lebar dari ukuran kasur ini kan... Lagian aku percaya banget sama kamu yang gak akan macam-macam sama aku...." Kata Brinia membuat Gara berpikir.
Butuh beberapa menit untuk Gara memikirkan segalanya. Dan selama beberapa menit itu pula, Brinia tiada henti untuk meyakinkan Gara bahwa tidak akan terjadi apa-apa.
Bagaimana Brinia bisa seyakin itu kalau tidak akan terjadi apa-apa? Sedangkan yang pegang kendali sepenuhnya adalah Gara.
"Baiklah." Ucap Gara. Brinia pun tersenyum mendengar jawaban Gara. Jadi Brinia tidak perlu lagi terlalu khawatir Gara akan masuk angin.
"Kita ngobrol sambil rebahan yuk.. seperti dulu ." Ucap Brinia yang penuh antusias mengingat kegiatan yang sering dia lakukan dengan Gara saat masih duduk di bangku SD karena mereka sering tidur bersama.
"Masalahnya dulu dan sekarang beda Bee, dulu aku gak punya gairah seperti ini." Batin Gara.
"Benar-benar kurang ajar." Umpat Gara dari dalam hati ketika terbayang-bayang adegan erotis yang pernah ia lihat di laptop Juna.
Demi apapun, Gara ingin sekali mencabik cabik kedua sahabatnya itu. Karena Gara yakin, Nesya hanya sekedar ikut-ikutan saja.
Saat ini, Gara dan Brinia sudah sama-sama rebahan, sudah pula sama-sama berada di dalam selimut tebal yang sama dengan jarak yang cukup dekat. Keduanya sama-sama menatap langit-langit kamar dalam keheningan dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
Niat awal Brinia ingin ngobrol segalanya dengan Gara sampai keduanya terlelap dengan sendiri seperti kenangan-kenangan masa kecilnya dengan Gara dulu, namun malam ini semua nampak beda. Bahkan tanpa alasan yang jelas, baik Brinia maupun Gara merasa sangat canggung.
Brinia mencoba membangun suasana agar tidak awkward, tapi ternyata Brinia tidak mampu.
"Ga, kamu geser ke tengah dikit deh.. aku takut kalau kamu sampai jatuh ke bawah." Ucap Brinia dengan hati yang sebenarnya sangat gugup.
"Nggak usah Bee. Ayo kita segera tidur saja." Jawab Gara kemudian membelakangi Brinia tanpa menggeser tubuhnya ke tengah. Padahal posisi Gara saat ini sangat berada di ujung ranjang.
__ADS_1
"Bisa bahaya jika tubuh kita saling berdekatan Bee... karena sejak tadi aku merasakan hawa aneh dalam tubuhku saat membayangkan kamu tidak memakai kacamata dalam dan segitiga dalam. Aku harus berusaha keras mengendalikan diriku." Batin Gara.