Kekasih Rahasia Aktor Tampan

Kekasih Rahasia Aktor Tampan
Bukti Kesungguhan


__ADS_3

"Jawab! maksud elu apaan ngaku-ngaku Brinia pacar elu?" Tanya Gara yang langsung menarik kerah baju Yurdha dengan kasar.


"Terus maksud elu apa tidak mengakui Brinia sebagai kekasih elu? ha? elu justru mengakui Brinia sebagai sepupu elu? Maksud elu apa? Brinia itu sahabat gue juga! Dia cinta sama elu, elu gak mikir perasaan dia gimana! egois elu Ga!" Jawab Yurdha dengan menampilkan wajah dingin.


"Gue berkata seperti itu juga atas persetujuan Brinia, monyet!"


"Dan elu tetap lakukan meskipun Brinia setuju? Pikirkan perasaan dia! udah gak elu akui, elu juga diam aja saat fans fans gila elu menghujat bahkan melakukan body shaming pada Brinia dengan membandingkan Brinia sama Sabrina!"


"Elu itu terlalu egois Ga! Otak elu dimana? Ha? bukannya berusaha melindungi Brinia, elu justru sibuk shooting sama Sabrina!" Ungkap Yurdha dengan sedikit emosi yang tertahan sejak tadi bertemu Melly.


Deg!


Hati Gara tiba-tiba sesak mendengar ucapan Yurdha. Iya. Beberapa hari ini memang Gara disibukkan dengan kegiatan shooting sinetron barunya bersama Sabrina. Bahkan beberapa hari ini Gara belum bertemu dengan Brinia. Hanya sesekali mereka saling kirim kabar melalui pesan singkat.


Oke, Brinia memang selalu berkata tidak masalah dengan pemberitaan yang beredar. Pemberitaan yang mengarah pada body shaming dimana Brinia selalu dibandingkan dengan Sabrina yang menurut para netizen, secara fisik Sabrina lebih cantik, seksii dan anggun.


Tapi apakah Gara lupa jika Brinia memiliki tingkat kepercayaan diri yang cukup rendah. Brinia juga memiliki overthinking yang diatas rata-rata akibat dari kisah masa lalunya itu.


"Astaga!" Ucap Gara mengusap wajahnya dengan kasar menyadari kelalaiannya.


Dan melihat Gara menyadari kesalahannya, Yurdha pun menghela nafasnya dengan kasar kemudian berusaha mengontrol emosinya.


"Ga, elu tahu sendiri kan bagaimana Brinia overthinking dengan semua hal. Bahkan hal remeh sekalipun. Oke, mulut Brinia memang berkata gak apa-apa dan gak masalah atau sebagainya. Tapi elu gak lupa kan, kita dari dulu sering pergoki dia nangis sendiri?" Jelas Yurdha.


"Oleh sebab itu, gue tadi berkata pada Melly bahwa Brinia pacar gue. Gue hanya mau melindungi dia sebagai sahabat gue. Gue gak mau dia terluka dan overthinking hingga membuat kepercayaan dirinya hilang. Oke, gue salah.. gue melakukan ini secara spontan tanpa pikir panjang, tapi semua demi kebaikan Brinia Ga, sampai elu bisa mengakui Brinia di depan publik." Lanjut Yurdha dengan pelan.


Gara menatap Yurdha dengan tatapan yang sulit diartikan. Lelaki itu masih saja diam seolah mencerna ucapan sahabatnya sekaligus menunggu apa lagi yang akan sahabatnya itu jelaskan.


"Gue gak suka elu mengakui Brinia sebagai pacar elu Yur!" Jujur Gara.


"Lalu apa Brinia suka saat elu mengakui dia sebagai sepupu elu." Yurdha selalu saja mampu membolak-balikkan omongan Gara hingga membuat Gara frustasi.


"Biarkan publik tahunya Brinia pacar gue Ga, karena gue gak mau dia terus disudutkan oleh fans gila elu. Kecuali..." Yurdha menjeda ucapannya.


"Kecuali elu bisa melindungi Brinia dan mengakui Brinia sebagai kekasih elu. Gue janji, gue gak akan berbuat lebih, gue cuma mau melindungi sahabat gue dan karier elu sebab gue gak mau pengorbanan Brinia sia-sia untuk karier elu. Dan gue ingetin satu hal buat elu, bersikap tegas lah sama manager elu yang gak tahu diri itu sebelum gue turun tangan dan elu menyesal!" Kata Yurdha menepuk pundak sahabatnya kemudian berlalu dari kamar Gara begitu saja.


"Sialan! kenapa semua jadi serumit ini? Gue harus buat perhitungan sama Melly, berani-beraninya dia menghina Brinia." Gumam Gara frustasi. Gara segera beranjak dari tempatnya menuju kamar mandi, setelah membersihkan tubuhnya Gara ingin segera menemui Brinia.


...**...


Selang beberapa menit, Gara sudah menuruni anak tangga kediaman mewah kedua orang tuanya. Rumah mewah nan megah itu nampak sepi. Gara yakin, di akhir pekan seperti ini, orang tuanya dan kedua adiknya pasti saat ini masih berolahraga di stadion sembari mencari sarapan.


Sampai di lantai bawah, Gara tiba-tiba dipanggil oleh salah satu asisten rumah tangganya yang bernama Narti.


"Ada apa mbok?"

__ADS_1


"Ada titipan dari Mba Melly den, katanya laptop den Gara ketinggalan di lokasi shooting. Terus mba Melly tadi mengantarkannya kesini."


"Siapa yang menerima ini tadi mbok?"


"Saya sendiri den, waktu buang sampah tadi ketemu di depan gerbang."


"Dia bilang apa?"


"Dia tadi minta ketemu langsung sama den Gara, tapi saya bilang den Gara sedang istirahat gak bisa diganggu. Dia tadi sedikit maksa mau bangunin den Gara. Tapi saya larang terus akhirnya dia pergi tanpa pamit."


"Bagus mbok! katakan pada yang lainnya jangan sampai ada teman aku atau siapapun diizinkan masuk rumah ini tanpa konfirmasi dari aku dulu. Kecuali, Yurdha, Denim dan Juna." Narti pun mengangguk patuh.


"Non Brinia juga gak boleh berarti den?"


"Itu mah spesial bik, kalau perlu suruh langsung masuk kamar aku aja itu mah." Jawab Gara sambil tertawa.


"Den Gara mulai nakal ya!"


"Udah, mbok Narti tolong taruh laptop aku di kamar, aku mau ketemu yang spesial dulu." kata Gara.


"Ternyata non Brinia sejenis martabak, karena spesial." Gumam mbok Narti.


"Mbokk! jangan menyamakan kekasih aku dengan martabak!" Teriak Gara yang sudah berada diambang pintu.


...***...


Kedatangan Gara pun langsung disambut oleh bik Sumi. Gara menanyakan keberadaan kekasih hatinya itu. Dan Bik sumi menjawab jika Brinia ada di teras belakang bersama dengan Kiki.


Tanpa menunggu lama, Gara langsung melangkahkan kakinya menuju teras belakang kediaman kedua orang tua Brinia itu.


Deg!


Langkah kaki Gara berhenti seketika mendengar pembicaraan Brinia dengan Mba Kiki, asisten rumah tangga Brinia yang paling muda dan narsis.


Benar, dibalik sikap tenangnya yang ditujukan pada semua orang termasuk dirinya. Tetap saja Brinia merasa kecil dan tidak berharga. Hati Gara sesak mendengar keraguan demi keraguan Brinia. Andai Gara memiliki kekuatan untuk menghapus masa kecil dan remaja Brinia yang menyakitkan, pasti Gara akan melakukan itu.


"Non Brinia itu cantik, dan cantiknya alami pula. Manis, dilihat gak ngebosenin makanya mas Gara cinta banget sama non Brinia. Ditambah lagi, non Brinia itu baik banget. Bukan cuma fisik aja yang cantik, tapi kepribadian dan hati non Brinia juga cantik." Puji Kiki dengan penuh ketulusan.


"Mba Kiki mah sok tau tentang isi hati aku." Ujar Brinia.


"Bukan sok tau, tapi memang tau karena aku kan kerja disini udah lama, udah kenal banget sama non Brinia. Dan asal non Brinia tau ya, mas Gara itu bukan tipe lelaki yang hanya memandang fisik seorang wanita. Buktinya, yang naksir mas Gara dari dulu itu cantik-cantik, seksi-seksi, terus ada yang anaknya pejabat juga. Tapi apa pernah mas Gara menanggapi mereka non? Nggak pernah. Karena mas Gara cintanya cuma buat non Brinia." Jelas Kiki yang berusaha membuat Brinia menjadi lebih percaya diri.


"Tetap saja mba, aku takut Gara akan berpaling." Batin Brinia.


"Mba Kiki benar Bee... aku itu cintanya sama kamu! bukan yang lain. Aku itu cocoknya juga sama kamu, bukan yang lain!" Tegas Gara yang tiba-tiba muncul di dekat Brinia.

__ADS_1


"Aduh mas Gara ngagetin aja sih!" Kata Kiki sambil mengelus dadanya.


"Nggak Managernya, gak artisnya... sukanya datang tiba-tiba." Gerutu Brinia.


Gara tersenyum mendekat ke arah Brinia. Hal itu membuat Kiki tahu diri. Dia langsung berpamitan dengan alasan mau menyelesaikan pekerjaannya sebelum kena omel oleh bik Sumi.


Niat hati Kiki membersihkan teras belakang dan taman belakang pun diurungkan begitu saja. Karena Kiki tidak ingin mengganggu kebersamaan Brinia dan Gara.


"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" Tanya Gara lembut setelah memposisikan dirinya duduk di samping Brinia.


"Sejak kapan kamu berdiri disana?" Tanya Brinia.


"Aku tanya, kenapa kamu malah balik tanya sih Be..." Gara tersenyum mengusap pipi Brinia yang halus.


"Kamu menguping" Gerutu Brinia.


"Untung aku nguping, jadi aku dengar keresahan hati kamu. Jadi sekarang kalau kamu bilang gak apa-apa, aku gak akan percaya begitu saja." Ucap Gara dengan tatapan yang begitu teduh.


"Aku gak apa-apa Ga!"


"Nah kan, udah ketahuan aja masih bilang gak apa-apa loh.. padahal hati kamu masih ragu banget sama aku." Gara menghela nafasnya dengan kasar.


"Aku gak apa-apa beneran Segara." Brinia mencoba mengulas senyumnya kemudian menggenggam tangan Gara yang ada di pangkuannya.


"Oh ya Ga, tadi aku ketemu sama Yurdha di taman."


"Iya, Yurdha udah cerita sama aku semuanya Bee, termasuk pertemuan kalian dengan Melly..." Gara menunduk merasa bersalah.


"Ga..."


"Maafkan aku Be, aku membuat kamu diposisi seperti ini hingga membuat kamu meragu."


"Aku hanya wanita biasa Ga, perasaan cemburu dan insecure pasti ada, tapi......"


Belum juga Brinia menyelesaikan ucapannya, Gara sudah menginterupsi dengan cepat.


"Bagaimana kalau kita menikah bulan ini aja Be... kita menikah secara tertutup yang penting sah secara agama dan negara."


"Ga, jangan ngaco deh! karier kamu sedang naik naiknya dan aku juga sibuk skripsi."


"Gak masalah be.. semua bisa diatur. Aku mau segera menikahi kamu sebagai bukti kesungguhan aku ke kamu." Tegas Gara.


to be continued


Jadi, apakah mereka akan segera menikah?

__ADS_1


like dan komentar dulu ya.. makasih ❤️


__ADS_2