
Tidak ada kata menyerah untuk Gara agar bisa mendapatkan maaf dari Brinia, satu-satunya wanita yang bisa membuatnya jatuh cinta dan membuat perasaannya jungkir balik. Dan Brinia adalah satu-satunya wanita yang berhasil merebut restu sang Papa dengan begitu mudahnya.
Gara tidak ingin hubungannya dengan Brinia ada masalah ataupun menimbulkan ketidaknyamanan karena Gara menganggap Brinia adalah poros hidupnya jadi Gara tidak bisa membayangkan jika harus bertengkar dengan Brinia.
Gara terus meringsek pada tubuh Brinia yang sudah membelakanginya dan membisikkan kata-kata maaf juga kata-kata cinta pada sang kekasih.
Brinia memilih membelakangi Gara tidak lain dan tidak bukan karena Brinia tidak tega melihat wajah Gara yang sedang memohon. Brinia tidak mau luluh begitu saja.
Tangan kokoh Gara pun melingkar sempurna di pinggang Brinia dengan wajah Gara yang bersembunyi di tengkuk leher belakang Brinia. Hembusan nafas Gara benar-benar membuat Brinia meremang.
Dalam posisi seperti ini, sebenarnya bukan hanya Brinia yang tersiksa menahan degup jantung juga sesuatu yang membuatnya meremang. Melainkan Gara juga merasakan hal yang sama. Terlebih ada sesuatu yang mulai tegang karena menghirup aroma vanila pada tubuh Brinia.
"Be... kamu udah tidur beneran Bee?" Tanya Gara dengan cara berbisik.
Gara menghembuskan nafasnya kasar karena masih belum mendapatkan jawaban dari Brinia meskipun Gara sudah berjanji akan selalu setia sama Brinia dan rela melakukan apapun untuk mendapatkan maaf dari Brinia.
Namun Gara yakin, saat ini Brinia belum lah tertidur. Gadis itu hanya pura-pura karena rasa kecewanya. Ya begitulah Brinia, gadis yang lebih mendalam semuanya sendiri dan butuh usaha keras untuk membuat gadis itu mau terbuka.
"Please Bee.. maafkan aku yang tadi salah ngomong. aku gak bermaksud menyinggung kamu dengan meminta kamu ngertiin profesi aku karena kenyataannya selama ini kamu sudah sangat ngertiin aku dan kamu udah membantu aku selama ini. Maafkan aku, maksud aku tadi gak begitu Bee.." Lirih Gara.
Brinia masih setia dengan keterdiamannya. Mata Brinia boleh terpejam, tapi kesadaran Brinia masih 100 persen sehingga telinga Brinia masih bisa mendengar dengan baik penjelasan sang kekasih.
"Kamu ternyata udah tidur beneran ya... maafkan aku Bee, aku janji gak akan mengulanginya lagi." Gumam Gara pada akhirnya dengan nada kecewa pada akhirnya. Namun jangan salah, Gara tersenyum tipis, senyum yang penuh dengan makna.
"Gimana aku mau tidur sih Ga, kamu aja nempel banget sama aku gini sampe buat aku merinding tau'." Batin Brinia.
Beberapa menit berlalu,
Brinia bernafas lega setelah tidak merasakan pergerakan pada orang yang sedang ada di belakangnya. Orang yang saat ini masih memeluk dirinya dengan erat.
Ada rasa ketenangan dan kehangatan berada didalam pelukan Gara seperti ini. Hati kecil Brinia sungguh tidak sabar untuk menjadi istri Segara dan melakukan apapun berdua. Melakukan apapun? Tiba-tiba wajah Brinia merona membayangkan melakukan kegiatan yang mendebarkan dengan Gara.
"Astaga! pikiranku kok kotor begini. Ah daripada tambah mikirin hal aneh-aneh mending aku tidur." Gumam Brinia pelan tapi masih terdengar di telinga Gara.
Baru saja Brinia hendak menuju alam tidur, Brinia merasakan ciuman pada tengkuk leher belakangnya. Sebuah ciuman yang lama kelamaan menjadi sebuah hisap dan membuat bulu kudu Brinia berdiri seketika.
Sekuat tenaga Brinia tidak mendesahh merasakan apa yang sedang Gara lakukan saat ini. Brinia hanya mampu menggigit bibirnya dan mereemas selimut untuk meluapkan apa yang ia rasakan. Brinia yakin, setelah ini... lehernya pasti akan menampilkan noda merah yang bernama Kissmark.
Sadar tubuh Brinia menegang karena perbuatannya, Gara justru semakin semangat melancarkan aksi jahilnya pada Brinia.
"Gaaa aahh.." ucap Brinia yang sudah tidak dapat lagi menahan gejolak dalam dirinya.
"Aku tahu kamu dari tadi belum tidur Bee." Sahut Gara melepaskan bibirnya dari kulit mulus Brinia dan semakin mengeratkan pelukannya.
Brinia menelan salivanya, dalam hatinya... Brinia merutuki dirinya yang tidak dapat menahan gejolak hingga mengeluarkan suara laknat.
"Aku gak suka kamu cuekin Be, kalau aku salah... kamu boleh memarahi, memaki atau memukul aku setelah itu kita bicara baik-baik dan menyelesaikan masalah kita baik-baik. Kamu tahu itu Bee, aku gak suka dan gak mau kamu diemin kayak tadi." Ucap Gara dengan nada sensual karena sesuatu yang tersembunyi sudah mengeras.
"Aku salah, aku udah keterlaluan, aku udah berjanji agar tidak mengulanginya lagi. Aku akan cari uang buat membayarkan pinalti itu Be.. aku gak mau kamu cuekin aku! Tapi kamu masih aja cuekin aku." Ucap Gara yang kembali mencium tengkuk leher Brinia.
__ADS_1
"Segara, aku.... ahhhhhhh." ******* benar-benar lolos dengan sempurna saat Brinia merasakan ada yang memerass dadanya dengan lembut. Tangan besar Gara tanpa izin naik ke atas dan mencapai bukit indah yang sembunyikan di dalam kaos tipis Brinia.
"Aku cinta sama kamu Bee.. jangan seperti ini..." Bisik Gara menciumi telinga Brinia dengan tangan yang tidak tinggal diam meskipun dari luar kaos yang Brinia kenakan.
Brinia yang tidak mengenakkan Bra, membuat Gara dengan mudahnya mengeksplor benda yang membuatnya penasaran setengah mati dari sebelum berangkat ke Jogja beberapa waktu lalu. Jemari Gara menemukan sebuah puncak kecil yang menonjol dan sudah menegang. Gara tahu itu adalah puncak dada Brinia. Dan dengan jarinya yang masih berada di luar kaos Brinia, Gara pun memainkan benda itu untuk pertama kalinya.
Ingin rasanya Gara masuk dan bermain langsung di dalam koas Brinia. Namun Gara tidak mau buru-buru.
Sedangkan Brinia, gadis cantik itu sangat Ingin menolak dan menyingkirkan tangan Gara. Tapi sungguh, Brinia tidak memiliki daya melakukan penolakan itu karena kenyataannya tubuh Brinia menginginkan hal tersebut. Apalagi hal tersebut dilakukan oleh orang yang sangat Brinia cintai. Orang yang sebentar lagi akan menjadi suaminya dan menjadi miliknya seutuhnya.
"Izinkan aku memiliki kamu Bee..." Bisik Gara sensual.
...***...
Gelapnya malam sudah berganti dengan cahaya pagi yang bersinar menyinari bumi. Sepasang kekasih tengah asyik merajut mimpi di atas ranjang dengan posisi berpelukan.
Sepasang kekasih itu sama sekali tidak terganggu dengan sinar matahari yang sudah mulai menerobos masuk melewati celah celah gorden berwarna abu. Bahkan sepasang kekasih itu tidak mendengar sedikitpun suara keributan yang ada di bawah.
"Kamu bohong mas!" Pekik wanita paruh baya dengan nada yang sangat tinggi.
"Aku bisa menjelaskan semuanya Sekar!" Jawab suami wanita bernama Sekar itu yang tidak lain adalah Henry.
"Apalagi yang kamu jelaskan? ha? kamu bilang kamu mengisi seminar mahasiswa kedokteran di Jogja. Tapi ternyata kamu di rumah mantan selingkuhan kamu itu!" Pekik Sekar membuat Henry langsung bungkam.
Wanita itu baru saja sampai dari Palembang pagi ini karena menghadiri acara kesehatan yang dilakukan sebuah lembaga. Sekar yang sudah sampai rumah itu pun tidak menemukan keberadaan suaminya.
Sekar tidak mau gegabah, wanita yang masih terlihat cantik diusianya yang sudah tidak lagi muda itu pun menanyakan kegiatan suaminya kepada perawat yang selalu mendampingi sang suami. Ternyata Henry tidak ada kegiatan luar kota, kemarin lelaki itu masih praktek di rumah sakit seperti biasa.
Tepat pukul 9 pagi, Henry baru saja sampai kediaman mewahnya langsung mendapatkan banyak pertanyaan dengan sang istri hingga pertengkaran pagi itupun terjadi.
"Ehmmm..." Deheman Papa Andra membuat ketegangan sepasang suami istri itu pun memudar seketika.
"Sorry ganggu pagi-pagi." Papa Andra merasa tidak enak pagi-pagi datang ke rumah tetangga sebelahnya dengan situasi yang tidak baik seperti ini.
"Andra. Ada apa?" Henry yang semulanya sudah panik akhirnya bisa bernafas lega karena merasa mendapatkan pertolongan dari sahabatnya secara tidak sengaja.
"Maaf sebelumnya ya menganggu. Kita kesini pagi-pagi sebenarnya mau tanya, apa Gara ada disini?" Tanya Mama Amelia setelah tersenyum canggung.
"Kita gak tau Mel, kita baru pulang pagi ini." jawab Sekar dengan mencoba senyum pada tetangganya meskipun hatinya sangat sakit karena kebohongan sang suami.
"Kenapa memang dengan Gara? tumben kalian nyari Gara. Dia bukan anak kecil lagi kali Ndra." Sahut Henry.
"Bukan begitu Hen.. hanya saja..." Papa Andra menjeda ucapannya.
"Hanya saja apa?"
"Kami khawatir jika terjadi hal hal yang tidak diinginkan." Lanjut Papa Andra.
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Mobil Gara ada di rumah. Kata satpam di ruang Gara pulang jam 3an pagi. Tapi Gara katanya langsung menuju kesini, nggak masuk ke dalam rumah." Jelas Papa Andra membuat Ayah Henry dan bunda Sekar mengernyit.
"I.. iya... aku udah cek kamar Gara pagi tadi dan cari dia kemana-mana tapi tetap gak ada. Asisten di rumah tangga aku pun gak melihat Gara dari pagi." Sambung Mama Amelia.
"Astaga, apa Gara tidur sama Brinia?" Duga Sekar.
"Jangan berburuk sangka dulu, mending kita cek aja ke kamar Brinia. Karena kata Kiki, Brinia masih tidur dan kamarnya di kunci dari dalam." Ucap Henry berusaha tenang.
"Ya sudah ayo kita cek."
...*...
Tok..
Tok..
Tok...
"Brinia..."
"Brinia..."
Suara ketukan pintu yang cukup keras membuat Brinia mengerjap-ngerjapkan matanya hingga bulu mata lentik itu pun akhirnya bergerak dan terbuka.
"Aduh pusing banget!" Gumam Brinia dengan setengah sadar. Kepala Brinia terasa pusing karena kurang tidur.
"Apaan sih Ayah, pagi-pagi gini udah berisik!" Gumam Brinia yang menyingkirkan sesuatu yang menimpa tubuhnya.
Brinia segera beranjak dari ranjang empuknya kemudian memakai sendal rumahannya dengan karakter Doraemon.
Berjalan gontai menuju pintu, Brinia mencoba membuka matanya dengan sempurna tapi sangatlah susah.
"Tumben semalam aku kunci pintu kamar aku." Gumam Brinia pelan.
Ceklek
Ceklek
"Ada apa sih Yah..." Ucap Brinia membuka pintu kamarnya dengan sempurna.
"Astaga Brinia!"
"BRINIA!!"
"SEGARA!!"
to be continued...
Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya....
__ADS_1