
Namun bukan segera melihat bagian tubuh Gara yang katanya sakit. Keduanya justru sama-sama mematung saat tahapan mata mereka bertemu dengan jarak yang sangat dekat. Sangat dekat sekali hingga mereka bisa merasakan hembusan nafas satu sama lain.
Jantung Brinia berdebar kencang. Begitu juga dengan Gara.
Entah siapa yang mulai lebih dulu, tanpa menunggu lama, untuk pertama kalinya bibir mereka sudah saling bertemu dan berkenalan.
Sebuah rasa asing menjalar dalam hati Gara dan Brinia secara bersamaan..
Sebuah benda asing menempel di bibir Brinia untuk pertama kalinya membuat mata Brinia membola sempurna.
Runtuh sudah pertahanan Gara kali ini. Bagaimana bisa Gara tidak dapat menahan dirinya untuk pertama kali?
Tidak.. tidak… Brinia pun merasa demikian karena tadi Brinia cukup sadar bahwa dirinya juga mendekat ke arah wajah tampan Gara untuk mengikis jarak yang tersisa hingga kedua benda itu dapat menempel sempurna seperti saat ini. Ya seakan ada magnet yang menarik keduanya.
Jantung Brinia terpacu dengan luar biasa seakan siap meledak dari tempatnya. Gugup dan bingung, sudah pasti itu yang Brinia rasakan saat ini bahkan seluruh tulang dalam tubuh Brinia mendadak seperti Jelly.
Benarkah bibirnya saat ini sudah tidak perawan karena ciuman pertamanya diambil oleh Gara? Oh, rasanya sungguh seperti mimpi.
Hati terdalam Brinia rasanya ingin mendorong tubuh Gara agar menjauh dan ciuman pertama itu terlepas. Hati Brinia seolah menjerit dan berkata bahwa yang mencium bibirnya saat ini bukanlah Gara karena Gara selalu memperlakukan dirinya dengan sangat sopan.
Sejak kapan Gara seberani ini? Lagi pula Brinia juga tidak paham harus bagaimana saat ini karena bernafas saja Brinia merasa tidak mampu.
Tapi tubuh Brinia berkata lain, tubuh Brinia ternyata sangat menginginkan ciuman ini dari Gara. Brinia wanita yang sudah beranjak dewasa, selama ini dia juga teramat penasaran dengan rasa sebuah ciuman bibir seperti para teman-temannya. Brinia juga ingin berciuman dengan lelaki yang sangat dia cintai yaitu Gara.
Namun selama ini Gara selalu menegaskan bahwa dia tidak akan melewati batasnya pada Brinia sebelum SAH sehingga Brinia juga tidak berani bersikap agresif. Lagi pula Brinia sangat takut jika dianggap Gara sebagai wanita gampangan jika dia agresif.
Berbeda dengan Brinia. Gara justru sangat menikmati bibir Brinia yang terasa sangat manis. Bahkan Gara memejamkan matanya sambil menyesap dan melu mat bibir Brinia dengan perasaan cinta yang teramat besar. Gara benar-benar tidak menyangka jika ciuman bibir ternyata seenak dan senikmat ini. Sungguh semuanya melebihi ekspektasi Gara selama ini. Gara yang belum berpengalaman dalam hal praktek ciuman itu pun hanya mampu menuruti nalurinya sebagai seorang lelaki dewasa.
Sudah merasa pasokan oksigennya menipis, Brinia mendorong dada bidang Gara yang tanpa kain penutup sedikit pun itu. Gara langsung membuka matanya dan melepaskan tautan bibirnya pada Brinia saat menyadari bahwa selama berciuman Brinia menahan nafasnya.
Brinia langsung menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk mengisi rongga pernafasannya yang sudah kosong. Brinia terengah-engah seperti usai lari mengelilingi GBK.
“Maaf..” Ucap Gara lirih sambil mengusap sudut bibir Brinia yang basah setelah ciuman pertama tersebut.
Brinia susah payah mencoba menelan salivanya saat sorot matanya bertemu dengan sorot mata Gara yang selalu mampu menenggelamkan ke dalam kubangan cinta yang begitu dalam. Sorot mata yang mampu membuat Brinia kehilangan kewarasannya seperti saat ini.
“Maafkan aku yang lepas kontrol Bee… aku sayang dan cinta banget sama kamu, aku gak bermaksud mau melecehkan kamu.” Kata Gara lagi dengan suara yang masih sama lirihnya.
__ADS_1
Gara mempersiapkan diri jika setelah ini tiba-tiba Brinia menampar dirinya
Wajah Brinia langsung memerah seperti kepiting rebus. Brinia memutuskan tatapannya pada Gara karena untuk pertama kalinya, Brinia merasa bahwa berdua dengan Gara membuatnya sulit bernafas seakan pasokan oksigen di kamar tesebut sudah sangat menipis.
Dalam hatinya, Brinia merutuki dirinya yang tadi hanya mematung saat berciuman dengan Gara sehingga tidak bisa memberikan kesan istimewa pada Gara karena Brinia tahu bahwa barusan juga ciuman pertama Gara.
Setelah mengetahui betapa mendebarkannya sebuah ciuman, Brinia tidak menyesali hal tersebut terutama hal tersebut Brinia lakukan dengan Segara, lelaki yang teramat Brinia cintai. Brinia benar-benar kehilangan kewarasannya kan?
Brinia salah tingkah dan berniat untuk membalikkan badannya untuk membelakangi Gara.
Namun dengan cepat, Gara menahan pundak Brinia sehingga tatapan mereka kembali bertemu dan saling mengunci satu sama lain. Gara merasa bahwa saat ini Brinia sedang kecewa pada dirinya karena tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri dan Gara sangat takut jika hal itu membuat Brinia marah padanya.
Gara lebih memilih ditampar Brinia ketimbang di diamkan oleh Brinia.
Dan sama dengan Brinia, dari lubuk hati Gara yang terdalam, Gara tidak menyesal sedikit pun karena sudah mencium bibir Brinia yang teramat manis.
“Please jangan marah… maafkan aku!” Ucap Gara lirih dengan sorot mata sendu.
Eh.
Mata Brinia mengerjap-ngerjap. Eh, Brinia jadi bingung harus bagaimana.
“A.. a.. aku nggak marah Ga.” Cicit Brinia sambil menggigit bibir bawahnya demi bisa mengurangi perasaan gugup.
Hanya saja Brinia belum paham bahwa gerakannya menggigit bibirnya sendiri itu membuat tubuh Gara meremang karena Gara sangat ingin melakukannya lagi dengan Brinia.
“La.. lalu?” Ternyata Gara juga cukup gugup pada Brinia.
“A.. aku malu.” Jawab Brinia lirih kemudian menunduk agar Gara tidak dapat melihat wajahnya yang pasti sudah memerah. Tangan Gara masih setia menangkup pipi mulus Brinia.
Mendengar jawaban dari Brinia, Gara pun kemudian tersenyum. Lelaki yang berprofesi sebagai artis itu kini paham bahwa Brinia tidak sedang marah padanya ataupun kecewa padanya. Brinia hanya sedang malu atas apa yang sudah terjadi diantara mereka. Berarti Brinia menerima ciumannya?
“Kamu gak marah karena aku udah mencuri ciuman pertama kamu Bee?” Tanya Gara.
“Aduh Ga, kenapa kamu malah bertanya seperti itu lagi? Kan aku udah bilang, aku nggak marah. Kamu membuatku semakin malu.” Batin Brinia yang kemudian menggeleng sebagai jawabannya.
“Bee tatap aku…” Ucap Gara mendongakkan wajah cantik Brinia agar menghadap padanya.
__ADS_1
Jantung Brinia berpacu semakin kencang saat tatapannya langsung tertuju pada bibir Gara yang cukup tegal dan berwarna merah. Susah payah Brinia menelan salivanya.
“Bolehkah aku melakukannya sekali lagi sama kamu? Boleh ya?” Tanya Gara meminta izin.
Sungguh, Brinia rasanya ingin mengumpat pada Gara. Kenapa Gara harus minta izin segala, kenapa tidak seperti lagi aja?
“Ta.. tapi Ga…”
“Kalau kamu tidak mengizinkan tidak apa-apa.” Ucap Gara yang langsung memotong kalimat Brinia padahal Brinia belum menyelesaikan ucapannya.
“Ga..”
“Nggak apa-apa sayang.” Kata Gara sambil tersenyum lembut padahal Brinia tahu jika saat ini Gara sedang kecewa karena menganggap Brinia sudah menolak dirinya.
“Bu.. bukan maksud aku mau menolak kamu.”
“Iya, aku paham kok Brinia sayang. Emang gak seharusnya aku meminta hal itu lagi sama kamu. Maafkan aku yang sudah kurang ajar sama kamu ya.” Kata Gara dengan nada penuh penyesalan.
“Ih.. Segara! Aku tuh belum selesai ngomong!” Sentak Brinia dengan nada sangat kesal karena Gara terus memotong ucapannya.
Eh.
“Aku gak menolak kamu! Kamu boleh cium aku lagi sampai kamu puas! Ta… tapi aku bingung harus gimana saat kamu cium aku!” Ucap Brinia jujur dari dalam lubuk hatinya. Brinia yang tersadar sudah berbicara terlalu jujur itu pun langsung menutup mulutnya begitu saja.
Brinia merutuki dirinya karena menganggap ucapannya sungguh memalukan.
Jangan tanya bagaimana reaksi Gara yang mendengar kejujuran kekasihnya, Gara bahagia sekaligus ingin sekali tertawa sekeras-kerasnya karena kepolosan Brinia. Namun Gara sadar bahwa dia tidak boleh merusak suasana yang sudah terbangun sedemikian rupa sebab jika dirinya tertawa nanti Brinia akan semakin ngambek dan tidak ingin dia cium lagi.
“Sayang, sepertinya aku tidak akan pernah merasa puas untuk mencium bibir kamu ini deh. Bibir kamu rasanya manis.” Kata Gara yang jari jempolnya mengusap bibir Brinia dengan lembut.
Wajah Brinia semakin merona dan semakin terlihat cantik di mata Gara.
“Kamu jangan merasa bingung karena ini pengalaman pertama kamu ya… Sebab ini juga pengalaman pertama aku. Aku sama gugupnya sama kamu. Hanya saja aku memakai naluri ku tadi dan menikmati keindahan juga kenikmatan bibir kamu yang menjadi candu untuk aku.” Ucap Gara dengan sorot mata begitu dalam pada Brinia.
“Kita sama-sama belajar ya… rileks dan jangan gugup.” Tangan Gara sudah berjalan menuju tengkuk Brinia.
“Nikmati dan gunakan naluri kamu…” Kata Gara lagi yang sudah mendekatkan wajahnya pada wajah Brinia. Brinia pun otomatis memejamkan matanya saat benda asing itu kembali mendarat sempurna di bibir ranumnya.
__ADS_1
To be continued…..