
Tidur bersama adalah hal yang biasa untuk Brinia dan Gara sewaktu mereka masih kecil hingga duduk di bangku SD. Gara sering sekali menginap di kamar Brinia dengan alasan mau mengerjakan tugas sekolah bersama. Begitu pula sebaliknya, dan kedua orang tua mereka pun tidak ada yang mempermasalahkan hal tersebut.
Namun semuanya berubah semenjak Brinia sudah mulai remaja dimana Brinia sudah kedatangan tamu bulanan. Sebagai orang tua yang memiliki anak gadis yang cantik dan cerdas seperti Brinia, mereka harus berlahan-lahan memberikan pemahaman pada Brinia tentang batasan-batasan dengan lawan jenis.
Begitu pula dengan orang tua Gara yang benar-benar tegas menjaga pergaulan Gara dengan lawan jenisnya kecuali Brinia. Ya, hanya pada Brinia orang tua Gara memberikan kebebasan tapi tetap dengan batasan batasan tertentu.
Namun semua seperti menguap begitu saja setelah Ayah Brinia ketahuan selingkuh dan tidak lama kakak Brinia meninggal dunia. Ayah Henry sudah tidak begitu perhatian lagi pada putrinya. Begitu juga Bunda Sekar yang sibuk menyembuhkan lukanya sendiri.
Gara pun yang selalu ada untuk Brinia. Gara juga meyakinkan Papa Andra, bahwa dirinya tidak akan berbuat macam-macam dengan Brinia. Gara hanya ingin menemani Brinia di sela-sela jadwal casting dan shootingnya.
Papa Andra dan Mama Amelia yang begitu kasihan dengan Brinia pun mengizinkan putranya untuk selalu ada di samping Brinia. Papa Andra juga percaya penuh pada putra semata wayangnya itu bahwa Gara tidak akan melanggar batasan.
Bayangan wajah Papa Andra dan Om Henry mendadak muncul dalam benak Gara di tengah-tengah ciuman panasnya pada Brinia. Perlahan, Gara melepaskan tautan bibir itu dengan lembut. Gara menatap wajah Brinia dengan intens kemudian meminta Brinia agar segera tidur dengan alasan, Gara tidak ingin lebih melewati batas. Beruntung Brinia paham akan hal itu tanpa protes.
Tidak menunggu lama, Brinia pun terlelap dengan posisi saling membelakangi Gara sesuai perintah Gara.
Dari dalam lubuk hatinya, Gara merasa sangat bersalah pada orang tuanya dan orang tua Brinia karena sudah mengkhianati kepercayaan yang sudah mereka berikan.
Mungkin bagi sebagian orang, ciuman adalah hal yang biasa namun tidak bagi Gara karena orang tua Gara mendidik Gara dengan sangat baik agar Gara bisa menghargai wanita terlebih wanita yang sangat ia cintai.
Namun, mengingat kembali pergaulan saat ini yang teramat bebas.. rasanya terlalu sulit jika tidak ada sebuah kegiatan yang sedikit intim dalam sebuah hubungan. Terlebih, Gara sudah merasakan bagaimana nikmatnya ciuman panas yang hampir saja menghilangkan akal sehatnya.
Anak SMP dan SMA sekarang aja sudah banyak yang melakukan ciuman kan? Bahkan lebih.
Hampir semalaman suntuk Gara tidak bisa tidur hingga kini waktu menunjukkan pukul 3 pagi.
Gara bukan tidak ngantuk, bukan. Tapi Gara benar-benar tidak bisa tidur karena benda yang mirip squishy itu menempel sempurna tepat di dada bidangnya dan si empu pemilik squishy itu tidak sadar dengan apa yang dia lakukan saat ini. Sungguh, Gara merasa sangat gemas dan ingin memainkan benda secara langsung.
Bagaimana pun, Gara adalah lelaki normal.
“Ini gila Bee,,, ini benar-benar gila.. apa aku harus segera melamar kamu secara resmi dan orang tua kita harus segera menentukan hari pernikahan kita secepatnya Bee. Persetan dengan kontrak kerja itu yang melarang aku untuk dekat atau menjalin hubungan dengan lawan jenis. Kita bisa menyembunyikan status pernikahan kita untuk sementara waktu Bee… kamu benar-benar membuat aku gila Brinia.” Batin Gara berkecamuk setelah semalam suntuk.
Semalam, Brinia dan Gara tidur saling membelakangi setelah mereka melakukan ciuman panas yang kedua. Ciuman panas yang hampir saja membuat Gara gila karena tangan Gara sudah tidak bisa dikontrol. Untung Brinia mampu menghentikan pergerakan tangan Gara. Jika tidak, Gara tidak tahu lagi akan berakhir seperti apa.
Eh selang beberapa waktu doang, Brinia udah berbalik dan memeluk Gara. Ya jelas Gara tidak bisa menolak.
Gara pun memikirkan kembali tentang pernikahan. Haruskan di percepat dengan segala resiko yang ada. Atau tetap pada komitmen tiga tahun lagi untuk melangsungkan pernikahan. Tapi, Gara sangat ragu, mampukah dia bertahan hanya sekedar berciuman selama kurun waktu tiga tahun itu? semalam saja Gara hampir lepas kontrol.
Sibuk dengan pikirannya sendiri, akhirnya Gara pun ikut terlelap menyusul Brinia yang sedang merajut mimpi indah.
...**...
Ceklek Ceklek,
Suara kunci dan handle pintu terdengar cukup nyaring. Tapi nyatanya tidak mampu membuat dua insan yang sedang terlelap itu terjaga dari tidur indahnya.
__ADS_1
"Gimana Nes?" Tanya Juna yang ada di depan pintu bersama Denim. Sementara Nesya di utus untuk membuka pintu dan melihat suasana di dalam kamar.
Juna dan Denim tidak ingin lancang. Mereka takut Brinia dalam keadaan yang tidak memungkinkan dan dua manusia minim akhlak itu tidak ingin mengambil kesempatan. Jadi Nesya yang diutus untuk melihat kondisi di dalam.
"Aman, mereka tidur sambil berpelukan." Jawab Nesya sambil tersenyum menatap pemandangan indah di atas ranjang.
"Brinia masih pake bathrobes?" Tanya Juna yang memastikan lebih dulu sebelum ikut masuk.
"Masih, cuma salah saty pundaknya terekspos. Sepertinya tali bathrobes di dalam selimut terlepas deh, kelihatan banget gak pake bra." Jawab Brinia.
Juna dan Denim mengangguk, berarti tidak masalah. Selama ini Brinia sering pakai baju tanpa lengan juga kan.
"Gara bagaimana?" Tanya Denim.
"Gara kedua pundaknya terekspos, jadi kelihatan banget kalau gak pake baju." Jawab Nesya. Tiga sahabat laknat itu pun berbicara dengan suara lirih agar tidak mengganggu sepasang kekasih yang tengah terlelap.
"Yaudah, kita masuk Jun, ayo kita foto mereka." Ajak Denim.
"Yoi.. pastinya.." Jawab Juna dengan semangat.
"Eh ngapain di foto segala?" Tanya Nesya.
"Udah elu tenang aja Nes, buat berjaga biar mereka cepet nikah." Jawab Juna santai.
"Awas aja kalau kalian aneh-aneh."
...**...
Ledekan demi ledekan keluar begitu saja dari mulut Juna, Denim dan Nesya saat Gara dan Brinia sudah rapi dengan pakaian masing-masing.
Entah kapan, sahabat mereka membuka kunci pintu sialan itu. Yang jelas saat Brinia bangun lebih dulu dan membangunkan Gara, pintu sudah sedikit terbuka.
Ya saat bangun tadi Brinia begitu terkejut kala menyadari dirinya memeluk Gara dengan dada keduanya yang menempel sempurna. Namun saat Brinia tahu Gara tertidur begitu lelap, Brinia berharap Gara tidak sadar akan pelukannya itu. Dan setelah bangun dari tidur, Gara juga tidak bicara apa-apa atau menggodanya.
Dan sebelum keluar dari kamar itu, Brinia dan Gara sudah sepakat untuk bersikap biasa saja di depan para sahabat laknat mereka itu. Brinia dan Gara sebenarnya ingin marah pada mereka, namun mereka juga tidak dapat berdusta bahwa apa yang terjadi semalam berkat ulah para sahabatnya. Jika bukan karena mereka, tidak mungkin Gara dan Brinia bisa merasakan sebuah ciuman.
“Makan yang banyak Brin, kita tahu kok semalam kalian bekerja keras membuatkan kita keponakan.” Goda Juna kala Brinia mengambil nasi untuk sarapan yang terlambat.
Semua tahu jika Brinia dan Gara tidak sampai melakukan hubungan suami istri, karena setelah Brinia dan Gara keluar dari kamar… Nesya buru-buru mengecek seprai yang ada di kamar tersebut ternyata tidak ada noda darah. Juna dan Denim pun begitu kagum dengan Gara yang sangat bisa menguasai dirinya.
“Dasar Gila! Kalian ngapain sih pada duduk disini, bukannya kalian udah sarapan?” Umpat Brinia yang masih kesal dengan para sahabatnya meskipun Brinia juga menikmati kegiatannya semalam. Yah, Brinia gak mau jadi manusia munafik.
"Jangan galak-galak Brin, entar ponakan gue yang lagi di proses di perut elu ketularan galak." Sambung Denim.
“Jaga mulut kalian ya.. gue sama Brinia semalam gak ngapa-ngapain! Jangan merendahkan Brinia seperti itu! Atau gue gak akan segan buat bikin kalian berdua babak belur. Gue gak peduli kalian sahabat gue.” Kata Gara tegas karena Gara tidak ingin harga diri Brinia jatuh sedikit pun.
__ADS_1
"Santai Ga, kita gak bermaksud merendahkan Brinia kok, kita justru bahagia karena hubungan kalian ada kemajuan." Kata Juna santai.
“Oke kalau kalian gak ngapa-ngapain, gue akan coba percaya. Lalu suara siapa yang semalam mendessah?” Celetuk Denim tanpa filter.
Denim sebenarnya hanya asal bicara, namun ternyata respon Brinia dan Gara mendadak gugup dengan wajah yang memerah.
Oke, Denim dan Juna yang memang sudah pakar mengenai hal tersebut akhirnya dapat menyimpulkan jika memang sudah terjadi sesuatu diantara Gara dan Brinia meskipun tidak sampai terlalu jauh.
“Hayoo ngaku… kenapa sampai ada suara desaaahan?” Kini giliran Juna yang bersuara menimpali ledekan Denim.
“Siapa yang mendesaah?” Suara Yurdha tiba-tiba muncul. Lelaki tampan itu baru saja pulang dari resort yang tidak jauh dari Villa yang mereka tempati.
"Bee.. kita sarapan disana aja yuk!" Ajak Gara dengan wajah kesalnya pada Brinia. Wajah kesal Gara bukan ditujukan pada Brinia, melainkan pada sahabatnya yang kini membuat mata Brinia sudah berkaca-kaca karena malu.
"Ada apa ini?" Tanya Yurdha lagi pada Gara. Namun Gara malas menjawab. Gara menggandeng Brinia melewati para sahabatnya begitu saja.
“Ada apa ini? Kenapa Brinia seperti menahan tangis?” Tanya Yurdha lagi penasaran.
“Elu tumben kepo banget sih Yur? Nih gue lihatin video dan foto Brinia dan Gara lagi tidur berpelukan setelah sesuatu yang terjadi diantara mereka semalaman jadi mereka kecapekan.” Jawab Nesya mengeluarkan ponsel pribadinya dari dalam saku.
“Video dan foto?” Gumam Gara menghentikan langkahnya.
Eh.
Nesya langsung menutup mulutnya begitu tahu Gara dan Brinia masih mendengar ucapannya.
"Video dan foto apaan?" Tanya Gara dengan suara lantang. Gara bahkan melepaskan tautan tangannya dengan Brinia. Gara juga meletakkan piring berisi nasi dan lauk pauknya diatas sofa yang ada di dekatnya.
"Vi... video dan foto pagi tadi saat kalian masih tidur." Jawab Nesya gugup karena tatapan intimidasi dari Gara.
“Hapus Nes!” perintah Brinia yang tidak ada niat melihat video itu sedikit pun karena Brinia sudah malu sendiri. Brinia bahkan enggan menatap wajah-wajah sahabatnya.
"Ini yang ngambil Juna dan Denim Brin."
“Sialan kalian semua!” Umpat Gara dengan tatapan penuh amarah.
“Coba lihat!” Kata Yurdha yang langsung mengambil ponsel Nesya begitu saja. Tanpa menunggu lama, Yurdha langsung membuka galeri dan memutar video yang berada di urutan paling atas.
“Hapus itu Yur!” Perintah Gara melihat ekspresi Yurdha yang juga berubah tidak terbaca.
Gara pun merebut ponsel Nesya dari tangan Yurdha kemudian melihat foto dan video yang ada disana. Gara sedikit bernafas lega karena hanya salah satu pundak Brinia yang terekspose. Selebihnya tertutup oleh selimut dan bagian dada Brinia terlindungi oleh pelukan Gara.
“Bresngssek kalian semua!” Gara pun berjalan menuju Denim dan Juna kemudian membelikan bogem mentah untuk kedua sahabatnya itu.
to be continued
__ADS_1
ini bab cukup panjang yaa...
jadi tolong kasih hadiah 🤭