
“Makasih ya selalu sabar sama aku, aku mandi bentar!” Ucap Brinia. Gara pun memejamkan matanya sambil susah payah menelan salivanya saat merasakan dua gunung menabrak dada bidangnya untuk pertama kali.
"Astaga!" Batin Gara meronta-ronta
Pagi ini adalah pagi yang tidak terlupakan buat Gara. Karena untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Segara, Gara nervous, gugup dan salah tingkah menjadi satu.
Saat Brinia memeluk Gara, Brinia nampak mengernyit mengetahui respon Gara yang tidak membalas pelukannya. Dan Gara nampak tegang.
Ingin membahas masalah ini, tapi Brinia urungkan mengingat para sahabatnya sudah pada menunggu. Brinia memilih segera mandi sebelum kekasih hatinya yang tampan ini mengomel.
Tanpa rasa berdosa sedikit pun, Brinia langsung melepaskan pelukannya dan memasuki kamar mandi yang ada di dalam kamarnya dengan sangat santai.
Ceklek.
Pintu kamar mandi tertutup sempurna dan Gara masih mematung dengan tatapan entah. Perlahan tangan Gara mengusap dadanya sendiri.
“Astaga… kenyal… pagi-pagi dapat rejeki nomplok!” Gumam Gara pelan sebelum logikanya kembali dengan sempurna.
“Gila-gila… gila…” Gara langsung menggeleng-gelengkan kepalanya saat pikirannya sudah bertamasya melampaui batas karena membayangkan yang enak-enak.
Dengan tergesa dan membawa koper Brinia, Gara segera turun dan menuju meja makan. Sampai di sana, Gara langsung membuka kulkas dan mengambil air dingin untuk mendinginkan otak juga tubuhnya yang terasa panas akibat tingkah Brinia pagi ini.
Gara tahu, Brinia pasti tidak sadar memeluknya dengan kondisi seperti itu tadi. Tidak mungkin Brinia berniat menggoda dirinya secara sengaja karena Gara tahu, Brinia teramat polos mengenai hal-hal tersebut.
“Mas Gara habis lihat setan? Pagi pagi sudah minum air dingin sebanyak itu?” Tanya Bik Sumi yang melihat tingkah aneh anak tetangga majikannya itu.
“Lebih menyeramkan dari setan bik!” Jawab Gara dengan nafas terengah-engah.
“A.. apa mas yang lebih menyeramkan dari setan?” Tanya bik Sumi penasaran dengan raut wajah takut karena memang bik Sumi takut dengan hal-hal berbau mistis.
“Ada deh pokoknya!” Jawab Gara sekenanya.
__ADS_1
“Benar-benar lebih menyeramkan dari Setan, karena bisa mengusir logika ku bik.. astaga Brinia! Untung aku masih cukup waras, jika tidak... sudah aku kunci pintu kamar kamu dan kita batal terbang ke jogja.” Batin Gara menjerit.
Sementara di dalam kamar mandi,
“Oh My God!” Pekik Brinia saat hendak membuka pakaiannya.
Brinia baru teringat jika saat tidur malam dia tidak pernah mengenakan bra ataupun segitiga berenda. Ditambah lagi malam tadi Brinia mengenakan baju tidur yang cukup tipis dan warnanya putih lagi. Wajah Brinia langsung memerah seperti kepiting rebus.
“Ceroboh banget elu Brinia.. astaga..” Brinia merutuki dirinya sendiri saat mengingat bagaimana Gara bersikap dingin padanya dan enggan menatap dirinya.
Namun dengan tidak tahu malunya dirinya tadi justru memeluk Gara dengan sangat erat. Brinia pikir tadi Gara kesal sebab dirinya telat bangun.
Demi apapun, Brinia merasa sangat malu sekali pada Gara. Ya, meksipun Brinia dan Gara resmi berpacaran tiga tahun yang lalu, tapi Gara dan Brinia tidak pernah dalam posisi atau mengarah pada hal hal yang berbau intim seperti tadi.
Kalau berbicara soal pelukan, Gara dan Brinia sejak balita selalu melakukan hal tersebut jadi mereka sudah menganggap pelukan itu adalah hal biasa.
Namun pelukan pagi ini berbeda untuk keduanya, dan Brinia kini sadar apa yang membuat Gara tadi mematung dan tidak membalas pelukannya seperti biasa.
Dengan perasaan yang sulit dijabarkan sambil terus merutuki dirinya sendiri, Brinia segera menyalakan shower dan menyelesaikan ritual mandinya mengingat teman-temannya sudah menunggu di rumah Yurdha.
Tank top warna hitam yang dibalut dengan kemeja putih polos yang kancingnya dibiarkan terlepas serta celana jeans panjang, Brinia terlihat sangat cantik meskipun tanpa make up yang berlebihan. Brinia sudah sangat siap untuk keluar dari kamarnya, namun Brinia merasa galau gimana harus bersikap pada Gara setelah kecerobohannya beberapa menit yang lalu.
Ponsel dalam genggaman Brinia pun terus berdering karena notifikasi group yang menanyakan keberadaan Gara dan Brinia. Dua sejoli yang belum nampak batang hidungnya di rumah Yurdha padahal sudah jam tujuh lebih lima menit.
Hingga suara cempreng mbak Kiki yang diminta Gara untuk memanggil Brinia membuat Brinia tersentak dan mau tidak mau Brinia harus segera turun.
Ah, seandainya tidak ada rencana pergi, pasti Brinia lebih memilih mengurung diri di dalam kamar hingga bisa melupakan kejadian pagi ini kemudian baru berani untuk bertemu dengan Gara. Brinia tidak mau mengacaukan liburan yang sudah teman-temannya rencanakan itu.
Jantung yang terus berdegup kencang mengiringi langkah Brinia menuruni satu persatu anak tangga hingga Brinia tiba tepat di samping Gara yang menunggunya di sofa ruang keluarga.
Gara yang menyadari kedatangan Brinia itu pun melirik sang kekasih secara sekilas. Bukan hanya Brinia, Gara pun merasakan hal yang sama yaitu canggung.
__ADS_1
“Sudah?” Tanya Gara yang beranjak dari duduknya.
“Su.. sudah.. a.. ayo berangkat.” Jawab Brinia dengan menunduk.
Tanpa berkata apapun, Gara pun langsung mengambil alih koper kekasihnya kemudian menyeret benda persegi itu keluar dari kediaman orang tua kekasihnya.
“Mbak Kiki, Bik Sumi… aku berangkat ya! Nitip rumah, nanti malam ayah sama bunda udah pulang ko.” pamit Brinia pada dua asisten rumah tangga kedua orang tuanya.
“Hati-hati non…” Kata Bik Sumi yang memang sudah tahu kalau hari ini Brinia akan liburan ke Jogja dengan teman-temannya.
“Non Brinia, jangan lupa oleh-oleh dari Jogja nya!” Teriak Mbak Kiki. Brinia hanya mengangguk dan segera menyusul Gara.
“Bik Sum? Non Brinia sama mas Gara kenapa ya? Kok keduanya kelihatan aneh?” Ucap Mbak Kiki.
“Iya aneh.. biasanya mereka berdua nampak seru dan kompak juga sangat manis, kok pagi ini seperti sedang menjaga jarak ya? Wajah keduanya juga nampak memerah?” Kedua asisten rumah tangga itu pun nampak berpikir keras namun tidak menemukan jawabannya.
Di depan kediaman kedua orang tuanya, Brinia melihat Gara yang tengah memasukkan koper miliknya ke dalam mobil Gara.
"Sudah... ayo masuk." Kata Gara yang langsung membuka pintu bagian kemudi. Tidak seperti biasanya, karena biasanya Gara selalu membuka kan pintu untuk Brinia lebih dulu.
"Baiklah, ayo berangkat." Jawab Brinia.
Brinia pun duduk di samping Gara dengan perasaan canggung.
"Gara...." Panggil Brinia.
"HM."
"Boleh gak...."
"Yurdha dan yang lainnya sudah menunggu kita sejak tadi Brinia." Ucap Gara yang langsung memotong kalimat kekasihnya begitu saja tanpa mendengar penjelasan sang kekasih lebih dulu.
__ADS_1
"Oh oke, baiklah." Kata Brinia lirih. Brinia enggan menjelaskan apa yang ingin ia katakan.
to be continued