
Brinia sudah tidak canggung lagi untuk membalas setiap apa yang Gara lakukan pada bibirnya. Hingga keduanya larut dalam permainan masing-masing. Sebisa mungkin Gara mengumpulkan kewarasannya agar tangannya berada pada tempatnya tidak mengeksplor ke sembarang arah seperti semalam dirinya hampir kebablasan kalau tidak Brinia tahan.
"Sialan kalian!" Umpat Yurdha yang langsung melemparkan kaleng minuman yang isinya sudah habis ia minum itu ke sembarang arah sehingga menimbulkan suara yang cukup gaduh.
Mendengar umpatan Yurdha dan suara kaleng yang nyaring, Brinia secara spontan langsung mendorong tubuh Gara begitu saja agar menjauh. Dan hanya dalam hitungan detik, ciuman mereka terlepas.
"Ganggu aja elu!" Ucap Gara dengan nada kesal pada Yurdha disertai dengan lirikan sinis.
Yurdha hanya diam dengan wajah datarnya kemudian dengan santainya lelaki 22 tahun itu duduk dihadapan sepasang kekasih yang baru saja kepergok ciuman.
Sementara Brinia, gadis cantik calon dokter itu langsung menyembunyikan wajahnya pada dada bidang kekasihnya.
Bagaimana bisa Yurdha melihat dirinya dan Gara sedang berciuman? Sungguh, ini benar-benar memalukan.
Seandainya waktu bisa terulang kembali, Brinia pasti akan lebih berhati-hati agar tidak ketahuan orang saat sedang berciuman.
"Ngapain elu duduk sini? pergi sono, ganggu aja!" Usir Gara yang tidak suka dengan Yurdha yang justru duduk di hadapannya dan Brinia saat ini, padahal Gara ingin melanjutkan hobi barunya itu, berciuman.
"Ganggu? hey ini jet milik siapa? ha? untung disini masih ada gue, kalau kagak.. gue jamin, ini jet nanti akan jadi jet goyang!" Ucap Yurdha dengan nada meledek membuat Brinia semakin merasa malu.
"Iye iye yang paling tajir! Udah deh pergi sono." Jawab Gara enggan memperdebatkan ucapan Yurdha.
Gara lebih memilih merengkuh tubuh Brinia yang tengah memeluknya dan memberikan usapan lembut karena Gara tahu saat ini Brinia sangat malu.
"Cih! udah ada kemajuan ternyata... bahkan kemajuan pesat ya karena udah berani ciuman." Ledek Yurdha lagi yang kini sudah menahan tawanya melihat bagaimana ekspresi Gara.
"Kemana manusia yang dulu bilang belum halal belum halal... belum punya hak... mencintai untuk menjaga bukan merusak. Kemana manusia itu?" Tanya Yurdha yang mendadak jadi orang yang banyak bicara.
"Elu mending jadi pendiem aja deh. Berisik banget elu kalau udah ngomong ya."
"Ciee udah berani ciuman." Ledek Yurdha enggan menanggapi ucapan ketus Gara sebelumnya.
"Pengen? makanya cari wanita sana!"
__ADS_1
"Pengen? sama sekali tidak tertarik." Kata Yurdha dengan nada mencibir Gara.
"Ck! menjaga sampai halal menjaga sampai halal, sekarang udah icip-icip juga ternyata." Kata Yurdha lagi membuat Gara merasakan bahwa pelukan Brinia semakin erat padanya.
Yurdha yang mengetahui jika Brinia tengah malu justru semakin ingin menggoda Brinia.
"Aku malu Ga." Cicit Brinia yang sangat pelan sehingga hanya mampu di dengar oleh Gara.
"Elu bisa diem gak sih Yur!" Kata Gara dengan nada kesal karena Brinia dibuat malu.
Nah kan, baru juga mau goda Brinia.. eh pawangnya udah memberikan tatapan tajam.
"Ciie Brinia e yang bibirnya udah gak perawan lagi. Rasanya gimana Brin? Ceritain dong!" Ledek Yurdha dengan tertawa sumbang kemudian Yurdha berdiri dari duduknya.
"Kampreet elu!" Umpat Gara yang paham dengan tingkah sahabatnya itu.
"Dia udah cabut sayang." Kata Gara mengusap rambut Brinia dengan lembut. Brinia pun mendongakkan wajahnya mencari keberadaan Yurdha yang memang sudah menghilang ke bilik yang lain.
"Aku malu Gara! Kamu sih.. ngajak ciuman gak lihat lihat tempat." Rengek Brinia. Gara hanya bisa nyengir mendengar protes dari sang kekasih.
"Yurdha sialan!" Umpat Brinia.
"Elu balik ke tempat duduk elu deh.. bukannya elu mau balik bareng gue karena sore nanti ada meeting!" Kata Gara sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
...**...
Setelah lebih dari 60 menit berada di udara akibat cuaca sedikit buruk, akhirnya jet yang ditumpangi Brinia, Gara dan Yurdha berhasil mendarat sempurna di Bandara Halim Perdana Kusuma.
Di Bandara tersebut, supir pribadi Yurdha sudah stand by semenjak 30 menit yang lalu untuk menjemput majikannya beserta kedua sahabat sang tuan muda keluarga Ardhana.
Tiga sahabat itu pun berjalanan beriringan menuju parkiran bandara dengan Gara yang tentunya menyeret dua koper karena Gara tidak mengizinkan Brinia untuk membawa kopernya sendiri.
Saat ditempat umum seperti ini, Gara juga tidak pernah melupakan aksesoris wajibnya yang berupa topi hitam, kaca mata hitam serta masker berwarna hitam untuk menutupi wajah tampannya agar tidak dikenali oleh orang lain apalagi para fans-nya.
__ADS_1
Bukan bermaksud terlalu percaya diri dengan banyaknya fans, namun akhir-akhir ini nama Gara selalu diperbincangkan di televisi juga sosial media. Jadi Gara harus jaga-jaga.
Inilah yang sebenarnya yang tidak Gara sukai dengan profesi artis. Gara tidak dapat lagi tampil di depan umum sesuai dengan keinginannya karena banyak hal yang harus ia pertimbangkan demi profesinya itu. Namun mau bagaimana lagi, menjadi seorang artis ternama adalah impian Gara sejak kecil.
“Ga, mobil elu kan ada di rumah gue. Jadi elu sama Brinia balik ke rumah gue sama supir gue aja. Soalnya gue mau langsung ke tempat lain dulu sebelum pulang.” Ucap Yurdha sambil menatap jam mewah yang melingkar di tangannya.
"Yur, elu mau kemana sih? Gak mungkin kan ke kantor jam segini?" Tanya Brinia.
"Nggak ke kantor, gue cuma mau ketemu seseorang aja Brin, penting." Jawab Yurdha.
“Terus elu pergi naik apa?” Tanya Gara menatap Yurdha. Gara tidak ingin bertanya Yurdha mau kemana dan naik apa karena Gara sangat tahu bahwa Yurdha tidak suka hidupnya di kepoin. Nanti kalau udah pengen cerita, Yurdha akan cerita sendiri.
“Naik taksi aja.”
“Nggak.. nggak,,, elu yang sama supir aja. Gue sama Brinia yang naik taksi buat ambil mobil di rumah elu. Ya kan sayang…” Kata Gara pada Yurdha kemudian beralih menatap Brinia untuk meminta persetujuan.
“Hmm, gue naik apa aja gak masalah sih.. asal sama Gara.” Jawab Brinia sambil terkekeh.
Yurdha pun memutar bola matanya malas mendengar mode bucin pasangan itu.
“Nggak nggak. Biar supir gue yang antar kalian. Itung-itung sebagai permintaan maaf gue yang tadi udah ledekin kalian karena kalian ternyata sudah handal dalam berciuman.” Ucap Yurdha sambil tertawa.
“Yurdha…” Geram Brinia yang langsung melotot pada Yurdha.
“Kalau elu pengen itu bilang aja! Gak perlu meledek Brinia terus seperti itu.” Ucap Gara dengan wajah santai. Gara sama sekali tidak terusik dengan ledekan sahabatnya itu, berbeda dengan Brinia.
“Cih! Gak berminat!” Kata Gara.
“Ya. Gue gak berminat sama cewek mana pun Ga karena gue pengennya sama Brinia. Maafkan gue Ga, Karena sejak dulu gue gak mampu menghapus nama Brinia dari dalam hati gue. Namun gue janji akan terus berusaha menghilangkan perasaan ini dan tidak akan mengusik hubungan kalian sedikitpun. Gue bahagia lihat kalian bahagia.” Batin Yurdha yang mulai melangkah pergi dari tempat Brinia dan Gara berdiri saat ini.
“Gue cabut dulu, nitip koper gue ya! Pastikan aman sampai rumah sebab itu koper mahal!” Kata Yurdha kembali menengok sebelum benar-benar meninggalkan sepasang kekasih itu.
“Cih sombong!” Kata Brinia yang menatap punggung Yurdha dengan sinis. Yurdha pun terdengar tertawa mendengar ucapan Barunya.
__ADS_1
to be continued