
"Putuskan gadis itu Yurdha! ingat ada hati yang harus kamu jaga!" Ucap lelaki paruh baya.
"Hati yang harus aku jaga? hati siapa?" Yurdha memasang wajah tidak berdosa di depan lelaki paruh baya itu.
"Jangan bercanda Yurdha! Putuskan gadis bernama Brinia itu demi Liona! Papa tau Brinia gadis baik, tapi kamu tidak bisa bersamanya Yurdha."
"Buat apa aku menjaga hati gadis manja itu? Aku tidak pernah mengharapkannya, jika anda mau menjaga gadis manja itu, sekalian aja nikahi dia atau cukup jadikan dia simpanan!"
PLAK!
Sebuah tangan besar mendarat sempurna di pipi sebelah kanan seorang Yurdha Ardhana hingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring.
Yurdha yang belum siap dengan tamparan keras itu, tentu saja sangat terkejut dan hampir saja tubuh kekarnya kehilangan keseimbangan. Beruntung, disampingnya ada sofa besar sehingga mampu menjadi sandaran tubuhnya.
Bukannya marah setelah mendapatkan tamparan, Yurdha justru tersenyum sinis merasakan pipinya yang begitu kebas. Ternyata lelaki paruh baya itu masih memiliki tenaga yang cukup kuat meksipun sudah menginjak kepala lima.
Senyum Yurdha terlihat sangat menyebalkan di mata lelaki itu.
"Pa, udah pa.. jangan pukul anak kamu sendiri. Yurdha udah, jangan berkata tidak sopan sama Papa kamu." Kata wanita berusia 30 tahunan dengan lembut dan wajah sedih karena melihat anak dan ayah itu bertengkar.
"Anda tidak usah membela atau menasehati saya nyonya, saya tidak butuh pembelaan dari wanita seperti anda!" Tegas Yurdha semakin membuat emosi seorang Dani Ardhana naik. Dani ardhana tidak lain adalah papa kandung Yurdha.
"Anak kurang ajar!" Umpat Dani dengan nafas yang tersengal-sengal akibat emosi yang sampai ubun-ubun.
Dani hendak menghajar putranya lagi, namun dicegah oleh Diah, istrinya sendiri yang merupakan ibu sambung Yurdha.
"Kenapa anak bisa jadi anak kurang ajar? Ya itulah hasil dari didikan orang tua yang kurang ajar!" Jawab Yurdha.
"Yurdha! jaga omongan kamu!" Bentak Dani.
"Kenapa? benar kan?" Yurdha menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum sinis pada sang Papa.
"Kalau anda tidak menduakan mama saya dengan wanita itu, tentu saya tumbuh dengan penuh kasih sayang dari kedua orang tua saya. Dan saya pasti akan menjadi anak yang penurut." Dani langsung bungkam begitu saja mendengar ucapan dari putranya.
"Yurdha, semua tidak seperti yang kamu bayangkan Yurdha... Mama bisa jelaskan semuanya kejadian waktu itu Yurdha." ucap Diah.
"Diam anda! saya tidak punya urusan dengan anda! Dan berhenti menyebut diri anda sebagai Mama!" Ucap Yurdha menatap tajam wanita yang berstatus ibu sambungnya sehingga wanita itu langsung diam seketika.
Yurdha pun mulai melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruang kerja sang papa. Tadinya Yurdha pikir, dia dipanggil sang papa untuk keruangan karena ada pekerjaan penting. Tapi ternyata hanya untuk membahas hubungannya dengan Brinia yang beredar di media karena Dani tidak suka dengan pemberitaan itu.
Ditambah lagi Yurdha yang baru pertama kali masuk ruangan Dani tanpa mengetuk pintu melihat adegan mesra sang Papa dan istri keduanya sedang bercumbu mesra. Benar-benar memuak-kan.
"Yurdha, berhenti!" Bentak Dani membuat langkah kaki Yurdha berhenti. Namun Yurdha enggan membalikkan badannya.
"Putuskan hubungan kamu sama gadis itu!"
__ADS_1
"Putuskan Brinia? itu tidak mungkin karena aku hanya mencintai Brinia." Yurdha pun langsung berlalu begitu saja dengan membanting pintu.
"Aku akan menghentikan pemberitaan ini setelah semua orang berhenti menghina dan menghujat Brinia dan gadis manja itu pergi dari hidup keluargaku. Aku tidak akan membiarkan Brinia ataupun Gara dalam situasi sulit karena aku juga tidak ingin karier yang sudah Gara perjuangkan hancur begitu saja karena ulah Melly. Lagian dengan pemberitaan ini, aku bisa terhindar dari gadis manja yang menjijikkan itu. Satu dayung, tiga pulau terlampaui." Batin Yurdha tersenyum tanpa menghiraukan rasa sakit di pipinya.
...***...
"Elu hebat Brin!" Juna heboh sendiri mendengar skripsi Brinia sudah di ACC oleh dosen pembimbingnya.
"Wah diantara kita, elu yang lulus duluan Brinia, padahal elu yang ambil jurusan paling rumit yaitu kedokteran." Kata Denim tidak kalah bahagia mendengar kesuksesan sahabatnya.
"Gue bangga sama elu Brin." Nesya pun memeluk Brinia dengan erat.
"Makasih ya, kalian selalu dukung gue... Udah pokoknya kalian pesan apa aja terserah, hari ini gue yang traktir." Ucap Brinia.
Saat ini, Brinia ada di cafe yang tidak jauh dari kampusnya berada. Setelah Skripsinya di ACC oleh sang dosen pembimbing, Brinia tidak dapat lagi membendung rasa bahagianya sehingga Brinia langsung menghubungi sahabatnya lewat group chat untuk berkumpul di Cafe.
Urusan makan-makan? Denim dan Juna tentu menjadi orang terdepan. Meksipun mereka kaya, tapi mendengar akan dapat gratisan makan mereka langsung gerak cepat.
"Eh, Yurdha sama Gara mana?" Tanya Juna.
"Gara masih di kampus, dia mengumpulkan tugas dulu bentar lagi pasti akan sampai sini karena dua jam lagi dia mulai shooting lagi. Kalau Yurdha, gue gak tau sih.. chat gue di group cuma di baca doang sama dia." Jawab Brinia.
"Kemana itu bocah?" Gumam Juna.
"Pasti dia tadi habis dari kampus langsung ke kantor.... emang gila ya itu bokapnya si Yurdha, anak kuliah mah biar menikmati kuliahnya aja, eh malah di suruh kerja paruh waktu di perusahaannya lagi." Gerutu Denim.
"Udah-udah... gak usah ghibah, sekarang buruan pesen, gue laper!" Perintah Brinia.
"Kemana Yurdha ya? biasanya kalau Brinia yang ngajakin ngumpul, dia paling cepat merespon." Batin Nesya.
Tidak lama kemudian,
"Haii, sorry gue telat!" Sapa Gara yang tiba-tiba datang kemudian duduk di samping Brinia.
Kedatangan Gara tentu menarik perhatian beberapa pengunjung cafe.
"Cepet banget elu datang, kirain masih satu jam lagi biar kalau elu datang kita bisa langsung cabut." ucap Juna.
"Kagaklah, kalau untuk Brinia gue akan selalu memprioritaskan dong." Jawab Gara dengan suara pelan agar tidak terdengar ke meja lainnya.
Ucapan Gara membuat wajah Brinia merona. Gara sudah bisa mengontrol hatinya untuk tidak cemburu pada komentar netizen. Karena yang terpenting hubungan Brinia dan Yurdha masih sama seperti sebelum-sebelumnya.
"Ga, kamu mau makan apa? aku tadi udah pesenin kamu steak si." Ucap Brinia yang memang tahu bahwa Gara sangat suka steak di cafe ini.
"Kamu paling ngerti kesukaan aku deh!" Ucap Gara hendak mengecup pipi Brinia namun dengan cepat Brinia menghindar.
__ADS_1
"Sayang, ini itu di tempat umum." Kata Brinia sambil melotot.
"Oh iya, lupa.. nanti aja abis ini ya." Gara nyengir bagai kuda kemudian memberikan tatapan yang berbeda pada Brinia.
"Udah habis ini kalian ngamar aja deh udah... hotel deket sini juga banyak." Kata Denim memutar bola matanya jengah karena tingkah Gara yang sekarang tidak tahu malu mencium Brinia padahal dulu malu malu kucing
"Ide bagus! karena gue mau kasih hadiah buat Brinia soalnya Brinia udah menyelesaikan skripsinya dengan baik."
"Mending elu nabung beli apartemen deh Ga, biar bisa buat elu berduaan sama Brinia. kalau di hotel, ngeri juga Ama fans elu."
"Gue..."
Plak!
"Jangan ngomong aneh-aneh dan jangan tanggapi ucapan di Denim sama Juna itu.!" Brinia memukul lengan Gara dengan pelan. Brinia tahu, yang mereka bahas tidak jauh jauh dari hal mesum.
"Kenapa sih sayang, itu bukan ide yang buruk tau... beli apartemen pribadi untuk kita." Kata Gara.
"Kan bentar lagi kita mau menikah." Lanjut Gara dengan berbisik karena para sahabatnya belum tahu bahwa Gara dan Brinia berencana menikah dalam waktu dekat. Biar menjadi kejutan katanya.
"Kita tinggal di rumah mama aja deh. Mau di rumah mama kamu atau mama aku ya gak masalah."
"No! setelah menikah aku ingin berduaan sama kamu dan gak mau ada yang ganggu."
"Pikiran kamu kesitu terus, aku udah deg deg an nih mau ujian skripsi takut juga kalau masih ada revisi habis ujian, eh kamunya mikir mesum terus." gerutu Brinia.
"Efek berhari-hari gak dapat vitamin C ya begini."
"Vitamin C?"
"Vitamin Cium." Brinia melotot dengan wajah yang merona dan Gara tertawa puas.
"Santai sayang, gak usah mikir kejauhan soal skripsi. Karena deg deg an sidang skripsi tidak akan semendebarkan malam pertama kita nanti."
"Gara!" Wajah Brinia semakin merona.
"Kalian ngomongin apa sih dari tadi bisik-bisik terus?" Tanya Nesya.
"Udah Nes, jangan tanya.. pasti mereka sedang membicarakan projects keponakan buat kita."
"Enak aja kalian!" umpat Brinia.
"Nes, mending elu Pepet Yurdha aja deh biar bisa merasakan apa yang Brinia rasakan!" Saran Juna.
to be continued...
__ADS_1
Yuk tinggalkan Like komentar dan hadiah juga vote nya. makasih...