Kekasih Rahasia Aktor Tampan

Kekasih Rahasia Aktor Tampan
Gara Ambil Sikap


__ADS_3

Maaf ya selow respon Minggu ini, selain sedang gak enak badan... author juga di kejar deadline kerjaan kantor. Tapi diusahakan tetap update tiap hari. thank you!


Happy Reading


Mendapatkan telfon dari calon mertuanya saat baru baru memasuki halaman rumahnya membuat Gara mengernyit, karena tumben sekali Tante Sekar menghubungi dirinya.


Tanpa menunggu lama, Gara pun segera mengangkat telfon Tante Sekar. Dan saat Tante Sekar menanyakan keberadaannya yang ternyata baru sampai rumah, Tante Sekar langsung memintanya datang ke rumah sebab Brinia tidak keluar kamar sejak siang tadi.


Kepala Gara terasa ingin meledak gara-gara Melly hingga Gara harus menenangkan diri dulu di apartemen Yurdha bersama Juna yang tengah gabut.


Kini Gara harus bersabar menghadapi drama lainnya yang ada di keluarga Brinia. Karena Gara yakin pasti ada sesuatu yang membuat Brinia sampai tidak keluar kamar.


Gara tidak ingin menerka-nerka, dia lebih memilih bertanya langsung pada Tante Sekar tentang apa yang membuat Brinia sampai mengurung dirinya di dalam kamar dan tidak keluar untuk makan bersama sehingga Gara bisa berbicara dengan Brinia dengan baik.


Dan...wajah Gara langsung menegang mendengar cerita Tante Sekar tentang apa yang terjadi di rumah mewah tersebut beberapa jam lalu.


Tangan Gara bahkan mengepal kuat, jika Henry bukan ayah kandung Brinia mungkin saat ini Gara sudah memberikan pelajaran pada lelaki itu.


Bagaimana bisa seorang ayah kandung berkata se-kasar itu pada putrinya sendiri? Dimana hati nuraninya padahal dia yang tukang selingkuh dan semua masalah keluarga terjadi karena ketidaksetiaannya.


"Tante, Om Henry ada dimana?" Tanya Gara dengan wajah datarnya.


"Dia ada diruang kerjanya Gara, setelah makan malam dia masuk kesana dan tidak keluar."


"Aku minta izin mau bertemu dengan om Henry." Ucap Gara.


"Gara, bukankah lebih baik kamu menemui Brinia, dia belum makan loh Ga." Sekar tidak dapat menyembunyikan kekhawatirannya pada Brinia.


Gara tahu, jika Sekar itu lebih menyayangi Brinia ketimbang Henry. Terbukti, Sekar bisa menerima Brinia dan mengkhawatirkan perasaan juga keadaan Brinia meskipun Brinia anak dari wanita yang sudah menyakiti hatinya dulu.


Hanya saja, luka yang dulu Henry berikan begitu tajam sehingga kadang kala Sekar tidak dapat membendung emosinya dan melampiaskannya pada Brinia.


Ya Brinia selalu saja menjadi korban pelampiasan emosi kedua orang tuanya. Oleh sebab itu, mama Amelia dan Papa Andra sangat menyayangi Brinia karena anak yang lahir di dunia ini tidak memiliki dosa apapun. Mereka tidak berkewajiban menanggung dosa orang tuanya.

__ADS_1


"Hanya sepuluh menit Tante."


"Tapi Ga..." Sekar nampak cemas.


"Aku janji gak akan membuat keributan Tante."


"Baiklah. Tapi jangan lama-lama ya.. kasian Brinia.." Gara pun mengangguk dan kemudian beranjak menuju ruang kerja Henry. Gara tidak perlu ditunjukkan dimana ruangan itu, karena Gara sudah sangat paham setiap sudut rumah tersebut.


Tok


Tok


Tok


Gara mengetuk pintu ruang kerja Henry, tidak lama sang pemilik ruangan mempersilahkan Gara masuk.


"Maaf mengganggu, saya minta waktu om sebentar, ada yang ingin saya bicarakan sama om." Ucap Gara menatap calon mertuanya yang berdiri di daun pintu dengan wajah datar namun Gara masih menjaga kesopanannya.


"Masuklah Ga, kita bicara di dalam." Ucap Henry.


"Ada apa Segara?" Tanya Henry yang tidak ingin menduga-duga.


"Saya kesini hanya mau minta tolong sama Om." Gara menatap Om Henry yang kini dengan sorot mata sendu.


"Minta tolong apa Ga?" Tanya Henry lirih.


"Tolong berhenti menyakiti Brinia. Oke, Brinia anak kandung Om Henry dan saya hanyalah kekasih Brinia. Tapi please om, saya mohon... berhenti menyakiti hati Brinia dan menutup rapat semua ini sampai saya sah menjadi suami Brinia dan segala tanggungjawab om terhadap Brinia berpindah ke saya, Setelah saya sah menjadi suami Brinia.. saya jamin, Brinia tidak akan merepotkan om Henry lagi sehingga om tidak perlu berkata bahwa kehadiran Brinia adalah sesuatu yang tidak diharapkan!" Ucap Gara dengan serius membuat Henry diam dan menunduk.


Henry memejamkan matanya.


"Om... Brinia selalu tertekan sejak kecil. Tindakan om dan Tante, ucapan om dan Tante selama ini tanpa kalian sadari sudah menyakiti Brinia membuat batin Brinia tersakiti, bahkan Brinia selalu merasa dirinya tidak diterima dimanapun, dia merasa tidak pantas untuk siapapun, dan Brinia selalu menyalahkan dirinya sendiri atas apapun yang terjadi disekitarnya. Apa om masih belum puas menyakiti hati dan psikis Brinia selama ini?"


"Gara..." Untuk pertama kalinya Gara melihat mata Henry yang berkaca-kaca.

__ADS_1


"Brinia gak pernah meminta untuk lahir sebagai anak om Henry dari hasil perselingkuhan om Henry sendiri. Brinia gak pernah meminta itu om... Dimata semua orang, Brinia memang memiliki keluarga yang utuh, tapi hatinya sangat kesepian.. dia seperti anak yatim piatu sejak kecil, apalagi setelah kepergian kak Brian." Ujar Gara dengan tegas tanpa peduli kesopanan.


"Om salah Segara... om menyesal tadi sudah berkata kasar sama Brinia karena om bingung, om gak mau cerai dengan Tante Sekar. Maafkan Om Gara." Ucap Henry menunduk.


"Om tidak punya salah apapun pada saya. Kalau om memang merasa bahwa apa yang ucapkan salah, seharusnya om meminta maaf sama Brinia bukan diam saja om. Saya yakin, Brinia akan memaafkan om karena dia sangat menyayangi om Henry."


Kalimat demi kalimat yang Gara ucapkan memang dengan nada tenang, namun nyatanya kalimat Gara mampu membuat Henry terasa tertampar-tampar hingga membuat Henry tersadar bahwa semuanya adalah kesalahannya.


Gara bahkan tidak segan memberikan peringatan keras pada Henry jika berani menyakiti Brinia.


Ya, apapun tentang Brinia... Gara rela melakukan apapun termasuk menyakiti dirinya sendiri.


...**...


Usai puas mengungkapkan maksud hatinya pada Henry, Gara pun langsung menuju lantai dua kediaman kekasihnya dengan Sekar yang mengikuti langkahnya.


"Tante Sekar, mohon maaf... biarkan aku bicara sama Brinia dulu ya.. kasih dia waktu. Dia begitu terluka atas apa yang Tante Sekar dan Om Henry bicarakan tadi." Pinta Gara dan Sekar mengangguk dengan terpaksa. Brinia memang harus memiliki waktu sendiri.


Sekar pun kembali ke lantai bawah. Setelah memastikan Sekar menjauh dari depan pintu kamar Brinia, Gara pun segera mengetuk pintu tebal itu.


"Bee..." Panggil Gara.


"Brinia sayang..." Panggil Gara lagi sambil mengetuk pintu kamarnya.


Brinia yang berada di dalam kamar yang mendengar suara Gara nampak tersenyum. Sebuah senyum yang merekah seperti musafir yang menemukan sumber mata air ditengah Padang pasir.


"Beee.. aku di depan kamar kamu sendirian bee.... buka pintunya Brinia sayang..."


Mendengar Gara sendirian, Brinia pun langsung loncat dari kasur empuknya dan membuka pintu kamarnya. Brinia sangat percaya pada Gara. Jika Gara berkata sendirian, maka Gara memang benar sendirian. Karena Brinia masih malas bertemu ayah dan bundanya.


Ceklek.


"Kenapa kamu baru datang Ga... aku laper!" cicit Brinia yang langsung memeluk tubuh Gara dengan erat.

__ADS_1


"Aku butuh kamu Ga... sangat membutuhkan kamu... hati aku hancur Ga.." Ucap Brinia yang dibarengi dengan air mata.


to be continued


__ADS_2