
Denim menatap wajah Sabrina dengan penuh rasa bersalah. Bekas tamparan Denim terlibat jelas di pipi mulus artis cantik itu. Tatapan Denim pada Sabrina benar-benar sendu membuat Axel, Yurdha dan Juna saling lirik dengan suasana hening yang teramat krik.. krik... kriik..
"Auuu.. Denim pelan-pelan,,, sakit." Ujar Sabrina membuyarkan lamunan Denim yang saat ini mengompres pipi Sabrina yang beberapa menit lalu datang ke apartemen Yurdha bersama Axel.
"Maaf Sab.." Ujar Denim.
"Sabrina, lain kali kalau ada masalah serius seperti ini, elu bilang sama Denim lebih dulu lalu kita diskusikan bersama agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi." Saran Juna.
"Maaf..." Cicit Sabrina menunduk.
"Dengerin kata Juna itu, kalau kamu mau cerita lebih awal sama aku, pasti muka kamu gak akan kena tamparan aku seperti ini kan?" Ucap Denim dengan lembut membuat Yurdha menganga. Sejak kapan sahabatnya itu bisa semanis itu pada wanita?
"Iya. Menghadapi masalah serius seperti ini dengan dadakan membuat kita kurang komunikasi. Untung semuanya berjalan dengan tepat waktu." Sambung Axel.
"Aku takut dengan ancaman Pak Johan, keluarga aku menjadi taruhannya. Pikiran aku benar-benar buntu banget, dan aku memberanikan diri buat minta tolong sama Axel itu di detik-detik terakhir karena pak Andreas selalu mengawasi aku. Maafkan aku." Ucap Sabrina merasa bersalah.
Bagaimana tidak kurang komunikasi, Sabrina meminta di tampar biar seolah olah dia bukan dalang kegagalan rencana Johan itu karena ada banyak kamera di ruangan tersebut. Eh tapi ujungnya kamera itu diambil semua oleh Yurdha dan dimusnahkan oleh anak buah Yurdha. Alhasil, pipi Sabrina tertampar dengan percuma.
"Kamu sih tampar aku kenceng banget." Gerutu Sabrina.
"Maaf... maaf..." Denim mengusap lembut pipi Sabrina.
"Untung pacar Gara gak tahu soal ini, bisa-bisa perang dunia ke-3 terjadi kalau tahu Sabrina ciuman panas sama elu Sab, karena...."
"Juna diam!" Potong Yurdha dengan tegas sebelum Juna berbicara panjang lebar.
"Eh. Sorry!" Juna langsung menutup mulutnya. Wajah Sabrina sudah merona mengingat ciuman Gara yang sangat lembut dan manis.
"Pacar Gara? Gara punya pacar?" Tanya Sabrina penasaran.
"Iya. Kamu cemburu dan masih mengharapkan Gara?" Sarkas Denim menatap Sabrina penuh selidik.
"Eng.. enggak ko.. enggak... a.. aku tahu diri." Jawab Sabrina dengan menunduk. Denim merasa bahwa di hati Sabrina itu masih ada nama sahabat baiknya itu. Jadi Denim hanya menghela nafasnya kasar saat Sabrina mengalihkan tatapannya ke sembarang arah.
"Bagus kalau elu tahu diri Sab." Ucap Yurdha yang terdengar sangat pedas.
"Karena apa? karena Gara tidak tertarik dengan wanita manapun selain pacarnya itu.. mau secantik dan seseksi apapun wanita didepannya, hati dan mata Gara masih tertuju pada satu wanita itu, dia selalu berusaha menjaga perasaan wanitanya itu, jadi gue harap masalah ini hanya kita doang yang tau." Lanjut Yurdha.
"Pantesan, dia kayak selalu jaga jarak dengan semua artis perempuan lainnya. Tiap foto bareng-bareng juga dia gak mau disebelah cewek loh." Sahut Axel sambil geleng-geleng kepala seakan tidak percaya seorang Segara Byantara yang memiliki paras tampan dan kaya raya itu bucin sama satu cewek.
"Beruntung banget ya perempuan itu..." Gumam Sabrina sambil tersenyum tipis.
"Emang siapa sih pacar Gara? gue jadi penasaran?" Tanya Axel.
"Nanti kalau sudah waktunya tiba, kalian juga akan tahu." Jawab Yurdha. Padahal kalau orang-orang mau peka dengan tatapan Gara pada Brinia juga sebaliknya. Mau peka dengan perhatian-perhatian mereka berdua, pasti dengan mudah akan menemukan jawabannya.
BRAK.. BRAK... BRAK...
"Buka pintunya anjiing! gue kedinginan.. bangsaat!" Suara gedoran pintu yang teramat kencang dari arah kamar mandi mengejutkan semuanya.
"Kepala gue pusing bangkkee!" Pekik Gara.
"Wooii buka wooi!"
"Udah waras sepertinya manusia satu itu. Gue bukain pintunya ya?" Ujar Juna tersenyum.
__ADS_1
"Cepat buka. Kasian si banggke itu kalau kedinginan." Ucap Denim.
"Tunggu." Cegah Yurdha pada Juna.
"Why?"
"Kita kerjain manusia yang sudah merepotkan kita itu." Kata Yudha dengan wajah datar membuat semuanya bergidik ngeri.
...*...
Pintu kamar mandi di buka oleh Juna langsung disambut Omelan lelaki yang terkurung di sana cukup lama dengan basah kuyup.
Lelaki bernama lengkap Segara Byantara itu hanya menggunakan handuk yang melingkar di pinggangnya karena hanya itu yang bisa ia pakai. Bajunya semuanya basah semua..
"Sialan kalian..." Umpat Gara dengan wajah sedikit pucat karena habis muntah-muntah, kepala Gara juga terasa sangat pusing.
"Ditolongin bukannya terima kasih malah marah-marah." Gerutu Juna.
"Tolongin?" Gara mengernyit. Sepertinya kesadaran lelaki itu belum sepenuhnya kembali.
Kamar mandi yang berada di samping Living room itu membuat Sabrina dan yang lainnya bisa melihat Gara dan Juna yang berdiri di depan pintu kamar mandi.
Sabrina berusaha tetap tenang disaat jantungnya berdegup kencang mengingat ciuman Gara tadi setelah melihat tubuh Gara yang benar-benar menggoda. Apalagi ada bulu-bulu tipis di dada Gara yang menurut Sabrina memberikan kesan macho.
"Seandainya tadi gue gak menggagalkan rencana pak Johan pasti....."
"Astaga.. jangan Sab, jangan gila.... hati Gara udah dimiliki orang lain... meskipun kamu bisa memilikinya dengan skenario jebakan itu, tapi kamu gak akan pernah bahagia karena merebut kebahagiaan orang lain. Gara juga tidak akan pernah bisa mencintaimu.." Batin Sabrina lagi.
"Elu gak inget apa-apa?" Tanya Juna menatap Gara yang diam saja nampak berpikir. Sedangkan yang lainnya yang tengah duduk di sofa memilih diam layaknya menonton sebuah adegan dalam sinetron.
"Seingat gue... gue diundang ke ruangan Pak Johan, kita ngobrol dan kita minum bersama...." Kata Gara yang sedang mengingat ingat kepingan memori sebelum ia mabuk.
Deg!
Gara susah payah menelan salivanya.. mata Gara terpejam sejenak kala sedikit mengingat saat dirinya dan Sabrina berciuman. Sabrina yang Gara pikir adalah Brinia.
Diam mematung dengan tatapan kosong, Gara seperti orang yang linglung sejenak hingga sebuah pukulan mendarat di rahangnya hingga membuatnya tersungkur.
Bug!
"Yurdha!" Pekik Juna yang langsung menolong Gara. Denim, Axel dan Sabrina pun langsung berdiri. Mereka semua tidak tahu jika Yurdha bisa sampai menonjok Gara.
"Brengseekk elu Ga! gue udah berusaha menghapus perasaan gue buat dia agar elu bisa bahagiakan dia... kenapa elu justru mengkhianati dia dengan ciuman panas sama Sabrina." Kata Yurdha dengan amarah. Juna dan Denim dapat melihat bahwa Yurdha saat ini sedang meluapkan emosinya.
"Itu di luar kontrol gue Yur!" Jawab Gara dengan menunduk. Gara tidak berani menatap Yurdha karena dia sadar, dia salah.
"Alasan! bukankah dia selalu bilang kalau elu gak boleh minum alkohol. Kenapa elu minum? Ha? elu gak bisa minum minuman itu! kecuali elu minumnya sama kita-kita Ga!"
Emang dasarnya sahabat laknat ya... gak boleh minum, tapi kalau sama mereka tetap boleh. Bahkan mereka selalu bujuk Gara agar Gara mau minum dan berjanji akan menutupi semuanya dari Brinia.
"Untung gue dan yang lainnya datang cepat. Dan untung juga Sabrina ngasih tau kita! Jika kita datang terlambat juga, elu sama Sabrina pasti udah Making love!"
Deg.
Dada Gara rasanya sesak, dia sudah mengingkari janjinya pada Brinia dan pasti sudah mengecewakan Brinia karena menyentuh wanita lain. Bagaimana jika Brinia tahu semua ini?
__ADS_1
"Gue akan bilang sama calon istri elu tentang apa yang terjadi malam ini!" Ancam Yurdha membuat Gara terbelalak.
"Jangan Yur, please.. jangan kasih tahu Brinia Yur! gue gak mau kehilangan dia, gue gak mau dia kecewa dan sedih." Untuk pertama kalinya seorang Segara Byantara memohon dengan cara menyedihkan ini pada orang lain.
"Gue akan tetap bilang, siapa tahu dia akan membatalkan acara kalian dua Minggu lagi sehingga gue bisa berjuang merebut cinta Brinia." Kata Yurdha.
"Jangan Yur, jangan lakukan itu... elu boleh nonjokin gue... elu boleh lakukan apapun sama gue tapi jangan sampe Brinia tahu akan hal ini." Gara sudah berlutut di depan Yurdha merendahkan harga dirinya demi seorang Brinia.
"Brinia?" Batin Sabrina yang sangat terkejut.
"Brinia? bentar-bentar bukankah Brinia itu sepupu Gara yang cantik dan manis itu? kenapa jadi pacar Gara? Gara pacaran sama sepupunya atau gimana sih?" Batin Axel bingung sekaligus kecewa karena Axel merasa tertarik pada Brinia dan berniat meminta Gara untuk mengenalkan pada Brinia.
"Bodoh! dari tadi gue gak sebut nama Brinia elu malah sebut nama Brinia." Umpat Yurdha sambil geleng-geleng kepala pada Gara.
"Ha?" Gara nampak bingung apalagi ekspresi Yurdha sudah biasa saja tidak sedatar dan sedingin tadi.
Yurdha melirik ke arah living room dimana Denim, Sabrina dan Axel berdiri disana mematung. Gara pun mengikuti tatapan Yurdha.
"Rahasia elu udah elu bongkar sendiri dodol!" Ucap Juna.
"Gue gak peduli..." jawab Gara.
"Please Yur, jangan kasih tau Brinia." Kata Gara lagi.
"Gue akan kasih tau, biar gue bisa menggagalkan rencana pernikahan kalian dua Minggu lagi!" Udah kebuka juga, biar kebuka sekalian kan? lagian juga biar Sabrina gak berharap lagi sama Gara karena Yurdha masih melihat Sabrina yang masih mengharapkan Gara.
Mulut Sabrina dan Axel semakin menganga. Yurdha berani bilang seperti itu, karena Yurdha yakin bisa membungkam mulut Sabrina dan Axel agar tidak membeberkan hal ini pada media.
"Gue mohon sama elu Yur." Ucap Gara sekali lagi.
"Ogah!" Yurdha melipat kedua tangannya di dada dengan gaya angkuhnya.
Gara memejamkan matanya kemudian berdiri dengan tangan yang mengepal.
"Elu mungkin bisa membatalkan rencana pernikahan gue dengan membuat Brinia ragu pada kesetiaan gue. Tapi gue pastikan, elu gak akan pernah mendapatkan hati Brinia!" Tegas Gara.
Bukan emosi, Yurdha justru langsung bertepuk tangan dan tertawa kemudian diikuti Juna dan Denim. Sedangkan Axel dan Sabrina masih diam karena bingung dengan situasi macam apa ini?
"Kenapa kalian menertawakan gue? Gak ada yang lucu disini!" Ucap Gara.
"Elu berarti udah sadar 100% karena tingkat kepercayaan diri elu akan cinta Brinia sudah kembali." Kata Yudha menepuk pundak Gara.
Gara mematung.
"Gue gak akan bilang ini sama Brinia Ga, gue mau kalian bahagia!" Kata Yurdha dengan tulus membuat semuanya tersenyum termasuk Gara yang baru sadar jika sedari tadi Yurdha hanya mengerjai dirinya.
Emang orang pendiam sekali mengerjai cukup menakutkan ya...
"Persahabatan yang manis." Ucap Sabrina.
to be continued
like
like
__ADS_1
like
komentar donggss