
Kasur Brinia yang sangat empuk tiba-tiba terguncang karena ada sesuatu yang besar seperti jatuh dari atas. Brinia yang baru tertidur kembali tentu sangat terkejut.
Brinia membuka matanya dan...
"Gara!!!" Brinia kesal, tidurnya diganggu oleh Gara. Brinia pun memukul pundak Gara dengan bertubi-tubi disertai dengan Omelan Omelan tidak jelas.
Gara justru tertawa dan langsung mendekap tubuh Brinia, memeluk tubuh langsing itu dengan erat untuk melepaskan rindu yang membelenggu.
"Gara!! kamu kenapa gak pake baju ih!"Omel Brinia karena Gara memang melepas kaos dan celana jeans-nya yang sudah dipake sejak siang tadi. Gara hanya menyisakan bokser saja dalam tubuhnya.
"Sayang... kamu gak pake bra ya?" Bukan menjawab pertanyaan Brinia, Gara justru kembali bertanya pada sang kekasih membuat Brinia tersadar dan membulatkan matanya.
Mendengar pertanyaan Gara, jelas mata Brinia langsung membulat sempurna hingga membuat rasa kantuk yang gadis itu rasakan sebelumnya langsung hilang.
"Astaga!" Pekik Brinia yang berniat menjauhkan tubuhnya dari sang kekasih. Namun sayang, dekapan Gara pada Brinia sangatlah erat, dan calon dokter cantik itu tidak mampu berbuat banyak.
"Ga.. lepasin ih!"
"Udah gini aja bentar Bee.. aku tuh kangen sama kamu!" Jawab Gara kemudian mengecup wajah Brinia dengan penuh semangat.
"Gara ih! risih tau.." Brinia tetap berusaha keras untuk keluar dari dekapan artis tampan itu.
"Oke.. oke aku lepasin tapi setelah kamu maafin aku dan dengerin cerita aku dulu ya." Kata Gara dengan lembut dan jarak yang sangat dekat. Hembusan nafas Gara bahkan terasa hangat di kulit permukaan Brinia dan hal itu mampu membuat Brinia langsung meremang.
Melihat Brinia yang diam mematung, Gara pun langsung mengutarakan maafnya pada Brinia karena beberapa hari lalu Gara tidak dapat hadir pada sidang skripsi Brinia dan Gara hanya memberikan semangat via chat.
Ingin rasanya Brinia mengabaikan permintaan maaf Gara karena Brinia sangat kecewa pada Gara yang sudah mengingkari janjinya sendiri. Namun lagi dan lagi, Brinia tidak mau bersikap egois. Gara memang ada pekerjaan mendadak yang tidak bisa ditunda apalagi dibatalkan.
"Iya.. iya... aku maafkan... meskipun aku kesel banget sama kamu." Jawab Brinia pada akhirnya setelah Gara memberikan penjelasan panjang dan lebar.
"Makasih sayang!"
Cup!
Sebuah kecupan singkat mendarat sempurna di bibir Brinia. Benda kenyal itu pun mampu membuat wajah Brinia merona. Beruntung lampu kamar yang temaram tidak membuat Gara melihat rona merah itu.
"Aku kangen tau sama bibir ini." Ucap Gara seolah meminta izin pada Brinia ingin melakukan lebih dari sekedar kecupan.
"Jangan aneh-aneh Yangg, suasananya sedang seperti ini... aku gak mau kita kebablasan." Tolak Brinia secara halus.
"Aku gak akan melakukan apapun tanpa izin kamu Bee..." Gara membelai lembut pipi Brinia.
__ADS_1
"Kamu kurusan ya? pipi kamu kok tirusan?" Tanya Gara yang tidak ada bosan-bosannya memandang wajah cantik alami Brinia, apalagi dalam posisi sedekat ini diatas ranjang.
"Sepertinya, soalnya aku belum nimbang." Jawab Brinia.
"Sekarang buruan ceritakan apa yang tadi katanya ingin kamu ceritakan Ga, aku ngantuk banget."
"Aku cerita tapi kamu jangan marah ya.." Pinta Gara dengan tatapan penuh permohonan.
"Aku gak bisa janji, tergantung apa cerita kamu dong. Pasti kamu udah buat kesalahan kan?" Selidik Brinia.
"Ayo ngaku!" Ucap Brinia yang sangat penasaran dengan apa yang sudah Gara lakukan. Gara pun mengangguk sebagai jawabannya.
"Katakan apa kesalahan kamu."
"Maaf karena aku udah beradegan ranjang sama Sabrina." Ucap Gara tanpa berani menatap mata Brinia.
"APA?" pekik Brinia.
"Ma.... maksud kamu apa Ga?" Hati Brinia seperti dihantam batu yang begitu besar. Nyeri rasanya.
"Dengerin penjelasan aku dulu sayang." Pinta Gara dengan lembut melihat sorot mata Brinia yang sudah berkaca-kaca.
Sesakit apapun hati Brinia, Brinia harus mendengar penjelasan Gara lebih dulu. Siapa tahu kenyataan yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang terbesit dalam benak Brinia.
Lagi dan lagi, semua itu karena Melly hingga Gara berada dalam situasi sulit seperti itu dan Brinia sangat paham hal itu.
Saat shooting di atas ranjang itu, Gara memang hanya mengenakan celana pendek yang tertutup selimut tebal. Tapi yang ada di bawah tubuh Gara bukanlah Sabrina, melainkan guling. Jadi Gara harus membayar sendiri editor handal untuk menyempurnakan adegan tersebut.
Gara berusaha menjelaskan sedetail mungkin dimana pengambilan video itu dilakukan terpisah antara dirinya dan Sabrina.
Sebagai bukti, Gara sudah menyiapkan video aslinya jika Brinia tidak percaya.
Helaan nafas lega terdengar dari Brinia.
Gara juga menjelaskan kekhawatiran hatinya jika sampai Brinia melihat adegan itu kemudian salah paham. Gara juga meminta pada Brinia untuk tidak menanggapi apapun komentar dari luar setelah ini. Sungguh hati Brinia merasa beruntung memiliki kekasih seperti Gara. Demi menjaga perasaannya, Gara rela membayar editor dengan jumlah yang besar.
"Makasih sayang.. makasih udah menjaga kepercayaan aku." Kata Brinia yang langsung memeluk Gara dengan erat.
"Tapi bee.."
"Tapi apa?" Brinia mendongak menatap wajah Gara.
__ADS_1
"A... aku terpaksa harus berpelukan dengan Sabrina di dekat ranjang dengan aku yang hanya mengenakan celana pendek dan Sabrina yang memakai baju minim akhlak."
Deg.
"Aku udah berusaha menolak untuk itu Bee, tapi aku gak bisa. Editornya juga gak bisa karena pengambilan gambar dilakukan dalam jarak yang dekat." Brinia masih terdiam mendengar penjelasan kekasihnya.
Brinia sudah membayangkan bagaimana Gara memeluk wanita itu kemudian merasakan dada wanita itu karena wanita itu memiliki ukuran dada yang cukup besar. Ditambah Gara yang bertelanjang dada saat itu.
Pikiran Brinia mulai tidak tenang.
"A... aku juga udah cium kening dia Bee." Pengakuan Gara selanjutnya semakin menambah perasaan Brinia tidak tenang.
"Kenapa kamu lakukan itu Ga?" Tanya Brinia dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
"Itu tuntutan profesi aku Bee, aku gak bisa terus menolak. Karena adegan ranjang itu aja aku hampir berantem sama kameramen. Mereka menganggap aku gak profesional dan songong padahal baru artis pendatang baru."
Sungguh Brinia tidak ingin menangis dan bersikap posesif. Brinia tidak ingin miliknya disentuh oleh wanita lain apalagi posisi se-intim yang sudah bisa Brinia tebak bagaimana.
Namun air mata Brinia menetes begitu saja tanpa izin lebih dulu,
"Aku kecewa sama kamu Ga." Brinia mencoba menjauhkan tubuhnya dari seorang Segara. Namun dengan sigap, Gara langsung meraih tubuh langsing itu dan memeluknya erat.
"Lepasin Ga..." Pinta Brinia dengan suara parau menahan tangis.
"Nggak Bee... please ngertiin posisi aku bee.. aku gak bisa seperti itu terus. Aku harus bersikap profesional apalagi aku sudah menandatangani kontrak itu meskipun secara tidak sadar."
"Apa kurang aku ngertiin kamu selama ini Ga?" tanya Brinia membuat Gara langsung terdiam.
Brinia tidak perlu menjabarkan berapa banyak dukungan yang wanita itu berikan pada Segara. Gara sadar dan paham semua dengan detail bagaimana perjuangan Brinia mendukung kariernya.
Susah payah Gara menelan salivanya.
"Maafkan aku Bee... maaf..." Kata Gara menghapus air mata yang mengalir di pipi Brinia.
"Kenapa kamu bisa beradegan seberani itu sih Ga? Aku gak rela dan gak pernah rela kamu menyentuh wanita lain! aku gak suka ada wanita lain menikmati hangat pelukan kamu." Ujar Brinia.
Bukan hanya Brinia yang merasa kecewa, Gara pun kecewa dengan dirinya sendiri.
"Maafkan aku Bee.. please.. maaf..." Kata Gara dengan suara parau. Siapa yang sangka, melihat Brinia menitihkan air mata karena dirinya membuat Gara juga ikut-ikutan meneteskan air mata.
to be continued
__ADS_1
Terima kasih dukungannya kakak kakak.. semoga aku bisa rajin update ya... doain ya biar si Ilham selalu datang memberikan inspirasi. 🥰
happy Jumat berkah berlimpah