
Otak Gara rasanya ingin sekali meledak setelah Selena, sang adik bertanya tentang kuliah kakaknya yang terbengkalai dikarenakan sibuk shooting.
Bukan hanya itu, Selena juga mengingatkan sang kakak jika Papa Andra akan mencabut semua fasilitas apabila Gara benar-benar tidak memperbaiki semua kekacauan nilai yang sudah dia buat demi ketenaran yang dianggap Papa Andra tidak akan bertahan lama.
Tidak lupa juga Selena menceritakan apa yang ia dengar sendiri saat kedua orang tuanya itu membahas kuliah sang kakak yang mendapat IP 1,64 di semester kemarin hingga membuat Mama Amelia sedih. Selena saja masih tidak percaya jika sang Kakak kebanggaannya yang cerdas itu mendapatkan nilai teramat jeblok seperti itu.
Jika boleh jujur, sesungguhnya Gara juga tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya terutama sang mama yang selalu mendukung Gara menjadi artis asalkan Gara bisa menyeimbangkan semuanya antara hak dan kewajiban. Namun jika semua sudah begini, Gara bisa apa? Gara sendiri bingung.
"Bagaimana gue bisa menyelesaikan kuliah dengan waktu yang tepat jika bentar lagi gue udah mulai shooting sinetron Cinta Melodi? Belum lagi pemotretan dan shooting iklan-iklan yang udah gue tanda tangani sebelumnya." Gumam Gara mengusap wajahnya sendiri setelah Selena keluar dari kamarnya.
Gara menghela nafasnya kasar. Gara sangat tidak yakin bisa menyelesaikannya dengan baik. Tetap harus ada yang dikorbankan.
Mengorbankan kuliah? sungguh Gara tidak bisa membayangkan hal itu terjadi. Orang tuanya dan Brinia pasti kecewa dan Gara tidak bisa memberikan contoh yang baik untuk adik-adiknya. Belum lagi orang tua Brinia pasti akan menganggap dirinya sebagai lelaki tidak bertanggungjawab.
Kelemahan Gara sebenarnya adalah sulit untuk mengatur waktunya sendiri. Gara juga susah membedakan mana kegiatan yang prioritas mana yang tidak, mana yang harus di dahulukan dan mana yang tidak sebab Gara lebih cenderung melakukan apa yang ia sukai sesuai dengan mood.
Kalau kata Brinia, raga seorang Segara memang masih menginjak di bumi tapi pikiran dan imajinasi Segara sudah sampai langit ke tujuh.
Oleh sebab itu, kehadiran Brinia dalam hidup Gara itu sangat-sangat berarti, Brinia bagaikan asisten pribadi Gara yang cukup dibayar dengan cinta.
Sebab, Brinia bisa mengatur kegiatan secara terstruktur dan rapi juga sistematis. Dan Gara tentu tidak menolak karena itu sangat memudahkan Gara yang memiliki jadwal padat.
Namun semenjak membintangi series Menikahi Gadis Menyebalkan, Brinia memilih untuk membiarkan Gara belajar mengatur jadwal kegiatannya sendiri. Brinia juga sibuk dengan kuliah dan skripsi-nya.
Bukankah kemarin waktu di Jogja Brinia bersedia membantu Gara untuk membuat skala prioritas lagi dan membantu Gara mengatur jadwal kegiatannya.
Senyum Gara pun terbit mengingat sang kekasih. Apalagi saat kalut seperti ini, Brinia selalu bisa menjadi obat mujarab untuk Gara. Dan Brinia yang dengan logikanya itu selalu bisa memberi solusi terbaik untuk Gara. Ah beruntungnya Gara memiliki Brinia.
Gara pun segera bangun dari posisi rebahan-nya di ranjang dan berlari menuju rumah tetangga sebelah tanpa peduli suara sang mama yang menanyakan mau kemana anaknya itu sebab Gara baru pulang sekitar 2 jam yang lalu setelah shooting dari kemarin.
__ADS_1
...***...
Rumah Brinia nampak sepi saat Gara mulai memasukinya. Gara sengaja tidak lewat pintu depan melainkan lewat pintu samping yang menghubungkan dua rumah mewah tersebut. Sebab jika lewat pintu depan, terlalu jauh berputarnya. Maklum rumah gedong~
"Bee... Brinia..." Panggil Gara dengan suara cukup keras seperti di hutan.
Gara tahu jam jam segini kedua orang tua Brinia pasti masih praktek di rumah sakit jadi amanlah ya... gak menurunkan reputasinya jika harus berteriak.
"Brinia...." Panggil Gara lagi.
"Aduh mas Gara... kenapa teriak-teriak si? telinga bibik sampe berdengung loh." Ucap wanita paruh baya dengan serbet yang tersampir di pundak sebelah kirinya.
"Bik Sumi lebay deh, aku kan gak pake toa masjid teriaknya." Jawab Gara yang memang tahu ART di rumah Brinia itu suka bercanda.
"Oh ya, Brinia mana bik?"
"Non Brinia lagi di kamar mas... sepertinya sedang mengerjakan tugas karena dari tadi duduk di depan laptop terus sambil telinganya di tutup dengan headset buat dengerin musik."
"Mas Gara mas Gara... ternyata kangen banget toh sama non Brinia, pantesan sampai teriak teriak begitu. Padahal rumah juga bersebelahan." Bik Sumi geleng-geleng kepala menatap Gara yang sudah mulai melangkah untuk menjauh dari tempatnya berdiri.
"Rumah bersebelahan, tapi udah jarang ketemu gara gara kesibukan masing-masing bik." Jawab Gara yang sudah mulai naik tangga karena ternyata mendengar gumaman bik Sumi.
Bik Sumi hanya tersenyum mendengar jawaban Gara. Dalam hati Bik Sumi, semoga anak majikannya dan anak tetangga sebelah itu selalu bahagia dan bersama.
...**...
Gara membuka pintu kamar Brinia tanpa perlu mengetuk lebih dulu. Karena percuma Gara mengetuk pintu jika Zia sendiri sedang memakai headset.
ceklek.
__ADS_1
Tatapan Gara tertuju pada seorang gadis yang tengah fokus menatap layar laptopnya dengan headset yang setia menutupi telinganya.
Gara melangkah memasuki kamar Brinia hingga duduk di sofa yang tidak jauh dari meja belajar Brinia. Namun sampai beberapa detik Gara duduk, Brinia belum menyadari kehadiran kekasihnya.
Gara enggan untuk mengganggu Brinia yang tengah fokus pada revisi skripsinya yang terpampang pada layar laptop. Biarkan saja Brinia sampai sadar sendiri toh memandang Brinia yang dengan wajah serius itu merupakan kebahagiaan tersendiri untuk Gara.
Apalagi saat dahi Brinia muncul sebuah kerutan kerutan kecil karena Brinia mengernyit kala membaca sesuatu yang mungkin dirasa kurang tepat. Atau dahi Brinia berkerut karena gadis cantik itu tengah berpikir?
Gara terus tersenyum dengan memandang Brinia hingga akhirnya membuat Brinia menengok ke arah Gara karena Brinia merasa ada yang terus mengawasinya.
Begitu kan memang, Ketika kita dilihatin atau di perhatikan orang terus pasti secara otomatis pandangan mata kita akan mengarah pada orang yang tengah memandang kita itu.
"Gara? kamu ngapain disini? sejak kapan?" Tanya Brinia terkejut dengan kehadiran sang kekasih hatinya. Brinia melepaskan headset yang melingkari setengah kepalanya.
"Eh sayang... akhirnya sadar juga dengan kehadiran aku." Ucap Gara sambil nyengir kuda.
"Maaf maaf aku gak ngeh... kenapa kamu gak panggil aku si?" Brinia pun beranjak dari duduknya meninggalkan laptop yang masih menyala.
"Kamu terlihat sibuk banget... mana tega aku mengganggu fokus kamu." inilah yang Brinia sukai dari Gara.
Brinia yang memang tipe tipe gadis yang serius, fokus juga pemikir jadi sangat kesal jika titik fokusnya berantakan karena sapaan seseorang.
Brinia yang memang suka overthinking hingga hal kecil pun dipikirkan menjadi bisa lebih selow karena kehadiran Gara yang selalu menenangkan hatinya agar tidak overthinking pada suatu hal.
"Ada apa? tumben?" Tanya Brinia berdiri dihadapan Gara setelah mengecek notifikasi ponselnya.
Jika Gara datang tanpa menghubungi dirinya lebih dulu atau menanyakan dirinya sibuk atau tidak, pasti ada hal penting atau sesuatu yang sangat menggangu pikiran Gara.
"Aku lagi pusing banget .. pengen kamu peluk." Ucap Gara menarik tangan Brinia hingga Brinia terduduk di pangkuan Gara.
__ADS_1
Eh.
to be continued...