
Info yang Nesya dengar setengah-setengah dari bik Sumi, dengan sangat cepat tersebar pada Juna, Denim juga Yurdha.
Jangan tanya siapa yang paling emosi mendengar berita tersebut, karena jawabannya sudah pasti Yurdha Ardhana.
Cinta Yurdha untuk Brinia sangatlah tulus. Lelaki muda itu tidak masalah jika Brinia menikah dengan Gara sahabatnya sendiri. Yang terpenting bagi Yurdha adalah Brinia bahagia.
Namun, mendengar apa yang sudah Gara dan Brinia lakukan, Yurdha sangat kecewa dengan tindakan Gara. Bagaimana sahabatnya itu bisa lepas kendali seperti itu padahal bertahun-tahun bisa menjaga Brinia dengan sangat baik.
Jika Yurdha mencoba menahan emosinya, lain cerita dengan Denim dan Juna yang merasa bangga dengan apa yang sudah Gara lakukan. Bagi mereka, itu adalah pencapaian terbesar Gara selama hidup. Benar-benar definisi sahabat bobrok.
"Nes, mana si Brinia dan Gara? katanya mau datang?" Tanya Juna yang sudah tidak sabar meledek sahabatnya.
Saat ini mereka sedang di salah satu apartemen Yurdha yang mereka jadikan basecamp. Kemarin malam setelah Nesya mendengar info mengenai Brinia dan Gara, malamnya Nesya mengajak semua sahabatnya berkumpul demi meminta penjelasan pada Gara dan Brinia tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Brinia tadi masih di kampus buat daftar wisuda, mungkin sekarang udah di jalan menuju kesini." Jawab Nesya yang menatap layar ponselnya.
"Gara?"
"Ngga tau, setelah semalam bilang oke akan datang kesini, dia udah gak buka group lagi. Entar deh kita tanyain sama pawangnya aja kalau soal si Gara." Juna dan Denim pun mengangguk mengerti.
"Yur, elu kenapa dari tadi diem aja? aura elu mencekam deh." Denim bergidik ngeri melihat bagaimana raut wajah salah satu sahabatnya saat ini.
"Iya, kamu kenapa Yur? ada masalah?" Tanya Nesya dengan lembut.
"Gue cuma lagi pusing aja mikirin tugas kampus dan kerjaan kantor." Jawab Yurdha yang kemudian memilih menyandarkan kepalanya di headboard sofa.
...***...
Di lokasi shooting,
"Ga, elu mau kemana? kok buru-buru?" Tanya Melly yang melihat Gara sudah berkemas.
"Gue ada janji sama sahabat-sahabat gue. Kerjaan gue udah selesai kan ini?" Tanya Gara untuk memastikan semuanya selesai sehingga dia bisa berkumpul sama sahabat-sahabatnya dengan tenang.
Gara rindu berkumpul dengan para sahabat laknatnya itu sebab kesibukannya selalu memaksanya untuk izin.
"Udah kok.. udah selesai... elu bisa pergi, tapi ingat besok pagi-pagi elu harus udah stand by disini. Jangan sampai telat apalagi menghilang tanpa kabar lagi seperti kemarin. " Jawab Melly.
__ADS_1
"Siap. Thank Mel. Gue cabut dulu." Pamit Gara meraih tasnya kemudian hendak beranjak pergi.
"Eh Ga, tunggu dulu." cegah Melly.
"Ada apa lagi Mel?"
"Minggu depan JH entertainment ulang tahun, seluruh artis yang ada dalam naungan JH entertainment diwajibkan hadir di acara ulang tahun itu. Acaranya Sabtu malam Minggu."
"Acaranya ada dimana?"
"Di Villa mewah milik tuan Andreas, pemilik JH entertainment yang ada di puncak." Jawab Melly.
"Oh ya Mel, boleh bawa temen gak?" Tanya Gara.
"Memang siapa yang ingin elu ajak?"
"Brinia. Kasian dia di rumah sendirian soalnya orang tuanya lagi ada pekerjaan di luar kota dan pembantunya sedang cuti pulang kampung." Bohong Gara, karena sejatinya Gara hanya ingin mengajak Brinia.
"Gue gak tahu soal itu Ga, nanti gue coba tanyain ke Pak Arman, karena gue dapat infonya juga dari Pak Arman. Tapi yang gue denger sih, katanya yang boleh masuk hanya orang-orang tertentu, itu pun dengan undangan khusus. H-2 undangannya baru akan dibagikan. Kalau emang sistemnya seperti itu, nanti coba gue minta dua undangan buat elu agar elu bisa aja sepupu elu itu." Jelas Melly sambil tersenyum penuh arti.
"Thank banget ya Mel, gue suka kinerja elu hari ini." Kata Gara dengan tersenyum. Hari ini memang Melly nampak beda. Wanita itu membuat Gara nyaman dalam bekerja.
"Yaudah gue cabut ya."
"Oke. hati-hati, ingat bagaimanapun elu harus hadir di acara JH entertainment tanpa boleh alasan apapun. Karena disana nanti akan banyak produser juga PH PH ternama." Gara mengangguk mengerti kemudian melangkahkan kakinya menjauh dari Melly.
Melly menatap punggung Gara dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. Sampai detik ini, Melly tidak mempertanyakan apapun perihal yang dia dengar kemarin di depan rumah Gara. Bahkan Gara tidak tahu jika Melly kemarin sempat sampai ke depan rumahnya.
Situasi ini, bukanlah situasi yang baik. Jika Melly salah mengambil tindakan sedikit saja, maka karier Gara dan dirinya bisa hancur seketika. Sebab, JH entertainment bukanlah PH biasa-biasa saja. Mereka bisa menekan PH PH lainnya dengan kekuasaannya sehingga Gara dan Melly akan sulit diterima kembali di dunia entertainment.
Mungkin setelah hengkang dari dunia hiburan, Gara masih bisa hidup enak dengan segala fasilitas yang keluarganya berikan. Tapi dirinya? Melly memiliki anak dan orang tua yang semua bergantung pada dirinya. Jadi Melly harus berhati-hati dan bisa berpikir jernih pada setiap keputusan yang ia ambil.
...***...
"Ciie Calon pengantin." Ledek Juna ketika Brinia baru saja memasuki apartemen Yurdha.
"Ciiee udah di DP duluan." Kini giliran suara Denim yang terdengar sumbang.
__ADS_1
"Enak aja! jaga omongan kalian ya, gue masih perawan!" Jawab Brinia dengan memasang wajah kesalnya.
"Yakin? gue kagak percaya!"
"Kalian berdua pikir Gara itu seperti kalian berdua? lelaki yang gak bisa jaga burungnya dengan baik. Cih!" Ucap Brinia dengan ketus membuat Denim dan Juna tertawa ngakak.
"Fix! gue udah percaya kalau Gara udah ngajarin elu yang enak-enak Brin." Ucap Denim.
"Lah kok bisa?" Nesya mulai penasaran.
"Brinia yang dulu polos banget dan suka malu-malu, sekarang udah gak malu lagi menyebut burung para lelaki. Pasti udah lihat ya Brin?" Goda Denim.
Mata Brinia terbelalak mendengar ledekan Denim yang otaknya minim.
"Nggak ya! enak aja!"
"Alah pasti elu udah lihat punya Gara kan? Ngaku deh!"
"Ya emang udah pernah lihat, tapi dulu pas masih kecil karena kita sering mandi bareng."
"Terus gimana burungnya Gara? kecil apa gede?" Tanya Juna.
"Ya kecil lah..." Jawab Brinia dengan polosnya membuat tawa Juna, Denim dan Nesya pecah begitu saja.
"Den, burung Gara kecil Den.." Juna tertawa terpingkal-pingkal.
"Kalau sekarang gimana?" Denim menatap Brinia dengan penuh rasa penasaran.
"Kalian bisa tidak bercanda dengan benar!" Interupsi dari Yurdha yang teramat tegas dan tinggi membuat semuanya terdiam.
"Yur, elu Napa dah?" Tanya Denim.
Yurdha menghela nafasnya dengan kasar, kemudian memejamkan matanya sejenak.
"Gue gak kenapa-kenapa." Kata Yudha yang langsung beranjak dari duduknya dan berniat masuk ke kamar.
Semuanya saling pandang seolah bertanya kenapa dengan Yurdha. Iya Yurdha memang tipe pendiam, tapi Yurdha tidak pernah membentak dengan aura yang sedingin tadi.
__ADS_1
"Brin, elu coba tanya ke dia deh.. selama ini kan juga cuma elu dan Gara yang bisa buat dia mau bercerita." Perintah Juna.
"Nggak ah. serem gue..." Brinia bergidik ngeri sendiri membayangkan wajah Yurdha.