
Niatnya hanya seteguk meminum minuman haram itu untuk menghargai Johan, pemilik JH Entertainment sekaligus sahabat lama Papa Andra. Namun nyatanya, Gara minum sampai beberapa teguk karena Johan yang terus memaksanya secara halus. Dan dengan alasan tidak enak itulah Gara mengingkari janjinya pada Brinia.
Ya, Brinia yang sejak kemarin selalu mengingatkan Gara untuk tidak menyentuh minuman beralkohol selama pesta berlangsung.
Bahkan saat diperjalanan menuju Villa tadi, Brinia yang sedang jalan dengan Nesya itu juga mengirimkan pesan yang sama untuk Gara hingga akhirnya Gara berjanji untuk tidak meminum alkohol sedikit pun.
Nyatanya, Gara mengingkari janjinya sendiri.....
Dalam hatinya, Gara merasa sangat bersalah pada Brinia juga sang mama tercintanya. Karena Mama Amelia sangat membenci semua yang menyangkut dengan alkohol.
Gara sudah merasakan dirinya yang mulai mabuk karena Gara memang tidak bisa meminum alkohol dalam jumlah banyak. Apalagi kadar alkoholnya cukup tinggi seperti minuman itu.
Gara merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa tegas menolak permintaan Johan. Bahkan Gara yang sudah kedua kalinya berpamitan pada Johan untuk pulang lebih dulu, selalu saja ditahan oleh lelaki itu dengan obrolan demi obrolan. Sedangkan Sabrina hanya diam membisu saja di samping Gara. Padahal biasanya gadis itu selalu banyak bicara.
Gara pun melirik Sabrina yang seperti patung. Gara merasa janggal, bukankah Sabrina tadi berkata hanya sebentar dan di ruang VIP. Mengapa sekarang berada di ruang kerja Johan, tuan rumah pesta malam ini dan Johan selalu berusaha menahannya agar tetap berada di ruangan ini.
Hingga akhirnya Gara merasakan sesuatu yang tidak nyaman dalam tubuhnya. Gara mulai sedikit bergerak dengan gelisah dan wajah Gara yang putih itu mulai sedikit memerah.
Segala tingkah Gara, tidak satupun terlewatkan dalam pandangan mata Johan hingga membuat bibir Johan tersenyum tipis karena rencananya akan segera berhasil malam ini, yaitu membuat malu seorang Andra Byantara. Menghancurkan harga diri Andra yang selalu dinomorsatukan itu.
Johan tahu kelemahan-kelemahan Gara dari Melly. Termasuk prihal Brinia juga Gara yang tidak tahan dengan yang namanya alkohol. Karena sedikit saja minum, Gara bisa mabuk dan itulah yang digunakan oleh Johan.
"Gara kamu kenapa?" Tanya Johan pura-pura. Sabrina yang duduk di samping Gara pun hanya berani melirik lelaki tampan itu dengan jantung yang berdegup kencang.
"Gak tau Pak, tiba-tiba gerah, kepala saya pusing!" Ucap Gara dengan tidak tenang namun otak Gara berusaha berpikir jernih. Gara memijit kepalanya yang terasa berdenyut.
"Gerah? Apa AC di ruangan ini sedang bermasalah ya?" Gumam Johan hanya untuk mengulur waktu sebelum meninggalkan Gara dan Sabrina di ruang kerjanya yang sudah terpasang kamera di setiap sudutnya.
"Sebentar ya, saya akan memanggil Andreas untuk mengecek AC di ruangan ini. Sabrina, tolong kamu temani Segara. " Kata Johan yang berdiri dari duduknya.
"Ba... baik pak." Jawab Sabrina.
"Saya keluar saja pak! saya mau pamit pulang, ada hal penting yang harus saya selesaikan." Ucap Gara yang merasa ada yang aneh pada tubuhnya.
Gara tidak bodoh, berteman dengan Juna dan Denim membuatnya mengetahui informasi-informasi mengenai hal yang demikian. Meskipun sebelumnya Gara tidak pernah merasakan obat seperti yang sedang bereaksi di tubuhnya.
__ADS_1
Apalagi Gara sudah melihat gelagat aneh Sabrina sejak tadi yang selalu terlihat tegang. Dan Gara juga barusan melihat sekilas senyum licik Johan yang sangat menyebalkan.
"Kamu tenang disini dulu Gara, sebentar saja." Ucap Johan kemudian melirik Sabrina untuk memberikan kode.
"Kamu disini aja sebentar Ga..." Kata Sabrina yang memegang tangan Gara.
"Sialan..." Batin Gara. Sekarang bukan hanya kepala atas Gara yang berdenyut, kepala bawah juga sudah mulai menunjukkan eksistensinya.
Merasakan kulitnya bersentuhan langsung dengan kulit mulus Sabrina membuat Gara meremang. Apalagi Sabrina tiba-tiba menarik tangan Gara ke atas paha mulusnya yang terekspose begitu saja saat Jordan keluar dari ruangannya.
"Apa-apa kamu Sab!" Bentak Gara menghempas tangan Sabrina. Gara berusaha berdiri dengan sedikit sempoyongan.
"Ga, please tenang..." Ucap Sabrina yang memang sudah tahu jika ruangan itu dilengkapi dengan kamera lengkap juga rekaman suara.
"Sialan elu Sab! Dasar wanita murahan!" Bentak Gara yang terbakar gairah bercampur emosi.
"Maafkan Aku Ga, maafkan aku yang harus menahan kamu sebentar saja... maafkan aku Segara... aku gak punya pilihan lain, semua demi keluarga aku Gara... semoga mereka segera datang." Batin Sabrina yang langsung menarik Gara dengan kuat hingga Gara terjatuh terjerembab ke atas sofa.
Gara yang memang sedikit mabuk tentu tidak dapat menjaga keseimbangan tubuhnya. Dan tanpa menunggu lama, Sabrina langsung menyatukan bibirnya dengan bibir Segara.
Sedangkan Gara, mata lelaki itu terbelalak oleh kelakuan lawan mainnya di sinetron kala benda kenyal itu mendarat sempurna di bibirnya.
Gara mencoba mengumpulkan kewarasannya kala Sabrina meluumat bibirnya dengan lembut. Apalagi tangan Sabrina sudah mengusap dada Gara, meskipun masih terhalang kemeja lengan pendek, namun sensasinya benar-benar terasa.
"Tidak.. ini tidak benar... semua yang ada ditubuh ku hanya milik Brinia.. iya Brinia.. dan hanya Brinia..." batin Gara meronta-ronta ingin mendorong Sabrina sekuat-kuatnya agar wanita itu menjauh.
Namun sayang, tindakan Sabrina itu justru memicu sisi lain seorang Segara yang berada dibawah kendali alkohol yang bercampur dengan obat perangsang hingga membuat kewarasannya hilang entah kemana.
Bukan mendorong Sabrina agar menjauh dan melepaskan tautan bibir mereka.
Gara justru membalas ciuman Sabrina dan membalikkan posisi dimana Sabrina berada dibawah tubuhnya yang ada di sofa panjang dan mahal itu.
Sabrina seperti terbuai oleh permainan bibir Gara, gadis itu melupakan sejenak rencananya dan justru memejamkan matanya menikmati bibir Gara dan sentuhan seorang Segara.
BRAK!
__ADS_1
Pintu di buka secara paksa dari luar hingga menimbulkan suara yang nyaring. Tapi itu tidak membuat dua manusia yang asyik berciuman di sofa terganggu.
"Brengseeek!" Pekik seorang lelaki yang berlari ke arah Gara sebelum sesuatu yang tidak diinginkan terjadi lebih parah.
Lelaki itu pun langsung menarik Gara secara paksa hingga Gara terjatuh ke lantai.
"Gila elu Ga! Brengssek elu ya Ga!" Umpat lelaki itu yang tidak lain adalah Yurdha yang dibantu oleh Juna.
"Yur, kita harus segera bawa Gara pergi..." Ajak Juna. Yudha menatap Gara dengan perihatin kemudian mengangguk.
Sedangkan Denim masih berdiri disana menatap Sabrina dengan tajam dan rahang yang mengeras.
"Dasar Jaaalang!" Maki Denim.
Sabrina hanya diam dengan sorot mata sendu pada Denim. Nafas gadis itu masih terengah-engah karena ciuman panas Gara.
"Den, gue bisa jelaskan semuanya." Ucap Sabrina dengan gemetar.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi mulus Sabrina hingga membuat Gadis itu terhuyung dan jatuh ke sofa.
"Gue kecewa sama elu Sab!" Bentak Denim emosi kemudian pergi meninggalkan ruangan laknat itu.
Air mata Sabrina menetes dibarengi dengan darah yang keluar dari sudut bibirnya...
"Maafkan aku Den... maafkan aku yang sempat terbawa suasana karena permainan Gara." Batin Sabrina
to be continued
Lah gimana ceritanya Denim, Yurdha dan Juna bisa datang kesana? bukankah mereka tidak ada yang diundang?
Meksipun cerita ini gak menarik, sabar dulu ya... InshaAllah gak panjang-panjang kok cerita ini ..
makasih yang udah mau dukung...
__ADS_1