
Makan malam berdua dengan suasana romantis karena hiasan lampu-lampu nan begitu indah juga suara deburan ombak yang memberikan ketenangan membuat Brinia dan Gara merasa dunia hanya milik mereka berdua yang tengah asik menikmati canda dan tawa bersama dengan obrolan obrolan receh.
Tatapan penuh cinta dari keduanya dan pehatian-perhatian kecil sembari menikmati hidangan seafood yang dimasak oleh seorang chef ternama benar-benar memanjakan lidah Brinia. Bahkan Gara yang sebelumnya sangat tidak menyukai Seafood pun bisa menikmati makan malamnya dengan baik.
“Sepertinya aku harus belajar sama chef yang masak ini agar nanti setelah kita menikah, aku bisa memasak seafood seenak ini dan kamu bisa menemaniku makan tanpa rasa terpaksa.” Ujar Brinia yang ingat betul bahwa dari dulu Gara selalu terpaksa makan seafood demi menghibur Brinia.
“Setelah menikah, apapun yang kamu hidangkan di atas meja makan, aku akan menyantapnya dengan semangat. Karena apa? Karena aku tahu, kamu memasak dan menyiapkannya dengan penuh cinta.” Jawab Gara.
“Cih! Mulai gombal ya…” Decak Brinia dengan nada mencibir sang kekasih namun pipi Brinia merona. Hal itu dijawab Gara dengan tawa riang yang bahagia.
Gara bukanlah tipe lelaki yang pandai berkata gombal. Gara lebih pada lelaki yang selalu memberikan perhatian pada pasangannya melalui hal-hal kecil. Namun semenjak selesai shooting series film kemarin, Gara jadi pintar berkata manis. Mungkin karakter di series itu yang merupakan lelaki bucin terbawa hingga dunia nyata Gara saat ini. Namun, bagi Brinia itu tidak masalah asalkan Gara berkata manis hanya dengan dirinya dan keluarganya saja. Bukan pada gadis gadis di luar sana.
“Aku udah bilang sama orang tua kamu loh, kalau malam ini aku melamar kamu, dan mereka sangat mendukung hubungan kita. Aku bahagia Bee.” Kata Gara tiba-tiba membuat Brinia mendongak menatap wajah tampan calon suaminya.
“Really? Kok Ayah sama Bunda aku gak ada ngomong apa-apa sebelumnya sama aku?”
“Kalau mereka ngomong, gak jadi kejutan buat kamu dong Brinia sayang…” Jawab Gara sambil terkekeh.
“Bee, nggak apa-apa kan kalau kita nikahnya setelah aku lulus kuliah?” Tanya Gara.
Brinia terdiam sambil terus menatap Gara seolah bertanya, memang target Gara lulus kuliah kapan? Dan Gara seolah paham arti tatapan Brinia. Bagi Brinia, gak masalah menikah tiga tahun lagi, yang penting jelas waktunya kapan.
“Aku janji Bee, setelah ini aku akan kembali fokus pada kuliah dan mengulang beberapa mata kuliah yang dapat nilai D di semester berikutnya. Biar aku bisa segera lulus dan menikahi kamu Bee." Kata Gara.
"Kalau masalah finansial, tabungan pribadi aku udah lumayan banyak dan aku akan memberikan kamu nafkah dari hasil kerja keras aku sendiri, bukan minta sama orang tua aku. Aku juga akan berusaha untuk membiayai kuliah kamu jika kamu nanti ingin melanjutkan spesialis.” Gara berkata dengan kesungguhan.
Brinia tersenyum dan merasa terharu mendengar penuturan Gara yang ternyata sudah sampai sejauh itu.
“Aku akan menunggu kamu Ga, lagian aku habis selesai skripsi dan kelulusan, aku harus KOAS lebih dulu. Semoga saja semua berjalan sesuai dengan rencana kita ya. Tapi kamu janji ya Ga, jangan bolos bolos kuliah lagi. Semester kemarin nilai kamu D cukup banyak gara-gara kamu bolos kuliah dan tidak mengerjakan tugas kan? Kita berjuang bareng-bareng ya Segara-ku” Tanya Brinia.
“Hm… aku janji akan berubah Bee, tolong bantu aku dan temani aku memperbaiki semuanya. Aku tidak mau mengecewakan kamu dan orang tua aku lagi. Tapi kamu harus setia sama aku ya, jangan dekat dekat dengan cowok lain!” Ucap Gara.
“Aku akan setia sama kamu Ga, aku cinta sama kamu. Dan aku paham batasan-batasan dalam berteman dengan lawan jenis.” Jawab Brinia.
“Good!”
Papa Andra adalah orang yang memiliki prinsip bahwa pendidikan itu nomor satu. Begitu juga dengan Brinia. Jadi saat IPK Gara jeblok, Papa Andra dan Brinha cukup kecewa meskipun keduanya mengungkapkan rasa kecewanya dengan cara berbeda. Sangat jauh berbeda.
__ADS_1
“Aku tunggu pembuktian janji kamu Ga. Lalu, bagaimana dengan pekerjaan kamu?” Tanya Brinia lagi sambil menikmati saos asam manis yang melekat pada kerang di tangannya.
“Nah itu masalahnya Bee, endorse yang masuk sangat banyak. Tawaran menjadi bintang iklan juga menumpuk. Belum lagi kemarin Melly mengabari bahwa ada sutradara yang ingin menjadikan aku pemeran utama di film layar lebar dan series juga, aku yakin film itu akan semakin melambungkan nama kau Bee, tapi pasti kuliah aku nanti akan semakin berantakan. Kamu tahu sendiri kan bagaimana waktu shooting itu, bisa dari pagi sampai pagi lagi.”
Gara nampak frustasi membayangkan jadwal kerjaan dan tanggung jawab kuliahnya. Di satu sisi Gara ingin segera menyelesaikan kuliah, namun disisi lain Gara tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang datang kepadanya demi karier yang cemerlang ke depannya nanti.
“Udah jangan pusing Segara-ku, nanti aku bantu buat skala prioritas agar semua berjalan dengan semestinya.”
“Beneran?” Gara berbinar mendengar ide dari kekasih hatinya itu.
“Serius! Aku gak mau kalau kamu sampai melalaikan kewajiban kamu lagi demi karier kamu. Sebab, karier menjadi artis tidak selamanya ada di puncak. Dan menjadi mahasiswa adalah privilege tersendiri untuk kita. Karena tidak semua orang bisa seperti kita yang dengan sangat mudah menikmati pendidikan juga fasilitas dari orang tua kita. Dan aku juga tidak ingin kamu melewatkan kesempatan emas yang datang untuk menjadikan kamu artis papan atas, sesuai impian kamu dari kecil itu.” Kata Brinia sembari tersenyum dan penuh semangat.
“Makasih Brinia-ku, kamu selalu menjadi support system terbaik!” Gara menggenggam tangan Brinia dengan penuh rasa syukur karena memiliki wanita secerdas dan sebaik Brinia.
Brinia dan Gara pun melanjutkan makan malam dengan obrolan obrolan ringan tentang rencana masa depan. Sesekali, pasangan muda mudi itu terlihat tertawa bersama hingga tidak terasa semua hidangan yang berada di atas meja hampir semuanya tandas.
Tidak ada istilah jaim jaiman untuk keduanya karena mereka sudah tumbuh bersama semenjak kecil.
“Udah yuk masuk, kumpul sama anak-anak lagi.” Ajak Gara.
“Besok pagi biar dibersihkan istrinya Pak Nono.”
“Nggak Segara-ku sayang… selagi kita bisa membereskan sendiri, kenapa kita harus merepotkan orang lain meskipun kita bisa membayar mereka dengan uang kita. Tapi alangkah lebih baiknya jika kita juga bisa meringankan beban mereka.” Jawab Brinia membuat Gara tersenyum.
“Kamu selalu terbaik Bee, pantas Mama dan Papa aku itu sayang banget sama kamu dan pengen kamu jadi menantu mereka! Kamu sejak kecil dipaksa untuk mandiri oleh keadaan meskipun raga kedua orang tua kamu ada.” Ucap Gara dalam hati.
“Ya sudah aku bantuin ayo!” Gara pun menggulung lengan kemejanya untuk membantu Brinia membereskan bekas makan mereka sendiri.
“Serius kamu mau bantuin aku?”
“Serius lah, aku lagi belajar menjadi suami yang baik nantinya. Suami siaga yang bisa membantu istrinya dalam segala hal.” Ucap Gara.
“Mimpi apa aku semalam, sampe sampe seorang artis tampan membantuku untuk membereskan bekas makan.” Gumam Brinia sambil tersenyum bahagia.
“Duh, romantisnya kita Bee.” Ucap Gara.
Sambil membawa piring dan gelas kotor masuk ke dalam Villa, Gara dan Brinia masih terus asik bercanda dan tertawa bersama hingga suara Nesya membuat langkah dua sejoli itu terhenti.
__ADS_1
“Aduh so sweet banget sih dua sahabat gue!” Ucap Nesya yang asik menonton televisi bersama Juna dan Denim sambil menikmati cemilan dan beberapa kaleng minuman soda.
“Makanya buruan punya pacar!” jawab Gara.
“Nanti lah..”
“Dia masih nunggu di Yurdha buka hati Ga.” Sambung Juna membuat semuanya tertawa karena sudah menjadi rahasia umum diantara mereka bahwa Nesya suka sama Yurdha. Nesya langsung memasang wajah kesal.
“Eh, si Yurdha mana?” Tanya Brinia sembari menaruh piring kotor di tempat pencucian piring.
“Dia pergi ke Kencana resort yang katanya tidak jauh dari sini. Katanya malam ini, dia menginap disana.” Jawab Denim.
“Lah ngapain?” Sambung Gara.
“Katanya, dia ketemu sama calon klien-nya disana dan ada beberapa hal penting yang akan mereka bahas.” Jawaban Denim membuat Gara dan Brinia mengangguk angguk mengerti. Dua sejoli itu kemudian mencuci piring dan gelas kotor mereka.
"Tidak biasanya Yurdha mau ketemu orang dengan dadakan seperti ini? kalau misal udah janjian pasti tadi dia cerita sama gue atau anak-anak." Batin Gara merasa ada yang tidak beres pada sahabatnya.
...*...
“Romantis versi Brinia dan Gara cukup sederhana ya, tapi menyejukkan hati dan mata.” Ucap Juna lirih agar dua sejoli itu tidak mendengar.
“Hm.. gue jadi iri tau sama mereka.” Sahut Nesya.
“Pasti elu bayangin sedang cuci piring bareng Yurdha.” Tebak Juna membuat wajah Nesya merona seketika karena tebakan Juna tepat sekali.
“Eh. Gimana kalau kita kasih hadiah untuk Brinia dan Gara karena acara lamarannya sukses?” Ucap Denim tiba-tiba.
“Apa?” Tanya Juna dan Nesya bersamaan.
“Sini gue bisikin!”
to be continued
Kalau Denim yang punya rencana, kira-kira bakal waras gak itu idenya....
Hari Minggu rencana libur update dulu ya... kita nikmati weekend dengan keluarga dan orang-orang tercinta ❤️
__ADS_1