
"Gara dan Brinia sebentar lagi menikah Yur, jadi gue harap elu segera lupakan Brinia. Elu gak ada gunanya juga siang-siang mabuk begini, alkohol gak bisa buat elu berubah jadi cinta sama Nesya." Suara Juna.
"Gue setuju sama Juna, gue tahu cinta elu begitu besar buat Brinia dan sangat tulus. Tapi elu harus bisa melupakan Brinia demi persahabatan kita Yur." Kini giliran suara Denim terdengar ditelinga Gara.
"Melupakan cinta pertama tidak mudah. Gue sangat mencintai Brinia. Kalian bisa berkata seperti itu karena kalian tidak pernah mencintai wanita, sebab kalian hanya menggunakan wanita sebagai pelepasan nafsuu saja!" Suara berat Yurdha membuat detak jantung Gara berdegup sangat kencang.
Tangan Gara terkepal sempurna dibarengi dengan rahang yang sudah mengeras menandakan betapa emosinya lelaki 22 tahun itu. Bagaimana bisa sahabat yang dia percaya ternyata juga mencintai wanita kekasihnya?
Bayangan tentang perhatian Yurdha pada Brinia pun melintas begitu saja dibenak Gara. Pantas saja, seorang Yurdha yang cuek dan selalu bersikap dingin dengan orang lain tapi di depan Brinia dia menjadi pribadi yang banyak bicara juga hangat bahkan sesekali menggoda Brinia.
Bukan hanya itu, apapun yang Brinia perintahkan pada Yurdha, Yurdha pasti akan menuruti tanpa protes.
Belum lagi mengenai tatapan Yurdha pada Brinia, beberapa kali Gara memergoki Yurdha yang diam-diam menatap Brinia dengan tatapan yang tidak biasa. Namun Gara tidak ingin berpikiran buruk atau berasumsi sendiri. Gara terus meyakini bahwa tatapan yang Yurdha berikan pada Brinia adalah tatapan sayang pada sahabat meskipun hati Gara terus berkata tidak demikian.
"Gue cinta sama Brinia sebelum Gara menyadari bahwa dia juga cinta sama Brinia, tapi kenapa? tapi kenapa Brinia cintanya sama Gara? nggak sama gue?" Ucap Yurdha dengan senyuman sinis kemudian menuang minuman haram itu ke dalam slokinya.
"Udah Yur... udah.. minumnya udahan!" Juna berusaha merebut gelas Yurdha yang habis diisi lagi oleh minuman haram.
"Sakit hati gue lihat kemesraan mereka. Hati gue sakit!" Ucap Yurdha dengan suara yang terdengar sangat menyedihkan membuat Gara mematung.
Gara tidak ingin gegabah, dia harus mendengar sebanyak-banyaknya informasi sebelum bertindak.
Ah mengenai cinta dan persahabatan memang sangat sulit...
"Lalu apa yang mau elu lakuin? tanggal pernikahan Brinia dan Gara sudah di tentukan, elu mau menggagalkan pernikahan mereka?" Tanya Denim yang ikutan frustasi melihat sahabatnya patah hati sampai sedemikian berantakannya.
Yurdha menggelengkan kepalanya, "Gue akan bahagia melihat Brinia bahagia, karena hanya Gara yang bisa buat Brinia bahagia. Gara sahabat gue, gue gak akan tega menghancurkan kebahagiaan mereka dan persahabatan kita semua. Dan gue percaya dengan Gara." Jawab Yurdha dengan pasti.
Meskipun Yurdha menenggak minuman haram itu sampai beberapa sloki, namun Yurdha masih dalam keadaan sadar sepenuhnya.
Sedangkan Gara yang mendengar semua itu awalnya emosi karena ternyata sahabatnya sendiri mencintai kekasih hatinya, kini Gara justru sangat terharu dengan apa yang Yurdha lakukan, yaitu ikhlas untuk kebahagiaan orang yang dicintai. Sebesar dan setulus itu kan perasaan Yurdha untuk Brinia, calon istrinya?
Gara melangkahkan kakinya secara perlahan mendekati sofa yang di duduki para sahabat laknatnya itu,
"Ternyata elu pinter juga ya Yur, menyembunyikan perasaan elu buat Brinia selama ini?" Pertanyaan Gara mengejutkan Juna dan Denim.
Juna dan Denim pun susah payah menelan salivanya. Melihat wajah Gara yang datar dan tangan yang mengepal, Juna dan Denim yakin bahwa sebentar lagi akan ada pernah dunia antara Gara dan Yurdha.
"Mampus!"
"Tamat sudah kisah cinta segitiga ini dan persahabatan kita dipertaruhkan." Ujar keduanya dengan lirih.
Sedangkan Yurdha menatap Gara dengan tatapan yang tidak kalah datar pula. Yurdha tidak sedikitpun terlihat terkejut, apalagi menampilkan wajah bersalah karena mencintai kekasih sahabatnya. Tidak. Yurdha tetap datar.
"Sejak kapan elu mencintai Brinia Yur?" Tanya Gara yang kini sudah berdiri tepat dihadapan Yurdha.
__ADS_1
"Kenapa memang? Ga terima?" Bukan menjawab, Yurdha justru balik bertanya dengan memasang wajah angkuhnya.
Gara memejamkan matanya sejenak untuk tetap mengumpulkan kewarasannya. Jika dihadapannya ini bukan sahabatnya, sudah pasti pukulan mendarat sempurna di wajah tampan Yurdha.
"Jadi alasan elu memberikan apartemen buat Brinia sebagai kado pernikahan, karena elu cinta sama dia?" Tanya Gara dengan pelan.
"Ga.. elu duduk dulu." Perintah Juna dengan meraih lengan Gara dan menariknya agar artis tampan itu duduk. Namun Gara menepis tangan Juna.
"Jadi segala perhatian elu ke Brinia selama ini karena perasaan cinta seorang lelaki pada wanita, bukan pada sahabat?" Yurdha pun beranjak dari duduknya dan kini dua lelaki itu berdiri dengan jarak yang sangat dekat.
Sorot mata tajam keduanya saling mengunci menimbulkan nuansa yang cukup mencekam di apartemen yang biasanya selalu di penuhi canda dan tawa itu.
"Iya. gue cinta sama Brinia. Memang kenapa kalau gue cinta sama Brinia? Apa elu mau melepaskan Brinia untuk sahabat elu ini?"
Plak!
"Bangsaat elu!" Umpat Yudha yang menerima pukulan dari Gara.
"Brengseeek elu! Gue gak akan melepaskan Brinia meskipun buat elu lah!" Umpat Gara yang langsung memeluk Yurdha setelah mengeplak kepala sahabat itu.
Gara tahu, apa yang diucapkan Yurdha barusan hanyalah bercanda karena Gara yakin, tidak ada sedikitpun niat Yurdha untuk merusak hubungannya dengan Brinia apalagi merebut Brinia. Toh Brinia juga sudah sangat mencintai dirinya, apalagi yang perlu di khawatirkan coba?
"Sorry Yur, sorry.. gue gak tau kalau selama ini elu suka sama Brinia, sorry kalau selama ini gue gak jaga perasaan elu tapi gue justru pamer kemesraan di hadapan elu. Sorry Yur!" Ucap Gara membuat Juna dan Denim melongo.
"Elu ngapain minta maaf sama gue.. gue yang harusnya minta maaf karena gue udah lancang jatuh cinta sama calon istri elu Ga." Yurdha membalas pelukan Gara.
"Njir.. kenapa jadi berpelukan kayak l
teletabis? kenapa gak ada jotos?" Ucap Juna memecah suasana awkward antara dua lelaki itu.
"Iya gak seru! Tonjokan gih, nanti kita yang nonton." Perintah Denim.
"Sialan kalian berdua!" Kata Gara dan Yurdha barengan. Kemudian empat lelaki itu pun tertawa dan berpelukan bersama layaknya bocah TK.
Kata siapa persahabatan antara lelaki tidak bisa semanis persahabatan para kaum perempuan kan?
"Sekarang elu udah tau perasaan gue, terus elu gak ada niat nonjok gue atau apa gitu?" Tanya Yurdha. Saat ini keempat sahabat itu sudah duduk dengan tenang.
"Buat apa gue tonjok elu?" Tanya Gara membuka minum soda dalam kemasan kaleng yang ada di atas meja.
"Gak terima atau cemburu gitu?" Tanya Yurdha.
"Ngapain? Brinia gak lebih menganggap elu sahabatnya. dia cinta sama gue, bukan sama elu, jadi gak ada yang perlu gue khawatirkan kan? Lagian yang namanya perasaan siapa yang tahu, toh gue juga sadar, Brinia itu sangat spesial jadi wajar banyak yang suka sama dia." Kata Gara dengan tersenyum.
"Iya sih, gue juga kagum sama dia.." Sambung Juna.
__ADS_1
"Yes, karena hanya dia wanita yang bisa buat gue takut setelah nyokap gue." Kata Denim.
"Selagi elu gak berbuat kelewat batas, gue akan memaklumi perasaan elu Yur, tapi selagi elu kelewat batas, jangan salahkan gue kalau elu bakal babak belur di tangan gue. Gue gak peduli elu pewaris kerjaan bisnis Ardhana."
"Elu pikir gue lelaki se rendah itu?" Yurdha memicingkan matanya menatap Gara.
"Gue bukan pebinor. Kecuali..." Sambung Yurdha lagi.
"Kecuali apa?" Tanya Juna dan Denim yang justru lebih penasaran ketimbang Gara.
"Kecuali elu berani sakitin Brinia secara sadar Ga... karena jika itu terjadi, gue gak akan peduli lagi dengan persahabatan.. gue akan melakukan apapun buat rebut Brinia dari tangan elu. gimana?"
"Deal!" Gara mengulurkan tangannya pada Yurdha tanda kesepakatan. Gara tidak perlu berpikir panjang tentang ancaman Yurdha, karena Gara yakin bahwa dia tidak akan menyakiti Brinia secara sengaja.
"Deal!" Yurdha menyambut uluran tangan Gara.
"Please bahagiakan Brinia Ga.. gue percaya sama elu." Ucap Yurdha dengan nada rendah mencerminkan perasaan Yurdha yang sangat dalam pada Brinia.
"Gue gak akan kecewakan dia Yue, gue cinta banget sama dia. Thank ya elu udah jadi sahabat gue meskipun kita mencintai wanita yang sama." Gara memupuk pundak Yurdha.
"Kita memang mencintai wanita yang sama Ga, tapi cintanya hanya untuk elu.. bukan gue.." Kata Yurdha sendu.
"gue harap elu segera bisa move on dari Brinia ya Ga, semoga Tuhan segera pertemukan elu sama wanita yang tepat."
"Aamiin..." Jawab semuanya serempak.
"Ga, please.. soal ini cukup kita saja yang tahu ya .. gue gak mau Brinia jadi jaga jarak sama gue setelah dia tahu perasaan gue. Gue juga gak mau nanti jadi kesalahpahaman antara Nesya dan Brinia. Elu tahu sendiri kan gimana Nesya?" Pinta Yurdha.
"Aman Yur, kenapa elu gak mencoba buka hati buat Nesya Yur?" Tanya Gata tiba-tiba.
"Gue setuju sih kalau elu sama Nesya." Sambung Juna.
"Selama ini gue udah coba buka hati gue buat Nesya bahkan gue juga udah belajar perhatiin dia. Tapi gue gak bisa... gue gak mau kasih dia harapan palsu" ucap Yudha lirih.
to be continued
Sorry ya gaes. terjadi kesalahan teknis. besok InshaAllah aku benerin ya.. karena bab sebelumnya updatenya sama.
oh ya, aku umumkan pemenang pulsa 50k Minggu lalu ya...
Selamat buat kak Adelpha, please follback ya kak biar bisa chat kitanya dan kirim nomor telfon... pulsanya bisa di minta reguler ataupun quota ya kak...
Kesempatan pemenang pulsa masih ada ya setiap minggunya selama bulan September. nominalnya tergantung mood authornya hehe..
__ADS_1
Yuk kasih dukungan sebanyak-banyaknya untuk novel ini...
makasih dukungan semuanya ya ❤️