Kekasih Rahasia Aktor Tampan

Kekasih Rahasia Aktor Tampan
Keraguan Brinia


__ADS_3

Setengah hari penuh Gara dan Brinia lewati dalam perjalanan. Dari Gunung Kidul menuju Bandara Adi Sutjipto memakan waktu cukup lama. Kemudian mereka terbang mengudara selama satu jam lebih. Setelah itu mereka harus melewati padatnya jalanan ibu kota saat menuju kediaman keluarga Yurdha demi mengambil mobil. Belum lagi perjalanan dari kediaman Yurdha menuju rumah Gara dan Brinia.


Wajah lelah Brinia tidak bisa di tutupi lagi. Gadis itu berulang kali terlihat menguap, mungkin karena semalam tidur Brinia tidak sampai 5 jam. Gara berulang kali meminta Brinia untuk tidur saja dan berjanji akan membangunkan Brinia saat sudah sampai rumah. Namun gadis itu menolak, Brinia tidak tega membiarkan Gara terjaga sendirian dalam posisi sedang berkemudi.


Dan karena jalanan yang cukup padat, Gara memilih untuk mampir dulu di sebuah restoran demi mengisi perut mereka yang sudah terasa lapar lagi. Bagi Gara, isi perut adalah hal paling utama jika dia pergi dengan Brinia karena Gara tidak ingin sakit lambung Brinia kembali kambuh.


“Mau pesan private room?” Tanya Brinia saat memasuki sebuah restoran yang tidak jauh dari kompleks perumahan Yurdha.


“Nggak perlu. Kita cari tempat duduk di ujung saja.” Jawab Gara yang langsung menggandeng Brinia untuk memasuki restoran.


“Tapi Ga..”


“Restoran ini cukup sepi sayang… ini juga bukan jam jam-nya orang makan, jadi tenang ya.” Kata Gara.


Brinia yang sebelumnya khawatir karena takut ada orang yang mengenali kekasihnya, kini hanya pasrah menuruti kemauan sang kekasih.


Obrolan ringan mengenai teman-teman kuliah Brinia dan partner kerja Gara menjadi teman untuk Gara dan Brinia saat menyantap berbagai makanan sunda yang sudah tersedia di atas meja sesuai pesanan mereka.


Obrolan asyik keduanya pun berakhir saat makanan yang berada di atas meja sudah tandas tanpa sisa. Baik Gara maupun Brinia, semenjak kecil mereka memang selalu diajarkan untuk tidak menyisakan makanan sedikit pun sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat Tuhan yang sudah diberikan pada mereka. Karena, di luar sana… banyak sekali orang yang harus bersusah payah hanya demi sesuap nasi.


“Sampai rumah, langsung mandi dan istirahat ya… kamu nggak boleh begadang malam ini. Nanti asam lambung kamu naik lagi, aku gak mau kamu sampai sakit.” Kata Gara sesaat mobil sudah menyala dan mulai meninggalkan halaman restoran.


“Hmm.” Jawab Brinia.


“Jangan cuma Hmmm… aku tahu yang ada di otak kamu saat ini pasti setelah sampai kamar mau melanjutkan mengerjakan skripsi kan?” Tebak Gara dengan sangat tepat membuat Brinia memutar bola matanya dengan malas.


Gara selalu saja bisa membaca rencana Brinia setelah ini.


“Brinia… mulailah belajar menjadi calon istri yang baik dengan menuruti perintah calon suami kamu.”


“Iya.. iya mister bawel!” Kata Brinia dengan nada kesal membuat Gara terkekeh kemudian mengusap rambut Brinia dengan penuh sayang.


“Nanti aku akan hubungi Mba Kiki buat memantau kamu, beneran istirahat atau begadang.”


“Curang! Selalu saja memanfaatkan mbak Kiki buat memantau aku!” Bibir Brinia pun mengerucut kesal.


“Semua aku lakukan demi kamu sayang….” Kata Gara lembut.


“Tapi besok siang aku harus ketemu dosen pembimbingku yangg..” Rengek Brinia pada akhirnya karena Brinia sadar jika saat ini tidak bisa mengelabuhi Gara dengan mudah.


“Kamu bisa mengerjakannya besok pagi kan… kalau kamu mau, nanti jam tiga pagi aku bangunin. Kalau kamu udah istirahat dengan cukup, otak juga akan lebih fresh sayang.” Helaan nafas terdengar dari Brinia.


“Kalau kamu gak nurut, siap-siap saja menerima hukuman!” Ancam Gara dengan senyum penuh arti.


“Apa?”


“Seperti semalam.” Jawab Gara sambil menaik turunkan alisnya dan dengan tatapan penuh arti.


Plak!

__ADS_1


“Auuu!” Pekik Gara saat pundaknya di pukul oleh Brinia.


“Kamu kenapa sekarang jadi berpikiran mesum terus sih Ga!” Kata Brinia yang paham akan arti tatapan dari Gara itu.


"Makanya aku ingin segera menikahi kamu. Bukan depan kita menikah juga tidak apa-apa Bee." Kata Gara bersungguh-sungguh.


"Jangan bercanda deh Ga!" Brinia langsung memasang wajah kesal sehingga membuat Gara memilih untuk berhenti membahas pernikahan.


...***...


Brinia memasuki kediaman orang tuanya dengan wajah yang terpancar kebahagiaan. Gadis 22 tahun itu sudah tidak sabar bertemu kedua orang tuanya untuk menceritakan bagaimana anak tetangga sebelah rumahnya itu melamar dirinya.


Ya, setelah bertahun-tahun tidak merasakan kedekatan dengan kedua orang tuanya... kini Brinia mau untuk mulai belajar terbuka pada orang tuanya.


"Bibik... ayah sama bunda ada?" Tanya Brinia saat melihat bik Sumi hendak keluar untuk memberikan kopi pada sekuriti.


"Tuan dan nyonya lagi makan malam non... non Brinia kok sendirian? mas Gara mana?"


"Ya pulang ke rumahnya lah bik..." Jawab Brinia dengan senyum bahagia sembari melangkah menuju ruang tamu.


Ah bik Sumi, pertanyaannya tentang Gara mengingatkan Brinia bagaimana tadi Gara mencium bibir Brinia dengan lembut saat mobil sudah berhenti sempurna di depan gerbang rumah Brinia.


"Non Brinia bahagia banget, bibik ikut bahagia melihat non Brinia bahagia." Gumam Bik Sumi yang ikut tersenyum. Aura seseorang yang begitu kuat nyatanya mampu menular ke orang-orang sekitar.


Sesampainya di ruang makan, Brinia langsung menyapa kedua orang tuanya yang tengah asik menikmati makan malam berdua dengan obrolan ringan.


Brinia menyusul orang tuanya di meja makan, karena Brinia sudah tidak sabar untuk menceritakan momen romantis saat Gara melamar dirinya kemarin. Tidak lupa, Brinia juga memamerkan cincin berlian yang diberikan oleh Gara.


"Bagus banget cincinnya sayang." Ucap Bunda Sekar yang turut bahagia melihat kebahagiaan putrinya.


"Iya dong Bun.. selera Gara dari dulu itu selalu terbaik!" Jawab Brinia dengan bangga.


"Wah putri ayah ternyata sudah benar-benar besar ya.. udah di lamar sama anak tetangga sebelah. Ayah gak sabar melihat kamu menikah dengan Gara nak." Sambung ayah Henry sambil menatap sang putri dengan lembut.


Harapan ayah Henry dan Papa Andra sebentar lagi terwujud. Mereka besanan dengan anak mereka yang saling mencintai bukan karena perjodohan konyol.


"Menikah?" Brinia tersenyum tipis mendengar kata itu.


"Iya. Kamu udah pantas buat menikah Brinia.. Ternyata kamu udah 22 tahun ya, perasaan kemarin kita baru merayakan ulang tahun kamu yang ke 17."


"Merayakan ulang tahun aku ke 17? apa ayah lupa saat itu ayah tidak datang karena sibuk dengan selingkuhan ayah dan anak ayah yang lainnya. Sedangkan bunda, bunda selalu menghabiskan waktu di rumah sakit hingga lupa hari spesial aku. Hanya ada Gara yang ada di samping aku saat itu." Kata Brinia dengan tatapan kecewa pada orang tuanya.


Kejadian itu memang sudah lima tahun berlalu, tapi jika mengingat hal itu... rasanya luka dalam hati Brinia masih terbuka lebar.


"Maafkan Bunda sayang." Kata Sekar lirih.


"Maafkan ayah juga Brinia, ayah akan berusaha memperbaiki semuanya. Oh ya, jadi kapan kamu dan Gara akan menikah?" Tanya ayah Henry memilih mengalihkan pembicaraan demi tidak terjadi perdebatan.


Mendengar pertanyaan ayahnya, Brinia diam seketika. Raut kebahagiaan di wajah cantik yang tadi terpancar jelas ketika baru memasuki rumah itu berlahan lahan mulai memudar.

__ADS_1


"Aku belum kepikiran menikah." Jawab Brinia dengan tersenyum tipis. Senyum yang jelas dipaksakan.


"Maksudnya belum kepikiran?" Bunda Sekar nampak bingung.


"Bagaimana bisa Gara melamar kamu tapi gak kepikiran nikahin kamu? dia mau main-main sama anak ayah?" Sambung ayah Henry.


"Bu.. bukan Gara yang belum memikirkan pernikahan ayah... bunda... tapi Aku. Aku yang belum siap menikah. Kalau Gara sih katanya pengen cepet nikah aja, padahal dulu bilangnya nikah saat umur 25 aja." Jawab Brinia.


"Kenapa kamu bisa belum memikirkan pernikahan sayang? bukankah hubungan kamu sama Gara itu serius?" Tanya bunda Sekar dengan lembut.


"Iya. kita serius bun... tapi banyak yang aku pikirkan. Belajar dari rumah tangga kalian, banyak yang harus aku pertimbangkan juga sebelum melangkah ke jenjang yang lebih serius. Aku tidak mau ketidaksiapan ku dan Gara nantinya akan berdampak buruk pada anak-anak aku kelak." Jleb. Ucapan Brinia benar-benar membuat Henry dan Sekar merasa sangat bersalah.


"Aku juga masih mau menyelesaikan pendidikan aku dulu biar jadi dokter. Lagian aku juga memikirkan karier Gara.. pasti ayah dan bunda kan udah denger kalau Gara gak boleh berhubungan dengan lawan jenis selama kontrak." Jawab Brinia lagi.


"Brinia, maafkan ayah yang tidak bisa menjadi orang tua yang baik untuk kamu dan suami yang baik untuk bunda kamu. Maafkan atas segala kesalahan ayah nak... ayah menyesal."


"Maafkan Bunda juga Brinia, maafkan bunda yang dulu selalu menomorsatukan ego bunda tanpa peduli perasaan kamu. Kami orang tua yang buruk. Tapi please Brinia, jangan jadikan itu untuk membuat kamu ragu-ragu menjemput masa depan kamu dengan Gara." Sambung Bunda Sekar dengan sendu.


Brinia menghela nafasnya.


"Maafkan aku yang belum bisa melupakan kenangan buruk itu Ayah.. bunda." Brinia menunduk merasa bersalah karena sudah menyinggung perasaan kedua orang tuanya. Tapi bagaimana lagi, di saat saat tertentu, Brinia merasa mulutnya tidak bisa terkendali jika berhadapan dengan kedua orang tuanya.


"Brinia, dengarkan ayah..." Brinia mendongak menatap sang ayah.


"Ayah dan Bunda memang bukan orang tua yang baik untuk kamu. Dari sanalah kamu belajar untuk tidak mencontoh hal buruk itu nak... Apalagi pasangan kamu nanti adalah Gara. Ayah yakin, Gara adalah lelaki setia, dia sangat mencintai kamu, Gara tidak brengsekk seperti ayah kamu ini." Brinia terdiam.


"Brinia, ayah dan bunda juga tahu apa yang kamu rasakan hingga membuat kamu ragu itu adalah kesalahan kami. Kami minta maaf nak, maafkan ayah dan bunda." Lanjut Henry.


"Aku justru ingin mengucapkan terima kasih karena ayah dan bunda mau berusaha untuk memperbaiki semuanya. Ayah dan bunda juga selalu sabar tiap aku menyinggung hal itu." Ucap Brinia.


"Brinia, jujur... bunda lebih senang dan tenang kalau kamu segera menikah dengan Gara. Akan ada yang menjaga kamu dan ikatan pernikahan itu akan membuat kamu dan Gara sama-sama belajar. Yang penting jangan lakukan kesalahan sama yang sudah bunda dan ayah kamu lakukan." Ucap Sekar menggenggam tangan putrinya.


Mending segera dinikahkan, ketimbang nanti kebablasan kan?


"Iya Brinia. Dan kamu tetap bisa melanjutkan pendidikan sekaligus berstatus sebagai istri. Gara pasti akan mendukung kamu sayang." Kata Sekar lagi.


"Brinia.. jangan takut semuanya berjalan tidak sempurna sesuai harapan kamu karena semua butuh proses nak... itulah yang dinamakan perjuangan nak... Dan setiap pasangan pasti punya ujian dan perjuangannya masing-masing. Semua itu memang tidak mudah, apalagi Gara juga belum menyelesaikan pendidikannya dan waktunya banyak dihabiskan di lokasi shooting. Namun, dari sanalah peran pasangan di perlukan untuk saling menguatkan dan saling memberikan dukungan. Itulah proses pendewasaan berhenti untuk berpikir agar semuanya sempurna nak..." Ungkap Ayah Henry dengan tatapan lembut pada putrinya.


"Ayah...."


"Pikirkan baik-baik Brinia.." Potong ayah Henry.


"Baiklah, besok aku akan bicarakan lagi sama Gara. Ayah bunda.. aku pamit ke kamar ya.. capek!" Brinia memilih menghindari pembicaraan perihal pernikahan pada kedua orang tuanya karena sejujurnya hati Brinia masih sangat ragu dengan semuanya.


"Iya sayang... selamat istirahat ya."


"Selamat istirahat putri ayah."


to be continued

__ADS_1


__ADS_2