
Hari sudah berganti, bulan pun kini juga sudah berganti. Tidak terasa, acara pernikahan Brinia dan Gara tinggal beberapa minggu lagi tepatnya weekend terakhir di bulan ini.
Pernikahan yang katanya sederhana itupun dibuat tidak sesederhana konsep awalnya. Karena Mama Amelia dan Bunda Sekar ingin memberikan yang terbaik di momen sakral kedua anaknya meskipun tanpa ada yang boleh mengunggah momen itu dan media sosial.
Dekorasi, catering dan gaun pernikahan semuanya disiapkan oleh Mama Amelia dan bunda Sekar. Sedangkan si calon pengantin, keduanya masih sibuk dengan aktifitas masing-masing. Ya, semua itu dilakukan untuk mengelabuhi media agar tidak ada yang mengendus acara yang sudah Gara tunggu-tunggu itu.
Demi kelancaran acara pernikahan putrinya, Bunda Sekar rela mengurangi jadwal prakteknya. Dan rencananya, wanita yang berprofesi sebagai dokter anak itu akan cuti seminggu sebelum pernikahan putrinya. Beruntung sudah ada dokter pengganti yang akan menghandle semua pekerjaan bunda Sekar.
Hari ini, bunda Sekar dan Mama Amelia berencana mendatangi sebuah butik ternama untuk melihat progres baju pengantin dan baju keluarga yang sudah dipesan minggu lalu oleh Brinia dan Gara secara langsung.
"Selamat siang Nyonya Amelia dan Nyonya Sekar." Sapa Neta, pemilik butik yang karyanya sudah tidak diragukan lagi karena desain baju pengantin yang Neta rancang sudah digunakan oleh para artis papan atas juga pejabat.
"Selamat siang Nyonya Neta." Jawab Mama Amelia dengan senyum.
"Siang Nyonya Neta.."
"Silahkan masuk Nyonya Amel dan Nyonya Sekar, saya akan memperlihatkan gaun pengantin yang sudah dipesan nona Brinia kemarin." Ucap wanita paruh baya bernama Neta tersebut.
Mama Amelia dan bunda Sekar pun mengikuti langkah kaki Neta untuk memasuki butik mewah itu lebih dalam lagi.
Dengan dibantu seorang karyawan butik, Neta menjelaskan dengan detail baju pengantin yang sesuai keinginan Brinia.
Meskipun gaun itu baru 30% pengerjaannya, namun keindahan gaun itu sudah terlihat dari pemilihan kain juga pernak perniknya.
"Waoww. pasti ini akan semakin terlihat cantik saat Brinia memakainya." Puji Mama Amelia.
"Iya... ini bagus banget nyonya Neta. bolehkah kami melihat gambar desainnya? Saya ingin melihatnya biar bisa membayangkan bagaimana jadinya gaun ini nanti." Pinta bunda Sekar.
"tentu saja nyonya." Wanita bernama Neta itu pun meminta asistennya untuk mengambil gambar desain gaun pengantin Brinia kemudian menunjukkan pada Sekar dan Amelia.
"Ini bagus banget.. tapi apa bagian depannya ini tidak terlalu tinggi nyonya Neta? karena saya nanti ingin melihat menantu saya pakai kalung berlian yang akan saya berikan padanya." Ucap Mama Amelia.
"Memang ini sebenarnya terlalu tinggi nyonya, tapi ini permintaan tuan Segara. Padahal Nona Brinia ingin bagian atasnya ini dihilangkan..." Jelas Neta menceritakan bagaimana perdebatan cukup panjang antara Brinia dan Gara kemarin ketika memilih gaun pengantin saat tengah malam karena menunggu Gara pulang shooting.
"Nyonya Neta, tolong buat desainnya sesuai dengan keinginan Brinia ya." Pinta Mama Amelia. Misal bagian dada atas yang berupa tambahan kain itu dihilangkan, gaun itu masih sopan dan sangat layak dipakai. Tidak akan menampilkan belahan dada, jadi tidak masalah menurut Mama Amelia.
"Tapi nyonya..."
"Sudah, ikuti saja kemauan menantu saya. Soal Segara, itu akan menjadi urusan saya. Toh yang bakal pakai itu Brinia bukan dia. Kenapa dia jadi laki posesif bener..." Gumam Mama Amelia yang menyadari sikap posesif Gara menurun dari Papa Andra.
"Baiklah kalau begitu Nyonya."
__ADS_1
"Oh ya, lalu bagaimana seragam yang akan dikenakan oleh pihak keluarga Nyonya Neta?" Tanya bunda Sekar.
"Semua dalam proses pengerjaan nyonya. Semua akan dibuat sesuai dengan permintaan Nyonya Amelia. Itu seragam keluarga, paling lama Minggu depan sudah jadi."
"Ah syukurlah..."
"Jika anda ingin melihat, mari saya antar kan ke lantai 3." Ajak Neta dan disetujui oleh dua ibu-ibu yang sebentar lagi akan menjadi besan itu.
Para wanita itu pun asik melihat koleksi -koleksi limited edition di butik milik Nyonya Neta hingga tidak terasa jam makan siang sudah datang.
Mama Amelia dan Bunda Sekar pun berpamitan pada Nyonya Neta dan meminta untuk segera di kabari setelah semuanya jadi. Takutnya nanti ada ukuran yang tidak pas, jadi bisa langsung diperbaiki oleh Nyonya Neta.
"Sekar, kita makan siang dulu yuk sebelum kamu balik rumah sakit." Ajak Amelia saat mereka keluar dari butik.
"Baiklah.. kamu bareng sama aku aja kalau gitu. Biar nanti supir kamu buntutin kita. Sekalian kita bahas siapa saja sahabat yang akan kita undang ke nikahan Brinia dan Gara." Ucap Sekar yang datang ke butik menggunakan mobil pribadi dari Rumah Sakit. Sedangkan Amelia, wanita itu kemana-mana diantar supir karena tidak diizinkan suaminya nyetir sendiri setelah dulu pernah nabrak gapura.
"Oke.. yang jelas kita akan undang teman teman arisan kita yang bisa nutup mulut. Kagak ember." Jawab Amelia.
...**...
Restoran cepat saji menjadi pilihan Sekar dan Amelia saat ini. Selain tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan pesanan, lokasi restoran itu juga cukup strategis untuk Sekar kembali ke rumah sakit ataupun Amelia yang akan kembali ke rumah.
"Mel, Brinia sama Gara katanya gak akan menunda kehamilan setelah mereka menikah." Ucap Sekar dengan semangat.
"Wah itu berita yang sangat membahagiakan, aku gak sabar gendong cucu... Selena dan Selia juga udah pada gede.. aku tuh kangen suara tangis bayi." Ucap Amelia yang sangat bahagia mendengar berita dari Sekar. Padahal sejak awal Amelia memang tidak mau memaksa Brinia untuk segera memberikannya cucu mengingat status mereka yang harus disembunyikan.
"Iya, aku seneng banget denger itu dari Brinia sendiri Mel."
"Permisi, bolehkan saya ikut bergabung." Suara seorang wanita tiba-tiba memecah obrolan seru antara dua besan tersebut.
Seorang wanita yang kehadirannya begitu mengejutkan untuk Sekar. Dan tanpa sopan santun sedikit pun, wanita itu lebih dulu duduk diantara Sekar dan Amelia sebelum diizinkan untuk bergabung.
"Mau apa kamu kesini?" Tanya Sekar dengan raut wajah yang berubah drastis dari sebelumnya membuat Amelia mengernyit tentang siapa wanita itu, wanita yang kira-kira usianya belum ada 40 tahun. Wajahnya tidaklah asing untuk Amelia.
Namun melihat perubahan wajah Sekar, Amelia dapan menyimpulkan jika wanita itu pasti punya hubungan dengan Henry.
"Mba Sekar... ada yang ingin aku bicarakan sama mba Sekar, dan kebetulan kita bertemu disini." Ucap wanita itu dengan senyuman yang sulit diartikan.
"Saya tidak ingin berbicara dengan kamu!" Tolak Sekar dengan tegas.
"Ini penting mba."
__ADS_1
"Pergi kamu dari sini!" usir Sekar dengan nada yang cukup tinggi sehingga menarik perhatian beberapa orang disekitar mereka duduk saat ini.
"Sekar tenang, ada apa ini?." Ucap Amelia.
"Berikan aku kesempatan untuk mengatakan maksud dan tujuan aku mendatangi mba Sekar.."
"Saya tidak mau!" Tolak Sekar sekali lagi membuat wanita itu justru tersenyum.
"Baiklah jika mba Sekar tidak mau." Wanita itupun beranjak dari duduknya dan kini berdiri diantara kursi yang diduduki oleh Sekar dan Amelia. Amelia sungguh bingung dengan situasi saat ini.
"Kalau memang mba Sekar tidak ingin memberikan aku kesempatan bicara, jangan salahkan aku jika sampai Brinia tau tentang status dia sebenarnya." Ucap wanita itu membuat Mama Amelia menganga.
"Apa maksud kamu?" Mama Amelia pun ikut berdiri tidak terima. Jika berhubungan dengan Brinia, maka dia akan menjadi garda terdepan.
"Aku akan mengatakan yang sebenarnya pada Brinia jika dia bukan anak kandung mba Sekar melainkan anak haram hasil perselingkuhan Mas Henry dengan seorang wanita yang meninggal karena ulah mba Sekar." Ucap wanita itu dengan tenang.
"Jaga mulut kamu!" Mama Amelia tidak terima dan langsung memberikan tatapan tajam pada wanita itu."
"Apa mau kamu Nita?" Tanya Bunda Sekar yang sudah ikut berdiri dan menatap wanita bernama Nita itu dengan tatapan permusuhan.
"Nah gitu dong mba.. tanya sejak tadi kek mau aku apa, jadi kan aku gak perlu mengancam." Kata Nita dengan senyum liciknya.
"Apa mau kamu? Ha?"
"Aku mau mas Henry mengakui Mikha sebagai putrinya di publik dan keluarga besar. Aku mau Mikha mendapatkan hak yang sama seperti Brinia. Karena Mikha sama-sama anak kandung Mas Henry." Pinta Nita. Amelia sekarang paham, siapa wanita itu, yang tidak lain adalah mantan selingkuhan Henry setelah ibu kandung Brinia meninggal dunia karena Amelia ingat bahwa Mikha adalah anak Henry dari selingkuhannya yang tidak lain adalah Nita.
"Jangan mimpi kamu Nita, kamu hanya mantan istri siri mas Henry. Dan saya tahu tujuan kamu meminta anak kamu diakui oleh mas Henry itu karena kamu ingin dapat bagian harta kan?" Tebak Sekar dengan sinis.
"Terserah apa yang mba Sekar ucapkan. Yang jelas, aku mau mas Henry dan mba Sekar mengakui keberadaan Mikha seperti kalian mengakui keberadaan Brinia, karena...."
"Jangan harap itu terjadi Nita!" Potong Sekar.
"kenapa mba? kenapa mba Sekar sangat membenci Mikha sedangkan mba Sekar sangat menyayangi Brinia. Mereka sama-sama anak mas Henry mba.. dan Mikha lahir dari status yang jelas karena mas Henry menikahi aku secara siri. Sedangkan Brinia, Brinia hadir dari hasil maksiat! Brinia hadir dari kumpul kebo mas Henry dengan wanita yang sudah mati itu!" Ucap Nita dengan tegas.
Plak!
"Jaga mulut kamu! aku gak akan terima kamu membawa-bawa Brinia." Amelia tidak bisa mengontrol emosinya lagi. Bahkan ibu tiga anak itu tidak segan mendaratkan tamparan di pipi wanita bernama Nita tersebut.
to be continued
Terima kasih segala dukungannya ya...
__ADS_1