
Sesuai dengan apa yang Yurdha perintahkan..
Malam ini, Gara dan yang lainnya sudah berkumpul di bagian belakang Villa yang langsung menghadap pada pantai untuk barbeque-an. Angin laut yang menerpa kulit, terasa begitu dingin. Namun suasana hangat persahabatan dan cinta mampu mengalahkan dinginnya angin laut tersebut.
Dan demi kata persahabatan, Denim juga Juna mencoba sabar untuk tidak keluar dari Vila guna mencari kesenangan mereka sendiri.
Toh benar kata Yurdha, mana mungkin mereka party di luar sedangkan kondisi Brinia masih terlihat pucat meskipun katanya perut Brinia sudah tidak sakit dan kram lagi. Mana mungkin mereka tega happy happy saat sahabatnya ada yang sakit.
Perhatian Gara pada Brinia memang tidak ada duanya, dan mereka yakin itulah yang membuat proses penyembuhan sakit Brinia lebih cepat dari pada umumnya. Hati senang, penyakit bubar.
Dihadapan para sahabatnya Gara tidak malu-malu lagi menunjukkan kebucinannya pada Brinia meskipun mereka sering meledek Gara dengan kata Lebay. Bodoh amat! itulah yang selalu dibenak Gara.
Ah, jika netizen atau fans Gara melihat bagaimana Gara memperlakukan Brinia pasti mereka akan semakin tergila gila pada Gara dan ingin berada di posisi Brinia. Tapi tidak bisa di pungkiri juga pasti akan ada saja orang yang akan menghujat Brinia dan membandingkannya dengan Sabrina.
Daging sapi hingga sosis juga jagung sudah disediakan oleh penjaga Villa sesuai permintaan Yurdha sore tadi. Denim, Nesya, Gara dan Brinia bertugas untuk membakar daging, sedangkan Juna sedang asyik meracik musik agar memeriahkan suasana pesta sederhana mereka.
Semua sudah meminta Brinia untuk duduk manis saja. Terutama Gara, namun Brinia menolak dan tidak ingin bersantai di saat semua temennya sibuk menyiapkan makan malam.
Jangan tanyakan Yurdha sedang apa, lelaki yang lahir di keluarga paling kaya dari yang lainnya itu kini sedang sibuk menatap layar laptopnya untuk mengerjakan pekerjaan yang belum terselesaikan. Selain masih kuliah, Yurdha juga disibukkan oleh pekerjaan kantor di perusahaan keluarganya sebagai karyawan biasa yaitu staf bagian marketing.
Dan semua sahabatnya memahami akan hal itu, Yurdha bisa ikut liburan dengan mereka aja udah syukur banget.
Memang begitulah Yurdha, meskipun kepribadian Yurdha bisa dibilang kurang asyik ketimbang yang lainnya, tapi tanpa Yurdha semuanya juga akan terasa hampa.
Baik Brinia maupun Gara ataupun yang lainnya, semuanya merasa bersyukur dipertemukan dengan orang-orang yang memiliki banyak kekurangan dan sifat menyebalkan-nya masing-masing. Sehingga mereka bisa saling melengkapi dan menyayangi.
Saat di dalam circle, Juna dan Denim adalah dua manusia yang memiliki sifat paling rese dan ngeselin, tapi jangan salah.. apabila ada orang yang berani mengusik sahabat mereka sedikit saja, Juna dan Denim akan menjadi orang terdepan yang akan menghajar orang tersebut.
Dentuman musik benar-benar sangat heboh, apalagi sound sistem yang Villa sediakan itu benar-benar kualitas terbaik yang tidak perlu di ragukan lagi. Brinia merasa bahwa diskotik sudah berpindah di Villa yang sudah Yurdha sewa tersebut. Namun bedanya, di sana tidak ada minuman keras dan tidak ada wanita berpakaian seksii.
“Yur, dagingnya udah matang… yuk makan dulu.” Kata Brinia membawa nampan berisi daging panggang yang mengeluarkan aroma sedap nan menggoda.
“Bentar lagi Brin, gue selesaikan ini dulu.” Jawab Yurdha dengan tatapan masih tertuju pada layar berukuran 13 inchi.
Maklum Yurdha adalah lelaki yang gila kerja terlebih tuntutan dari Papanya yang selalu menginginkan semuanya berjalan sempurna. Mungkin hal itulah yang membuat Yurdha menjadi pribadi yang nampak dingin.
__ADS_1
“Yurdha… ayo siap siap buat makan dulu. Elu bisa kerja lagi setelah makan. Atau gue akan lempar laptop elu ke laut!” Ancam Brinia dengan nada sangat tegas dan tatapan tajam yang mampu membuat siapa saja terintimidasi.
Yurdha kemudian tersenyum tipis dan segera menutup laptopnya tanpa protes.
“Nih anak takutnya cuma sama ancaman Brinia doang.” Ujar Juna yang ikut duduk di samping Yurdha. Dan Yurdha hanya memutar bola matanya malas.
“Bukan cuma gue, elu sama Denim juga takut sama dia. Apalagi si Gara, jangan ditanya lagi…” Gumam Yurdha pelan dan disetujui oleh Juna.
“Yurdha.. Juna,,, benerin tuh tikar-nya yang sebelah sana. Kita makan lesehan aja deh, lebih seru. Gue mau bantu Gara lagi buat bawa makanannya kesini.” Perintah Brinia. Yurdha mengangguk.
"Siap Bu boss!" Kata Juna.
“Si Nesya sama Denim mana? Elu jangan capek capek Brin, nanti perut elu kram lagi." Ucap Yurdha dengan lembut.
“Selama di samping Gara, amanlah pokoknya!" Jawaban Brinia membuat Yurdha tersenyum.
"Aman apanya? perut elu tadi kambuh juga pas ada Gara di Deket elu kan?" Ledek Juna.
"Beda cerita!" Brinia tidak terima.
"Nesya sama Denim lagi buat minuman di dapur sama ambil nasi Jun. Gue gak apa-apa kok, gue gak selemah itu kali.” Jawab Brinia karena memang tadi mereka memasak nasi sendiri menggunakan magic com karena tidak ingin terlalu merepotkan penjaga Villa.
Setelah semuanya berkumpul dan makanan siap semua, Gara dan sahabat-sahabatnya pun makan dengan lahap. Obrolan dan candaan ringan terus menghiasi detik demi detik kebersamaan mereka.
Sebelumnya, Juna dan Denim sudah mendapatkan ancaman keras dari Gara agar tidak membahas Sabrina atau apapun yang bisa membuat Brinia merasa tidak nyaman. Gara tidak ingin Brinia berpikiran macam-macam yang akan menyebabkan asam lambung Brinia naik.
Awalnya Juna dan Denim tidak mempedulikan ancaman Gara, tapi setelah Gara memperlihatkan video aib mereka berdua, Denim dan Juna tidak memiliki pilihan lain selain menurut daripada Video memalukan mereka tersebar di sosial media.
Obrolan mereka terus berlanjut hingga akhirnya Brinia dan Nesya merasa sangat ngantuk. Yurdha pun meminta dua gadis itu untuk istirahat di kamar mengingat hari esok akan mereka habiskan di pantai karena sore tadi tidak ada yang jadi bermain di pantai.
Kedua gadis yang selalu kompak itu pun menurut, sebab rasa kantuk sudah tidak tertahan lagi.
Sedangkan Gara, Juna dan Denim sibuk bermain PES dan Yurdha sudah sibuk lagi dengan pekerjaannya yang ada di dalam laptop 13 inchi berlogo apel.
...**...
__ADS_1
Keesokan harinya, Brinia dan Nesya yang baru keluar dari kamar sangat tercengang melihat suasana di ruang tengah Villa yang sangat berantakan dan para anak lelaki yang tidur berserakan tidak jelas disana. Putung rokok yang cukup banyak bahkan aroma nikotin masih memenuhi ruangan tersebut. Belum lagi kulit kacang yang berserakan dimana-mana di tambah bungkus kaleng bir yang memiliki kadar alkohol nol persen.
“Gue yakin semalam mereka gak tidur.” Ucap Brinia menghela nafasnya dengan berat.
“Pasti lah… noh lihat Brin, layar televisinya aja masih nyala, pasti empat penyamun ini ketiduran sendiri.” Tunjuk Nesya pada layar berukuran 43 inchi.
“Heran deh, udah pada tua tapi otaknya selalu main aja! Dan anehnya kenapa kita semalam gak denger mereka pada main PES ya? Biasanya kalau lagi main kan sampe teriak-teriak dan mengumpat?” Tanya Brinia curiga mengingat kejadian serupa pernah terjadi saat mereka semua liburan ke Bali.
"Kayaknya ada yang gak beres deh Brin.. ingatkan kejadian di Bali, mereka kasih obat tidur ke kita agar kita gak mengganggu party mereka." Brinia mengangguk menyetujui ucapan Nesya.
Ya Brinia ingat, saat itu Brinia dan Nesya tertidur nyenyak sampai tidak dengar para anak laki main PES hingga mabuk. Dan menurut pengakuan Gara, ternyata Denim memberikan obat tidur pada dua gadis cantik itu.
"Ganteng banget ya..." Gumam Nesya sambil menatap Yurdha yang sedang terlelap dengan tersenyum. Hati Nesya berdegup kencang hanya karena melihat wajah tampan Yurdha.
Brinia menghela nafasnya, Nesya selalu saja gagal fokus jika semua berkaitan dengan Yurdha. Enggan menimpali gumaman sahabatnya, Brinia melangkahkan kakinya mendekat pada Gara yang tidur di atas karpet tanpa bantal.
“Gara, bangun!” Brinia mencoba membangunkan kekasihnya.
Rasanya Brinia sungguh menyesal kemarin mengkhawatirkan Gara tidur di kasur busa lipat dan di lantai kalau ujungnya Gara tidur dengan nyaman di atas karpet bulu yang cukup tipis. Lalu kemarin ngapain minta tambahan kasur coba?
“Segara Byantara.. bangun!!” Brinia mencoba membangunkan Gara dengan sedikit keras hingga berulang kali.
“Bentar Brinia sayang… aku ngantuk banget.” Ucap Gara dengan suara parau dan mata yang masih setia terpejam.
Bukan mendengar ucapan kekasihnya, justru Brinia menangkap aroma yang berbeda dari mulut Gara saat Gara bergumam. Maklum jarak wajah Brinia dan Gara cukup dekat.
Brinia pun beranjak dari posisinya kemudian mencari sesuatu di ruangan tersebut dengan rahang yang mengeras dan tangan yang mengepal kuat.
“Elu cari apa Brin?” Tanya Nesya yang tersadar dari lamunannya karena tingkah Brinia.
Brinia tidak menjawab, namun beberapa detik kemudian, suara Brinia terdengar sangat melengking memenuhi seluruh ruangan.
“Segara, Yurdha, Arjuna, Denim! Bangun!! Siapa yang semalam beli Vodka dan meminumnya!” Teriak Brinia membawa tiga botol kosong berlebel minuman ternama.
“Matilah kalian yang semalam mabuk.” Ucap Nesya melihat kilatan amarah di wajah Brinia.
__ADS_1
to be continued