
Setelah memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil, Gara segara menuju rumah tetangga sebelah dengan mobil kesayangannya.
Pintu Gerbang rumah mewah tersebut masih tertutup rapat. Namun tidak berselang lama setelah Gara membunyikan klakson dua kali, pintu berukuran tinggi 2 meter itu pun terbuka sempurna.
Dengan memberikan ucapan selamat pagi pada security yang membukakan pintu dan tukang kebun yang sedang menyapu taman, Gara pun memasuki rumah mewah itu layaknya rumah sendiri.
Sesampainya di dalam rumah, Gara bertanya pada asisten rumah tangga Brinia mengenai keberadaan Brinia karena Gara tahu sejak kemarin siang kedua orang tua Brinia pergi ke luar jawa untuk menghadiri seminar.
“Mbak Kiki, Brinia mana?” Tanya Gara.
“Duh mas Gara, pagi- pagi udah ganteng aja.. bikin aku tersepona deh!” Puji mba Kiki, wanita yang berusia 25 tahun itu merupakan fans garis keras Gara di sosial media dan selalu bersikap julid pada Netizen yang menghalu ketinggian mengenai hubungan Gara dan Sabrina.
Mbak Kiki menatap Gara tanpa berkedip membuat Gara menghela nafasnya.
“Terpesona Embaakk...bukan tersepona!"
"Ah pokoknya itu deh mas Gara..."
" Yaudah serah embak kiki, yang penting Mbak Kiki bahagia.…"
"Aku selalu bahagia tiap ketemu mas Gara." Gara memutar bola matanya malas mendengar gombalan asisten rumah tangga kekasihnya itu.
"embaak Kiki yang baik hati, pacar aku mana? Aku bilangin pacar aku loh kalau mbak kiki menatap aku kayak gitu terus.” Goda Gara karena biasanya Brinia pura-pura ngambek dengan ART itu jika ART itu tertangkap basah mengagumi Gara secara langsung.
Saat Brinia pura-pura ngambek, maka Mbak Kiki akan kelimpungan sendiri takut Brinia berubah jadi pelit padanya.
“Eh jangan… nanti aku diomelin terus gak diajak jalan-jalan dan dibeliin baju baju yang bagus sama non Brinia.” Mbak Kiki terlihat sangat panik, padahal Brinia bukan tipe gadis yang bisa dengan mudah menunjukkan rasa cemburunya apalagi sama mbak Kiki.
Gara pun berusaha menahan tawanya.
“Yaudah, dimana pacar aku.. dia udah sarapan kan?” Tanya Gara yang selalu mewajibkan Brinia sarapan karena Brinia mempunyai penyakit maagh. Bagaimana ceritanya calon dokter punya penyakit maagh kan?
“Boro-boro sarapan mas,,, non Brinia nya masih bobok cantik di kamarnya.”
“APA?” Pekik Gara yang menatap jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 06.30 padahal pesawat mereka jam 09.45 pagi dan mereka harus ke rumah Yurdha lebih dulu sebelum berangkat bersama-sama ke Bandara.
...**...
Mendengar kekasihnya masih asyik menikmati indahnya alam mimpi, Gara pun panik dan segera meminta tolong sama Mba Kiki untuk membangunkan Brinia dan meminta Brinia segera bersiap agar mereka tidak ketinggalan pesawat. Dengan tegas mbak Kiki menolak karena dia sedang diminta Bik Sumi berbelanja sayur di depan kompleks.
__ADS_1
Mbak Kiki justru meminta Gara untuk membangunkan Brinia sendiri karena semua orang sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing ditambah dua asisten rumah tangga di rumah itu juga sedang cuti pulang kampung.
Toh, Gara sudah terbiasa keluar masuk kamar Brinia kan? Dan selama ini orang tua mereka juga tidak masalah. Begitulah pikir Mba Kiki.
Setelah menghela nafasnya dengan kasar, Gara pun segera menuju lantai dua dimana kamar Brinia berada karena jika berdebat dengan Mbak Kiki justru akan membuang-buang waktu.
Beberapa kali Gara mencoba mengetuk pintu kamar Brinia namun tidak ada jawaban. Dengan perasaan sedikit ragu, Gara pun membuka pintu tersebut yang ternyata tidak di kunci.
Bibir Gara melengkung melihat penampakan gadis cantik yang terlihat damai dalam tidurnya tersebut. Dengan langkah pasti, Gara pun mendekat ke arah ranjang berniat membangunkan Brinia.
Namun belum juga membangunkan sang kekasih, langkah Gara tiba-tiba terhenti.
“Astaga….” Ucap Gara yang langsung memalingkan wajahnya ke sembarang arah karena Gara tidak sengaja melihat bagian dada Brinia yang hanya tertutup kaos tipis berwarna putih dengan lengan pendek tanpa Bra sedangkan selimut yang Brinia kenakan hanya menutupi sebatas bagian perut ke bawah.
Susah payah Gara mencoba menelan salivanya karena secara otomatis otaknya langsung bertamasya ria dengan jantung yang berdegup sangat kencang.
Gara segera menetralkan dirinya dan tanpa menatap sesuatu yang belum menjadi hak –nya itu, Gara mencoba menarik selimut Brinia dan menaikkannya hingga menutupi dua gunung indah yang tercetak sempurna di balik baju tidur berwarna broken white itu.
Gara benar-benar tidak ingin ambil kesempatan dalam kesempitan pada Brinia. Kan baru saja Mama Amelia berpesan beberapa menit lalu...
“Brinia… Brinia… bangun..” Gara mengusap rambut Brinia dengan lembut.
Meskipun buru-buru dan detak jantungnya belum normal karena dua gundukan, Gara tetap membangunkan Brinia dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
Kesadaran Brinia belum berkumpul dan Brinia belum menyadari suara orang yang sedang membangunkannya itu. Maklum, biasanya yang membangunkan Brinia adalah mbak Kiki, jadi Brinia pikir saat ini yang ada disampingnya adalah mbak Kiki.
“Brinia sayang... buruan bangun… Anak-anak sudah menunggu di rumah Yurdha, kita semua nanti bisa ketinggalan pesawat!” Ucap Gara yang masih berusaha membangunkan Brinia.
“Astaga!” Pekik Brinia yang kesadarannya langsung kembali sepenuhnya mendengar kata ketinggalan pesawat.
Brinia yang tadi tidur di ranjang itu pun langsung terduduk sempurna di depan Gara. Hal itu sontak membuat Gara terkejut dan gelagapan apalagi pemandangan pegunungan indah tepat berada di depan mata anak dari Andra tersebut.
Untuk kedua kalinya, Gara langsung membuang pandangannya ke sembarang arah sebelum otak dan pikirannya kembali bertamasya hingga membangunkan yang selama ini tertidur dengan baik. Dalam hatinya, Gara merutuki mbak Kiki yang tadi menyuruh dirinya untuk membangunkan Brinia sendiri. Mana Gara tahu jika kostum yang Brinia kenakan tiap malam seperti ini kan?
Ya meskipun Gara pernah melihat gunung gunung indah dan besar di film biru yang menjadi koleksi Denim, salah satu sahabatnya. Namun melihat gunung milik Brinia yang masih tertutup sempurna baju tidur, tipis nyatanya mampu membuat Gara gugup setengah mati. Dan Gara mencoba untuk tenang.
“Ini jam berapa Ga?” Tanya Brinia, panik sambil menguncir rambutnya ke atas dengan posisi yang masih sama.
“Astaga Brinia..” Batin Gara yang saat melirik Brinia justru menampilkan Gunung yang makin nampak jelas dan indah.
__ADS_1
Jujur, hati kecil Gara sebenarnya tidak ingin curi kesempatan. Namun sebagai lelaki normal Gara tentu juga tidak ingin melewatkan kesempatan begitu saja. Apalagi sudah tersaji dengan jelas di depannya.
“Hampir jam tujuh. Jam setengah delapan kita harus sudah sampai rumah Yurdha dan berangkat bareng-bareng ke Bandara.” Jawab Gara yang dengan nada dingin karena antara gugup dan salah tingkah menjadi satu.
Tuhan, mengapa Brinia tidak sadar dengan penampilannya saat ini hingga hampir membangunkan jiwa buas dalam diri Gara? Tidak mungkin juga Gara memberitahukannya kan?
“Astaga! Kamu kok gak bangunin aku dari tadi sih Ga! Kamu kan bisa telfon aku buat bangunin aku.” Ucap Brinia dengan wajah cemberutnya menyingkap selimut kemudian turun dari ranjang dengan santainya.
Kaki jenjang Brinia terekspos sempurna karena celana pendek berbahan katun yang Brinia kenakan hanya menutup sebatas bongkahan belakang.
“Aku pikir kamu sudah bangun, kan biasanya kamu bangun pagi-pagi.” Gara pun ikut berdiri dan mencoba menjauh sekaligus menghindar agar tidak menatap tubuh kekasihnya itu.
“Aku semalam lembur ngerjain skripsi Gara Segara… kamu sih baru ngomong kemarin kalau ngajak aku buat liburan ke luar kota!” Gerutu Brinia dan Gara sadar bahwa dimana mana lelaki itu serba salah. Ah, lebih baik diam bukan.
“Ya sudah, sana buruan mandi… Aku tunggu di bawah!” Perintah Gara yang hendak keluar dari kamar Brinia.
“Gara, tolong bawain koper aku turun sekalian ya.” Pinta Brinia dengan nyengir.
“Hm.” Gara pun berjalan menuju salah satu sudut kamar dimana koper Brinia berada.
Untung kemarin Brinia sudah berkemas, kalau tidak mereka bisa benar-benar ketinggalan pesawat dan gagal liburan sekaligus Gara gagal memberikan kejutan untuk Brinia.
“Eh, kamu kok pagi ini aneh sih… sikap kamu dingin banget sama aku?” Tanya Brinia yang hendak masuk kamar mandi namun di urungkan dan memilih menahan pergelangan tangan kekasihnya.
Brinia baru sadar jika Gara nampak berbeda pagi ini.
“Aku gak apa-apa, sudah buruan mandi!” Gara mencoba melepaskan genggaman Brinia dari pergelangan tangannya yang sedang menyeret koper.
“Aku tahu aku salah karena bangun kesiangan, tapi waktunya masih panjang kan… kok kamu jadi dingin sama aku gini. Maafin aku.” Kata Brinia dengan tatapan penuh rasa bersalah pada Gara.
“Bukan karena kamu telat bangun Brinia ku…. Tapi karena.. astaga!” Ucap Gara hanya dalam hati.
Gara menghela nafasnya kasar kemudian menatap wajah cantik Brinia yang tanpa make up. Meksipun baru tidur, Brinia tetap terlihat sangat cantik di mata Gara.
“Aku gak marah sayang… kamu mandi buruan gih! Kasian anak-anak yang lain nanti nunggu kita kelamaan.” Gara mencoba tersenyum dan tenang pada Brinia di tengah kegugupannya. Gara juga menatap Brinia dengan tatapan teduh dan mencoba untuk bertahan agar tatapannya tidak turun ke bawah sedikit saja.
Melihat sikap Gara yang kembali manis, Brinia pun tersenyum. Dan tanpa terduga, Brinia justru langsung memeluk Gara hingga membuat Gara mematung seketika.
“Makasih ya selalu sabar sama aku, aku mandi bentar!” Ucap Brinia. Gara pun memejamkan matanya sambil susah payah menelan salivanya saat merasakan dua gunung menabrak dada bidangnya untuk pertama kali.
__ADS_1
"Astaga!" Batin Gara meronta-ronta
to be continued....