
Setelah berusaha meyakinkan Brinia selama lebih dari 30 menit, akhirnya Brinia percaya pada cinta Gara bahwa Gara tidak akan berpaling darinya. Ya, Gara sudah membuktikan cintanya selama ini untuk Brinia. Dan diatas segala keraguan hatinya, Brinia berharap Gara akan tetap dan terus membuktikan cinta padanya.
Namun, sebagai wanita biasa yang memiliki perasaan cemburu... Brinia pun meminta pada Gara, agar tidak ada yang Gara sembunyikan darinya, apapun itu. Dan Brinia juga meminta Gara untuk lebih tau batasan-batasan saat bersama Sabrina.
Berusaha percaya, tapi Brinia tetap saja belum bisa menghilangkan perasaan takutnya akan segala kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi kedepannya nanti.
Kan hati manusia dibolak-balik oleh Tuhan, sekarang Gara masih mencintai dirinya tapi bagaimana kalau nanti Tuhan buat perasaan Gara berpaling? terlebih Gara tidak pernah berhubungan atau dekat dengan wanita selain dirinya dan keluarganya saja. Tidak ada yang bisa menjamin kemungkinan itu tidak akan terjadi.
Mendengar permintaan Brinia, tentu saja Gara menyetujuinya tanpa perlu berpikir panjang. Karena bagi Gara, keterbukaan adalah modal penting dalam sebuah hubungan terlebih bersama Brinia, Gara benar-benar bisa terbuka dan merasa nyaman. Gara bisa menjadi dirinya sendiri.
Untuk pernikahan sendiri, Gara memang mengharapkan pernikahan segera dilakukan meskipun hanya tertutup antara dua keluarga. Gara yakin kedua orang tuanya dan orang tua Brinia akan menyetujui hal itu dengan segala alasan dan pertimbangan yang sudah Gara siapkan.
Dan setelah melalui diskusi yang cukup panjang, Brinia pun menyetujui permintaan Gara untuk mempercepat pernikahan mereka yang direncanakan akhir tahun ini.
Namun persetujuan Brinia tidak serta merta tanpa syarat. Karena Brinia hanya mau menikah dengan Gara tahun ini apabila Indeks Prestasi Gara sementara ini mencapai angka 3,0.
Apabila IP Gara tidak mencapai 3,0. Maka pernikahan akan dilaksanakan saat Brinia menyelesaikan KOAS-nya. Ya, Brinia mengajukan persyaratan itu semata-mata hanya ingin melihat keseriusan Gara dan menguji sikap tanggung jawab Gara sebagai lelaki.
Semester ini baru berjalan dua Minggu perkuliahan. Dengan kecerdasan otaknya, tentu Gara sangat yakin bisa mencapai nilai itu. Terlebih Brinia siap membantu dirinya dalam urusan tugas dan Gara akan mengajukan kuliah online pada kampus disaat dirinya benar-benar tidak bisa ke kampus atau sedang shooting luar kota.
Masih banyak waktu untuk Gara bisa membuktikan cintanya pada Brinia melalui nilai kuliahnya. Selain itu, Papa Andra juga tidak akan memandang profesinya sebagai artis dengan sebelah mata lagi. Gara berjanji tidak akan mengecewakan Brinia meskipun dirinya akan sangat sibuk shooting dan pemotretan. Gara ingin benar-benar menjaga hatinya yang hanya untuk Brinia.
Brinia pun tidak masalah jika nanti pernikahannya dengan Gara harus disembunyikan sementara waktu karena kontrak kerja yang mengikat Gara. Brinia benar-benar mencintai Gara hingga dia rela bersabar dan menepis rasa cemburunya untuk mendukung karier Gara semakin cemerlang.
Cukup Brinia yang ada disampingnya dan menggenggam tangannya, maka Gara dapat dengan tegak melihat dunia.
Kini, Brinia dan Gara sudah berada di taman samping rumah Brinia dan duduk di gazebo dengan beberapa cemilan dan minuman yang menemani. Brinia memilih mengajak Gara ngobrol di luar karena Brinia tidak ingin terus terusan berciuman dengan Gara.
__ADS_1
Bukan Brinia tidak ingin... melainkan saat duduk di pangkuan Gara dan terjadi ciuman panas setelah memperdebatkan Sabrina, Brinia merasakan sesuatu yang mengganjal di bawahnya. Brinia bukan anak kecil yang tidak mengetahui benda apa yang sedang mengembang di bawah sana dan mampu membuatnya begitu gugup. Dan Gara yang tidak ingin benteng pertahanannya roboh, menyetujui permintaan Brinia untuk mengobrol di taman.
Itu lebih aman kan~
Dengan serius dan telaten, Brinia mulai membantu Gara untuk membuat skala prioritas kehidupan Gara mulai dari seminggu ke depan hingga enam bulan yang akan datang.
Brinia benar-benar detail merancang jurnal masa depan untuk Gara. Dan Brinia yang serius seperti inilah membuat kecantikan Brinia bertambah 100 kali lipat di mata Gara.
Brinia adalah tipe cewek mandiri. Semenjak kecil Brinia kerap di tinggal kedua orang tuanya di luar kota hingga kurang perhatian dan kasih sayang. Brinia hanya berada di rumah dengan neneknya dan bermain dengan Gara. Namun semenjak neneknya tidak ada dan sang kakak meninggal karena kecelakaan, hanya Gara lah yang selalu menemani hari-hari Brinia. Terkadang, Gara merasa menjadi lelaki tidak berguna untuk seorang Brinia yang mandiri.
"Kenapa liatin aku terus dari tadi?" Tanya Brinia mengernyit melihat Gara yang memandangnya sambil tersenyum.
"Nggak." Jawab Gara semakin mengembangkan senyumnya.
"Nggak bagaimana? Jelas-jelas kamu liatin aku terus dari tadi." Protes Brinia sambil meletakkan bolpoinnya dan menghentikan kegiatan menulisnya.
"Kamu mau tahu gak apa yang ada di otak aku saat melihat kamu sibuk nulis sambil ngomong terus?" Senyum Gara tidak sirna sedikit pun membuat hati Brinia semakin tidak karuan.
"Apa?" Brinia penasaran. Kini Brinia pun membalas tatapan Gara.
"Aku dari tadi lagi bayangin, betapa beruntungnya aku setelah menikah dengan kamu nanti. Apalagi anak anak aku yang punya mama seperti kamu." Gara sengaja menjeda ucapannya hanya untuk membuat Brinia semakin penasaran.
"Beruntung kenapa? Dan kenapa membawa-bawa anak?"
"Kamu tipe wanita yang visioner, semuanya terstruktur dan terperinci dengan baik... aku yang hidup sesuka suka hati, pasti akan menjadi lebih disiplin dan lebih baik kedepannya nanti. Apalagi anak-anak kita, mereka akan tumbuh dengan sangat baik dan dididik oleh Mama yang hebat." Kata Gara jujur.
Brinia menghela nafasnya.
__ADS_1
"Kok malah baung nafas gitu sih? kamu gak melting gitu aku berkata manis?" Tanya Gara.
"Aku takut Ga..." Jawab Brinia lirih.
"Why? Sejak kapan Brinia menjadi seorang penakut dan insecure-an seperti ini?" Tanya Gara menggenggam jemari Brinia. Gara dapat melihat sebuah keraguan yang terpancar dalam sorot mata Brinia.
"Kamu tahu kan, aku orangnya perfeksionis, aku takut nantinya kamu justru bosan sama aku karena mengikuti gaya hidupku yang semuanya harus jelas dan disiplin. Aku takut jika nanti setelah kita menikah, aku gak bisa jadi istri sesuai keinginan kamu juga tidak bisa jadi mama yang sempurna untuk anak-anak kita nantinya." Keresahan menelusup di dada Brinia.
"Dengerin aku sayang..." Kata Gara begitu lembut.
"Pertama, tidak ada manusia di dunia ini yang tercipta sempurna, tidak ada suami yang sempurna begitu juga dengan istri, tidak ada juga papa atau mama yang sempurna. Kita di ciptakan di Bumi ini bukan sebagai barang jadi sayang, kita butuh proses untuk semua itu. Jangan memaksakan bahwa semuanya harus berjalan sempurna." Ucap Gara mengingat petuah kedua orang tuanya.
"Aku tahu ketakutan ketakutan kamu.... aku tahu apa yang ada di pikiran kamu Brinia... Kamu tidak ingin suami dan anak-anak kamu nanti merasakan apa yang kamu rasakan saat kecil kan?" Tanya Gara, Brinia mengangguk dengan lemah.
"Selain itu, aku juga takut jika suatu saat nanti kamu bosan sama aku, bayangin aja... selama 22 tahun kamu hidup, hanya ada aku gadis yang dekat dengan kamu." Gara tersenyum.
"Kisah masa kecil kamu, cukup jadi pelajaran sayang... dari kesalahan orang tua kamu, kesalahan ayah dan bunda kamu... kamu bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari semua itu. Kamu tidak perlu menyeretnya ke masa depan, jangan persulit hari kamu dengan pikiran-pikiran buruk yang belum tentu bahkan tidak akan pernah terjadi. Karena aku... Segara Byantara tidak akan berselingkuh dengan siapapun juga meskipun kamu sibuk nantinya... Dan aku akan membagi kasih sayangku sama anak-anak aku dengan rata tanpa ada yang perlu merasa di nomor duakan." Jelas Gara membuat Brinia meneteskan air mata.
"Sayang... sekarang semuanya sudah baik-baik saja. kedua orang tua kamu juga baik-baik saja. Kamu jangan cemaskan semuanya lagi ya..." Brinia pun mengangguk namun dengan penuh keraguan.
"Makasih Ga, kamu yang paling mengerti aku Ga... aku cinta sama kamu.."
Gara kemudian memeluk Brinia dengan begitu erat memberikan ketenangan pada sang kekasih sebelum akhirnya ponsel Gara berdering mengacaukan suasana romantis yang sedang terbangun di gazebo.
to be continued...
Yuk tinggalkan like, komentar, hadiah dan votenya. biar author nya tambah semangat hehehe... makasih reader reader yang baik hati, semoga rejeki kalian lancar ya ❤️
__ADS_1