
Mendengar Gara sendirian, Brinia pun langsung loncat dari kasur empuknya dan membuka pintu kamarnya. Brinia sangat percaya pada Gara. Jika Gara berkata sendirian, maka Gara memang benar sendirian. Karena Brinia masih malas bertemu ayah dan bundanya.
Ceklek.
"Kenapa kamu baru datang Ga... aku laper!" cicit Brinia yang langsung memeluk tubuh Gara dengan erat.
"Aku butuh kamu Ga... sangat membutuhkan kamu... hati aku hancur Ga.." Ucap Brinia yang dibarengi dengan air mata.
"Kamu lama Ga,, aku capek nangis sendiri sampe ketiduran..."
Suara Brinia terdengar sangat lirih membuat hati Gara terasa tercubit. Harusnya dia tidak terlalu lama di apartemen Yurdha tadi, harusnya dia langsung pulang dan menemui Brinia.. dan Brinia tidak menangis sendirian.
"Maafkan aku bee.. aku tadi ke apartemen Yurdha. Maafkan aku." Kata Gara mengusap lembut punggung Brinia.
"Jangan tinggalkan aku Ga, cuma kamu yang aku punya.. cuma kamu yang sayang sama aku, dan cuma kamu yang selalu merasa bahagia atas kehadiranku." Kata Brinia dengan punggung bergetar.
Gara memejamkan matanya sejenak, ucapan om Henry pada Brinia tadi benar-benar masuk ke otak dan hati Brinia. Jika sudah begini, pasti Brinia akan menyalahkan dirinya sendiri dalam segala hal dan insecure.
"Menangis lah jika itu membuat hati kamu tenang Bee.. Aku akan selalu ada buat kamu Be.. pelukan aku akan selalu ada untuk kamu Bee." Ujar Gara. Terkadang kalau orang sedih, dia tidak perlu ditanya kenapa dan bagaimana. dia hanya butuh pelukan dan pundak yang nyaman untuk mengungkapkan segala perasaan tidak nyaman dihatinya.
Brinia menikmati pelukan Gara meskipun air matanya tak kunjung surut. Gara pun menuntun Brinia berlahan menuju ranjang. Sepasang kekasih itu pun duduk di tepi ranjang tanpa melepas pelukannya.
Tadinya Brinia sudah kelelahan menangis hingga tertidur. Dan terbangun karena matahari di luar kamarnya sudah gelap juga perutnya terasa lapar. Brinia mencoba melupakan semua kejadian tadi, namun melihat Gara.. air mata Brinia luruh kembali. Brinia seperti anak kecil yang sedang mengadukan perbuatan nakal temennya pada orang tuanya.
"Ga, apa aku ini bukan anak ayah?" Tanya Brinia setelah dia rasa cukup tenang. Brinia pun masih memeluk Gara dengan erat.
"Jangan bicara aneh-aneh bee.. kamu adalah anak kandung Om Henry... golongan darah kamu, kak Brian dan om Henry juga sama. Jadi jangan ngaco kalau bicara." Ucap Gara dengan lembut agar Brinia tidak overthinking.
"Tapi ayah tidak pernah mengharapkan kehadiran aku Ga... kenapa?"
"Ayah sangat menyayangi kamu Be.. tapi cara dia menyampaikan kasih sayangnya itu salah. Kamu jangan berpikir macam-macam ya, pernikahan kita tinggal sebentar lagi. Aku gak mau kamu sakit Bee.." Gara melepas pelukan Brinia kemudian menatap wajah Brinia yang sembab dan menghapus air mata Brinia.
Gara mengecup kedua mata Brinia secara bergantian. Kedua mata yang masih basah karena air mata.
"Ada yang bunda dan ayah sembunyikan Ga, dan ini berhubungan dengan Tante Nita Ga.. aku gak mau bunda sama ayah bercerai. Dan..."
"Be.. please, biarkan ayah dan bunda kamu menyelesaikan masalah mereka sendiri. Biarkan mereka berpikir dan biarkan mereka mengambil keputusan yang terbaik menurut mereka. Kita sebagai anak, hanya bisa mendoakan agar kedua orang tua kita bahagia be.."
__ADS_1
"Tapi Ga, aku denger sendiri bunda mau gugat cerai ayah karena bunda gak mau aku tahu sesuatu... sesuatu yang digunakan Tante Nita untuk mengancam bunda... tapi aku gak tahu sesuatu itu apa."
Gara tahu, Gara sudah tahu semuanya... tadi Tante Sekar menjelaskan pada Gara sendiri jika Nita tidak dinikahi lagi secara resmi oleh Henry dan Henry tidak mau mengakui Mikha, maka Nita akan membongkar semuanya pada Brinia. Bahkan Nita juga meminta Sekar bercerai dari suaminya sebab Nita tidak mau jadi yang kedua. Kurang ajar bukan?
"Be.. jangan mencari tahu sesuatu yang sebenernya gak perlu kamu tahu..."
"Aku penasaran sama sesuatu itu Ga! apa jangan-jangan sesuatu itu sebuah fakta jika aku bukan anak ayah?"
"Hush! gak usah ngomong ngelantur dengan persepsi persepsi kamu sendiri karena itu 100% tidak benar, kamu adalah anak kandung Om Henry. Aku bisa pastikan itu. Mending sekarang kita makan. Kamu mau makan apa?" Tanya Gara.
"Tapi kamu bukan anak kandung Tante Sekar bee.." lanjut Gara dalam hati.
"Ga..." Brinia masih mau membicarakan masalah kedua orang tuanya.
"Nurut sama calon suami Brinia sayang." Kata Gara dengan lembut sambil mengusap rambut kepala Brinia.
Brinia mencebik kesal, tumben banget Gara tidak asik diajak ngobrol.
"Aku mau mekdi." Ujar Brinia yang pasrah karena tatapan tidak bersahabat Gara. Dan saat Brinia mengungkapkan makanan yang ingin dimakan, senyum Gara kembali terbit.
"Mau delivery order apa langsung ke outletnya?"
"Baiklah sayang.. aku akan kondisikan suasana di bawah biar kamu gak ketemu sama bunda dan ayah kamu dulu. Kamu tunggu disini ya, sampai calon suami kamu yang tampan ini menjemput."! Ujar Gara mengecup bibir Brinia secara singkat.
Brinia tersenyum, hati Brinia menghangat. Untung ada Gara yang selalu ada disampingnya kalau tidak mungkin Brinia sudah sejak dulu masuk RSJ. Begitulah yang terlintas di otak Brinia.
"Sayang..." Panggil Brinia.
"Iya?" Gara menengok kebelakang menatap sang kekasih.
"Tolong bawain sekalian tas aku ya... ponsel aku disana soalnya... kalau gak salah tadi di sofa ruang tengah."
"Siap sayang!" Gara pun langsung keluar dari kamar Brinia tidak lupa menutup pintunya dengan rapat kemudian menuruni tangga untuk meminta Tante Sekar dan Om Henry ke kamar dulu.
Memang begitulah Brinia, Brinia jika sakit hati lebih memilih menghindari orang yang membuatnya sakit hati hingga dia bisa berbesar hati. Bukan tanpa alasan, Brinia takut jika dia masih kecewa dan sakit hati, maka kata-kata menyakitkan akan keluar dari mulutnya untuk orang tersebut. Dan setelah itu, Brinia akan menyesal hingga tidak bisa tidur.
"Kamu berhak tahu sebenarnya Bee... kamu berhak tahu siapa diri kamu sebenarnya dan siapa wanita cantik yang sudah melahirkan kamu ke dunia ini. Jika semua orang berusaha menutupi semua fakta ini, Aku yang akan mengatakan semuanya sama kamu Bee... semuanya.. termasuk kejadian malam pesta JH entertainment itu. Tapi nanti, setelah kita resmi menikah Bee, agar kamu tidak memiliki alasan untuk insecure karena status kamu itu. Karena kalau kita sudah menikah, aku akan selalu bisa memelukmu sepanjang waktu." Batin Gara saat menuruni satu persatu anak tangga. Gara benar-benar memikirkan kesehatan psikis Brinia jika mengetahui semua itu.
__ADS_1
...**...
Gara melajukan kecepatan mobilnya dengan sedang. Tadi, beberapa kali Brinia sudah meringis sambil memegangi perutnya, Gara yakin... maagh Brinia kambuh. Karena selain telat makan Brinia juga pasti kepikiran tentang gugatan cerai bunda Sekar pada ayah Henry.
"Ga, kok berhenti disini?" Tanya Brinia bingung karena Gara menghentikan mobilnya di apotek 24.
"Aku mau beli obat buat kamu dulu, aku tahu kamu menahan sakit perut karena telat makan kan?" Brinia tersenyum dan mengangguk, Gara memang sangat peka dan Brinia sudah bergantung pada seorang Gara Byantara sejak kecil.
Tidak butuh waktu lama, Gara sudah kembali dengan obat ditangannya juga air mineral dalam kemasan. Setelah masuk mobil, Gara langsung meminta Brinia meminum obatnya tersebut karena harus diminum sebelum makan.
"Makasih Segara-ku."
"Sama-sama Brinia-ku." Gara mengusap rambut Brinia dengan penuh cinta dan sayang.
"Sayang..." Panggil Brinia saat Gara sudah melajukan mobilnya kembali.
"iya Bee.."
"Kita gak apa-apa makan berdua di luar, di restoran terbuka loh?"
"Gak apa-apa, emangnya kenapa?"
"Karier kamu, kontrak kamu?" Tanya Brinia serius.
"Aku gak peduli semua itu Be.. yang penting kamu bahagia itu sudah cukup bagi aku."
"Cih gombal." Decak Brinia dengan wajah dibuat kesal membuat Gara terkekeh.
"Inginku seperti itu Bee.. tapi aku gak bisa, aku harus tetap selesaikan kontrak itu dengan terpaksa karena si Melly sialan itu! Lagian semua orang menganggap kita saudara sepupu be.. jadi aman... jika bisa memilih, aku akan memilih untuk memperkenalkan kamu pada dunia bahwa kamu calon istri aku...
maafkan aku Brinia... maafkan aku, semua ini hanya semata-mata untuk melindungi kamu. Sabar sebentar ya, sampai kita nikah... aku akan ceritakan semuanya..." Batin Gara.
to be continued
Like
Like
__ADS_1
Like..