
Maaf baru bisa update gaess karena kesibukan di dunia nyata 🙏
Maaf banget ya 🤧
Happy reading ya...
Brinia nampak lahap sekali menyantap ayam goreng tepung dengan saos sambal. Sesekali gadis itu menyeruput lemon tea yang ada dihadapannya tanpa mempedulikan Gara. Gadis cantik itu terlihat sekali sedang kelaparan.
Sedangkan Gara menikmati makanannya dengan sangat santai sambil menatap Brinia dengan penuh rasa cinta.
Gara ingin selalu melihat Brinia makan selahap ini dan sebahagia ini.
"Aku akan melakukan apapun untuk kamu Bee.. aku gak akan membiarkan orang tua kamu menyakiti kamu lagi setelah kamu menjadi tanggung jawab aku sepenuhnya..." Batin Gara.
"Kenapa lihatin aku terus si?" Tanya Brinia dengan tatapan memicing.
"Emang kenapa? Aku kan sedang menatap masa depan." Kata Gara sambil tersenyum membuat Brinia memutar bola matanya jengah.
"Aku gak nyaman kamu lihatin terus dengan tatapan seperti itu Segara. Lagi pula ini tempat umum. Inget itu!" Protes Brinia.
"Kalau kamu gak nyaman, maka mulai sekarang belajarlah untuk nyaman. Karena setelah kita SAH nanti, aku akan terus menatap kamu penuh cinta dan penuh damba."
"Gombal." Kata Brinia dengan pipi yang sudah memerah.
"Aku serius. Bahkan, sebelum tidur aku akan terus menatap kamu dengan penuh hasrat." Bisik Gara tersenyum nakal.
Hasrat? susah payah Brinia menelan salivanya karena mendadak otaknya membayangkan yang iya iya setelah nanti menikah dengan Gara. Jantung Brinia juga berdegup cukup kencang disertai pipi yang semakin merona membuat kadar kecantikan Brinia di mata Gara semakin meningkat.
"Bukan hanya sebelum tidur, saat bangun tidur pun aku akan menatap kamu dengan penuh kekaguman juga terima kasih karena semalaman kamu sudah bisa membahagiakan suami kamu." Lanjut Gara yang sepertinya semakin bersemangat membuat Brinia salah tingkah.
"Kamu ngomong apaan sih Ga!" Ucap Brinia yang langsung meraih lemon tea-nya demi menurunkan ritme detak jantungnya.
"Ngomongin masa depan kita lah apalagi... bener kan yang aku bilang.. saat kita udah sah nanti, kita akan tidur bersama terus. Semoga kamu gak bosen ya bee, karena nantinya sebelum tidur kamu lihat aku, pas bangun lihatnya aku lagi."
"Cih!" Decak Brinia.
"Iya, mau tidur dan bangun tidur yang aku lihat kamu... tapi kalau kamu gak sibuk shooting. Kamu kan kalau shooting gak inget waktu. Entar ujung-ujungnya aku deeper istri rasa janda deh.." Sindir Brinia.
Gara langsung terdiam seketika mendengar sindiran Brinia yang langsung mendarat tepat di ulu hatinya.
__ADS_1
"Maafkan aku Be, jika ancaman Melly tidak menyangkut kamu, aku akan dengan mudah melepaskan karier aku. Karena kamu lebih segala-galanya ketimbang karier aku di dunia entertainment be... Tapi... situasi tidak semudah yang aku bayangkan sebelumnya bee... aku gak mau kamu tahu tentang latarbelakang kamu saat ini sebelum kita sah. Aku juga gak mau jika publik sampai tahu tentang siapa kamu sebenarnya..." Batin Gara.
"Tuh kan kamu diem.. kamu nanti pasti mau jadikan aku istri rasa janda." Ucapan Brinia membuat wajah Gara langsung berubah serius.
"Bee.. please jangan berkata seperti itu. Kamu tahu kan seberapa besar perasaan aku buat kamu, aku gak perlu menjelaskan lagi kan? karena aku yakin kamu bisa merasakannya." Gara menggenggam tangan Brinia.
"Dan kamu tahu juga kan bee, menjadi aktor ternama dengan segudang prestasi adalah impian aku sejak kecil. Dan tanpa support dan dukungan kamu selama ini, aku gak akan bisa sampai di titik ini. Jadi aku mohon pengertian kamu Bee... aku janji, kamu tetap akan menjadi prioritas aku ditengah padatnya jadwal shooting aku kedepannya nanti. Jangan buat aku merasa bersalah ya dengan kalimat mu tadi."
Tidak pernah terbesit sedikit pun dibenak Gara ingin menjadikan Brinia sebagai istri rasa janda karena Gara akan berusaha membahagiakan Brinia.
"Ga.. maafkan aku, ucapan aku tadi gak bermaksud tidak mendukung kamu atau..."
"zzzttt aku tahu apa maksud kamu sayang." Gara menyela ucapan Brinia sambil tersenyum.
"Udah nanti kita bahas lagi urusan privasi kita ini, orang yang di belakang kamu kelihatannya mencoba mencuri dengar pembicaraan kita." Ucap Gara lirih melihat orang yang duduk dibelakang Brinia sudah mendekatkan kursi yang didudukinya untuk lebih dekat dengan kursi Brinia.
Brinia mengangguk paham.
"Ga.."
"Iya Brinia?"
"Kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa sih... kalau emang gak boleh ya sudah."
"Bukan nggak boleh Brinia.. Mama pasti mau dan seneng. Tapi kenapa mendadak kamu pengen tidur sama mama aku? jangan bilang kamu lagi menghindari orang tua kamu?" Tebak Segara.
"Aku lagi males ketemu mereka, apalagi ngobrol sama mereka Gara."
"Brinia, masalah itu harus dihadapi, diomongin baik-baik sama Tante Sekar dan Om Henry, jangan menghindar... bagaimana pun mereka adalah orang tua kamu." nasihat Gara. Meksipun Gara tidak suka dengan cara Sekar dan Henry pada Brinia, tapi Gara tidak ingin hubungan orang tua dan anak itu renggang.
"Aku butuh waktu Ga! kalau kamu gak mengizinkan ya sudah, aku nanti balik sendiri. aku mau tidur di hotel." Ucap Brinia dengan wajah kesal membuat Gara menghela nafasnya.
...***...
Andra harus mengalah kala sang istri tercintanya harus tidur menemani calon menantu mereka. Apalagi setelah Gara cerita pada sang Papa tentang apa yang terjadi di rumah tetangga sebelah mereka itu, Papa Andra semakin kasihan dengan Brinia.
"Bagus, papa salut sama sikap kamu menghadapi calon mertua kamu itu Segara." Puji Papa Andra karena merasa ucapan Henry pada Brinia sudah keterlaluan.
__ADS_1
"Iya pa, aku gak sabar menerima tanggung jawab penuh soal Brinia dari om henry. Setelah itu, aku gak akan biarkan mereka menyakiti hati Brinia, kalau perlu aku akan membuat jarak diantara mereka." Jawab Gara menggebu-gebu.
"Kamu harus bersikap bijak Ga, kamu gak bisa langsung seperti itu, bagaimana pun Brinia adalah anak Henry, jadi kamu harus menghormatinya dan membuat hubungan anak dan ayah itu harmonis. itu PR kamu sebagai kepala rumah tangga nantinya. Jangan ambil keputusan dengan emosi, papa tahu saat ini kamu juga sakit hati atas ucapan Henry pada Brinia." Nasihat Papa Andra.
"Tapi pa, lagi lagi Brinia yang jadi korbannya dan mental dia harus terbentur berkali-kali!"
"Nah itu PR kamu.."
"Ga, bagaimana mengenai kemunduran kamu dari JH entertainment itu?" Tanya Papa Andra tiba-tiba.
"Aku gak bisa pa. Melly gak main-main dengan ancamannya yang kemarin itu Pa." Papa Andra mengangguk.
"Oke kalau begitu, papa akan menyuruh orang untuk mencari tahu tentang Melly lebih detail. Kita harus bisa menekan balik dia agar dia gak berkutik lagi apalagi berani mengancam kamu." Ucap Papa Andra.
"Pa, papa kenal Johan? katanya teman papa kuliah di luar negeri dulu?" Tanya Gara.
Deg!
Raut wajah Papa Andra langsung berubah. Dan hal tersebut terlihat oleh Segara.
...***...
"Ma... boleh gak aku tanya?" Tanya Brinia yang kini tidur dalam pelukan Mama Amelia. Gadis itu kini terlihat sangat manja di mata mama Amelia.
Katanya sih, Brinia kangen masa masa kecilnya yang tidur dipelukan Mama Amelia karena bunda Sekar selalu sibuk di rumah sakit hingga larut malam. Dan kalau pulang pun bunda Sekar tidak menemui Brinia lalu paginya sebelum Brinia bangun, terkadang bunda Sekar sudah kembali praktek.
"Tanya apa sayang?" Mama Amelia mengusap rambut Brinia dengan lembut. Calon menantu kesayangannya.
"Apa aku bener anak bunda dan ayah?"
"Kok kamu tanya begitu? ya bener dong.. kamu anak bunda Sekar dan ayah Henry."
"Ya sudah, kalau begitu ceritain semuanya saat aku belum lahir dan sampai aku segini... ceritain semua yang sekiranya aku gak tau ma..."
"Brinia..."
"Ma, please.." Mohon Brinia.
to be continued
__ADS_1