Kekasih Rahasia Aktor Tampan

Kekasih Rahasia Aktor Tampan
Susah ini...


__ADS_3

Pernikahan yang Brinia dan Gara lakukan bukanlah pernikahan perjodohan yang tidak saling cinta sebelumnya, mereka menikah atas dasar mau sama mau, suka sama suka dan cinta sama cinta.


Jadi sudah dipastikan bahwa tidak akan ada drama malam pertama dimana pengantin baru itu tidur di tempat yang terpisah atau enggan memberikan nafkah batin pada pasangan dengan alasan belum siap atau alasan klise lainnya.


Gara dan Brinia justru sama-sama tidak sabar untuk saling menyerahkan diri dan saling memiliki seutuhnya. Keduanya benar-benar dua insan yang tengah dimabuk cinta dan membuktikan cinta mereka dengan sebuah ikatan suci.


Di dalam kamar, Gara nampak terus membaca artikel-artikel melalui ponsel selulernya. Artikel yang Gara baca tidak jauh jauh tentang apa yang harus seorang pria lakukan disaat malam pertama.


Karena, kalau boleh jujur, Gara sebetulnya sangat nervous akan menjalankan sebuah ritual yang sudah sangat lama ia tunggu-tunggu. Gara takut melakukan kesalahan sedikitpun sehingga akan memberikan kesan awkward pada pengalaman pertama mereka nantinya.


Padahal saat masih pacaran dan berada di Jogja waktu itu, Gara hampir saja kelepasan dengan Brinia. Waktu itu Gara tidak segugup siang ini. Ah emang benar, ikatan pernikahan itu memang luar biasa, memberikan sebuah rasa yang tidak biasa dan ada greget-gregetnya gitu.


Sementara di dalam kamar mandi, Brinia duduk di bathtub yang tanpa diisi air kemudian membalur tubuhnya dengan lulur beraroma floral yang menyegarkan. Brinia tidak mau kalah dengan Gara yang tadi keluar kamar mandi sangat wangi hingga menggoda imannya.


"Astaga udah 15 menit lebih aku luluran.. harus segera dibilas nih... belum mandi juga, terus belum dandan juga... Astaga, waktu cepet banget si! aku gak mau ya, saat aku keluar Gara malah tidur karena kelamaan nungguin aku!" Gerutu Brinia.


Brinia memang tadi saat masuk kamar mandi membawa pouch cukup besar yang ada di kopernya, di dalam pouch tersebut sudah berisi peralatan mandi dan make up sehari-hari-nya lengkap. Ah Mama Amelia dan Bunda Sekar memang terbaik, pasti dua wanita itu yang sudah menyiapkan semua ini.


...**...


Berkali-kali menarik nafasnya, berkali kali meredakan rasa gugupnya kemudian menatap penampilannya di depan cermin, bukan tenang justru Brinia semakin gugup.


Baju tidur berbahan satin dan berwarna merah sudah melekat sempurna pada tubuh cantiknya, potongan bagian dada yang sangat rendah menampilkan sebagian gundukan berwarna putih bersih. Dress yang panjangnya kira-kira hanya sejengkal dari pinggang itu hanya mampu menutupi aset belakang Brinia dan mengekspose paha atasnya yang mulus.


Make up tipis dengan rambut yang digerai serta semprotan parfum mahal menambah kesempurnaan penampilan Brinia siang ini.


"Ah harusnya ini dilakukan di malam hari dengan lampu kamar yang temaram, pasti akan lebih romantis." Gumam Brinia yang tidak habis pikir dengan ide Segara yang anti-mainstream itu.


Siang pertama? CK!


Jika malam, pencahayaan akan sedikit redup setidaknya dia tidak akan begitu malu ketika sama-sama polos dengan Segara.


"Astaga... aku harus gimana. Kan malu keluar pake baju tanpa akhlak begini.. apa aku harus dalam mode judes dan galak biar gak kelihatan gugup gitu?" Gumam Brinia pelan sambil mere mas re mas jemari tangannya.


"Sayang... kamu gak pingsan kan di dalam kamar mandi? Lama banget." Ketukan pintu kamar mandi juga suara Gara membuat Brinia yang sedang melamun sedikit terperanjat.


"Astaga Gara, ngagetin aja sih.. oke mode judes!" Kata Brinia lirih sambil menetralkan degup jantungnya.


Ceklek..


"Pingsan pingsan.. enak aja!" Jawab Brinia dengan wajah dibuat sekesal mungkin.

__ADS_1


Gara mematung menatap gadis yang selalu ada disisinya dari kecil itu kini bukan hanya sekedar cantik tapi juga seksii. Bahkan sangat sekssii hingga mampu menghentikan dunia Gara seketika.


"Kamu pengen aku pingsan di kamar mandi ya?" Tanya Brinia melewati Gara begitu saja. Sungguh, penampilan Gara saat ini yang hanya menggunakan bokser sangat pendek membuat jiwa nakal Brinia meronta-ronta.


"Mana mungkin aku pengen kamu pingsan sayang..." Ucap Gara yang menarik pergelangan tangan Brinia hingga gadis cantik yang sudah resmi menjadi istrinya itu menabrak dada kokohnya yang ditumbuhi bulu-bulu halus menambah kesan seksii.


"Kamu cantik..." Bisik Gara tepat di daun telinga Brinia. Sebelah tangan Gara masih mencekal pergelangan tangan Brinia, sebelahnya lagi menyusuri pundak Brinia yang terekspose membuat Brinia mematung dan memejamkan matanya.


"Kamu bukan hanya cantik Bee.. kamu sekssii... aku sangat suka... love you!" Kata Gara mengecup pipi Brinia.


Brinia memberanikan mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk karena malu sedekat ini dengan Gara dengan pakaian minim.


Brinia tersenyum menatap wajah tampan lelaki yang sangat ia cintai. "I love you too Segara-ku, kamu juga sangat tampan dan mempesona... kamu selalu bisa membuat aku jatuh cinta berulang kali." Jawab Brinia sambil mengusap rahang kokoh Gara yang ditumbuhi jenggot tipis nan rapi.


Gara pun tersenyum mendengar pujian sang istri yang terdengar sangat sensual di telinganya.


"Kamu sekarang sudah pintar menggoda ya?" tanya Gara sambil memejamkan matanya menikmati jemari jemari lentik Brinia mengusap tengkuknya hingga turun ke dada.


"Aku bukan menggoda, tapi aku berkata jujur.. suami aku sangatlah tampan dan mempesona.." Jawab Brinia sambil berjinjit kemudian mengecup bibir Gara secara sekilas dengan tangan yang mengusap perut Gara dengan sensual.


"Aku mau jadi milik kamu seutuhnya, satu-satunya dan selamanya Segara!"!Kata Brinia lagi.


Gara membuka matanya kemudian menarik pinggang Brinia hingga tidak ada jarak diantaranya mereka.


Brinia membalas dengan sangat baik perlakuan Gara. Sudah tidak ada kaku lagi dalam proses ciuman mereka karena sebelumnya mereka sudah training berkali-kali.


Ciuman penuh cinta itu kini sudah di penuhi nafsu. Terbukti.... tangan Gara sudah tidak bisa diam. Kedua tangan kokoh itu mengusap setiap lekuk tubuh istrinya yang masih dibalut dengan drees tidur berbahan satin.


Brinia larut dalam permainan panas yang Gara ciptakan hingga Brinia tidak sadar bahwa drees yang ia kenakan sudah jatuh ke lantai meninggalkan bra juga ce Lana da lam warna hitam yang melekat ditubuhnya.


"Kenapa kamu masih pake bra dan CD segala sih?" Tanya Gara saat ciuman itu terlepas. Ekspektasi Gara, ketika drees itu ia turunkan dia akan melihat tubuh polos Brinia tanpa repot-repot membuka kaitan bra.


"Biar kamu ada usaha lebih." Jawab Brinia berbisik kemudian menautkan kembali bibir mereka.


Ciuman mereka semakin brutal dan menuntut, Gara yang hanya mengandalkan instingnya akhirnya menggiring sang istri menuju ranjang besar yang berhiaskan bunga mawar merah yang memang disediakan khusus untuk pengantin baru.


Bibir Gara menyusuri wajah cantik Brinia kemudian turun ke leher jenjang Brinia membuat sang empu memejamkan matanya menikmati jamuan pembuka dari sang suami.


Brinia mengangkat sedikit tubuhnya kala tangan Gara menyusuri punggungnya mencari kaitan bra yang sangat Gara benci.


"Bukanya susah Bee.." Keluh Gara yang sudah menemukan apa yang dia cari namun tidak kunjung berhasil membukanya.

__ADS_1


"Mama sih berikan baru, pasti masih rapet banget kan. jadi susah bukanya." Jawab Brinia kesal kemudian Brinia memilih duduk dan membuka tautan Bra itu sendiri.


Gara yang tepat didepan Brinia bahkan diatas tubuh Brinia dan menggunakan lututnya sebagai tumpu hanya tersenyum menikmati setiap inchi pemandangan indah di depannya.


"Gampang gini kok.. kamu mah gak ada romantis-romantisnya... masak aku sendiri yang buka Bra-nya." Gerutu Brinia yang melemparkan Bra hitam miliknya ke sembarang arah dengan salah satu tangannya siap menutupi kedua asetnya yang cukup besar.


Brinia masih merasa malu, jadi minimal puncaknya tertutup lah ya...


"Salah siapa kamu pake Bra?" Tanya Gara.


"Salah siapa kamu ngajaknya siang pertama bukan malam pertama." Brinia tidak mau kalah karena Brinia cukup kesal, lagi enak-enaknya menikmati permainan harus terjeda gara-gara Segara tidak bisa buka kaitan Bra.


"Jangan di tutupi sayang... Aku mau lihat..." Pinta Gara meraih tangan Brinia yang menutupi asetnya.


"Malu ga...." Rengek Brinia mempertahankan tangannya dengan wajah yang sangat merona.


Entahlah, antara malu dan nafsu ~


Kekuatan Gara jelas bukan tandingan Brinia. Brinia yang masih terduduk akhirnya menampilkan tubuh polosnya bagian atas kala kedua tangannya berhasil di kunci Gara dengan satu tangan.


"Sangat Indah..." Komentar Gara menatap kagum ciptaan Tuhan di depannya yang baru pertama kali dia lihat secara langsung dan sedekat ini.


"Gara... jangan dilihatin terus dong.. aku malu..." rengek Brinia yang benar-benar sangat malu.


Tanpa menjawab, Gara langsung menyerang bibir Brinia lagi kemudian merebahkan Brinia di atas ranjang empuknya lagi dan Gara siap melancarkan aksinya.


Entah sejak kapan tubuh keduanya sudah sama-sama polos setelah Gara berhasil menyusu pada sumber susu yang belum memproduksi susu.


Brinia dibuat susah payah menelan salivanya melihat sesuatu yang besar milik lelaki dewasa itu untuk pertama kali secara langsung. Benar-benar gagah ~


"Pelan-pelan Ga!" Pinta Brinia bergidik ngeri. Saat ini Gara sudah siap memasukkan rudalnya ke tempat yang semestinya setelah berhasil melebarkan dua kaki Brinia.


"Iya sayang..."


"Ga... aku takut. Kita tunda nanti malam aja ya .." Pinta Brinia tiba-tiba.


what? enak aja main tunda, tidak akan! tidak akan ada tunda menunda dalam kamus hidup Gara jika soal beginian. Lagian, sejak tadi Brinia sudah tidak memanggil Gara dengan sebutan 'mas' lagi. Ah bodoh amat lah~


Yang penting tugas sucinya ini segera terselesaikan dengan sempurna...


"Saa... sakit gaaa...." rengek Brinia dengan mata terpejam menahan perih pada inti tubuhnya saat Gara berusaha membobol benteng kokoh milik Brinia.

__ADS_1


"Sabar dulu sayang... susah ini..."


to be continued


__ADS_2