
"Bayaran elu di sinetron itu total 1,2 Milyar. Kamu kalikan aja sama 15." Ucap Melly datar.
"APA?" Pekik Gara yang tidak percaya bahwa dirinya di bayar segitu banyaknya untuk satu judul sinetron padahal dirinya adalah artis pendatang baru.
"Belum juga film layar lebar yang jelas jauh lebih gede." Ucap Melly lagi.
Gara mengerjap-ngerjapkan matanya. Lelaki 22 tahun itu sangat tidak percaya dengan semua yang ia dengar dari Melly barusan. Bahkan Gara sampai tidak sadar jika Melly meninggalkannya sendiri di ruang tamu untuk mengambil salinan kontrak yang Melly pegang.
JH entertainment, rumah produksi yang memang sudah tidak diragukan lagi. Terbukti dengan banyaknya karya luar biasa yang di produksi oleh JH entertainment. Dan untuk menjadi pemeran utama di rumah produksi itu pun bukanlah hal yang mudah. Harus melalui proses seleksi dan casting yang sangat panjang.
1,2 M bayaran untuk Gara bermain di sinetron itu dengan kontrak kerja untuk produksi selama 15 bulan. Bagaimana bisa?
Gara akui, paras wajahnya memang tampan karena Mama Amelia yang merupakan blesteran Indo Arab sedangkan Papa Andra Indo Belanda hingga menghasilkan bibit super seperti dirinya. Bukan hanya dirinya sih, kedua adik Gara juga sama, mereka sudah terlihat cantik dan menawan meskipun masih SMA dan SMP.
Namun apa iya, hanya dengan modal paras tampan saja bisa menghasilkan 1,2M untuk satu judul sinetron? Rasanya itu angka yang terlalu berlebihan mengingat kiprahnya di dunia entertainment belum begitu lama dan namanya juga belum banyak di kenal oleh para pemilik rumah produksi besar. Gara merasa masih minim pengalaman dan ilmu.
Jika sekelas Reza Rahadian mendapat bayaran sebanyak itu, Gara bisa dengan mudah mempercayainya karena judul film yang dibintangi artis senior itu sudah sangat banyak dan aktingnya tidak di ragukan lagi.
Lah dirinya?
"Apa kamu masih kekeuh untuk membatalkan kontrak ini Ga?" Tanya Melly membuyarkan lamunan Gara sambil menyodorkan salinan kontrak kerja.
Gara pun menerimanya dan ingin membaca dengan seksama. Sebab tadi saat di rumah, Gara hanya membaca sekilas file kontrak kerjanya yang ada di ponsel Papa Andra.
"Total 18 M Ga... 18 M untuk elu membayar pada JH entertainment jika elu membatalkan kontrak secara sepihak." Ucap Melly lagi memecah konsentrasi Gara.
Gara tidak menjawab, kekasih Brinia itu masih mencoba fokus untuk memahami kata demi kata yang tertera di kontrak kerja itu.
Angka yang fantastis, pantas saja Melly tidak pikir panjang untuk menyetujui kontak itu bahkan sampai mengecoh dirinya hingga tanda tanda tanpa sadar. Bagaimana pun, Gara tahu Melly sangat membutuhkan uang karena janda anak satu itu adalah tulang punggung keluarga.
"Kenapa elu terima kontrak ini tanpa persetujuan dari gue? Kenapa Mel?" Tanya Gara dengan nada bicara yang dibuat setenang mungkin.
Meksipun Gara lahir di keluarga pengusaha ternama, namun uang pribadi Gara belum sampai menyentuh angka 18 Milyar. Gara juga tidak mungkin meminta bantuan pada sang Papa untuk hal ini.
"Kenapa elu masih nanya sih Ga? gue melakukan ini semua demi kebaikan elu! demi karier elu! karena dengan ini, nama elu akan di perhitungkan oleh sutradara sutradara ternama dan elu akan jadi artis pendatang baru dengan bayaran terbesar. Gue melakukan ini demi karier elu!" Kata Melly yang juga dengan nada sedikit kesal karena melihat tatapan Gara tidak bersahabat.?
__ADS_1
"Elu gila Mel! Elu gila!" Umpat Gara menatap tajam pada Melly dengan nafas naik turun.
Sungguh, otak Gara rasanya ingin pecah saat ini juga apalagi Gara harus bermain dengan Sabrina lagi. Gara teringat sikap Brinia kemarin saat di Jogja Juna dan Denim membicarakan Sabrina.
Iya benar kata Mama Amelia, Brinia memang diam.. tapi Brinia juga cemburu. Gara tidak ingin membuat Brinia cemburu.
"Elu ngatain gue gila? elu yang gila sekaligus buta karena menolak ladang berlian di depan mata elu Gara." Umpat Melly.
"Sekarang ceritakan, kapan elu meminta tanda tangan gue untuk kontrak itu?" Tanya Gara dengan nada sedikit melunak meskipun emosinya memuncak.
Gara tidak ingin ada pertengkaran dengan managernya itu karena itu akan menyulitkan pekerjaan untuk kedepannya. Dan jelas, pertengkaran tidak akan menyelesaikan masalah. Jangankan selesai, jelas saja kagak.
Melly pun menjelaskan kapan dirinya itu meminta Gara untuk menandatangani kontrak tersebut. Ternyata Melly meminta Gara menandatangani itu saat Gara sedang berbicara pada seseorang via telfon sebelum keesokan harinya Gara berangkat ke Jogja.
Gara ingat, saat itu Melly berkata bahwa ada fans yang ingin meminta tanda tangannya. Karena fokus dengan pembicaraan bersama Ayah Henry, Gara tidak melihat kertas yang ia tanda tangani. Memang seperti itulah kebiasaan Gara, sehingga Melly yang sudah sangat hafal tentu tidak akan Menyia-nyiakan kesempatan itu.
Dan ternyata tanda tangannya bukan untuk fans melainkan kontrak kerja bermaterai sepuluh ribu yang memiliki kekuatan hukum sangat kuat.
"Sepertinya elu sudah merencanakan semua itu dengan baik ya Mel?" Tanya Gara tersenyum sinis pada Melly karena merasa dibodohi oleh Melly.
"Iya, gue memang merencanakan semuanya karena gue ingin karier elu makin bersinar! Kalau gue gak merencanakan itu, elu akan banyak pertimbangan. Sorry Ga, gue lebih suka kerja cepat." Kata Melly membalas senyum Gara dengan senyum yang sama.
"Gue lebih tahu dari elu Ga! Pengalaman gue di dunia entertainment lebih lama. Gue jauh lebih tahu mana peluang yang menjanjikan buat elu dan mana yang enggak! Dan tanpa gue, elu gak bakal bisa mendapatkan peran di series elu kemarin bersama Sabrina yang membuat followers Instagram elu tembus angka 1 juta hingga nama elu selalu diperbincangkan oleh artis artis lainnya termasuk artis senior." Kata Melly penuh dengan penekanan pada Gara.
Ya, Gara sadar itu... series kemarin memang hasil perjuangan Melly meyakinkan sutradara dan Melly yang mendidik Gara dengan keras sebelum ikut casting.
"Segara, elu artis pendatang baru... Saran gue, jangan terlalu banyak milih peran jika elu pengen nama elu bersinar dan talenta elu terasah! Sekarang terserah elu mau melanjutkan kontrak itu atau membayar pinalti yang sudah disepakati. Tugas gue adalah bekerja untuk memberikan yang terbaik buat elu sesuai dengan impian elu menjadi artis papan atas dan diakui sama bokap elu bahwa elu bisa sukses dengan pekerjaan ini. Lagian di kontrak kerja kita, sudah tertulis jelas bahwa salah satu tugas gue adalah mencarikan elu job. Dan gue udah lakukan itu dengan sangat baik." Tegas Melly.
"Berikan gue waktu berpikir Mel." Kata Gara nampak frustasi setelah beberapa menit terdiam.
"Elu mau berpikir apalagi sih Ga? astaga! Elu itu juga lagi gak punya pacar. Elu tinggal main peran sebaik-baiknya dengan Sabrina semuanya akan beres. Duit elu dapat gede, popularitas kian meningkat. Karier elu kedepannya udah terang benderang Segara, semuanya sudah di depan mata elu!"
Ingin rasanya Gara mengungkapkan statusnya dengan Brinia saat ini. Namun setelah kejadian ini, Gara semakin ragu dan tidak percaya dengan Melly. Jika Melly tau, Gara justru takut Melly akan berbuat hal-hal yang tidak diinginkan mengingat seberapa nekatnya Melly yang merupakan manusia ambisius.
...***...
__ADS_1
Setelah tiga hari berpikir serius dan dengan segala pertimbangan....
Gara terpaksa menerima kontrak kerja yang sudah ia tanda tangani itu. Apalagi Melly terus saja mengirim pesan berupa plus minusnya saat Gara memilih atau menolak kontrak itu.
Menolak? jelas nama Gara akan di blacklist dari JH entertainment dan mungkin akan merembet ke rumah produksi lainnya.
Meskipun menerima kontrak itu memberikan banyak keuntungan untuk karier Gara, namun perasaan Gara terasa berat menerima semua itu.
Tapi bagaimana lagi, Gara tidak memiliki pilihan lain selain menjalankan kontrak kerja itu dengan pihak JH entertainment.
Gara akan membicarakan masalah ini nanti dengan Brinia. Mungkin di akhir pekan saat dia quality time bersama sang kekasih. Gara tidak ingin membicarakan masalah ini via telfon.
"Mas Gara yakin mau terima itu?" Tanya Selena, adik Gara yang duduk di bangku SMA yang biasa menjadi tempat curhat Gara.
"Gak ada pilihan lain Sel."
"Tapi setelah iklan sinetron itu tayang, aku yakin gosip kedekatan mas Gara dengan Sabrina itu kian mencuat loh... Bagaimana nanti perasaan mba Brinia mas?"
"Sebelum proses shooting dimulai, mas mau bicara pada Brinia dulu Sel."
"Lalu bagaimana dengan rencana pernikahan mas Gara? aku denger dari Mama katanya mas pengen cepet cepet nikah sama mba Brinia."
"Entah lah Sel, sebenarnya Brinia juga belum setuju dengan rencana mas untuk segera menikahinya. Dia bilang belum siap. Mas bingung Sel." Kata Gara lirih.
"Apa mungkin ini cara Tuhan melarang gue nikah cepet-cepet sama Brinia, karena memang awal gue berubah pikiran buat nikah cepet sama Brinia gara-gara soal ranjang." Batin Gara.
"Mas belum ketemu mba Brinia?"
"Sejak pulang dari Jogja kemarin, mas belum ketemu dia, kita cuma saling kirim pesan aja. Mau gimana lagi, Mas sibuk pemotretan dan kepikiran soal ini, Brinia sibuk skripsi dan bimbingan karena Brinia ngejar ujian akhir semester ini. Sehingga dia bisa mengejar wisuda bulan September."
"Lalu kuliah mas Gara apa kabar?"
Nah kan, tambah lagi pikiran Gara. Kuliah....
Udah seminggu lebih Gara tidak menginjakkan kakinya di kampus~
__ADS_1
To be continued
Aduh mas Gara bingung nih... galau... bantuin mikir dong kak...