
"Wooi Brin, elu kenapa dah? dari tadi diem aja?" Tanya Nesya membuyarkan lamunan Brinia.
"Astaga Nes.. hobi banget ngagetin orang deh!" Brinia mengusap dadanya kemudian meminum minuman yang ada dihadapannya.
"Elu kenapa? dari tadi kita belanja terus ke salon elu gak fokus banget.. elu kek gak menikmati quality time sama gue."
"Nggak, siapa yang gak fokus.. fokus kok, dan gue menikmati." Elak Brinia.
"Iya fokus.. iye menikmati..., saking fokusnya sampe es cream elu udah mencair sebelum elu sentuh.. Bahkan gue yakin elu gak dengerin cerita gue dari tadi." Ujar Nesya dengan wajah jengkelnya membuat Brinia merasa bersalah.
"Maaf..." Cicit Brinia sambil menunduk.
"Nggak mau! gue gak mau maafin elu, elu yang ngajak gue jalan, elu cuekin gue terus!" Protes Nesya.
"Nes, maaf banget.. gue gak bermaksud seperti itu.. maafin gue ya... please.." Pinta Brinia dengan tatapan memohon.
Nesya menghela nafasnya kasar. Dirinya yang cewek aja gak bisa menolak permintaan Brinia jika Brinia sudah menatapnya seperti itu, apalagi para cowok-cowok ditambah wajah cantik dan manis Brinia.
"Gue mau maafin elu asal elu mau cerita sama gue, apa yang membuat elu dari tadi bengong? Ada masalah apa sih? Kalau ada masalah itu cerita, jangan dipendem sendiri."
Butuh beberapa detik untuk Brinia berpikir dan Nesya masih setia menunggu sahabatnya membuka mulut untuk berbagi cerita.
"Gak tau kenapa ya Nes, tapi perasaan gue dari tadi gak enak Nes, gue kepikiran Gara terus." Jawab Brinia jujur.
"Kepikiran gimana maksud elu?" Nesya tidak paham dengan maksud Brinia.
"Nggak tahu, perasaan gue gak enak aja. Gak jelas banget ya..."
"Ada masalah sama Gara?" Tanya Nesya.
"Ngga ada sih, cuma kemarin gue itu mimpi... gue mimpi lagi jalan sama Gara sambil bergandengan tangan di pantai, tapi tiba-tiba Gara melepaskan gandengannya terus berlari ninggalin gue Nes... gue jadi kepikiran dan perasaan gue gak enak."
"Astaga Brinia cantik... itu tuh cuma bunga tidur kenapa elu harus pikirin seserius itu sih."
"Tapi biasanya mimpi kan bertanda Nesya.."
"Brinia, mimpi itu memang bisa jadi bertanda... tapi kita tidak boleh memercayainya."
"Bagaimana kalau Gara suatu hari ninggalin gue Nes seperti di mimpi itu?"
"Brinia dengerin gue... katanya nih kalau orang mau nikah, ada aja ujiannya... bahkan setan pada menghasut calon pengantin agar mereka merasa was was hingga membatalkan pernikahannya...
Jadi, jangan anggap serius mimpi elu aja.. bisa juga kan dalam mimpi itu Gara melepaskan genggaman tangannya kemudian lari ninggalin elu buat ambilin elu sendal, agar kaki elu gak sakit kena terumbu karang." Ucap Nesya membuat Brinia terdiam.
__ADS_1
"Brinia, Gara itu cinta mati sama elu, nggak mungkin dia ninggalin elu... gue aja bisa merasakan cinta Segara ke elu, kenapa elu malah ragu."
"Iya juga ya.." ucap Brinia sambil menghela nafasnya.
"Udah sekarang elu kirim pesan ke Gara deh..." Perintah Nesya.
"Pesan gue dari tadi cuma centang gue Nes.."
"Elu tenang aja deh pokoknya ya Brinia... Segara hanya untuk elu dan selalu ada buat elu, udah sekarang kita makan aja yuk, jangan berpikir macam-macam!"
...***...
Dokter keluarga yang Yurdha panggil sudah menunggu di living room apartemen Yurdha karena memang dokter itu diberikan akses oleh Yurdha untuk bisa langsung masuk apartemen.
Melihat kedatangan Yurdha dan para sahabatnya dengan membopong Gara yang sudah sadarkan diri dan terus merancau tidak jelas karena hawa panas dalam tubuhnya membuat dokter paruh baya itu bertindak cepat dengan menyuntikkan obat pada Gara. Obat yang dapat sedikit membantu Gara meredakan perangsang itu.
"Meksipun sudah saya suntik, tapi obat itu hanya bisa membantu meredakan efek perangsang itu saja." Kata Sang dokter yang memang sudah Yurdha infokan sebelumnya tentang kondisi Gara.
"Lalu bagaimana dok?" Tanya Juna.
"Kalian bawa saja dia ke kamar mandi dan rendam air dingin... itu bisa sangat membantu.." Jawab sang dokter.
"Ayo, kita seret ini manusia menyusahkan ke kamar mandi." Ajak Denim.
Sesuai dengan perintah dokter, semua baju Gara di lepas dan hanya menyisakan boxer saja. Kemudian Gara di rendam di bathtub dengan air dingin yang terus mengalir membasahi tubuh kekar itu.
"Gila.. ngeri juga ya obat itu kalau gak nemu lubang kenikmatan." celoteh Juna.
"Bener-bener ngeri efeknya padahal Sabrina tadi juga udah nyuruh Axel menukar obat yang sudah disiapkan Andreas dengan dosis yang lebih rendah. Gak kebayang setinggi apa dosis yang sudah disiapkan Andreas itu." Ucap Denim.
"Sudah, kita tunggu di luar aja. Kita kunciin Gara disini aja, jangan sampai dia keluar sebelum efek obat itu hilang. Ngeri gue kalau kita yang dijadiin korban pelampiasan si Gara." Kata Juna dengan bergidik ngeri karena saat ini Gara sangat sensitif dengan sentuhan tidak peduli lelaki atau perempuan.
"Ngaco lu!" Ucap Yurdha
Yurdha, Denim dan Juna pun keluar dari kamar mandi. Mereka bertiga kini duduk di sofa sambil menghela nafas. Rasanya sungguh capek sedari tadi seperti main film action dengan misi penyelamatan.
"Jun, ambil minum di kulkas gih." Perintah Yurdha.
"Elu aja ambil sendiri sekalian ambilin gue. ini kan apartemen elu." Jawab Juna membuat Yurdha mendengus kesal.
"Iya ini apartemen gue yang beli, tapi siapa yang sering make? dibuat mesum sama wanita panggilan lagi." Gerutu Yurdha.
"Ya.. ya.. ya..." Juna memilih untuk mengalah dengan beranjak dari duduknya untuk mengambil minuman dingin di dalam kulkas.
__ADS_1
"Den, gimana Sabrina?" Tanya Yurdha pada Denim yang sedari tadi diam saja karena fokus ke layar ponselnya.
"Belum ada balasan baik dari Sabrina maupun dari Axel Yur." Jawab Denim.
...***...
Setelah kepergian Denim dengan meninggalkan tamparan di wajah cantik Sabrina, gadis itu pun terduduk di sofa sambil menangis. Entah mengapa melihat sorot mata Denim yang penuh kecewa padanya membuat hati Sabrina terasa sesak.
Bahkan sesak dadanya itu melebihi sakit yang mendera pipinya karena tamparan Denim yang cukup keras. Sabrina sadar jika Denim tadi menamparnya dengan penuh emosi dan Sabrina tau alasan Denim seperti itu.
"Maafkan aku Den..." Gumam Sabrina sambil mengusap air matanya yang menetes.
Ceklek..
"Sab, elu gak apa-apa kan?" Tanya Axel yang masuk dan menghampiri Sabrina.
"gue gak apa-apa Xel.." Jawab Sabrina sembari tersenyum yang dipaksakan.
"Astaga, pipi elu bengkak Sab, si Denim keterlaluan banget nampar elu sampai begini.. kita pergi dari sini dan obati luka elu.."
"Tapi bagaimana dengan Pak Johan Xel? gue harus nunggu dia dulu.. gue gak mau dia nanti berpikir gue yang udah merencanakan semua ini? Bisa-bisa dia hancurin keluarga gue Xel. " Ucap Sabrina.
Axel tahu memang Sabrina yang menggagalkan rencana Johan tapi sesuai skenario, tidak boleh ada yang tahu soal ini selain mereka-mereka saja.
"Elu tenang aja Sab, semuanya akan aman... gue udah janji sama Denim buat jaga elu dan antar elu ke apartemennya."
"Ke apartemennya?"
"Hmm.. dia terlihat sangat khawatir sama elu tadi, dia kirimin gue alamat sebuah apartemen. Dan meminta tolong sama gue anter elu kesana."
"Permisi.." Ucap dua orang berbaju serba hitam memasuki ruangan itu membuat obrolan Sabrina dan Axel terhenti.
"Siapa kalian?" Tanya Axel menatap curiga.
"Kami orang suruhannya tuan Yurdha. Kami diminta untuk mengambil semua kamera yang ada disini." Ucap lelaki itu dengan suara pelan.
"Cepat ambil semua jangan sampai ada yang tersisa. Dan musnahkan itu semua sebelum Johan atau Andreas datang dan mengetahui semuanya ... " Kata Sabrina.
"Kamu tenang saja Sabrina, orang itu gak akan datang dalam waktu cepat." Kata Axel sambil menahan senyum.
"Kenapa?"
"Gue tadi udah kasih obat perangsang yang Johan siapkan di minuman Johan dan Andreas... jadi mereka pasti sedang mabuk kepayang di atas ranjang dengan wanita-wanita panggilan mereka." Jawab Axel membuat mulut Sabrina menganga.
__ADS_1
to be continued