
Meskipun hanya sedikit yang hadir pada acara akad nikah Brinia dan Gara, namun suasana bahagia benar-benar terasa disana. Keluarga dari ayah Henry dan bunda Sekar pun sangat antusias menikmati setiap prosesi yang di lakukan sepasang pengantin itu hingga jamuan makan bersama dengan berbagai macam hidangan.
Ucapan selamat terus terdengar ditelinga Brinia dan Gara. Terutama kehebohan pada sahabatnya karena pernikahan yang dimajukan. Terutama Nesya, gadis itu sangat bahagia setelah Gara dan Brinia sah menjadi suami istri. Maklum, Nesya adalah orang yang berperan penting hingga kedua insan itu bisa bersatu.
Tidak ada yang tahu kecuali keluarga inti jika ijab qobul Gara dilakukan sampai dua kali, yang pertama dilakukan disebuah kamar yang hanya di hadiri keluarga inti saja. Sedangkan yang kedua dilakukan di depan para saudara dan sahabat mereka juga dilihat oleh Brinia melalui layar iPad. Semuanya berusaha menutup rapat layar belakang Brinia.
Gara sangat bersyukur, sekarang Brinia menjadi miliknya seutuhnya dan segala tanggungjawab mengenai Brinia sudah ia pikul di punggungnya, bukan lagi ayah Henry. Dan Gara berjanji pada dirinya sendiri tidak akan membiarkan seorang pun yang menyakiti hati istri tercintanya itu. Istri yang saat ini tengah ia genggam tangannya untuk menyapa para sanak saudara juga sahabat yang hadir.
"Gak enak banget ya punya suami artis. harus disembunyikan seperti ini. Kalau aku jadi kak Bee mah ogah, berasa jadi istri simpanan." Komentar Selia mengusik telinga Gara.
"Jangan banyak komentar kamu bocil!" Sambung Gara dengan kesal karena takut Brinia terprovokasi ucapan adiknya.
"Yee.. jangan ngegas napa, aku kan ngomong fakta... aku pacaran di sembunyikan aja ogah, apalagi menikah." Jawab Selia sambil memasukkan cookies ke dalam mulutnya membuat Brinia terkekeh. Brinia sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapan adik iparnya.
"Emang ada yang mau pacaran sama kamu gendut? kerjaan makan mulu." Ejek Gara membuat Selia langsung merengek memanggil mamanya setiap Gara mengejeknya gendut.
"Ye.. dibilang gendut langsung merengek cari emaknya... padahal aku ngomongnya fakta loh fakta... karena kamu emang kebanyakan makan jadi kelebihan berat badan." Gara pun menjulurkan lidah ke adiknya membuat sang adik semakin kesal.
"Mas.. udah dong... jangan ledekin adik kamu terus.. kasian. Lagian aku juga gak masalah status kita disembunyikan dulu, karena memang itulah resikonya punya suami artis tampan seperti kamu mas." Ucap Brinia dengan lembut sambil mengusap pundak suaminya.
mas?
Gara mematung sambil mengerjap-ngerjapkan matanya tidak peduli Selia yang menjauh dari tempatnya untuk mengadu ke sang mama.
Apa barusan? Brinia memanggilnya 'mas'? kenapa terdengar sangat indah sekali? astaga... hati Gara rasanya melayang-layang di udara bersama ribuan kupu-kupu.
"Mas.. kenapa kamu bengong?" Tanya Brinia lagi.
"Kamu tadi panggil aku apa Bee? Mas? kamu panggil aku mas?" Tanya Gara menatap Brinia penuh tanya dan binar mata penuh kebahagiaan.
"Iya. Memang kenapa?" Brinia tanya balik pada Gara dengan wajah polosnya.
"Kamu panggil aku 'mas'?"
"Ha? emang salah aku panggil suami aku 'mas'? jelek ya?" Tanya Brinia sambil mengigit bibir bawahnya nampak berpikir dan ragu.
"ehm...kamu gak suka ya panggilan itu? aku akan cari panggilan yang cocok buat kamu deh.. karena gak mungkin aku panggil kamu dengan nama kan? kamu kan udah jadi suami aku." Ucap Brinia lirih sambil menunduk karena Brinia bingung sekaligus salting dengan tatapan Gara.
Tanpa menjawab pertanyaan Brinia, Gara langsung menggendong tubuh Brinia ala bridal style hingga membuat Brinia memekik karena kaget.
"Astaga! Gara.. kamu apa-apaan sih!" Omel Brinia spontan karena mereka menjadi pusat perhatian para saudara juga sahabat.
__ADS_1
"Panggil aku seperti tadi Bee.. aku suka." Bisik Gara tepat di telinga Brinia membuat Brinia meremang.
"Turunin..." Pinta Brinia minta di turunkan dari gendongan sang suami. Wajah Brinia merah padam mendapatkan tatapan ciee ciee dari para saudaranya.
"Please.. turunin aku Segara!" Perintah Brinia lirih tapi penuh penekanan.
Namun sepertinya Gara tidak ada niat sedikit pun menurunkan sang istri dari gendongannya karena Gara justru melangkahkan kakinya menjauh dari ruang acara.
"Segara.. kita mau kemana!" Brinia semakin malu saja karena ulang sang suami.
"Gara.. kalian mau kemana? acara belum selesai?" Tanya Mama Amelia heboh karena memang acara belum ditutup dan seluruh saudara yang datang masih menikmati hidangannya.
Mendengar pernyataan Mama Amelia, Brinia bernafas lega karena Mama Amelia pasti akan menyelamatkan dirinya dari rasa malu ini.
"Aku mau buatin mama cucu yang lucu-lucu!" Jawab Gara dengan santai mendapatkan sorakan "ciee ciee" dari seluruh keluarga juga sahabat.
"Semangat Gara..." Jawab Mama Amelia semakin membuat heboh semuanya. Brinia langsung lemes seketika mendengar jawaban Mama Amelia. Sudah tidak ada lagi yang bisa diharapkan.
"Gaspolll Gara!"
"Semangat buat Brinia hamil Gara."
"Kak Gara, aku pesen ponakan cewek!"
"Buat yang banyak Gara!"
"Gempur terus sampai besok pagi!"
"Astaga! anak itu..." Papa Andra menggelengkan kepalanya dengan wajah datar meskipun hatinya tersenyum melihat tingkah anaknya.
"Fix Gara anak kamu... menurun banget sifatnya mas sama kamu.. gak tahu malu pas pengen unboxing." Bisik Mama Amelia pada suaminya, Papa Andra.
"Pelan-pelan mainnya Segara! Masih segel utuh!" Teriak Nesya membuat langkah kaki Gara berhenti kemudian menengok ke belakang sejenak.
"Aku tampung semua permintaan kalian.. selamat menikmati hidangan! aku juga mau menikmati hidangan spesial aku!" Ucap Gara kemudian berlalu begitu saja dengan Brinia yang masih setia dalam gendongannya. Tentu dengan wajah yang sembunyi di balik dada bidang sang suami.
Pengantin kurang ajar memang! Untung hanya saudara dan sahabat dekat saja yang hadir. Masih siang bolong bisa-bisanya mau unboxing. Duh Segara....
"Kalian nikmati makanannya ya.. gue mau cabut dulu." Ujar Yurdha pada ketiga sahabatnya setelah Gara menghilang di balik pintu.
"Elu mau kemana Yur?" Tanya Nesya.
__ADS_1
"Bukan urusan elu!" Jawab Yurdha ketus membuat Nesya langsung sedih. Namun Yurdha tidak peduli hal itu karena saat ini hatinya sangat hancur dan sedih. Dia butuh pelampiasan dan ruang untuk sendiri.
"Hati-hati." Ucap Juna sambil menepuk pundak sahabtnya. Juna memang paham akan apa yang Yurdha rasakan saat ini.
"Nanti shareloc ya.. gue akan menyusul." Sahut Denim sambil tersenyum.
"Oke." Jawab Yurdha singkat kemudian berlalu pergi.
"Mau kemana sih dia? ada masalah apa sebenarnya?" Nesya mulai kepo pada Denim dan Juna.
"Biasa, masalah sama nyokap tirinya." Jawab Denim asal dan langsung dipercayai oleh Nesya.
Aneh memang, Nesya katanya cinta banget sama Yurdha tapi tidak peka dengan perasaan Yurdha pada Brinia.
Entahlah, apa mungkin Yurdha terlalu pandai menyembunyikan perasaannya lewat wajah datarnya?
...**...
"Kenapa ke rumah kamu Ga?" Tanya Brinia dalam gendongan Gara saat mereka memasuki taman samping rumah Gara.
"Panggil aku seperti tadi sayang.. aku suka." Perintah Gara.
"Hmmm."
"Kok hemmm doang sih?" Brinia menghela nafasnya.
"Kenapa kita jadi ke rumah kamu mas? acaranya kan belum selesai?" tanya Brinia yang memang sudah tidak ada niat buat turun dari gendongan Gara, karena sudah tidak ada orang yang melihatnya.
"Maka dari itu, di rumah kamu ramai.. aku cuma mau berdua sama kamu." Jawab Gara dengan sorot mata mulai berbeda.
"Ha? maksudnya?"
"Aku mau siang pertama sama kamu sebagai suami istri." Jawab Gara dengan berbisik membuat Brinia susah payah menelan salivanya karena Brinia paham maksud Segara.
"Kamu tenang saja sayang... kamar aku udah aku kasih alat peredam suara kemarin." Bisik Gara membuat Brinia semakin gugup.
to be continued
update nya selow ya...
seperti pembacanya yang selow..
__ADS_1
semoga kalian sabar karena author sibuk di dunia nyata...dan author nulis disini untuk hobi aja. Kalian kasih hadiah, vote , like komentar.. author makasih banyak... enggak ? ya gak apa-apa,🙏