
Episode 71 harusnya update hari Senin kemarin ya, tapi proses reviewnya cukup lama gengs.. mohon di maafkan ya 🙏
Happy Reading siap-siap banyak kejutan, siapkan mental juga wkwk ❤️
"Nggak mas, Nita mau kamu.. dia mau anaknya itu mendapatkan status yang jelas sebagai anak kamu.. aku rela mas.. aku rela kita bercerai." Ucap bunda Sekar lirih.
"Aku gak akan pernah sudi kembali pada Nita, meskipun kamu memaksa aku untuk kita bercerai!" Tegas Ayah Henry dengan wajah yang sangat kacau.
"Aku mohon mas, turuti saja mau Nita mas.. kita gak punya pilihan lain... aku gak mau Nita sampai mewujudkan ancamannya itu, aku gak mau Brinia sampai tahu semua ini..." Ujar Sekar yang nampak frustasi.
"Tahu soal apa Bun? Ayah? Kenapa kalian seperti ini?" Tanya Brinia tiba-tiba dengan wajah sedih mendengar rencana perceraian kedua orang tuanya.
Wajah bunda Sekar dan Ayah Henry seketika tegang mendengar suara Brinia. Apalagi Brinia yang sudah berjalan mendekat ke arah kedua orang tuanya tersebut.
"Aku gak boleh tahu soal apa Bunda?" Tanya Brinia lagi membuat Ayah Henry dan Bunda Sekar saling pandang dan sudah payah menelan salivanya.
"Brinia...."
"Ada apa ini? kenapa bunda dan ayah tiba-tiba membahas perceraian? apa yang nggak aku tahu? Ada masalah apa?Tolong jelaskan sama aku!" Ucap Brinia dengan air mata yang mengalir. Brinia tidak bisa membayangkan bagaimana jika sampai kedua orang tuanya bercerai.
Bukan hanya dirinya, Brian yang sudah tenang di surga pun pasti akan sedih dengan kenyataan itu. Sudah cukup masa kecilnya tanpa kasih sayang kedua orang tuanya. Brinia mau merasakan perhatian, kasih sayang dan kebersamaan dengan kedua orang tuanya meskipun dia sudah dewasa. Brinia mau kedua orang tuanya selalu bersama dan membantunya menjaga dan mendidik anak-anaknya dengan Segara kelak.
"Bunda.. Ayah... Kenapa kalian diam saja! Jawab! Aku gak mau kalian cerai." Pinta Brinia.
"Maafkan bunda Brinia... keputusan bunda sudah bulat, bunda akan menggugat cerai ayah kamu." Kata bunda Sekar dengan air mata yang kembali mengalir.
"Sekar, aku mohon jangan tinggalkan aku Sekar.... Aku janji, aku akan membereskan Nita." ayah Henry pun berlutut di depan istrinya.
"Nggak mas, keputusan ku sudah bulat.. ini demi kebaikan bersama, lagian anak kamu dan Nita memang memiliki hak untuk mendapatkan cinta dan kasih sayang kamu."
__ADS_1
"Sebenarnya ada masalah apa? Ayah.. bunda..Tante Nita mengancam bunda gimana? tolong jawab aku."
"Aku gak mau kalian bercerai!"
"AKU GAK MAU ADA PERCERAIAN!" teriak Brinia.
"Bunda gak butuh persetujuan kamu Brinia, besok bunda akan mengirim gugatan cerai ke pengadilan agama. Tadi bunda sudah menghubungi pengacara." Kata Bunda Sekar dengan tegas karena memang itulah yang Nita mau, Sekar dan Henry bercerai lalu Henry kembali kepadanya dan memberikan status yang jelas pada Mikha agar nantinya Mikha mendapatkan harta dari Henry.
Sekar sangat takut Brinia tahu semuanya. Sekar takut Brinia akan membenci dirinya karena dirinya lah yang membuat ibu kandung Brinia meninggal.
"Kenapa bunda? ada apa ini? Kenapa tiba-tiba begini? Tante Nita ngapain bunda?" Tanya Brinia menggoyangkan pundak bunda Sekar menuntut jawaban. Brinia tidak akan membiarkan kedua orang tuanya bercerai, tidak akan.
"Ayah, tolong jelaskan.. aku bukan anak kecil lagi ayah.." Brinia menatap penuh harap pada ayah Henry.
"Kalau bunda dan ayah hanya diam, baik. itu hak kalian... aku akan mencari tahu sendiri pada Tante Nita, aku akan menemui Tante Nita!" Ucap Brinia dengan frustasi karena cukup lama bertanya pada orang tuanya, tapi tidak mendapatkan jawaban apa-apa.
"Brinia, tolong jangan ikut campur urusan orang tua." Kata Ayah Henry dengan tegas dan nada bicara tinggi.
"Semua ini karena kamu! jika kamu tidak lahir di dunia ini, mungkin semua ini tidak akan terjadi." Ucap Ayah Henry yang merasa frustasi. Bagaimana pun Henry sangat mencintai Sekar, namun demi melindungi Brinia dari sakit hati dan kecewa, Sekar rela berpisah dengannya.
"MAS!" Bentak bunda Sekar.
Deg.
Brinia mematung semua karena dia? Apa salahnya?
"Seandainya kamu gak pernah lahir di dunia ini dari ..."
"Mas Henry Cukup!" Bentak bunda Sekar dengan penuh amarah.
__ADS_1
"Cukup atau aku tidak akan memaafkan kamu seumur hidupku mas!" Ancam bunda Sekar menatap tajam suaminya. Sedangkan Brinia masih mematung.
"Brinia, sayang... kamu jangan dengerin ucapan ayah kamu ya nak.. sudah... kamu ke kamar dan istirahat saja." Kata Bunda Sekar dengan lembut pada Brinia.
"Aku gak pernah minta jadi anak ayah.. aku gak pernah minta pula dilahirkan!" Kata Brinia yang langsung berlari pergi meninggalkan Ayah dan bundanya.
Bukan sekali dua kali Ayah Henry berkata seperti itu, tiap ayah Henry dan bunda Sekar bertengkar dan Brinia mencoba menengahi pasti ayah Henry berkata bahwa kehadirannya di dunia ini adalah kesalahan dan tidak pernah di harapkan. Tapi mengapa?
Apa salahnya?
"Brinia adalah anak kandung kamu mas! kamu bener-bener gila! Gak punya perasaan! yang kamu cari selama ini hanya kesenangan kamu semata, ego kamu semata tanpa memikirkan perasaan aku dan perasaan anak kamu sendiri. Aku sangat kecewa sama kamu mas! Dasar lelaki gak berprinsip!" Kata Bunda Sekar dengan penuh penekanan kemudian meninggalkan suaminya.
Sementara di kamar, Brinia langsung menangis sejadi-jadinya setelah mengunci pintu kamarnya.
Perasaan tidak diterima kembali lagi memenuhi rongga dadanya hingga membuat sesak.
Sebenarnya apa salahnya? Kenapa dia tidak pernah merasakan kebahagiaan keluarga yang utuh sejak kecil. Hanya sesekali bunda Sekar dan ayah Henry bersikap baik dan perhatian padanya.
Kebanyakan, mereka tidak peduli pada Brinia dan sibuk dengan urusan mereka sendiri. Dan apabila mereka emosi, maka Brinia-lah yang jadi sasaran makian dan umpatan baik dari bunda Sekar maupun Ayah Henry.
Lucu memang. Jika salah satu menyakiti hati Brinia, maka salah satu akan membela dan sok sok an menjadi orang tua yang melindungi anaknya. Padahal keduanya sama saja, selalu menyakiti hati Brinia.
Masih sangat jelas di ingatan Brinia saat pagi itu bunda Sekar menamparnya karena Gara tidur di kamarnya dan memberikan beberapa kiss Mark di area leher juga dada atasnya. Bunda Sekar menampar dan mengumpat dirinya lalu ayah Henry seolah membela dirinya. Apalagi di depan kedua orang tua Gara, pasti kedua orang tuanya akan perhatian padanya, dan jika menyangkut dengan Gara, kedua orang tuanya akan seperti malaikat.
"Mikha, antara kamu atau aku... tidak ada yang lebih bahagia dan beruntung diantara kita Mikha .. Kehidupan seperti inikah yang kamu inginkan Mikha?" Gumam Brinia menghapus air matanya mengingat Mikha pernah bilang ingin hidup seperti Brinia ditengah-tengah keluarga yang utuh.
Dan Brinia langsung menjelaskan kondisi keluarganya yang sesungguhnya. Keluarga yang hancur sejak dulu namun terlihat harmonis di mata umum hingga membuat banyak orang iri. Bahkan keluarga itulah yang membuat mental Brinia porak-poranda.
"Apa jangan jangan aku ini bukan anak kandung ayah dan bunda? Sikap mereka berbeda sekali dengan almarhum kak Brian dulu.." Gumam Brinia.
__ADS_1
to be continued..
Lanjut?