
Dalam diamnya, Brinia terus memikirkan apa yang sebenarnya disembunyikan oleh kedua orang tuanya hingga ia tidak boleh mengetahui tentang sebuah fakta yang digunakan Tante Nita untuk mengancam bunda Sekar.
Brinia tidak ingin kedua orang tuanya bercerai, oleh sebab itu dia harus mencari tahu sendiri tentang apa yang sebenarnya terjadi hingga tidak ada drama ancam mengancam lagi. Karena, Brinia sangat tahu betapa besar cinta bunda Sekar untuk ayah Henry tapi bunda Sekar justru berniat menggugat cerai ayah Henry.
Brinia kembali mengingat bagaimana sikap ayah Henry dan bunda Sekar padanya sejak kecil dulu, dari semua yang sudah terjadi Brinia pun berpikir bahwa dia bukanlah anak kandung ayah Henry dan Bunda Sekar karena mereka selalu abai akan dirinya.
Brinia harus mencari tahu semuanya dengan jelas sehingga menjawab segala rasa penasarannya itu.
Dan salah satu langkah awal yang Brinia ambil adalah mencari informasi dari Mama Amelia, calon mertuanya sekaligus tetangga samping rumahnya yang sudah kenal kedua orang tuanya saat mereka masih sama-sama belum menikah. Itulah alasan Brinia yang sesungguhnya kenapa dia ingin tidur dengan Mama Amelia.
Dan...
Brinia baru menyadari, terdapat banyak kejanggalan dalam cerita demi cerita yang ia dengar dari Mama Amelia tentang masa kecilnya dulu termasuk masa kehamilan bunda Sekar yang 'katanya' tengah mengandung dirinya.
Yang paling mencolok adalah bunda Sekar bilang dia melahirkan Brinia dengan normal. Namun Mama Amelia bilang Brinia lahir melalui operasi Caesar.
Brinia hanya diam, tidak menanggapi sedikitpun cerita mama Amelia tapi hal itu semakin menguatkan dugaan Brinia yang bukanlah anak kandung Henry dan Sekar. Dan semua orang berusaha menutupi fakta tersebut.
Hingga semalaman suntuk, Brinia tidak bisa tidur meskipun Mama Amelia sudah sangat lelap disampingnya sejak beberapa jam lalu.
Brinia sibuk dengan pikirannya sendiri dan mencoba menguatkan hatinya jika memang kenyataan buruk itu memang terjadi.
Namun baru membayangkannya saja, dada Brinia terasa sesak hingga tubuhnya menggigil dibarengi dengan air mata yang mengalir. Tubuh Brinia benar-benar menggigil seperti orang hipotermia.
"Brinia... kamu kenapa?" Tanya Mama Amelia yang terbangun karena tubuh Brinia yang bergetar tidak sengaja menyenggol lengannya.
"Dingin ma.." Jawab Brinia lirih dan semakin menggigil. Wajah Brinia juga nampak pucat.
"To.. tolong matikan AC nya ma." Pinta Brinia dengan suara yang sangat lirih.
__ADS_1
Mama Amelia terdiam sejenak mencoba mencerna apa yang terjadi karena wanita paruh baya itu baru saja terjaga dari tidurnya. Dan lagi pula, suhu ruangan tidak lah dingin, tapi kenapa Brinia bisa menggigil?
Hingga ingatan Mama Amelia kembali pada kenyataan beberapa tahun lalu dimana Brinia menderita Psikosomatis atau gangguan kecemasan dan membuat Brinia sampai sesak nafas juga kedinginan.
"Maa... dingin..." Panggil Brinia lirih. Mama Amelia pun langsung mengambil remot AC yang ada di nakas kemudian mematikan pendingin ruangan tersebut.
"Mama panggilin Gara ya?" Mama Amelia nampak bingung menghadapi situasi ini.
"Ja.. jangan ma..."
"Mama peluk kamu ya Brin..." Ucap Mama Amelia yang kembali berbaring dan memeluk Brinia dengan erat setelah mendapatkan persetujuan dari Brinia berupa anggukan.
"Tenang sayang... tenang... jangan banyak pikiran ya kamu... kamu tenang ya... biar dinginnya hilang..." Bisik mama Amelia dengan lembut sembari mengusap punggung Brinia.
Mama Amelia seperti tahu jika belakangan ini Brinia banyak sekali beban pikirannya apalagi setelah kejadian di rumahnya beberapa jam lalu. Entahlah, mama Amelia sangat iba dengan posisi Brinia saat ini.
"Sayang, dengar mama... kamu jangan memikirkan apapun yang tidak perlu kamu tahu...kamu cukup memikirkan kebahagiaan kamu ya... kamu harus tenang, mama sedih lihat kamu seperti ini. Apapun yang terjadi, kamu gak sendiri.. ada mama.. ada papa Andra juga Segara yang akan selalu ada memeluk kamu." Ujar Mama Amelia yang Brinia rasa seperti mama kandungnya sendiri karena kasih sayang dan ketulusan wanita itu.
"Makasih maa." ucap Brinia lirih. Namun pikiran Brinia mulai bertanya-tanya kenapa mama Amelia tidak menyebut bunda Sekar dan ayah Henry sebagai orang yang selalu ada untuk dirinya?
"Kamu calon menantu kesayangan Mama, Brinia. Hanya kamu yang Mama mau jadi menantu perempuan di keluarga ini. Mama, Papa, Selena dan Selin sangat menyayangi kamu... Gara sangat cinta sama kamu... jadi kamu tenang dan dengerin kata-kata mama ya..." Ujar Mama Amelia yang terus memberikan kata-kata positif pada Brinia untuk menenangkan gadis itu agar tidak menggigil lagi.
"Kamu belum tahu fakta yang sesungguhnya tentang latar belakang kamu saja kamu udah seperti ini Brinia..." Batin Mama Amelia iba.
Setelah beberapa menit berlalu dan Brinia mengikuti saran Mama Amelia agar pikirannya tenang, berangsur-angsur tubuh Brinia tidak kedinginan seperti tadi dan Brinia langsung terlelap di pelukan Mama Amelia.
"Gak ada anak yang ingin lahir dari hasil perselingkuhan... gak ada anak yang ingin tumbuh tanpa didampingi dan kasih sayang ibu kandungnya.. gak ada... maafkan mama yang belum bisa jujur sama kamu Brinia... nanti, nanti Gara akan bicarakan semuanya sama kamu setelah kamu resmi jadi menantu mama." Batin Mama Amelia mengusap pipi Brinia yang tadi basah karena air mata itu dengan lembut.
...*...
__ADS_1
Sementara di kamar yang lainnya,
Papa Andra juga tidak bisa tidur setelah mendengar nama sahabat lamanya di sebutkan oleh Segara, Putra satu-satunya itu.
Papa Andra langsung ingat pada ancaman Johan puluhan tahun lalu atas kesalahan yang ia lakukan pada adik kandung Johan.
Iya, papa Andra akui, yang dia lakukan saat mabuk memang keterlaluan, dan Papa Andra siap dihukum atas kasus pelecehan asal dirinya tidak diminta menikahi adik Johan. Dan Johan tidak terima dengan semua itu karena Johan ingin Andra menikahi adiknya.
"Maafkan aku Jo.. maafkan aku yang memang tidak bisa bertanggungjawab pada adik kamu karena seluruh hati aku sudah dimiliki oleh Amelia dan pernikahan aku akan dilaksanakan setelah aku lulus kuliah dan kembali ke Indonesia. Aku gak mau mengecewakan Amelia juga kedua keluarga kami." Gumam Papa Andra mengingat dulu papanya memiliki penyakit jantung yang cukup parah juga dan sangat berharap bisa melihat pernikahan Andra dengan Amelia.
Bagaimana jika Johan benar-benar membuktikan ancaman itu?
Papa Andra mulai resah dengan segala hal yang berputar diotaknya.
Apalagi, setelah mengetahui fakta bahwa JH entertainment adalah milik Johan dan Andreas hanyalah orang kepercayaan Johan. Bagaimana jika dengan itu Johan melakukan hal yang tidak-tidak pada anaknya? Apa karena itu kontrak Gara dengan JH entertainment penuh dengan kejanggalan?
Kepala Papa Andra tiba-tiba berdenyut. Meksipun Gara bercerita bahwa sikap Johan padanya cukup baik dan tidak menceritakan tentang usaha Johan menjebaknya, namun Papa Andra tidak percaya begitu saja.
Pernah menjadi teman dekat Johan, papa Andra sudah banyak tahu bagaimana sifat lelaki itu...
Dan alasan Gara tidak menceritakan soal penjebakan itu pada Papa Andra saat ini, itu karena Gara enggan menambah masalah untuk saat ini. Karena jelas Papa Andra tidak terima dan akan berbuntut panjang. Gara tidak ingin Brinia tahu soal penjebakan itu dari orang lain.
Lagi pula, Gara ingin fokus pada Brinia lebih dulu.. kekasih hatinya itu butuh banyak dukungan saat ini.
to be continued
Selow respon ya gaes...
akhir bulan kudu lembur gawe Mulu ngerjain laporan 😅
__ADS_1
semoga para readers sabar yaa 😘