Kekasih Rahasia Aktor Tampan

Kekasih Rahasia Aktor Tampan
Tanda Tangan


__ADS_3

"Gara! bagaimana lamaran kamu untuk Brinia?" Tanya Mama Amelia dengan heboh menyambut kedatangan putra satu-satunya.


Mama Amelia pun tidak segan langsung berdiri dari sofa panjangnya yang ia gunakan untuk menonton acara televisi dengan sang suami.


Gara tersenyum, raut bahagia sudah bisa menjawab pertanyaan Mama Amelia bahwa semuanya berjalan lancar. Mama Amelia pun langsung melebarkan kedua tangannya sebagai kode minta dipeluk oleh Gara.


"Ah mama bentar lagi punya mantu. Mama bahagia Gara, apalagi menantu mama itu Brinia..." Kata Mama Amelia yang begitu antusias.


Sedangkan papa Andra hanya tersenyum tipis meskipun kebahagiaannya tidak kalah besar dengan sang istri.


"Ma.. Pa... aku ingin kalian melamar kan Brinia untuk aku secara resmi. Aku ingin segera menikahi Brinia Pa.. ma.." Kata Gara dengan serius setelah melepaskan pelukan namanya kemudian duduk di sofa singel yang ada di samping sofa panjang.


"Segera menikah? gak salah?" Tanya Papa Andra menatap putranya dengan penuh selidik.


"Iya pa.. aku mohon lamar Brinia untuk aku pa.. kalau bisa besok juga gak apa-apa."


"Gara, kamu sama Brinia di Jogja gak aneh-aneh kan?" Tanya Mama Amelia tiba-tiba.


"Aneh-aneh gimana ma?" Tanya Gara dengan wajah bingung. Otak Gara sepertinya sedang tidak berfungsi dengan baik sehingga sedikit lemot.


"Kamu sama Brinia tidak melewati batas kan? Kamu masih menjaga kehormatan Brinia kan?" Tanya Mama Amelia langsung to the poin.


"Astaga mama... nggak lah ma.. aku sama Brinia hanya akan melakukannya setelah resmi menikah ma."


"Aku hanya nyicil dikit ma.. nyicil dikit banget ko." Batin Gara.


"Yakin?"


"Astaga mama... please jangan berpikiran buruk sama anak sendiri. Kalau mama gak percaya aku, aku panggil in Brinia deh dan tanya langsung ke dia."


"Ngaco kamu! Mama tanya langsung ke Brinia sama aja mama menuduh Brinia buruk.."


"Mama gak mau menuduh Brinia melakukan hal buruk, namun mama menuduh anak mama sendiri?" Tanya Gara tidak habis pikir dengan sang mama.


"Kalau Brinia sudah pasti akan menjaga kehormatannya. Kecuali kamu yang maksa dia Gara."


"Astaga maamaaa.." Gara merasa frustasi sendiri jika berdebat dengan sang mama.


"Sudah sudah." Suara papa Andra menghentikan perdebatan ibu dan anak itu.


"Kamu yakin mau menikah muda dengan Brinia?" Tanya Papa Andra menatap putranya.


"Yakin Pa."


"Papa harap keputusan kamu mau menikah muda bukan perkara urusan ranjang Gara." Kata Papa Andra membuat hati Gara tersenyum getir.


"Karena ketika kamu selesai mengucapkan ijab qobul, seluruh hal yang menyangkut Brinia berada di pundak kamu Gara, Brinia menjadi tanggung jawab kamu sepenuhnya. Termasuk kebahagiaan Brinia. Ketika kamu menikahi Brinia, kamu harus memastikan Brinia bahagia. Apa kamu bisa?"


"Aku akan berusaha sebaik yang aku bisa Pa."


"Yakin?" Gara mengangguk.

__ADS_1


"Tapi sayangnya papa belum yakin sama kamu Segara." Kata Papa Andra dengan raut wajah datar membuat Gara langsung tertegun.


"Kenapa papa belum yakin? aku cinta sama Brinia pa, papa pasti tahu kan seberapa besar perasaan aku buat Brinia." Protes Gara.


Ya, Gara akui.. hal yang membuat dirinya berubah pikiran dalam sekejap adalah kejadian di dalam kamar kemarin malam. Tapi bukan berarti niat Gara menikahi Brinia hanya soal itu, melainkan Gara benar-benar mencintai Brinia. Apalagi saat di restoran tadi, Brinia banyak membicarakan teman-teman kuliahnya yang berjenis kelamin laki-laki. Dan Gara tahu, beberapa laki-laki itu selalu mengejar Brinia. Untung Brinia cuek.


"Ya... papa tahu kamu sangat mencintai Brinia, Papa dan Mama juga sangat setuju kamu memilih Brinia sebagai pasangan kamu. Cinta memang penting dalam rumah tangga Gara, tapi cinta saja tidak cukup untuk membuat rumah tangga kamu bertahan hingga nanti kalian menua bersama. Papa belum yakin kamu bisa membahagiakan Brinia." Ucap Papa Andra dengan tenang.


"Maksud Papa apa? Please jangan muter-muter dong Pa!"


"Papa akan melamar Brinia untuk kamu setelah kamu meninggalkan dunia hiburan itu." Putus Papa Andra yang sangat tidak suka dengan cara Gara yang menyembunyikan hubungan asmaranya bersama Brinia dari publik demi kariernya di dunia hiburan.


"Papa kok gitu?" Tanya mama Amelia yang tidak setuju dengan keputusan suaminya sebab mama Amelia sangat tahu bagaimana perjuangan Gara untuk menjadi artis.


"Gak bisa gitu dong pa!" ucap Gara dengan nafas yang naik turun tidak terima namun berusaha mengontrol emosinya.


"Kenapa gak bisa? Papa bisa melakukan apapun jika papa mau Gara. Termasuk menghancurkan karier kamu di dunia hiburan. Ingat itu!" Ucapan Papa Andra membuat tangan Gara mengepal sempurna.


Gara tahu papa Andra tidak suka dengan profesinya saat ini, tapi bukan begini caranya kan? Mau melamar kan Brinia salah meninggalkan dunia hiburan. Gara tidak bisa memilih salah satu dari itu.


Dan mengapa sampai detik ini Papa Andra membiarkan Gara terjun di dunia hiburan, itu karena permintaan Mama Amelia juga perjanjian dengan Gara sebelumnya. Yang penting saat Gara berusia maksimal 27 tahun, Gara mau terjun di dunia bisnis.


"Apa maksud papa?"


"Apa maksud papa? harusnya papa yang tanya sama kamu Segara! Apa maksud kamu pulang tiba-tiba minta di lamaran anak gadis orang sedangkan kamu menandatangani kontrak sinetron dan film yang juga melarang kamu untuk berhubungan dengan lawan jenis kecuali lawan main kamu itu!" Ucap Papa Andra dengan suara yang meninggi.


Gara terdiam. Menandatangani kontrak sinetron dan film? Gara tidak pernah merasa menandatangani kontrak itu. Bahkan kontrak iklan aja banyak yang belum Gara tanda tangani.


"Tidak pernah?" Papa Andra menatap sinis putranya kemudian mengambil ponsel pribadinya yang berada di atas meja.


"Baca! dan jelaskan maksud semua ini!" Perintah Papa Andra setelah membuka sebuah pesan di ponselnya kemudian menunjukkan pada Gara.


"Ada apa sih Pa?" Tanya Mama Amelia kepo.


Tanpa berbicara apapun, Gara menerima ponsel sang Papa dan membaca pesan yang dikirim asisten pribadi papanya itu.


Sebuah foto hasil jepretan kamera yang menunjukkan beberapa lembaran kertas dimana kontrak kerja Gara tertulis.


Terkejut? jelas pasti. Karena Gara tidak pernah merasa tanda tangan kontrak tersebut. Apalagi sinetron yang akan tampil di salah satu stasiun televisi itu cukup banyak episodenya. Sedangkan film? Ya Melly pernah membahas tawaran film layar lebar itu, namun Gara meminta Melly menyiapkan semua berkasnya tentang peran dan adegan apa yang harus Gara jalani di film tersebut. Gara akan membaca dan mempelajarinya setelah pulang dari Jogja.


Tapi kenapa sudah tertanda tangan?


Bagaiman bisa?


Gara masih tidak percaya. Kekasih Brinia itu pun mencoba memperbesar foto kontrak kerjanya itu dengan seksama dan meneliti tanda tangan di atas materai 10.000.


Ya benar. Ini tanda tangan Gara sendiri. Gara sangat yakin itu tanda tangannya karena Gara memiliki bentuk tanda tangan dengan coretan yang cukup rumit sehingga susah untuk di tiru orang.


Lagi pula, Gara tahu setiap coretan itu dapat menunjukkan identitas diri masing-masing orang. Jadi benar, dirinya lah yang menandatangani kontrak itu.


Melly!

__ADS_1


Satu nama yang ada di benak Gara saat ini. Siapa lagi kalau bukan managernya.


"Kenapa hanya diam Ga?" Tanya Papa Andra dengan suara dingin dan tatapan tajam.


"Pa... aku gak merasa tanda tangan ini pa."


"Bagaimana bisa terjadi?" Mama Amelia ikut bingung.


"Tapi itu tanda tangan kamu kan?" Tanya Papa Andra yang memang sudah mengecek sebelumnya tentang kebenaran hal itu. Papa Andra tidak peduli bagaimana Gara bisa tanda tangan, yang jelas itu memang benar tanda tangan Andra.


"I..iya pa.. tapi aku..."


"Kontrak kamu satu tahun lebih dengan pinalti yang cukup besar jika kamu membatalkannya secara sepihak." Kata Papa Andra. Iya Gara tahu, barusan Gara membacanya.


Gara masih diam membisu, sebab Gara sangat bingung harus berbuat apa saat ini.


"Papa tidak ingin kamu menikahi Brinia jika status Brinia lagi-lagi harus disembunyikan Ga, sudah cukup pengorbanan Brinia untuk mendukung karier kamu. Sekarang, giliran kamu yang berkorban."


"Pa... aku..."


"Benar kata Papa kamu Ga, bagaimana pun Brinia adalah wanita, sama seperti mama. Saat kalian masih jadi sepasang kekasih seperti ini, mungkin Brinia tidak masalah kamu menyembunyikan status kamu. Tapi kalau menikah?" Sambung Mama Amelia setelah membaca baris demi baris foto yang ada di ponsel suaminya setelah mengambil dari tangan Gara.


Gara bukan hanya diminta untuk tidak berhubungan dengan lawan jenis. Tapi juga diminta untuk selalu menunjukkan kemesraan dengan Sabrina di luar lokasi shooting karena lawan main Gara adalah Sabrina lagi.


"Meskipun Brinia terlihat tidak masalah dengan berita kedekatan kamu sama lawan main kamu itu, Papa yakin... Brinia sangat cemburu pada kamu. Papa hanya ingin kamu menikah sama Brinia ketika kalian bisa saling melengkapi dan membahagiakan." Jelas Papa Andra yang memang sangat peka pada perasaan wanita di sekitarnya. Mama Amelia mengangguk setuju.


"Aku bisa membahagiakan Brinia pa." Ucap Gara dengan lirih ditengah segala kebimbangan dan kebingungannya.


"Dengan apa? dengan adegan mesra kamu bersama lawan main kamu itu?" Sentak Papa Andra. Mama Amelia hanya diam


"Aku akan menyelesaikan semuanya Pa!" Ucap Gara langsung beranjak berdiri hendak menemui Melly di apartemen wanita itu.


"Gara kamu mau kemana?" Tanya Mama Amelia.


"Aku izin pergi sebentar ma.. jika urusanku udah beres, aku akan segera pulang."


"Tapi Ga.. kamu masih kecapean..." Mama Amelia khawatir.


"Mama tenang aja. Gara bisa. Gara pamit Pa.. Ma"


"Gara..."


"Sudah ma, biarkan dia menyelesaikan masalahnya. Biarkan dia bertanggung jawab atas kecerobohan yang dia lakukan." Kata Papa Andra.


"Tapi pa.. bantuin Gara dong." Rengek Mama Amelia.


"Nggak ma.. biarkan dia. Lagi pula dia sendiri yang bilang kalau Papa gak boleh ikut campur masalah pekerjaannya itu. Kita lihat, sampai mana anak kamu itu mempertahankan pekerjaannya itu." Ucap Papa Andra.


"Apa sampai dia kehilangan semuanya?" Lanjut Papa Andra.


"Papa kok ngomongnya gitu sih!" Mama Amelia tidak terima.

__ADS_1


to be continued...


__ADS_2