
Baik Gara maupun Brinia, keduanya sudah mulai paham dengan maksud para sahabatnya yang sengaja menyiram mereka dengan air meskipun Gara dan Brinia tidak membahas hal tersebut secara langsung tapi track record Juna dan Denim sudah cukup menjadi kesimpulan.
Apalagi di kamar yang digunakan untuk mengurung Brinia dan Gara tidak terdapat satu pun baju yang bisa dikenakan untuk menggantikan baju yang basah itu. Padahal sebelumnya barang-barang Gara dan Yurdha ada di dalam almari.
Ya, apalagi tujuan Denim dan Juna kalau bukan membuat Gara dan Brinia melakukan hal yang seperti mereka lakukan pada para wanita malam. Benar-benar definisi sahabat laknat.
Dan Gara juga Barunya juga yakin bahwa para sahabat laknatnya itu tidak dengan mudahnya membuka pintu kamar yang sudah terkunci rapat dari luar kecuali matahari sudah mulai terbit.
Tidak ada pilihan lain kan selain menunggu pagi dengan sama-sama berada di ranjang sambil menyembunyikan tubuh masing-masing ke dalam selimut mengingat Brinia hanya menggunakan bathrobes sedangkan Gara hanya menggunakan handuk yang mampu menutupi aset berharganya.
Terlebih kamar tersebut berukuran tidak terlalu besar dan tidak ada sofa ataupun kursi di dalamnya. Satu-satunya yang bisa digunakan untuk istirahat saat ini hanyalah ranjang berukuran 120 cm dan itu pun Gara harus berbagi dengan Brinia.
Sebelumnya Gara sempat berpikiran untuk mendobrak pintu tersebut tapi sayang, pintu tersebut ternyata terbuat dari Kayu Jati yang cukup tebal. Baru membayangkan betapa kerasnya kayu tersebut, rasanya Gara sangat menyayangkan jika tubuhnya yang begitu berharga itu harus dihantamkan pintu jati begitu saja.
Ah coba saja ini seperti di series yang ia bintangi... mendobrak pintu bisa dengan mudah dia lakukan karena memang sudah diatur sedemikian rupa oleh sang sutradara.
Brinia hanya mampu menatap punggung kokoh Gara setelah lelaki itu berkata untuk tidur saja. Punggung yang selalu menjadi tempatnya bersandar sejak kecil.
Brinia belum ngantuk dan belum ingin tidur, kenapa Gara hendak tidur duluan.
"Ga, maafkan aku ya... karena aku paksa kamu buat ikutin kemauan Juna dan Denim juga Nesya. Sehingga kita terjebak disini." Ucap Brinia lirih sambil menatap langit-langit kamar.
"Gak apa-apa Bee.. sudah lupakan saja. semua sudah terlanjur. Mending kita istirahat aja yuk biar besok kita bisa fit dan kamu puas jalan-jalannya." Jawab Gara dengan posisi yang masih membelakangi Brinia.
"Hmm."
"Segara..." Panggil Brinia setelah beberapa menit berlalu karena Brinia tidak bisa memejamkan matanya.
Begitu juga dengan Gara yang terlibat terus bergerak karena tidak nyaman dengan posisi tidurnya saat ini yang berada di paling ujung dan hampir jatuh ke lantai.
__ADS_1
"Iya Bee."
"Aku kangen sama kamu Ga." Kata Brinia lirih yang jujur dari lubuk hatinya.
Gara hanya diam. Gara bimbang antara ingin membalikkan tubuhnya menatap Brinia lalu memeluk dan mengecup kening gadis yang teramat ia cintai seperti biasa. Atau bertahan memunggungi Brinia demi mempertahankan kewarasan.
"Aku kangen sama saat saat kita dulu yang begitu mudahnya menghabiskan waktu bersama. Sekarang, aku sibuk... kamu juga sibuk.. untuk kita memiliki quality time cukup sulit ya... Apalagi bentar lagi nama kamu makin melambung, pasti waktu kamu semakin sedikit buat aku dan keluarga kamu." Kata Brinia lagi mencoba mengeluarkan tentang kegelisahan hatinya selama ini.
Hancur sudah benteng yang Gara bangun untuk mempertahankan kewarasannya. Karena kenyataannya, Gara justru langsung membalikkan badannya dan menatap Brinia.
"Aku juga kangen banget sama kamu Brinia-ku." Ucap Gara sambil memejamkan matanya untuk menyalurkan perasaan cintanya pada Brinia.
"Aneh ya kita, padahal dari kemarin kita udah barengan terus tapi masih juga merasa kangen." Gumam Brinia pelan yang masih bisa didengar oleh Gara.
"Bukan cuma kamu aja yang merasakan itu bee, aku juga merasakannya. Kadang aku berpikir, apakah menjadi artis adalah keputusan yang salah karena aku sadar, semakin kesini, waktuku semakin terbatas, gerakku juga sangat terbatas. Maafkan aku Bee,." Kata Gara yang menatap wajah cantik Brinia.
Brinia paham, semakin kesini memang waktu mereka berduaan sangatlah berkurang karena baik dirinya maupun Gara, keduanya sama-sama berjuang untuk meraih impian masing-masing. Ya meskipun mereka anak orang kaya, tetap saja hidup itu adalah perjuangan, gak ada yang instan.
"Maafkan aku juga yang sudah membuat kamu kesal. Tapi aku berani bersumpah kalau aku minum cuma dikit banget.. cuma tiga sloki."
"Cih! cuma kok sampai tiga! cuma itu kalau hanya satu Segara!" Kata Brinia dengan wajah dibuat se kesal mungkin.
Posisi mereka kini saling berhadapan di ranjang yang memiliki ukuran sangat kecil jika digunakan untuk dua orang. Jadi bisa membayangkan sendiri seberapa dekat jarak Brinia dan Gara saat ini....
"Kalau kalau kesel tambah cantik tau Bee." Ucap Gara secara spontan sembari tersenyum.
"Wihh udah pinter gombal.." Cibir Brinia menatap Gara dengan sinis. Tapi sinis yang dibuat-buat.
"Aku jujur, kamu tambah cantik.. soalnya kalau kamu kesel dan cemberut gitu.. bibir kamu kayak bebek." Goda Gara langsung membuat Brinia melotot.
__ADS_1
Enak aja dikatain kayak bebek.
"SEGARA!" Kesal Brinia langsung memukul punggung kekasihnya.
"Aww... sakit Bee.. aduh sakit .." Gara mengadu kesakitan padahal Brinia memukul dirinya tidak dengan kekuatan penuh.
"Jangan drama deh..."
"Beneran sakit Bee... "Rengek Gara dengan wajah sedih.
Sejenak mereka melupakan baju basah mereka yang sudah berganti dengan handuk dan bathrobes. Dan mereka juga melupakan situasi canggung yang beberapa saat lalu terjadi diantara mereka.
"Eh beneran sakit." Ucap Brinia mendadak panik. Itulah Brinia, yang selalu tidak pernah tega melihat Gara mengadu kesakitan.
"Kayaknya kena kuku kamu deh, soalnya perih." Bohong Gara yang senang melihat Brinia mencemaskan dirinya.
"Eh beneran.. kayaknya nggak deh. kan aku gak mencakar kamu.."
"Gak percaya ya udah..."
"Coba lihat deh." Ucap Brinia yang hendak menarik sebelah tangan Gara yang menutupi punggung lelaki itu. Tepatnya menutupi punggung yang katanya sakit.
Namun bukan segera melihat bagian tubuh Gara yang katanya sakit. Keduanya justru sama-sama mematung saat tahapan mata mereka bertemu dengan jarak yang sangat dekat. Sangat dekat sekali hingga mereka bisa merasakan hembusan nafas satu sama lain.
Jantung Brinia berdebar kencang. Begitu juga dengan Gara.
Entah siapa yang mulai lebih dulu, tanpa menunggu lama, untuk pertama kalinya bibir mereka sudah saling bertemu dan berkenalan.
Sebuah rasa asing menjalar dalam hati Gara dan Brinia secara bersamaan...
__ADS_1
TO BE CONTINUED