
doain ya...
semoga bulan ini novel ini bisa kelar.. amin.....
happy reading
"Kenapa kita jadi ke rumah kamu mas? acaranya kan belum selesai?" tanya Brinia yang memang sudah tidak ada niat buat turun dari gendongan Gara, karena sudah tidak ada orang yang melihatnya.
"Maka dari itu, di rumah kamu ramai.. aku cuma mau berdua sama kamu." Jawab Gara dengan sorot mata mulai berbeda.
"Ha? maksudnya?"
"Aku mau siang pertama sama kamu sebagai suami istri." Jawab Gara dengan berbisik membuat Brinia susah payah menelan salivanya karena Brinia paham maksud Segara.
"Kamu tenang saja sayang... kamar aku udah aku kasih alat peredam suara kemarin." Bisik Gara membuat Brinia semakin gugup.
"Mass... i.. ini masih siang." cicit Brinia saat Gara mulai menaiki anak tangga di kediaman Papa Andra untuk menuju kamarnya.
"Memang kapan?" Tanya Gara dengan memasang wajah polos dan hal itu semakin membuat Brinia melongo sekaligus gugup dalam waktu bersamaan.
"i.. ini masih siang mas.. masak kita mau begituan?"
"Begituan gimana?" Goda Gara menahan tawanya karena melihat wajah Brinia yang teramat menggemaskan.
"Ya.. ya itu...begituan.. pengantin baru... harusnya kan nanti malam. Malam pertama." Brinia benar-benar tidak dapat menyembunyikan kegugupannya karena semakin waktu berjalan, semakin dekat pula kamar Gara.
Akankah dia akan dieksekusi siang ini juga di kamar sang kekasih?
eh ralat, kamar sang suami.
"Kan aku tadi bilang sama kamu siang pertama sayang.. bukan malam pertama."
"Ta.. tapi nanti kalau kita dicariin gimana mas?" Brinia berusaha memutar otak cerdasnya agar bisa menghindari Gara siang ini, dia belum siap-siap. Kalau nanti malam gak masalah lah, Brinia siap melakukannya dengan Segara.
"Gak akan. Tadi kan udah pamit." Ucap Gara menghentikan langkahnya ketika sudah ada di depan pintu kamarnya.
"Aku ingin yang berbeda dari orang kebanyakan Bee. Orang kebanyakan kan malam pertama, jadi aku siang pertama aja."
"Mas..."
"Sesuatu yang baik tidak boleh di tunda sayang." Ucap Gara sambil mengerlingkan sebelah matanya.
__ADS_1
Oke fix! Brinia sudah tidak ada waktu buat menghindar lagi dari sang suami tercinta.
"Buka pintunya sayang.. tangan aku menopang tubuh kamu nih." Perintah Gara. Tanpa protes, brinia pun menurut membuka pintu kamar Gara. Gara kemudian melebarkan daun pintu itu dengan pundaknya.
Setelah masuk, Gara menutup pintu itu menggunakan kakinya kemudian meminta Brinia untuk menguncinya agar tidak ada yang mengganggu mereka nantinya.
"Mas..." Panggil Brinia terdengar begitu mesra di telinga Segara.
"Iya sayang..." Jawab Gara.
"Si..siapa menyiapkan semua ini?" Tanya Brinia menatap Gara dengan dalam setelah melihat kamar Gara yang dihias begitu itu indah dengan nuansa romantis sehingga memang sangat cocok untuk pasangan pengantin baru.
"Mama yang menyiapkan semua ini untuk kita. Kamu suka tidak?" Tanya Gara yang mendudukkan Brinia di tepi ranjang. Kemudian Gara membungkuk untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah cantik Brinia yang masih menggunakan make up.
"Bagus.. aku suka aroma terapi-nya mas, sangat menenangkan. Kamar kamu yang biasanya cowok banget jadi cute gini." Ucap Brinia dengan terkekeh.
Brinia memejamkan matanya sejenak sambil menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk merasakan nuansa berbeda di kamar lelaki yang sekarang berstatus suaminya.
Cup!
Gara mengecup bibir Brinia sekilas membuat Brinia membuka matanya dan tersenyum.
"Aku juga sangat cinta sama kamu... kamu adalah cinta pertama aku, dan aku pastikan kamu menjadi cinta terakhir aku. Makasih udah memilih aku dan memperjuangkan aku, melindungi aku dan membahagiakan aku sampai titik ini. Aku bahagia menikah sama kamu, Segara-ku." Ucap Brinia membalas perlakuan Gara dengan mengusap lembut pipi Segara hingga keduanya sama-sama melemparkan senyum terbaik mereka.
Kedua mata mereka seolah berlomba-lomba mengungkapkan perasaan siapa yang lebih besar.
Jika di luar sana cinta anak pertama adalah pada ayahnya, tapi tidak untuk Brinia. Cinta pertama Brinia memang untuk Gara, karena Gara yang selalu ada untuk dirinya disaat kedua orang tuanya sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Gara menatap Brinia begitu dalam kemudian berlahan Gara mendekatkan wajahnya pada wajah Brinia. Brinia pun memejamkan matanya karena mengira Gara akan mengajaknya berciuman kemudian memulai petualangan yang sangat mendebarkan itu bersama-sama. Namun Brinia salah, Gara lagi lagi hanya mengecup bibir Brinia secara sekilas sehingga Brinia kembali membuka matanya.
"Kenapa?" Tanya Brinia dengan ekspresi tidak suka karena ternyata yang Gara lakukan tidak sesuai dengan ekspektasi dirinya.
Brinia sudah berusaha sekuat mungkin menetralkan dirinya dan siap menyerahkan dirinya pada Gara. Eh Gara seolah mempermainkan dirinya.
Gara menaikkan satu alisnya, meskipun hanya satu kata yang Brinia tanyakan, Gara seolah paham apa maksud sang istri.
"Aku sungguh ingin langsung melum mat bibir kamu kemudian mengajak kamu berpetualang menuju surga dunia sayang... tapi..."
"Tapi kenapa?" Brinia dengan tidak sabaran memotong ucapan Gara.
"Ini akan menjadi pengalaman pertama untuk kita, aku ingin menjadi versi terbaik diri aku di depan kamu siang ini. Jadi... aku mau mandi dulu.. sejak pagi aku keringat dingin gara-gara gugup mau menghalalkan kamu. Aku gak PD buka-bukaan sama kamu sekarang, takut bau badan." Bisik Gara kemudian berlari ke arah kamar mandi.
__ADS_1
Brinia mematung namun bibirnya tersenyum mendengar ucapannya Gara. Benar juga, ini akan menjadi pengalaman pertama untuk mereka, jika suaminya ingin tampil terbaik di hadapannya, dia juga tidak boleh biasa-biasa saja dong..
Tapi bagaimana dia tampil terbaik jika saat ini dia ada dikamar Gara tanpa ada barang-barangnya sedikitpun.
"Sayang, pembersih wajah kamu ada meja dekat cermin, mama juga udah siapkan semua keperluan kamu di koper buka aja." Ucap Gara yang menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi.
"Makasih sayang." Jawab Brinia sembari tersenyum seolah permasalahannya langsung terjawab sudah.
Saat Gara membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi, Brinia pun mulai membersihkan make up-nya di depan cermin yang menempel di dinding kamar Segara.
Ah make up mahal-mahal hanya menempel sebentar, rasanya Brinia sayang untuk menghapus riasannya tapi akan tidak nyaman jika ia masih memakai riasan yang menurut Brinia terlalu tebal.
Setalah wajahnya bersih dari make up, Brinia pun mengambil koper kecil yang ada di sudut kamar Gara. Itu adalah koper miliknya yang entah sejak kapan berpindah di kamar Gara dan sudah berisi barang-barangnya.
"Mama...." Gumam Brinia dengan wajah merona menemukan baju tidur berupa dress dengan bahan satin yang minim berwarna merah. Bagaimana tidak minim, bagian dada terlalu rendah juga panjangnya paling hanya menutupi bongkahan belakang Brinia saja.
"Ada lulur juga..." Gumam Brinia semakin senang. Dia akan luluran sebentar biar kulitnya halus dan wangi. Meskipun semalam dia sudah treatment di rumah dengan mendatangkan orang salon, tapi waktu akad nikah tadi dia juga terus berkeringat dingin. Brinia pun insecure sama seperti Gara jika sampai bau badan di pengalaman pertama mereka.
"Gara...kamu lama banget sih di kamar mandi.. cepetan, gerah nih!" Teriak Brinia sambil mengetuk pintu kamar mandi Segara meninggalkan koper yang isinya beberapa baju rumahan untuk Brinia.
"Iya.. ini udah selesai." Gara keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melingkar sempurna di pinggang kokohnya membuat Brinia mematung sekaligus terpesona. Apalagi tetesan demi tetesan air dari rambut Gara yang basah seakan menambah kesan seksii.
Brinia berusaha mengusir pikiran kotornya secepat mungkin karena dia harus fokus tampil maksimal di depan sang suami.
"Kamu lama banget sih Ga!" Omel Brinia seolah lupa beberapa menit lalu dirinya gugup saat diajak gara untuk Siang Pertama.
"Udah gak manggil 'mas' lagi?" Tanya Gara mengernyit.
"Eh lupa..." Jawab Brinia terkekeh kemudian masuk kamar mandi begitu saja melewati Gara yang berdiri mematung sambil tersenyum setelah melihat baju tidur berwarna merah yang ia pilih kemarin.
"Sayang jangan lama-lama di kamar mandinya ya..." Teriak Gara.
"Aku udah gak sabar..." Lanjut Gara lirih tidak terdengar sampai kamar mandi.
"Kamu tadi aja lama, aku ya lama juga lah!" Teriak Brinia dari dalam kamar mandi.
to be continued
ciee nungguin siang pertama ya?
sabar~
__ADS_1