
Pintu kamar yang di ketuk dengan begitu keras disertai suara sang ayah yang memanggil namanya berkali-kali membuat Brinia mau tidak mau mencoba terbangun dari tidur nyenyaknya. Tidur yang baru di mulai hampir pukul enam pagi tadi.
Tanpa berpikir panjang dan menaruh curiga pada apapun, Brinia langsung membuka pintu kamarnya dalam keadaan setengah sadar.
Hingga teriakan dua wanita yang memanggil nama anaknya masing-masing dengan suara yang begitu nyaring, akhirnya menyadarkan Brinia.
"Mampus! Gara kan ada di kamar gue!" Batin Brinia mengumpat kecerobohannya sendiri.
Amelia langsung meringsek masuk ke kamar Brinia untuk memberikan pelajaran pada putra kesayangannya yang dianggap sudah membuat malu karena berani meniduri anak gadis orang.
Andra pun mengikuti sang istri dan berusaha meredam amarah sang istri meskipun Andra ingin menghajar putranya saat ini juga.
"Gara bangun!"
"Gara bangun!" Ucap Mama Amelia memukul mukul lengan Gara dengan cukup keras.
"Apa sih sayang, masih kurang yang tadi?" Tanya Gara dengan suara paraunya. Gara yang semula tengkurap kini berubah jadi terlentang.
Dan berapa terkejutnya Papa Andra dan Mama Amelia melihat leher dan dada Gara banyak sekali kiss Mark seperti yang ada pada leher dan dada bagian atas tubuh Brinia. Ternyata mereka berdua sama-sama ganas~
"Astaga! anak ini! sejak kapan kamu berani bersikap kurang ajar sama calon menantu mama, Segara! Udah kamu apain aja itu calon mantu mama." Pekik Mama Amelia.
"Mama?" Gumam Gara terkejut saat baru membuka matanya. Belum lagi lelaki yang berdiri dibelakang sang mama kini sudah menatapnya dengan garang.
Susah payah Gara menelan salivanya setelah mengingat apa yang dia lakukan dengan Brinia hingga pagi tadi dan kini mereka tengah kepergok kedua orang tuanya.
Sementara di depan pintu,
"A.. ayah.. bunda... aku bisa jelaskan semuanya."
"Jelaskan apa? Tanda di leher dan dada atas kamu sudah jelas Brinia." Tegas Ayah Henry dengan tatapan kecewa dan sedih pada putrinya.
"Maafkan aku ayah, tapi aku sama Gara gak melakukan lebih dari ini." Ucap Brinia lirih. Henry menghela nafasnya, lelaki itu menyadari bahwa memang Brinia kekurangan kasih sayang dan perhatian dari sosok ayah, sehingga Brinia mencari perhatian dari lelaki lain, yaitu Segara.
Berbeda dengan Henry yang justru merasa bersalah atas apa yang sudah anaknya lakukan, Sekar sejak tadi diam menatap putrinya dengan amarah dan nafas yang naik turun karena emosi.
Plak!
Sebuah tamparan langsung mendarat sempurna di pipi Brinia.
__ADS_1
"Sekar! apa yang kamu lakukan?" Pekik Ayah Henry terkejut dengan tindakan reaktif istrinya.
"Bun... ndaa..." lirih Brinia memegang pipi sebelah kanannya.
"Bunda menyesal sudah melahirkan wanita murahan seperti kamu Brinia! Bunda menyesal! Kamu tidak ada bedanya dengan selingkuhan ayah kamu" Teriak Sekar.
Deg!
Murahan?
Selingkuhan ayah?
Apakah dirinya se-hina ini dihadapan bundanya sendiri.
"Jaga ucapan kamu Sekar!" Henry tidak terima dengan ucapan istrinya.
"Kenapa? benar kan? dulu aku memergoki kamu selingkuh juga seperti ini kan kondisinya?" Sekar menatap suaminya dengan amarah.
Brinia hanya diam menunduk dengan tangis tanpa suara. Perasaan Brinia sangat hancur direndahkan oleh bundanya sendiri apalagi dihadapan kedua orang tua Gara. Brinia pastikan namanya akan semakin buruk setelah ini.
Dan
"Brinia...." Gumam Gara dengan mata membesar sempurna.
"Astaga, Sekar!" Ucap Amelia menutup mulutnya tidak percaya.
Gara bergerak cepat dengan loncat dari ranjang meninggalkan kedua orang tuanya untuk melindungi Brinia.
"Tante... kenapa Tante tampar Brinia? Ini salah aku Tante! Tante boleh tampar dan pukul aku, tapi jangan Brinia." Ucap Gara tidak terima karena Gara merasa ini murni semuanya kesalahannya.
"Dimana mana, lelaki itu sama Gara! tapi kalau wanitanya gak gampangan dan murahan, semua itu tidak akan terjadi!" Jawab Sekar.
Andra semakin merasa pusing, emosinya pada Gara sudah memuncak, eh mendengar drama Sekar dan Henry yang masih terbelenggu dengan masa lalu hingga mereka tega menyakiti fisik dan hati Brinia.
"Bee..." Gara hendak mencoba memegang pipi Brinia yang memerah karena tamparan Sekar, namun Brinia memundurkan tubuhnya tidak ingin disentuh.
Hati Gara terasa sangat sakit. Gara menyesal sudah melakukan kecerobohan seperti ini. Gara berusaha menjelaskan pada orang tuanya dan orang tua Brinia
bahwa mereka tidak melakukan hal lebih selain yang mereka lihat. Tapi mereka tidak percaya. Terutama Sekar, wanita itu beranggapan bahwa putrinya sudah melakukan hubungan intim dengan Gara berkali kali.
__ADS_1
Ketegangan pun semakin menjadi-jadi karena ucapan-ucapan Sekar dan Henry yang saling menyalahkan. Beruntung Andra dan Amelia bisa mengendalikan emosi.
"Gara, kamu bersihkan diri kamu. Mama temani Brinia. Papa tunggu di bawah sana Sekar dan Henry." Ucap Andra dengan tegas. Ada banyak hal yang ingin Andra bicarakan dengan calon besannya itu.
"Kita bicarakan masalah ini dibawah dengan kepala dingin." Ucap Andra lagi namun dengan tatapan yang begitu tajam pada Gara. Gara yakin setelah semua ini, dia akan mendapatkan bogem dari sang Papa. Tapi Gara tidak masalah, dia siap menerima segala konsekwensinya asal tidak ada yang menyalahkan atau menyakiti Brinia.
...***...
Gara sudah mandi di kamar mandi yang ada di dalam kamar Brinia. Mama Amelia meminta ARTnya untuk membawakan baju ganti untuk Gara agar Gara tidak perlu repot-repot pulang ke rumah. Dan sekarang Gara sudah nampak segar.
Berbeda dengan Brinia, gadis itu terus menunduk dan menangis. Sejak tadi Brinia hanya membisu meskipun Amelia terus mengajaknya berbicara dan menenangkannya.
"Bee..." Gara menggenggam tangan Brinia dengan erat. Brinia duduk ditepi ranjang bersama Mama Amelia sementara Gara berjongkok dihadapan Brinia.
"Jangan nangis lagi, semua akan baik-baik saja, kita akan menikah sebentar lagi." Kata Gara.
"Iya sayang, kamu akan jadi menantu kesayangan Mama, jadi sekarang kamu harus panggil mama." Ucap Amelia ikut membujuk Brinia karena Amelia sangat tahu bagaimana Brinia.
"Apa aku semurahan dan sehina itu?" Kalimat pertama yang keluar dari bibir Brinia membuat hati Gara dan Mama Amelia terasa nyeri.
Iya, Gara sudah tahu yang menyebabkan Brinia sesedih ini adalah tamparan dan ucapan bundanya. Gara yakin, hal ini pasti akan membuat Brinia merasa sangat insecure.
Mama Amelia memberikan kode pada Gara melalui tatapan mata agar Gara menenangkan Brinia.
"Nggak be... kamu berharga, kamu istimewa. Kamu melakukannya hanya sama aku, dan kamu bisa menghentikan aku yang semalam hampir lepas kendali, kamu masih bisa mempertahankan kesucian kamu. Jangan berpikir seperti itu." Kata Gara lembut.
"Dasar anaknya Andra, kelakuan bapak sama anak ternyata sama saja! Awas aja kamu Gara, setelah ini mama akan hukum kamu!" Batin Mama Amelia.
"Brinia, aku cinta sama kamu... kita akan menikah akhir bulan depan. Jadi please, jangan berpikir aneh-aneh ya... Mama aku akan menyayangi kamu, dan aku pastikan mama gak akan Ngomong kasar sama kamu. iya kan ma?"
"Iya Brinia sayang... udah ya jangan terlalu kamu pikirkan omongan bunda kamu, bunda kamu kalau emosi kan emang kalau ngomong begitu... mending kamu mama bantu siap-siap kita turun ke bawah. Papa Andra sama orang tua kamu sudah menunggu, kita mau langsung bicarakan pernikahan kalian." Kata Mama Amelia setelah beberapa detik lalu membaca pesan dari suaminya.
"Bee.. kamu mau kan nikah sama aku dalam waktu dekat?" Tanya Gara. Brinia mendongak kemudian mengangguk sembari tersenyum tipis.
Gara pun mengusap air mata di pipi Brinia dengan lembut kemudian Gara beranjak dan memeluk Brinia.
"Brinia, sudah ya sayang... jangan dipikirkan. Yang tau masalah ini hanya keluarga kita aja. Kamu gak usah merasa insecure, Mama Amelia dan Papa Andra tidak sedikit pun memandang rendah kamu, karena kamu istimewa sayang... kami bahagia dan sayang banget sama kamu." Ujar Mama Amelia.
Brinia mencoba tersenyum meskipun hatinya teramat sakit dan sedih mengingat ucapan Bunda Sekar. Bundanya yang beberapa tahun ini bersikap baik dan manis juga penuh perhatian padanya, kini sudah kembali seperti bunda Sekar yang dulu....
__ADS_1
to be continued ....