
Sesampainya dirumah sakit, Tipka segera berjalan menuju lift dan menekan tombol 8.
Pintu lift terbuka, dan dengan segera Tipka berjalan menuju ruangan keluarga Anjana.
Tipka melihat ponselnya yang masih dicharger diatas nakas.
'Untung gak hilang' Batin Tipka.
Setelah mengambil ponselnya, Tipka pergi mencari dokter Sindy.
Tok tok tok
" Masuk " Ucap seseorang dari dalam.
" Permi " Ucap Tipka terpotong ketika melihat ada orang lain diruangan itu.
" Maaf, saya tunggu diluar " Ucap Tipka dengan kepala menunduk.
Setelah Tipka keluar dari ruangan. Dia langsung duduk dikursi yang berada didepan ruangan dokter Sindy.
'Kenapa ada situkang paksa sih. Kan aku jadi malas masuknya. Penampilan aku beda lagi didepan dia. Pasti dia berpikir aku ini Tapki bukan Tipka' Batin Tipka.
Setelah lima menit menunggu, pintu ruangan dokter Sindy terbuka. Dan orang yang tadi diruangan dokter Sindy keluar.
Saat orang itu keluar, Tipka membuang muka menatap kearah lain. Saat orang itu sudah jauh, Tipka dengan segera masuk kedalam ruangan dokter Sindy.
" Pagi, dok " Sapa Tipka.
" Pagi, Tipka " Sapa dokter Sindy balik.
" Saya kesini mau memeriksa luka luka ini. Mana tau ada yang harus ditangani oleh dokter " Ucap Tipka yang langsung mengutarakan maksud kedatangannya.
" Oh begitu. Ayo berbaring " Ajak dokter Sindy.
" Dok, apa aku boleh tanya sesuatu? " Tanya Tipka saat dia sudah berbaring.
" Silahkan " Jawab dokter Sindy.
" Kenapa dokter memanggil Ayah dengan sebutan tuan, Bunda dengan sebutan Nyonya, aku dan Tapki dengan sebutan Nona? " Tanya Tipka.
" Karena kalian semua adalah bos dan pemilik rumah sakit ini " Jawab dokter Sindy sambil memeriksa Tipka.
" Bukankah itu terlalu berlebihan? " Tanya Tipka.
" Itu tidak berlebihan, Tipka " Jawab dokter Sindy.
" Itu berlebihan, dok. Bahkan sangat berlebihan. Dan aku heran satu hal " Ucap Tipka menggantungkan kalimatnya.
__ADS_1
" Heran kenapa? " Tanya dokter Sindy.
" Kenapa dokter masih bekerja disini, sedangkan dokter punya rumah sakit sendiri? " Tanya Tipka balik.
" Itu karna dokter punya hutang nyawa sama kamu " Jawab dokter Sindy keceplosan.
" Sama aku? " Tanya Tipka bingung.
" Bu-bukan gitu. Maksudnya sama keluarga kamu " Jawab dokter Sindy setelah tahu apa yang diucapkannya.
" Keluarga aku? " Tanya Tipka yang masih bingung.
" I-iya sama keluarga kamu. Dulu saat dokter miskin, keluarga kamu nolongin dokter "Jawab doktet Sindy bohong.
" Kalau gitu namanya hutang budi, dok. Bukan hutang nyawa " Ucap Tipka memperbaiki perkataan dokter Sindy.
" Iya, kamu benar. Sekarang ayo duduk dikursi. Biar dokter jelaskan perkembangan kesehatanmu " Ucap dokter Sindy yang diangguki oleh Tipka.
" Begini Tipka, luka lukamu ini sudah mulai membaik. Tapi kamu harus selalu mengolesi lukamu dengan salep, agar cepat sembuh.Dan luka yang ada dikepalamu ini. Sudah mulai membaik, tapi masih belum bisa terkena air. Jadi kamu harus rawat baik baik lukamu ini, jangan sampai terpancing emosi. Dokter tau kamu adalah orang baik dan dokter juga tau gimana kamu saat emosi. Dokter cuman mau kamu kontrol emosi dan jangan berbuat gegabah, karena itu bisa mengganggu proses pemulihanmu " Pesan dokter Sindy.
" Ok, dok. Kalau begitu saya pamit mau pergi kesekolah " Pamit Tipka.
" Hati hati dijalan " Ucap dokter Sindy.
Tipka hanya mengacungkan dua jempolnya kearah dokter Sindy.
Tipka langsung menyuruh Pak Dirga untuk melajukan mobilnya kesekolah, saat ia naik kedalam mobil.
Setengah perjalanan Tipka mengikat rambut dan memakai kaca matanya. Setengahnya lagi Tipka gunakan untuk mengecek tugas kemarin. Untungnya tidak ada tugas, dan hanya ada catatan.
Tapi, Tipka langsung terkejut kala melihat ada sesuatu yang berkaitan dengannya.
Digrup sekolah SMA, ada sebuah foto yang menampakkan Vivi keluar dari ruang kepala sekolah dengan tangan yang memegang sebuah surat. Dan ada tulisan dibawahnya. Kepala sekolah menscor Vivi karena kejadian kemarin.
**Dan ada juga komentarnya:
**Gila, ternyata ancaman Tapki gak main main.
Seorang Vivi discor hanya gara gara anak cupu nan miskin.
Tapki kemarin aneh kan. Kayak belain sicupu, sampai sampai berani lawan Vivi.
Kayaknya Tapki dan Tipka ada hubungan, deh.
Kayak saudara gitu. Soalnya nama mereka tuh mirip, kayak kembar.
Mana ada mirip, yang satu cantik dan yang satunya lagi jelek**.
__ADS_1
'Kak Vivi discor, ini pasti ulah Bunda' Batin Tipka geleng geleng kepala.
Tipka ingin menelpon Bunda Tasya namun ia urungkan karena sudah sampai disekolah.
'Nanti saja aku tanya sama Bunda. Sekarang aku harus semangat untuk belajar' Batin Tipka.
Tipka turun dari mobil dan segera masuk kedalam kelas, karena pelajaran masih ada setengah jam lagi.
Tipka masuk kedalam kelas setelah diberi izin oleh guru yang mengajar.
Tipka melihat ada kursi kosong disamping Tapki, tapi ada tas Tapki diatas kursi.
" Tapki aku mau duduk " Ucap Tipka pelan yang hanya bisa didengar oleh Tapki.
Tapki hanya diam berpura pura tidak dengar dan malah melanjutkan menulis.
Karena tidak dapat respon, Tipka memilih pergi kebelakang dan berjongkok sambil menulis. Walaupun kakinya sakit tapi ia tetap memaksakannya.
Ada satu orang yang menatap Tipka kasihan. Ia adalah Sion. Sion berasal dari keluarga yang sederhana. Hanya saja dia pintar sehingga bisa mendapat beasiswa. Karena keekonomiannya, Sion sering dibuly. Jadi ia juga merasakan apa yang dirasakan Tipka.
Sion berjalan mendekati Tipka.
" Tipka, kamu bisa duduk dikursiku. Jangan paksakan dirimu. Nanti lukamu tambah parah karena posisimu " Ucap Sion.
Tipka menggeleng. Ia tidak ingin menyusahkan orang.
" Ayolah, aku sudah selesai mencatat " Ucap sion menyakinkan sambil menunjukkan catatannya.
Tipka hanya tersenyum dan mengangguk.
Ia pindah duduk kekursi Sion.
Bel tanda istirahat berbunyi. Semua murid keluar dari kelas. Begitupun dengan Tipka, ia kekantin bersama dengan Sion. Setelah mendapatkan makanan masing masing, Tipka dan Sion makan dalam satu meja.
" Sion " Panggil Tipka.
" Iya, ada apa? " Tanya Sion.
" Terima kasih atas kursinya dan, emm " Ucap Tipka menggantung.
" Dan? " Tanya Sion.
Belum sempat Tipka berkata, ia langsung dibuat terkejut dengan kehadiran Tapki dan beberapa anak laki laki.
Bruk
Tapki memukul meja tempat Tipka dan Sion.
__ADS_1
" Asal kalian tahu. Tipka ini adalah anak pembantu dirumah gue. Dia ini adalah orang yang suka caper. Didepan Bunda gue, ia bersikap sok manis. Dia ini suka banget sama barang barang gue. Dan dia juga bersikap sok sok kaya. Padahal mobil yang dia pakai hanyalah mobil pinjaman dari keluarga gue. Dia memiliki nama mirip kayak gue, karena Bunda gue sayang sama dia. Dan dia memanfaatkan kecelakaannya waktu itu. Sampai sampai orang tua gue, nyuruh gue jagain dia " Ucap Tapki dengan lantang, yang ingin mempermalukan Tipka.