
Tapki sudah berada disekolah. Hari ini masih dilakukan mos.
Andra mengabsen satu persatu peserta mos.Disaat nama Tipka dipanggil, Tapki bingung. Antara harus memberi tahu atau diam saja.
" Tipka Nikila Anjana " Panggil Andra.
" Tipka Nikila Anjana " Panggil Andra sekali lagi, karena tidak ada yang menyaut panggilannya.
" Maaf kak, Tipka gak masuk " Ucap Tapki gugup seraya mengangkat tangannya.
Andra mengalihkan pandangannya dari buku absen kearah Tapki.
" Kenapa gak masuk? " Tanya Andra.
" I-itu Tipka, kemarin kecelakaan " Jawab Tapki gugup.
" Kamu jangan bercanda " Ucap Andra setengah membentak, ia tidak percaya karena kemarin Tipka masih baik baik saja.
" Kalau kakak gak percaya, nanti ikut aku kerumah sakit pukul 11. 30 " Ucap Tapki pelan dengan menundukkan kepalanya. Sebenarnya ia gak mau siapapun tahu mengenai hubungan dia dan Tipka sebenarnya.
" Kenapa harus pukul 11.30? " Tanya Andra bingung.
" Karena menurut prediksi dokter, Tipka akan selesai dioperasi pukul 11.30 " Jawab Tapki masih dengan kepala tertunduk.
" Tipka dioperasi? " Tanya Andra lagi.
" I-iya kak, operasinya mulai pukul 10 " Jawab Tapki.
Andra melihat jam dipergelangan tangannya.
" Satu jam lagi operasinya akan dimulai " Gumam Andra.
" Dirumah sakit mana? " Tanya Andra.
" Rumah sakit mutiara " Jawab Tapki.
'Dari sini kerumah sakit memakan waktu setengah jam. Ahh... Andra sadar. Kenapa kau jadi perhatian dengannya. Dia bukan siapa siapamu. Ayolah dia itu orang yang berani mengacuhkanmu' Batin Andra.
" Baiklah, aku percaya " Ucap Andra.
'Syukur, syukur' Batin Tipka seraya mengelus dadanya. Ia merasa sangat lega, karena akhirnya Andra percaya. Dan Andra tidak perlu ikut dengannya.
" Vivi, tolong gantikan saya sebentar. Saya ada urusan " Ucap Andra kepada Vivi, lalu dia pergi menjauh dari peserta mos dan peserta panitia.
***
Dirumah sakit
Sebentar lagi Tipka akan menjalani operasi, Tapi Tipka bersikap biasa biasa saja. Tidak ada ketakutan sedikitpun dari wajahnya. Baginya operasi itu mudah dan tidak menyakitkan. Tinggal disuntik obat bius lalu operasi akan dimulai. Kalau operasi berjalan lancar, ya syukur. Kalau enggak bodo amat.
Sungguh pemikiran yang sangat singkat, bukan?
Itulah Tipka jika sudah masalah kesehatannya, apalagi operasi. Dia hanya berpikir singkat. Tapi, jika tentang hal lain dia akan berpikir berulang ulang.
Sedangkan Bunda Tasya, ia sedari tadi mondar mandir.
" Bunda kenapa mondar mandir sih? Kepala Tipka pusing lihatnya " Tanya Tipka.
__ADS_1
" Bunda mondar mandir kayak gini, gara gara Bunda khawatir sama kamu. Sebentar lagi kan kamu mau operasi. Kok kamu mukanya biasa biasa aja sih " Geruru Bunda Tasya.
" Lah, jadi Tipka harus gimana dong. Operasi udah biasa untuk Tipka. Bundanya aja yang lebay " Ucap Tipka.
" Iya, iya. Bunda tahu kamu udah biasa dioperasi. Dan alasan kamu kecelakaan pasti masih sama. Pasti ada yang minta jadi teman kamu " Tebak Bunda Tasya.
" Tuh Bunda tau " Ucap Tipka.
" Emang siapa sih yang minta jadi teman kamu? " Tanya Bunda Tasya penasaran.
" Tipka juga tidak tau siapa, Bun. Dia hanya bilang namanya Mira " Jawab Tipka jujur.
" Kamu coba aja dulu berteman dengan dia. Jika kamu tidak mencoba, kamu tidak akan tahu apa yang terjadi " Saran Bunda Tasya.
" Bukan gitu, Bun. Tipka cuman takut kalau pertemanan ini gagal, Tipka akan kembali terpuruk seperti dulu " Ucap Tipka.
" Sayang, kamu jangan berpikir negatif. Kamu harus berpikir positif. Lagian kan tadi, siapa namanya Bunda lupa? " Tanya Bunda Tasya.
" Mira " Jawab Tipka.
" Oh iya, Mira. Mira kan masih mau berteman dengan kamu walaupun penampilan kamu kayak gitu " Ucap Bunda Tasya.
" Iya, Bun. Tipka akan coba " Ucap Tipka.
" Gitu dong " Balas Bunda Tasya senang.
Tok... tok... tok...
" Masuk " Ucap Bunda Tasya.
" Permisi nyonya, nona. Sekarang nona Tipka harus dibawa keruang operasi. Karena sebentar lagi operasi akan dimulai " Ingat dokter Sindy.
Bunda Tasya melihat jam dinding. Sekarang sudah menunjukkan pukul 09.45.
" Silahkan, dok " Ucap Bunda Tasya.
Dokter Sindy beserta timnya membawa Tipka menuju ruang operasi. Walaupun operasi yang dilakukan Tipka termasuk operasi ringan. Tapi Tipka adalah anak dari pemilik rumah sakit. Jadi dia dirawat dengan khusus.
Lampu operasi sudah menyala, menandakan bahwa operasi sudah dimulai.
***
Di sekolah
Tapki ingin meminta izin kepada Andra, agar ia bisa pulang pukul 11.
Tapki berjalan menuju meja ketua panitia. Disana ada Andra sedang mengobrol dengan teman temannya.
" Permisi, kak " Ucap Tapki.
" Iya, ada apa? " Tanya Andra.
" Kak, saya minta izin pulang diluan " Ucap Tapki.
" Eh, cantik. Kenapa pulang cepat? " Tanya Rudy.
" Ah, gak ada apa apa kak. Cuman ada urusan mendadak " Jawab Tapki.
__ADS_1
Belum sempat Rudy menanya lagi, ponsel Tapki berdering menandakan ada panggilan masuk.
" Tunggu sebentar ya, kak. Saya angkat telpon dulu " Ucap Tapki lalu menjauh dari Andra dan mengangkat telepon dari ayahnya.
" Halo, sayang. Kamu sekarang dimana? " Tanya Ayah Tapki dan Tipka yang bernama Hendra.
" Disekolah, Yah " Jawab Tapki.
" Sekarang kamu datang kerumah sakit. Tidak ada bantahan " Ucap Ayah Hendra tegas.
" Hmmm " Balas Tapki, lalu mematikan sambungan telepon.
Tapki berjalan menuju kearah Andra, Rudy, Danu, dan Yasky.
" Kak, aku pergi sekarang ya " Pamit Tapki sekali lagi.
" Hmmm " Balas Andra.
" Emangnya kemana sih, cantik? " Tanya Rudy.
" Kerumah sakit, kak " Jawab Tapki.
" Ngapain kerumah sakit? Kamu sakit? " Tanya Rudy khawatir.
" Enggak lah, kak. Aku cuman mau jenguk teman " Jawab Tapki.
" Kalau gitu, aku pergi dulu " Pamit Tapki.
Tapki pergi menuju parkiran mobil, ia melajukan mobilnya menuju rumah sakit dengan kecepatan sedang. Tapki memarkirkan mobilnya diparkiran khusus.
Setelah memarkirkan mobilnya, Tapki masuk kedalam rumah sakit menuju ruang operasi.
Tapki melihat Bundanya sedang duduk bersama seorang pria didepan pintu ruang operasi.
Tapki berjalan menghampiri Bundanya. Ia mengadahkan tangannya seperti meminta sesuatu kepada pria yang bersama Bunda Tasya.
Seakan mengerti, Pria itu memberikan sebuah paperbag kecil kepada Tapki. Tapki tersenyum, lalu mencium pipi kanan dan kiri pria tersebut.
" Masak Ayah doang sih " Ucap Bunda Tasya.
Ya, pria itu adalah Ayah dari Tapki dan Tipka.
Tanpa berkata kata, Tapki mencium pipi kanan dan kiri bundanya. Tapki membuka paperbag itu. Dan isinya adalah alat alat kosmetik.
" Anak kamu tuh Yah " Ucap Bunda Tasya seraya menunjuk Tapki dengan bibirnya.
" Anak kamu jugalah, Bun " Ucap Ayah.
" Terserah Ayah aja deh " Ucap Bunda Tasya.
Tidak beberapa lama kemudian, lampu ruang operasi mati, menandakan operasi telah selesai.
Bunda Tasya, Ayah Hendra harap harap cemas. Sedangkan Tapki dia sibuk melihat lihat alat kosmetik yang diberikan Ayahnya.
" Bagaimana nih, Yah? " Tanya Bunda cemas.
" Pasti operasi berjalan lancar. Bunda percaya sama Ayah " Ucap Ayah menyemangati.
__ADS_1