
" Jelaskan " Ucap Andra sambil menatap lurus kedepan karena dia sedang menyetir.
" TNA Salon adalah salon milikku. Aku menyerahkan semua tanggung jawab salon kepada Kak Ririn, Kak Zily, Kak Syiren, dan Kak Jila. Tapi kalau ada sesuatu yang harus diputuskan dan aku tidak ada. Maka Kak Ririnlah yang lebih berhak memutuskan dari mereka berempat. Aku membuat Kak Ririn menjadi orang kedua setelah aku, bukan tanpa alasan. Itu karena aku sangat percaya kepadanya melebihi Kak Zily, Kak Syiren, dan Kak Jila. Entah kenapa, tapi rasanya aku mempunyai sebuah hubungan dengannya. Tapi, aku tidak tahu apa itu " Jelas Tipka.
" Kamu pemilik salon? " Tanya Andra tidak percaya.
Tipka mengangguk.
" Jangan bilang sama Ayah dan Bunda ya " Mohon Tipka.
" Iya " Ucap Andra.
" Tapi, kamu bisa bangun salon. Uangnya darimana? " Tanya Andra.
" Uangnya dari tabungan aku. Tiap bulan Ayah selalu memberikan uang saku yang banyak. Dan mereka juga memberikan uang tambahan untuk putrinya yang berprestasi " Jawab Tipka.
" Emang uang saku kamu satu bulan berapa? " Tanya Andra.
" Satu juta " Jawab Tipka.
" Kalau uang tambahan? " Tanya Andra lagi.
" Tergantung. Kalau misalnya berprestasi didalam sekokah nanti Ayah berikan sesuai juaranya. Dan kalau berprestasi diluar sekolah. Seperti olimpiade, LCC, dan lainnya. Ayah akan berikan yang lebih banyak dari berprestasi didalam sekolah " Jawab Tipka.
" Jadi, semua tabungan kamu ada berapa? " Tanya Andra.
" Dua ratus juta lebih " Jawab Tipka.
" Gila, banyak amat " Ucap Andra.
Tipka hanya tersenyum.
__ADS_1
" Tapi, kenapa kamu bangun salon ditempat kayak gitu? " Tanya Andra.
" Lah, Kak Andra pikun atau gimana sih. Kak Andra gak ingat, dulu aku tinggal ditempat itu " Jawab Tipka.
" Iya, aku lupa " Ucap Andra yang memang sudah agak lupa.
" Dasar pikun " Ucap Tipka.
" Ya maaf " Balas Andra.
" Waktu itu aku gak diingat, sekarang lingkungan tempat aku tinggal dulu juga gak diingat. Kayaknya yang Kakak ingat itu Vivi " Ucap Tipka asal.
" Vivi? Kamu apa apaan sih? Aku sama Vivi itu gak ada apa apa " Ucap Andra yang sedikit terpancing emosi.
'Nih mulut asal ceplas ceplos aja. Jadi marah kan dia' Batin Tipka.
" Ma-maaf Kak, jangan marah ya. Aku hanya asal bicara aja " Ucap Tipka.
" I-iya " Ucap Tipka gugup.
" Kak " Panggil Tipka.
" Hmmm " Sahut Andra.
'Sabar' Batin Tipka.
" Kakak tampan " Panggil Tipka lagi.
" Apa? " Tanya Andra tanpa mengalihkan pandangannya.
'Walau tidak melihatku, tapi mulai ada peningkatan' Batin Tipka.
__ADS_1
" Besok bisa temanin aku kerumah Mama Viana? " Tanya Tipka.
" Gak bisa " Jawab Andra.
" Kenapa? " Tanya Tipka.
" Ada urusan " Jawab Andra dingin.
" Husf, ya udah. Kakak kerjakan urusan Kakak. Dan aku akan pergi bersama Sion " Ucap Tipka.
" Kamu mau mancing aku? " Tanya Andra seraya memberhentikan mobilnya.
" Kok berhenti sih " Gerutu Tipka.
" Jawab " Bentak Andra.
" Kak Andra kenapa sih? Aku gak ada mancing Kakak, lagian aku gak punya pancing tuh " Ucap Tipka asal.
" Kamu mau mancing aku cemburu? " Tanya Andra dengan meralat kata katanya lagi.
" Cemburu? Aku gak salah dengar? Ngapain juga aku mancing Kakak cemburu, gak ada manfaatnya untuk aku " Jawab Tipka.
" Jadi, kenapa kamu mau pergi sama Sion? " Tanya Andra.
" Karena Kakak sibuk dengan urusan sendiri " Jawab Tipka.
" Aku yang nemenin kamu " Ucap Andra.
" Tadi gak mau, sekarang mau " Omel Tipka.
Andra kembali melajukan mobilnya tanpa membalas omelan Tipka.
__ADS_1