
Semua murid mos diberi waktu 15 menit untuk beristhirahat. Tipka duduk sendirian disebuah kursi yang ada dikantin. Tipka menikmati makanannya sambil berpikir apa yang akan terjadi selanjutnya kepadanya. Karena disekolah ini dia hanya sendiri. Saat Tipka sedang berperang dengan pikirannya, tiba tiba ada seseorang yang berbicara kepadanya.
" Hay, namaku Mira. Apakah aku boleh duduk disini? Semua kursi sudah penuh " Tanya Mira dengan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
" Hmmm " Balas Tipka seraya membalas uluran tangan Mira.
Mereka makan dalam hening. Mira merasa sangat tidak nyaman karena keheningan membuat suasana menjadi canggung. Mira yang aslinya sangat cerewet dan bawel, tidak bisa hanya duduk diam dengan mulut yang tertutup rapat. Mira mencoba untuk dekat dengan Tipka. Karena dia penasaran dengan Tipka.
" Boleh aku bertanya sesuatu? " Tanya Mira.
Tipka hanya menganggukkan kepalanya saja.
" Siapa namamu? " Tanya Mira lembut.
" Tipka " Jawab Tipka singkat.
" Tipka, apakah aku boleh menjadi temanmu? " Tanya Mira.
Tipka berpikir sejenak, 'Sebenarnya aku sangat ingin menolak. Aku masih trauma untuk memulai hubungan pertemanan. Apa aku harus mencoba. Tapi kalau sampai pertemanan ini gagal. Aku tidak yakin bisa bangkit lagi. Tapi kalau aku tidak mencoba, aku tidak akan tahu hasilnya. Ah... entahlah aku sangat pusing. Apa yang harus aku lakukan sekarang.' Batin Tipka.
Tipka mengangguk ragu.
Mira melihat keraguan didalam Tipka. Dia tidak ingin memaksa Tipka untuk menerimanya, jadi dia memberikan waktu untuk Tipka berpikir.
" Tidak perlu dijawab sekarang. Kamu boleh menjawabnya besok saja. Aku akan menunggu jawabanmu " Ucap Mira.
Lagi lagi Tipka hanya mengangguk.
***
15 menit telah berlalu, semua murid mos sudah berbaris dilapangan.
__ADS_1
" Perhatian perhatian. Sekarang saya akan memberikan kalian sebuah tugas. Tapi sebelum itu, saya akan membagi kalian kedalam beberapa kelompok. Satu kelompok terdiri dari 3 orang. Kelompok pertama adalah Tipka, Mira, dan Sion. Kelompok kedua adalah Tapki, Ziyan, dan Leo. Kelompok ketiga Maura, Agatha, dan Bunga. Kelompok keempat Yudi, Marchel, dan Edrick. Kelompok kelima Rita, Sofi, dan Jesica. Kelompok keenam Revan, Anggi, dan Clodi. Kelompok ketujuh Adit, Putra, dan Bastian. Kelompok kedelapan Helyn, Maria, dan Bima. Kelompok kesembilan Gea, Daniel, dan Davis.Kelompok kesepuluh Richard, Alexander, dan Felix. Kelompok kesebelas Sisil, Mikha, dan Nilam. Kelompok kedua belas Andi, Tirta, dan Lili. Kelompok ketiga belas Willy, Tasya, dan Ana. Kelompok keempat belas Rendy, Lusi, dan Indri. Kelompok kelima belas Ledy, Jack, Gery, dan Dendi. Itulah kelompok kelompoknya. Tugasnya adalah mengamati lingkungan sekolah. Hasil pengamatan nanti kalian tulis dikertas yang akan dibagikan oleh Kak Vivi. Satu kelompok satu kertas. Setelah kalian selesai, kertasnya boleh langsung dikasih ke kakak. " Jelas Andra.
" Apa semuanya jelas? " Tanya Andra memastikan.
" Jelas, kak " Jawab mereka semua, kecuali Tipka. Dia masih tetap dengan pendiriannya.
Kelompok 1 pergi dari barisan. Mereka mengamati setiap lingkungan sekolah. Mulai dari letak ruangan, apa saja yang ada didalam ruangan, nama pohon yang ada dilingkungan, dsb. Mereka mengamati semuanya dengan sangat detail. Dan yang bertugas menulis adalah Tipka.
Sedangkan kelompok 2, bukannya mengamati mereka malah asik mengobrol. Apalagi Tapki, dia sangat suka merayu laki laki. Tapi hanya kepada laki laki yang sederajat dengannya. Kalau kepada laki laki yang tidak sederajat dengannya dan kepada wanita yang dia tidak suka, dia akan menjadi orang yang sombong.
Tipka sudah selesai dengan tugasnya. Ia ingin mengumpulkannya sesegera mungkin. Agar ia bisa langsung pulang. Tipka berjalan mendekati meja ketua panitia mos. Tipka meletakkan kertasnya diatas meja dan membuat pena diatas kertas.
Andra yang merasa ada gerakan dimejanya, segera menatap kearah meja lalu menatap Tipka.
Tanpa berkata apa apa, Tipka segera berbalik meninggalkan meja ketua panitia. Tipka mengambil tasnya dan segera pergi keluar dari gedung. Dia berjalan memasuki mobil putih miliknya.
Tipka melepaskan kacamata. Ia juga melepaskan ikat rambutnya. Dan membiarkan rambutnya digerai.
" Ah... aku benci. Aku benci yang namanya pertemanan. Aku tidak ingin mempunyai hubungan itu. Argh... sial " Umpat Tipka sambil memukul mukul stirnya. Ia menangis sejadi jadinya didalam mobil.
Tipka menurunkan kaca mobilnya.
" Kamu lupa menuliskan nama kelompokmu " Ucap seseorang yang mengetuk kaca mobil Tipka, yang tidak lain adalah Andra.
Tipka mengambil kertas dari tangan Andra dan segera menulis nama kelompoknya dengan pena yang berada didalam tasnya. Setelah itu dia menyerahkan kertas kepada Andra, tanpa berkata apa apa. Tidak menunggu waktu lama, Tipka segera melajukan mobilnya keluar dari parkiran sekolah, meninggalkan Andra yang masih setia ditempatnya.
" Dasar wanita aneh " Gumam Andra.
Tipka melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata rata. Dia menatap lurus kedepan, tapi pikirannya pergi melayang layang. Tiba tiba.
Tin... Tin... suara klakson motor.
__ADS_1
Seketika Tipka sadar dari lamunannya. Ia melihat ada sebuah motor didepannya. Dengan segera Tipka memutar strinya. Sehingga dia menanbrak sebuah tembok yang besar.
Beberapa orang yang melihat kejadian itu segera membawa Tipka menuju kerumah sakit terdekat. Sesampainya dirumah sakit, para suster segera membawa Tipka menuju keruang UGD.
Orang orang yang menolong Tipka tadi, menyerahkan ponsel milik Tipka kepada seorang wanita yang berada dimeja resepsionis.
Mereka menemukan ponsel milik Tipka dikursi samping pengemudi.
Tanpa menunggu waktu lama, wanita itu menelpon seseorang yang bertuliskan 'Bundaku'. Kebetulan ponsel Tipka tidak menggunakan kata sandi.
" Halo, Tipka. Kamu dimana? " Tanya Bunda Tasya.
" Selamat siang, bu. Apakah benar ini orang tua dari Tipka Nikila Anjana? " Tanya resepsionis.
" Iya, benar saya sendiri. Ini siapa ya? " Tanya Bunda Tasya.
" Maaf, sebelumnya bu. Ini dari rumah sakit Mutiara. Anak ibu, telah mengalami kecelakaan dijalan garuda. Dan sekarang sedang ditangani oleh dokter " Ucap resepsionis.
" Halo... halo, bu. Halo " Ucap resepsionis dan langsung mematikan sambungan telepon saat tidak ada yang membalas ucapannya.
Sedangkan disisi lain
Bunda Tasya sangat syok mendengar anaknya mengalami kecelakaan. Tapi tiba tiba dia mendengar ada suara mobil.
Dengan cepat, Bunda Tasya berlari menuju pintu. Dilihatnya mobil merah memasuki halaman rumah. Itu adalah mobil Tapki.
" Ta... Tapki, ayo sekarang kita kerumah sakit, ayo nak, ayo " Ajak Bunda Tasya dengan berderaian air mata dan dia segera masuk kedalam mobil.
Tapki bingung dengan sikap Bundanya, tetapi dia hanya menurut saja.
" Rumah sakit mana, Bun? Dan siapa yang sakit? " Tanya Tapki.
__ADS_1
" Kita kerumah sakit Mutiara. Ti... Tipka, di-dia kecelakaan. Hiks... hiks... " Jawab Bunda Tasya masih dengan tangisannya.
Tapki diam, tidak membalas ucapan bundanya lagi. Dia segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit Mutiara.