
Sesampainya dirumah sakit, Bunda Tasya segera berlari menuju meja resepsionis diikuti Tapki dibelakangnya.
" Permisi, bu. Dimana ruangan pasien atas nama Tipka Nikila Anjana? " Tanya Bunda Tasya saat sudah tiba didepan meja resepsionis.
" Apakah ibu adalah orangtua dari pasien yang tadi saya telepon? " Tanya resepsionis balik.
" Iya bu, saya adalah orangtua dari Tipka. Sekarang Tipka ada dimana? " Tanya Bunda Tasya tidak sabar.
" Pasien masih berada diruang UGD " Jawab resepsionis.
Rumah sakit mutiara adalah rumah sakit milik keluarga Anjana. Resepsionis yang menelpon Bunda Tasya tadi adalah karyawan baru. Ia tidak mengetahui jika Tipka adalah anak dari pemilik rumah sakit itu. Tadi dia bertanya kepada temannya, tentang nama Tipka.
Dengan segera Bunda Tasya berlari menuju ruang UGD diikuti Tapki dari belakang.
Sesampainya didepan ruang UGD, Bunda Tasya melihat ada dokter yang keluar dari ruang UGD.
" Permisi, dok. Bagaimana keadaan anak saya? " Tanya Bunda Tasya.
" Keadaan Nona Tipka sekarang sudah lebih membaik. Tapi Nona Tipka harus menjalani operasi " Jawab dokter tersebut, yang merupakan dokter keluarga Anjana. Dia bernama dokter Sindy.
" Kenapa Tipka harus menjalani operasi, dok? " Tanya Bunda Tasya khawatir sekaligus bingung. Karena tadi dokter Sindy mengatakan bahwa Tipka baik baik saja.
" Nona Tipka mendapatkan benturan yang sangat keras dibagian kepala akibat kecelakaan tadi ditambah ada luka dikeningnya. Dan itu harus segera dioperasi, kalau tidak. Mungkin nyawa nona Tipka tidak akan selamat " Jelas dokter Sindy.
" Lakukan yang terbaik, dok. Jika perlu dokter boleh mengoperasi Tipka sekarang. Jika itu memang yang terbaik " Ucap Bunda Tasya. Yang ada dipikiran Bunda Tasya sekarang hanya Tipka. Bagaimana caranya agar putrinya itu segera sembuh.
" Saya tidak bisa mengoperasi Nona Tipka sekarang. Operasi hanya bisa dilakukan setelah nona Tipka siuman " Jelas dokter Sindy.
" Baiklah, jika itu yang terbaik " Ucap Bunda Tasya. Dia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi.
Setelah beberapa lama, Tipka dipindahkan keruang VVIP.
***
Bunda Tasya duduk disamping bangsal Tipka. Bunda Tasya merasa sangat sedih melihat keadaan putrinya saat ini. Bunda Tasya kembali menangis.
" Nak, bangun sayang. Kamu jangan buat Bunda sedih. Kamu harus bangun sayang. Kalau kamu gak bangun Bunda gak akan mau masak maskan kesukaan kamu. Ayo bangun, nak. Jangan siksa Bunda kayak gini. Bunda gak mau kehilangan kamu. Bunda sayang kamu, nak " Ucap Bunda Tasya seraya menggenggam tangan Tipka, tidak lupa dengan air bening yang mengalir dipipinya.
Bunda Tasya tertidur dengan posisi duduk. Ia merasa sangat kelelahan karena banyak menangis. Sedangkan Tapki, dia tidur disofa setelah bermain ponsel.
Bunda Tasya terbangun, karena merasa ada pergerakan dijari yang digenggamnya.
" Bu... Bunda " Ucap Tipka lirih.
__ADS_1
" Iya sayang. Ini Bunda. Tunggu sebentar ya, Bunda panggilin dokter dulu " Ucap Bunda Tasya. Ia merasa bahagia melihat putrinya kini sudah sadar
Bunda Tasya menekan tombol yang ada disamping bangsal. Saat dokter datang, Bunda Tasya segera menepi memberi jalan agar dokter bisa langsung memeriksa keadaan Tipka.
" Nyonya, bisa kita bicara sebentar? "Tanya dokter Sindy.
" Mari, dok " Ajak Bunda Tasya. Bunda Tasya membawa dokter Sindy menuju ruangan milik keluarga Anjana.
" Apa yang ingin dokter katakan? " Tanya Bunda Tasya to the point.
" Begini nyonya, kondisi nona Tipka sekarang sudah mulai membaik. Kemungkinan besok kita sudah bisa melakukan operasi. Dan saya hanya ingin menyampaikan supaya nona istirahat yang cukup. Dan operasi akan dilakukan pukul 10 " Jawab dokter Sindy.
" Baiklah, dok. Lebih cepat lebih baik. Tolong lakukan yang terbaik " Ucap Bunda Tasya.
Bunda Tasya kembali masuk kedalam ruang Tipka. Ia melihat Tipka yang sedang berbaring dengan mata terbuka. Sedangkan Tapki masih tidur diatas sofa.
" Tapki, bangun nak " Ucap Bunda Tasya seraya menepuk pelan pipi Tapki.
" Hmmm " Tapki masih tetap memejamkan matanya.
" Tapki, kamu pulang aja nak. Besok kamu harus kesekolah " Ucap Bunda Tasya masih dengan menepuk pelan pipi Tipka.
Tapki menggosok gosok matanya mencoba mengumpulkan kesadarannya.
" Bun, Tapki pulang dulu. Besok baju ganti Bunda Tapki antar " Ucap Tapki seraya mencium punggung tangan Bunda Tasya.
" Dan lo, jangan nyusahin orang " Ucap Tapki kepada Tipka.
" Siap, Bos " Balas Tipka dengan sikap hormat.
Tapki mengambil tasnya, lalu keluar dari ruangan menuju keparkiran khusus.
Setelah Tapki pergi, Bunda Tasya segera menyuruh Tipka untuk beristirahat.
" Tipka, kamu tidur ya nak. Besok kamu harus menjalani operasi " Ucap Bunda Tasya.
" Operasi? emangnya harus operasi? " Tanya Tipka bingung.
" Iya, nak. kamu harus dioperasi. Itu akibat dari benturan saat kamu kecelakaan " Jawab Bunda Tasya.
Tipka menurut, dia menutup matanya. Untuk sesaat dia melupakan masalah Mira.
***
__ADS_1
Pagi hari
Pukul 07.00 Tipka sudah bangun. Tipka tidak melihat ada Bunda Tasya diruangannya. Ia yakin Bunda Tasya masih tidur diruangan sebelah.
Ceklek... pintu terbuka.
Muncullah Tapki didepan pintu. Tapki masuk kedalam lalu meletakkan sesuatu diatas sofa.
" Lo, gak bosan ya kecelakaan mulu. Gak pengen hidup lo. Kalau lo gak mau hidup jangan gini terus, bosan gue " Gerutu Tapki, lalu keluar dari ruangan Tipka.
Tipka yang mendengar ucapan Tapki hanya geleng geleng kepala sambil tersenyum. Ia merasa, Tapki berkata seperti itu karena Tapki sangat menyayangi dirinya.
Ceklek... pintu terbuka lagi.
Tipka melihat kearah pintu ada Bunda Tasya.
" Bunda " Gumam Tipka.
Bunda Tasya hanya tersenyum. Ia melihat ada sebuah tas kecil diatas sofa.
" Ini apa sayang? " Tanya Bunda Tasya seraya berjalan kearah sofa.
" Gak tahu, Bun. Itu tadi dari Tapki " Jawab Tipka.
Bunda Tasya membuka tas itu. Dan yang dia lihat adalah sepasang baju dan ada sebuah kertas kecil.
Bunda Tasya mengambil kertas itu dan membacanya.
" Itu apa, Bun? " Tanya Tipka penasaran karena melihat Bundanya yang tersenyum sambil geleng geleng kepala sesudah membaca kertas itu.
Bunda Tasya hanya memberikaban kertas itu tanpa berkata apa apa.
Bundaku sayang, ini pakaian untukmu. Hanya untukmu. Jika untuk Tipka, tidak ada. Kalau dia protes, biarkan saja. Siapa suruh kecelakaan terus. Kalau dia mau mati, jangan gini caranya. Suruh aja lompat dari gedung perusahaan Ayah. Kalau gitukan akan berhasil.
Tipka tersenyum membaca kertas itu.
" Oh iya Bun, Ayah dimana? " Tanya Tipka.
" Ayah kamu semalam udah berangkat. Mungkin cuacanya buruk, sehingga Ayah kamu belum sampai " Jawab Bunda Tasya.
" Gitu ya, biasanya kalau Tipka kayak gini Ayah langsung datang " Ucap Tipka.
" Udah, sekarang kamu makan aja dulu " Ucap Bunda Tasya lalu menyuapi Tipka dengan makanan dari rumah sakit, yang sudah ada disana dari tadi.
__ADS_1