
" Ok, kita kembali ketopik awal " Ucap dokter Sindy yang kembali serius.
" Baiklah " Balas Bunda Tasya.
" Begini nyonya, dari kemarin malam sampai sekarang. Nona Tipka tidak makan maupun minum dan suhu tubuhnya juga tinggi. Jadi, kami tidak bisa memberikan nona Tipka obat untuk saat ini. Kami harus menunggunya siuman terlebih dahulu " Ucap dokter Sindy.
" Kenapa harus sampai siuman, dok? " Tanya Bunda Tasya.
" Begini nyonya, jika kami memberikan obat kepada pasien dengan perut yang kosong. Itu bisa sangat berbahaya " Jawab dokter Sindy.
" Baiklah, kalau itu yang terbaik " Ucap Bunda Tasya.
" Dan, bagaimana dengan luka dikepalanya? " Tanya Bunda Tasya.
" Kalau menurut saya, luka dikepalanya akan menimbulkan dampak. Karena lukanya itu baru saja dibuka. Dan sudah terkena air dalam durasi yang sangat lama. Tapi, saya tidak dapat menyimpulkan apa apa sebelum nona Tipka siuman " Jawab dokter Sindy.
" Begitu ya, dok " Ucap Bunda Tasya sedih.
" Kalau begitu, saya pamit dulu " Pamit Bunda Tasya.
Bunda Tasya pergi dari ruangan dokter Sindy menuju lantai delapan, tempat ruang VVIP.
Sesampainya didalam ruangan, Bunda Tasya langsung duduk dikursi samping bangsal Tipka.
" Kamu kenapa sih, nak? Kamu gak kasihan lihat Bunda? Kamu kenapa selalu menyakiti dirimu sendiri? Kenapa kamu harus selalu berada diruangan ini? " Tanya Bunda Tasya dengan air mata dan tangan yang menggenggam tangan Tipka.
Tidak berapa lama, Tipka mulai siuman.
" Ti-tipka kamu sadar, sayang " Ucap Bunda Tasya bahagia dan langsung mencium pucuk kepala Tipka.
__ADS_1
Bunda Tasya langsung menekan tombol untuk memanggil dokter.
Tidak berapa lama, dokter datang dengan dua orang suster. Mereka memeriksa keadaan Tipka dengan keseluruhan.
Dua suster tadi mengambil makanan untuk Tipka.
Selagi menunggu makanan tiba, dokter Sindy bertanya sesuatu kepada Tipka.
" Bagaimana keadaanmu? " Tanya dokter Sindy.
" Baik " Jawab Tipka dingin.
" Kamu ingat namamu? " Tanya dokter Sindy.
" Iya, namaku Tipka " Jawab Tipka.
" Usia? " Tanya dokter Sindy.
Saat dokter Sindy ingin bertanya lagi, seorang suster datang membawa makanan.
" Kamu makan dulu " Pinta dokter Sindy.
Bunda Tasya mengambil piring dan ingin menyuapi Tipka. Tapi Tipka menolak, dengan mengalihkan pandangannya.
" Aku bisa sendiri " Ucap Tipka.
" Kamu masih sangat lemah, nak " Ucap Bunda Tasya memberi pengertian.
" Aku tidak mau disuapi kamu. Aku bisa makan sendiri " Ucap Tipka tetap pada pendiriannya.
__ADS_1
Bunda Tasya mengalah. Ia memberikan piring itu kepada Tipka.
Tipka berusaha mengangkat sendok tapi tidak bisa.
" Apa kau masih ingin makan sendiri? " Tanya Andra yang mengambil alih piring.
" Ayo, buka mulutmu " Pinta Andra.
" Aku tidak mau " Ucap Tipka membantah.
" Aku tidak meminta persetujuanmu. Buka mulutmu, atau aku akan menciummu " Ancam Andra.
Dengan terpaksa, Tipka menerima suapan dari Andra. Setelah selesai, Tipka memakan obat yang sudah dibeli oleh dokter Sindy tadi.
" Apa kepalamu sakit? " Tanya dokter Sindy.
" Sedikit " Jawab Tipka.
" Apa kau melupakan sesuatu? " Tanya dokter Sindy.
" Tidak " Jawab Tipka.
" Apa kamu mengenal wanita ini? " Tanya dokter Sindy.
" Ya " Jawab Tipka.
" Siapa dia? " Tanya dokter Sindy.
" Bundanya Tapki dan nyonya Anjana " Jawab Tipka.
__ADS_1
" Aku bukan hanya bundanya Tapki, tapi juga Bundamu, sayang " Ucap Bunda Tasya memperbaiki jawaban Tipka.
" Kau bukan Bundaku. Aku bukan anakmu. Kau berpura pura menjadi Bundaku, hiks hiks " Ucap Tipka dengan deraian air mata